Artikel ini perlu dikembangkan dari artikel terkait di Wikipedia bahasa Inggris. (Maret 2025)
klik [tampil] untuk melihat petunjuk sebelum menerjemahkan.
Lihat versi terjemahan mesin dari artikel bahasa Inggris.
Terjemahan mesin Google adalah titik awal yang berguna untuk terjemahan, tapi penerjemah harus merevisi kesalahan yang diperlukan dan meyakinkan bahwa hasil terjemahan tersebut akurat, bukan hanya salin-tempel teks hasil terjemahan mesin ke dalam Wikipedia bahasa Indonesia.
Jangan menerjemahkan teks yang berkualitas rendah atau tidak dapat diandalkan. Jika memungkinkan, pastikan kebenaran teks dengan referensi yang diberikan dalam artikel bahasa asing.
Alkohol dan kanker sangat berkaitan erat sebab alkohol merupakan salah satu zat penyebab kanker. Konsumsi alkohol dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker rongga mulut, usus besar, hati, dan payudara. Berdasarkan penelitian pada tahun 2020, sekitar 740.000 (4,1%) kasus kanker baru di dunia dikaitkan dengan konsumsi minuman beralkohol. Hal ini mendorong American Cancer Society pada tahun 2021 untuk mengubah pedoman pencegahan kanker dengan memperkuat rekomendasi agar "menghindari konsumsi minuman beralkohol" sebagai langkah pencegahan yang lebih kuat.
Sebuah studi global membuktikan bahwa konsumsi alkohol, bahkan dalam jumlah kecil, meningkatkan risiko kanker, termasuk kanker orofaring, laring, esofagus, hati, usus besar, rektum, dan payudara pada perempuan. Studi yang diterbitkan dalam jurnal Addiction, menganalisis data selama 10 tahun dan menegaskan bahwa risiko kanker akibat alkohol tertinggi di kalangan peminum berat, tetapi juga berdampak pada peminum ringan dan moderat. Studi ini juga menemukan bahwa alkohol bertanggung jawab atas 5,8% dari semua kematian akibat kanker pada tahun 2012, serta mengingatkan bahwa hubungan antara alkohol dan kanker sangat nyata, dan tidak ada bukti kuat yang mendukung klaim bahwa konsumsi alkohol dalam jumlah sedang dapat melindungi dari penyakit kardiovaskular.
Alkohol dan Risiko Kanker
Alkohol memiliki hubungan yang kuat dengan peningkatan risiko kanker. Beberapa diantaranya:
Alkohol dapat menyebabkan kanker: Alkohol dapat merusak sel-sel tubuh, menyebabkan pertumbuhan yang tidak terkendali dan perubahan menjadi sel kanker. Risiko ini berlaku untuk berbagai jenis kanker, termasuk kanker mulut, tenggorokan, kerongkongan, usus besar, hati, dan payudara pada wanita.
Semakin banyak minum, semakin tinggi risikonya: Semakin banyak alkohol yang dikonsumsi, semakin tinggi risiko terkena kanker. Bahkan satu minuman per hari dapat meningkatkan risiko beberapa jenis kanker. Beberapa kelompok, termasuk orang di bawah usia 21 tahun, wanita yang sedang atau mungkin hamil, dan orang yang minum obat tertentu, sebaiknya menghindari alkohol sama sekali.
Minum berlebihan sangat berisiko: Selain meningkatkan risiko kanker, minum berlebihan juga dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan jangka pendek dan panjang, seperti cedera, kekerasan, dan stroke.
Semua jenis alkohol berisiko: Tidak peduli jenisnya, semua minuman beralkohol, seperti anggur, bir, koktail, dan minuman keras, dapat meningkatkan risiko kanker.[1]
Minuman Beralkohol
Meskipun beberapa orang percaya bahwa konsumsi alkohol dapat memberikan manfaat kesehatan, seperti meningkatkan kesehatan jantung atau menurunkan tekanan darah, bukti ilmiah untuk klaim ini tidak jelas. Panduan NHS tentang alkohol menyatakan bahwa tidak ada tingkat konsumsi alkohol yang sepenuhnya aman, dan risiko kanker meningkat bahkan dengan konsumsi alkohol dalam jumlah kecil.[2]
Dampak Gabungan Alkohol dan Rokok
Konsumsi alkohol dan merokok secara bersamaan meningkatkan risiko kesehatan secara signifikan, terutama risiko kanker. Meskipun kedua kebiasaan ini secara terpisah dapat meningkatkan risiko kanker, efek gabungannya jauh lebih berbahaya. Kombinasi merokok dan minum alkohol sangat berbahaya bagi kesehatan mulut dan tenggorokan. Alkohol membuat sel-sel di mulut dan tenggorokan lebih rentan terhadap zat kimia penyebab kanker dalam asap tembakau, dan juga mengubah cara tubuh memetabolisme zat kimia berbahaya tersebut, sehingga meningkatkan risiko kanker..[2]