Toffler lahir di New York City pada tahun 1928 dari pasangan orang tua keturunan imigran Yahudi asal Polandia, Rose Albaum dan Sam Toffler. Ia menempuh pendidikan sarjananya di Universitas New York.[2]
Karier
Pada masa awal setelah kelulusannya, Toffler pernah bekerja selama lima tahun sebagai tukang las, perancang bangunan pabrik, dan buruh pada jalur perakitan.[4] Ia kemudian menjadi koresponden di Washington, dan selanjutnya menjadi editor pembantu untuk Majalah Fortune.[4]
Setelah berhenti dari Fortune, Alvin Toffler dikontrak oleh IBM untuk meneliti dan menulis makalah mengenai dampak sosial dan organisasi dari komputer, yang membuatnya berhubungan dengan orang-orang terawal yang adalah para "guru" komputer dan peneliti kecerdasan buatan dan pendukungnya. Xerox mengundangnya untuk menulis tentang laboratorium penelitiannya, dan AT&T berkonsultasi untuk meminta saran strategis kepadanya. Pekerjaan di AT&T ini menyebabkan timbulnya studi mengenai telekomunikasi, yang menyarankan kepada manajemen puncak perusahaan untuk memecahkan diri satu dekade lebih awal sebelum pemerintah Amerika Serikat memaksa AT&T untuk melakukannya.[4]
Pada pertengahan tahun ’60-an, pasangan Toffler mulai mengerjakan karya yang kemudian menjadi buku laris Future Shock.[4] Pada tahun 1996, bekerjasama dengan konsultan bisnis Tom Johnson, mereka mendirikan Toffler Associates, sebuah perusahaan penasehat yang dirancang untuk mengimplementasikan berbagai ide yang telah ditulis oleh pasangan Toffler. Perusahaan tersebut bekerja dengan berbagai bisnis, LSM, dan pemerintah di A.S., Korea Selatan, Meksiko, Brazil, Singapura, Australia, dan negara-negara lainnya.[4]
Perusahaan konsultan manajemen Accenture menjulukinya sebagai suara paling berpengaruh ketiga di antara para pemimpin bisnis, yaitu setelah Bill Gates dan Peter Drucker. Pada daftar Top 50 intelektual bisnis Accenture tahun 2002, ia menduduki peringkat kedelapan.[6] Ia juga digambarkan dalam Financial Times sebagai "futurolog paling terkenal di dunia." People's Daily mengelompokkannya sebagai salah satu dari 50 orang asing yang telah membentuk Tiongkok modern.[7] Seorang penulis menyebutnya sebagai tokoh yang memberi pengaruh awal pada pemikiran politik haluan tengah radikal.[8]
Karya-karya
Alvin Toffler menulis buku-bukunya bersama istrinya Heidi Toffler, antara lain sbb.: