Aliansi Perempuan Indonesia (API),[1] yang dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Indonesian Women's Alliance (IWA),[2] merupakan sebuah kelompok politik dan gerakan kolektif yang menghimpun sekitar 90 organisasi dan gerakan perempuan dari berbagai daerah di Indonesia. Selain organisasi perempuan, aliansi ini juga melibatkan beragam unsur masyarakat sipil lainnya, seperti serikat buruh, organisasi hak asasi manusia, serta komunitas masyarakat adat. Aliansi Perempuan Indonesia dibentuk sebagai wadah perjuangan bersama untuk memperkuat posisi politik perempuan, memperjuangkan keadilan sosial, serta menentang berbagai bentuk ketidakadilan struktural yang berdampak pada perempuan dan kelompok rentan.[2] Salah satu organisasi yang tergabung di dalamnya adalah Perempuan Mahardhika, yang dikenal aktif dalam isu hak-hak perempuan dan demokrasi.[3]
API memiliki orientasi politik yang kuat dan kerap mengambil sikap kritis terhadap kebijakan negara yang dinilai merugikan rakyat, khususnya perempuan. Pada 25 Maret 2025, Aliansi Perempuan Indonesia turut bergabung dalam gelombang aksi unjuk rasa Indonesia tahun 2025 di Jakarta. Dalam aksi tersebut, aliansi ini menuntut Dewan Perwakilan Rakyat untuk menarik revisi Undang-Undang TNI tahun 2025 yang dipandang berpotensi memperluas peran militer dalam kehidupan sipil dan mengancam demokrasi.[4] API secara terbuka mengecam tindakan kekerasan yang dilakukan oleh aparat kepolisian dan militer terhadap para demonstran, serta menegaskan pentingnya penghormatan terhadap hak untuk menyampaikan pendapat secara damai.[5]
Pada 3 September 2025, API melakukan aksi simbolik di depan gedung parlemen Indonesia. Sekitar 300 perempuan berpakaian merah muda cerah bertuliskan "Protes Adalah Hak" sambil membawa sapu lidi melakukan pawai sebagai bentuk protes. Warna merah muda dipilih sebagai simbol keberanian, sementara sapu lidi dimaknai sebagai alat untuk menyapu bersih kotoran negara, militerisme, dan represi kepolisian.[6] Mereka turut membawa berbagai poster serta spanduk, antara lain bertuliskan 'Reformasi Kepolisian Secara Menyeluruh', 'Hentikan Kekerasan Negara', dan 'Pembebasan Tanpa Syarat bagi Massa Aksi yang Ditahan di Seluruh Indonesia'.[7] Hingga September 2025, API tetap aktif terlibat dalam berbagai aksi protes dan kegiatan advokasi, sebagai salah satu kekuatan dalam gerakan perempuan dan demokrasi di Indonesia.[8]