Amonit[1][2] adalah kelompok sefalopoda bercangkang melingkar (biasanya) yang kini telah punah, dan membentuk subkelas Ammonoidea. Mereka memiliki kekerabatan yang lebih dekat dengan gurita, cumi-cumi, dan sotong (yang termasuk dalam klad Coleoidea) dibandingkan dengan nautilus (famili Nautilidae).[3] Amonoid paling awal muncul pada kala Emsian dari Devon Awal (sekitar 410,62 juta tahun yang lalu), sedangkan spesies terakhirnya lenyap pada atau segera setelah peristiwa kepunahan Kapur–Paleogen (66 juta tahun yang lalu). Mereka kerap disebut amonit, istilah yang paling sering digunakan untuk anggota ordo Ammonitida, satu-satunya kelompok amonoid yang bertahan dari zaman Jura hingga kepunahannya.[4]
Sepanjang sejarah evolusinya, amonoid menunjukkan keragaman yang luar biasa, dengan lebih dari 10.000 spesies yang telah dideskripsikan.[5] Amonoid merupakan fosil indeks yang sangat baik, dan sering digunakan untuk menghubungkan lapisan batuan tempat suatu spesies atau genus ditemukan dengan periode waktu tertentu dalam skala waktu geologi. Cangkang fosilnya umumnya berbentuk planispiral, meskipun beberapa bentuk yang berpilin secara spiral maupun tidak berpilin (dikenal sebagai heteromorf) juga ditemukan, terutama pada kala Kapur.
Nama "amonit", dari mana nama ilmiahnya diturunkan, terinspirasi oleh bentuk spiral cangkang fosilnya yang menyerupai domba jantan dengan tanduk yang melingkar rapat. Plinius Tua (w. 79 M di dekat Pompeii) menyebut fosil hewan ini sebagai ammonis cornuacode: la is deprecated ("tanduk Amun"), karena dewa Mesir kuno Amun lazim digambarkan mengenakan tanduk domba jantan.[6] Nama genus amonit sering kali berakhiran -ceras, yang berasal dari bahasa Yunani Kuno κέραςcode: grc is deprecated (kéras) yang berarti "tanduk".
Sejarah evolusi
Amonoid secara luas dianggap berevolusi dari “nautiloid” bercangkang lurus (orthocone) dalam kelompok Bactritida pada awal Devon (Emsian), dengan fosil-fosil transisional yang menunjukkan perubahan bertahap dari cangkang lurus, menjadi melengkung (sirtokonik), lalu melingkar longgar (gyroconik), hingga akhirnya membentuk spiral yang rapat.[7] Peristiwa Kellwasser di akhir kala Frasnien menyebabkan penurunan besar dalam keanekaragaman amonoid, hanya menyisakan beberapa garis keturunan dari Tornoceratina (subkelompok dari Goniatites) yang selamat dan menjadi nenek moyang bagi seluruh amonoid setelahnya. Amonoid kembali beragam selama kala Famennien berikutnya, yang juga menandai pergeseran penting posisi sifunkel dari bagian bawah (ventral) ke bagian atas (dorsal).
Amonit hampir punah total akibat Peristiwa Hangenberg di akhir Devon, dengan hanya segelintir garis keturunan yang bertahan. Salah satu garis keturunan goniatit yang bertahan inilah yang kemudian menjadi nenek moyang seluruh amonoid pasca Karbon Awal. Amonoid kembali mengalami diversifikasi pada awal Karbon, tetapi sepanjang periode ini mereka mengalami pasang surut dalam hal keanekaragaman. Menjelang akhir Karbon, keragaman amonoid terkonsentrasi di beberapa wilayah geografis tertentu.[8]
Pada zaman Perm, peristiwa kepunahan massal Kapitanian sangat mengurangi keanekaragaman Goniatitida dan Prolecanitida,[8] sementara Ceratitida, yang berevolusi pada Perm Tengah kemungkinan dari keluarga Daraelitidae,[9] relatif tidak terpengaruh[8] dan justru berkembang pesat pada Perm Akhir,[9] menjadi kelompok dominan yang diwakili oleh dua famili utama: araksoseratid dan ksenodiskid. Namun, kepunahan massal akhir Perm kembali memangkas amonoid hingga nyaris punah; hanya dua garis utama ceratit yang bertahan, dengan ksenodiskid menjadi lebih berhasil dan menurunkan semua amonoid berikutnya.[8]
Amonit kembali terpukul hebat oleh peristiwa kepunahan Trias–Jura, dengan hanya beberapa genus dari famili Psiloceratidae dalam subordo Phylloceratina yang bertahan dan menjadi leluhur seluruh amonit Jura dan Kapur. Amonit kemudian berkembang pesat pada Jura Awal, dengan berbagai ordo seperti Psiloceratina, Ammonitina, Lytoceratina, Haploceratina, Perisphinctina, dan Ancyloceratina muncul pada masa ini.[10] Bentuk amonit heteromorf (amonit dengan lilitan terbuka atau tak spiral) dari ordo Ancyloceratina menjadi umum pada kala Kapur.[11]
Sedikitnya 57 spesies amonit, yang tersebar luas dan tergolong dalam enam superfamili, masih hidup selama 500.000 tahun terakhir zaman Kapur, menunjukkan bahwa mereka tetap sangat beragam hingga akhir keberadaannya.[12]
Seluruh amonit punah pada atau segera setelah peristiwa kepunahan Kapur–Paleogen yang disebabkan oleh tumbukan Chicxulub. Diduga bahwa pengasaman laut akibat tumbukan tersebut memainkan peran penting dalam kepunahan mereka, karena larva amonit kemungkinan berukuran sangat kecil dan hidup sebagai plankton, sehingga sangat rentan terhadap perubahan kimia laut.[13]
Sebaliknya, nautiloid seperti nautilus modern diyakini memiliki strategi reproduksi dengan meletakkan telur dalam jumlah kecil namun berkali-kali sepanjang hidupnya, di dasar laut yang terlindung dari dampak langsung tumbukan bolid, sehingga memungkinkan mereka bertahan hidup.[14] Banyak spesies amonit juga merupakan pemakan tersuspensi (filter feeder), sehingga mungkin sangat rentan terhadap perubahan iklim dan pergantian fauna laut.[15]
Beberapa laporan bahkan menunjukkan bahwa sejumlah kecil spesies amonit mungkin bertahan hingga tahap awal kala Paleosen (tahap Danien), sebelum akhirnya benar-benar punah.[16][17]
↑Klug, Christian; Kröger, Björn; Vinther, Jakob; Fuchs, Dirk (August 2015). "Ancestry, Origin and Early Evolution of Ammonoids". Dalam Christian Klug; Dieter Korn; Kenneth De Baets; Isabelle Kruta; Royal H. Mapes (ed.). Ammonoid Paleobiology: From macroevolution to paleogeography. Topics in Geobiology 44. Vol.44. Springer. hlm.3–24. doi:10.1007/978-94-017-9633-0_1. ISBN978-94-017-9632-3.