Kehidupan
Syari'ati dilahirkan pada 1933 di Mazinan, sebuah suburban dari Sabzevar, Iran.[4] Keluarga ayahnya adalah ulama. Ayahnya, Mohammad-Taqi, adalah seorang guru dan cendekiawan Islam. Ayahnya seorang pembicara nasionalis progresif yang kelak ikut serta dalam gerakan-gerakan politik anaknya.[5] Pada tahun 1947, ia mendirikan Pusat Penyebaran Kebenaran Islam di Mashhad, Provinsi Khorasan. Organisasi ini merupakan forum sosial Islam yang terlibat dalam gerakan nasionalisasi minyak pada tahun 1950-an. Ibu Shariati sendiri berasal dari keluarga pemilik tanah kecil di Sabzevar, sebuah kota dekat Mashhad.
Ketika belajar di Sekolah Pendidikan Keguruan, Syari'ati berkenalan dengan pemuda-pemuda yang berasal dari golongan ekonomi yang lebih lemah, dan untuk pertama kalinya ia melihat kemiskinan dan kehidupan yang berat yang ada di Iran pada masa itu. Pada saat yang sama ia pun berkenalan dengan banyak aspek dari pemikiran filsafat dan politik Barat, seperti yang tampak dari tulisan-tulisannya.[6] Ia berusaha menjelaskan dan memberikan solusi bagi masalah-masalah yang dihadapi masyarakat-masyarakat Muslim melalui prinsip-prinsip Islam yang tradisional, yang terjalin dan dipahami dari sudut pandang sosiologi dan filsafat modern. Artikel-artikelnya dari periode ini untuk surat kabar harian Mashhad, Khorasan, menunjukkan perkembangan eklektisisme dan pemahamannya tentang gagasan para pemikir modernis seperti Jamaluddin al-Afghani dan Sir Allama Muhammad Iqbal di kalangan komunitas Muslim, serta Sigmund Freud dan Alexis Carrel.[7]
Pada tahun 1952, Shariati menjadi guru sekolah menengah dan mendirikan Asosiasi Mahasiswa Islam, yang menyebabkan penangkapannya setelah demonstrasi. Pada tahun 1953, tahun penggulingan Mossadeq, ia menjadi anggota Front Nasional. Ia menerima gelar sarjana dari Universitas Mashhad pada tahun 1955. Pada tahun 1957, ia ditangkap lagi oleh polisi Iran, bersama dengan lima belas anggota Gerakan Perlawanan Nasional lainnya.
Ia mendapatkan gelar kesarjanaannya dari Universitas Mashhad, kemudian ia melanjutkan studi pasca-sarjananya di Universitas Paris. Di sana ia memperoleh gelar doktor dalam filsafat dan sosiologi pada 1964. Menurut Ali Rahnema, Paris tempat Shariati tiba pada tahun 1960-an adalah "pusat kegiatan budaya dan politik dunia," khususnya dalam hal perlawanan anti-kolonial dalam konteks Revolusi Aljazair. Selama periode ini di Paris, Shariati mulai berkolaborasi dengan Front Pembebasan Nasional Aljazair (FLN) pada tahun 1959. Tahun berikutnya, ia mulai membaca karya Frantz Fanon dan menerjemahkan antologi karyanya ke dalam bahasa Persia. Shariati memperkenalkan pemikiran Fanon ke dalam lingkaran emigran revolusioner Iran. Ia ditangkap di Paris pada 17 Januari 1961 selama demonstrasi untuk menghormati Patrice Lumumba.
Pada tahun yang sama, ia bergabung dengan Ebrahim Yazdi, Mostafa Chamran, dan Sadegh Qotbzadeh dalam mendirikan Gerakan Kebebasan Iran di luar negeri. Pada tahun 1962, ia melanjutkan studi sosiologi dan sejarah agama di Paris dan mengikuti kuliah dari cendekiawan Islam Louis Massignon, Jacques Berque, dan sosiolog Georges Gurvitch. Ia juga mengenal filsuf Jean-Paul Sartre pada tahun yang sama, dan menerbitkan buku Jalal Al-e Ahmad yang berjudul Gharbzadegi (atau Occidentosis) di Iran. Lalu ia kembali ke Iran dan langsung ditangkap dan dipenjarakan oleh penguasa Kekaisaran Iran yang menuduhnya terlibat dalam kegiatan-kegiatan subversif politik ketika masih di Prancis. Ia akhirnya dilepaskan pada 1965, lalu mulai mengajar di Universitas Mashhad. Kuliah-kuliahnya jadi populer di antara mahasiswa dari semua kelas sosial, dan hal ini kembali mengundang tindakan oleh penguasa Kekaisaran yang memaksa Universitas untuk melarangnya mengajar.
Syari'ati lalu pergi ke Tehran dan mulai mengajar di Institut Hosseiniye Ershad. Kuliah-kuliahnya kembali sangat populer di antara mahasiswa-mahasiswanya dan akibatnya berita menyebar dari mulut ke mulut hingga ke semua sektor ekonomi masyarakat, termasuk kelas menengah dan atas yang mulai tertarik akan ajaran-ajaran Shariati.
Pihak Kekaisaran kembali menaruh perhatian khusus terhadap keberhasilan Syari'ati yang berlanjut, dan polisi segera menahannya bersama banyak mahasiswanya. Tekanan yang luas dari penduduk Iran dan seruan internasional akhirnya mengakhiri masa penjaranya selama 18 bulan. Ia dilepaskan oleh pemerintah pada 20 Maret 1975 dengan syarat-syarat khusus yang menyatakan bahwa ia tidak boleh mengajar, menerbitkan, atau mengadakan pertemuan-pertemuan, baik secara umum maupun secara pribadi. Aparat keamanan negara, SAVAK, juga mengamati setiap gerakannya dengan cermat.
Syari'ati menolak syarat-syarat ini dan memutuskan meninggalkan negaranya dan pergi ke Inggris. Tiga minggu kemudian, pada 19 Juni 1977, ia dibunuh. Muncul spekulasi bahwa ia dibunuh entah oleh agen-agen SAVAK atau oleh para pendukung Ayatollah Khomeini yang terlalu fanatik, yang terkenal sebagai penentang keras sikap Shariati yang revolusioner, yang anti-klerus dan mendukung nilai-nilai egalitarian.
Syari'ati dianggap sebagai salah satu pemimpin filosofis paling berpengaruh dari Iran pada masa pra-revolusi. Pengaruh dan popularitas pemikirannya terus dirasakan di seluruh masyarakat Iran bertahun-tahun kemudian, khususnya di antara mereka yang menentang rezim Republik Islam.
Shariati dan sosialisme
Tampaknya keinginannya untuk mengeksplorasi sosialisme dimulai dengan terjemahan buku Abu Zarr: Sosialis Penyembah Tuhan karya Abdul Hamid Jowdat-al-Sahar dari Mesir. Menurut buku ini, Abu Dzar al-Ghifari adalah sosialis pertama. Kemudian, ayah Shariati menyatakan bahwa putranya percaya bahwa prinsip-prinsip Abu Dhar adalah fundamental. Beberapa orang menggambarkan Shariati sebagai Abu Dhar modern di Iran. Dari semua pemikirannya, ada penekanannya pada perlunya tindakan revolusioner. Shariati percaya bahwa Marxisme tidak dapat menyediakan Dunia Ketiga dengan sarana ideologis untuk pembebasannya sendiri. Salah satu premisnya adalah bahwa Islam pada hakikatnya adalah ideologi revolusioner. Oleh karena itu, Islam dapat berhubungan dengan dunia modern sebagai sebuah ideologi. Menurut Shariati, asal mula historis dan asli dari masalah manusia adalah munculnya kepemilikan pribadi. Ia percaya bahwa di era modern, munculnya mesin adalah perubahan paling mendasar kedua dalam kondisi manusia. Kepemilikan pribadi dan munculnya mesin, jika dianggap sebagai salah satu dari dua kurva sejarah, termasuk dalam periode kedua sejarah. Periode pertama adalah kepemilikan kolektif. Namun, Shariati memberikan kritik terhadap perkembangan sejarah agama dan gerakan filosofis serta ideologis modern dan hubungannya dengan kepemilikan pribadi dan munculnya mesin.
Epistemologi
Shariati mengembangkan gagasan tentang kontingensi sosial, budaya, dan historis dari pengetahuan agama dalam sosiologi. Ia percaya pada agama duniawi dan konteks sosial di mana makna masyarakat ditafsirkan. Ia juga menekankan bahwa ia memahami agama secara historis karena ia adalah seorang sosiolog. Ia mengatakan bahwa ia prihatin dengan Tauhid historis dan sosial, bukan dengan kebenaran Al-Quran atau Muhammad atau Ali.
Masalah-masalah Modern
Shariati melihat sejarah manusia terdiri dari dua tahap: tahap kolektivitas dan tahap kepemilikan pribadi. Ia menjelaskan bahwa tahap pertama, kolektivitas, berkaitan dengan kesetaraan sosial dan kesatuan spiritual. Tahap kedua, yang merupakan era sekarang, dapat dianggap sebagai dominasi banyak orang oleh satu orang. Tahap kedua dimulai dengan munculnya kepemilikan pribadi. Berbagai jenis kepemilikan pribadi dalam sejarah meliputi perbudakan, perhambaan, feodalisme, dan kapitalisme — di antara yang lainnya. Menurut konsep kepemilikan sosial, semua sumber daya material dan spiritual dapat diakses oleh semua orang, tetapi monopoli mempolarisasi komunitas manusia. Menurut Shariati, kepemilikan pribadi adalah penyebab utama semua masalah modern. Masalah-masalah ini mengubah persaudaraan dan kasih sayang antar manusia menjadi kemunafikan, penipuan, kebencian, eksploitasi, penjajahan, dan pembantaian. Polarisasi ini telah termanifestasi dalam berbagai bentuk sepanjang sejarah. Misalnya, pada zaman kuno, terdapat ekonomi perbudakan yang bertransisi menjadi masyarakat kapitalis pada zaman modern. Machinisme, atau ketergantungan pada mesin, dapat dianggap sebagai tahap terbaru dari kepemilikan pribadi. Machinisme dimulai pada abad kesembilan belas, dan umat manusia telah menghadapi banyak kecemasan dan masalah yang timbul darinya.
Warisan
Terdapat banyak pendukung dan penentang pandangan Shariati, dan kepribadian Shariati sebagian besar tidak diketahui. Ali Khamenei mengenal Shariati sebagai pelopor pengajaran Islam sesuai dengan kebutuhan generasinya. Menurut Sayyed Ali Khamenei, Shariati memiliki karakteristik positif dan negatif. Khamenei percaya bahwa tidak adil untuk menganggap Shariati sebagai seseorang yang sangat tidak setuju dengan para Mullah. Salah satu sisi positif Shariati adalah kemampuannya untuk menjelaskan pemikirannya dengan bahasa yang sesuai dan sederhana untuk generasinya. Shariati agak mendukung para Mullah di Iran. Beberapa cendekiawan seperti Elizabeth F. Thompson mencoba membayangkan beberapa kesamaan antara Shariati dan perannya dalam revolusi Islam di Iran dengan peran Sayyed Qutb di Mesir. Salah satu kesamaannya adalah bahwa keduanya membuka jalan bagi revolusi yang akan segera terjadi di negara mereka. Keduanya menginginkan dominasi budaya Islam. Keduanya adalah penggemar revolusioner tentang nilai-nilai dan norma-norma pemerintahan. Mereka menganggap Islamisme sebagai jalan ketiga antara Amerika dan Uni Soviet. Pada saat yang sama, mereka tidak sepenuhnya utopis, dan sebagian bersifat Islami. Tentu saja, ada perbedaan di antara mereka, misalnya, Shariati adalah seorang kiri sedangkan Qutb adalah seorang konservatif. Menurut Mahmoud Taleghani, Shariati adalah seorang pemikir yang menciptakan sekolah revolusi. Sekolah tersebut membimbing kaum muda menuju aksi revolusioner. Beheshti percaya bahwa karya Shariati sangat mendasar bagi revolusi Islam.
Menurut Hamid Enayat, Shariati bukan hanya seorang teoretikus tetapi juga seorang pendukung radikalisme Islam. Enayat percaya bahwa Shariati dapat dianggap sebagai pendiri sosialisme Islam. Enayat menganggapnya sebagai salah satu individu yang paling dicintai dan populer dalam radikalisme dan sosialisme Islam.
Menurut Hamid Algar, Shariati adalah ideolog nomor satu revolusi Islam.
Karya
Meskipun Shariati meninggal di usia muda, ia menulis sekitar 200 publikasi termasuk artikel, makalah seminar, dan seri kuliah, di samping lebih dari seratus buku.
Karya Lainnya
Hegel dan Ali Shariati: Perenungan Filosofis Sejarah dalam Semangat Revolusi Islam di Iran doi:10.1515/hgjb-2014-0158
Paradoks sebagai Dekolonisasi: Pemberi Hukum Islam karya Ali Shariati doi:10.1177/0090591720977804
Terjemahan
Shariati menerjemahkan banyak buku ke dalam bahasa Persia. Selain karya Abu Zarr yang disebutkan di atas, ia menerjemahkan buku Jean-Paul Sartre berjudul Apa Itu Sastra? dan buku Che Guevara berjudul Perang Gerilya. Ia juga mulai mengerjakan terjemahan buku Franz Fanon berjudul Kolonialisme yang Sekarat. Ia mengagumi Amar Ouzegane sebagai seorang Muslim Marxis terkemuka dan mulai menerjemahkan bukunya Le meilleur combat (Perjuangan Terbaik).
Banyak cendekiawan telah memperdebatkan sifat terjemahan Shariati dan cara dia memandang serta menyajikan gagasan orang lain, sehubungan dengan pandangannya tentang dirinya sendiri sebagai seorang rawshanfikr, yang secara kasar diterjemahkan sebagai intelektual atau tercerahkan. Para cendekiawan yang telah mempelajari Shariati dan karya-karyanya, seperti Ali Rahnema, Georg Leube, dan Arash Davari, telah mempertimbangkan kebebasan, unsur-unsur "fiktif", dan "kebohongan yang sebenarnya" yang digunakan Shariati dalam terjemahan dan penyampaian gagasan orang lain. Para cendekiawan ini berpendapat bahwa Shariati secara strategis menyampaikan gagasan dan pemikiran para intelektual sezaman di luar Iran, seperti Frantz Fanon, dengan cara yang paling sesuai dengan audiensnya di Iran, membentuk presentasinya untuk memberikan dampak terbesar sambil tetap mempertahankan "semangat" pesan tersebut.