Ali Mahmudi atau nama lengkap Ali Machmoedi adalah seorang perwira Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan tokoh pejuang kemerdekaan yang memimpin perlawanan gerilya melawan agresi militer Belanda II (1948-1949) [1] di kawasan lereng Gunung Muria, Kabupaten Pati yang gugur pada bulan September 1949. Ia dikenal karena kecerdikannya dalam mengatur strategi gerilya melawan pasukan Belanda. Namanya kini diabadikan sebagai jalan utama dan tugu perjuangan yang terletak di pertigaan Pasar Gembong. [2]
Perjuangan dan Kiprah Militer
Penumpasan Pemberontakan PKI 1948
Kapten Ali Mahmudi adalah perwira dari Pasukan T (Pasukan Teritorial) berada di bawah komando Brigade Koesno Oetomo dari Divisi Siliwangi. Pasukan ini awalnya bertugas melakukan pembersihan terhadap sisa-sisa kekuatan pemberontakan PKI Musso di wilayah Pati pada tahun 1948. [1] Setelah tugas pembersihan selesai, ia tetap berada di wilayah tersebut untuk mengisi kekosongan kepemimpinan militer dalam upaya menghadapi Agresi Militer Belanda II akibat situasi politik yang tidak stabil. [3]
Kepemimpinan di STC Pati
Setelah peristiwa di Madiun, insfrastruktur pemerintahan dan militer di wilayah Jepara, Kudus, dan Pati mengalami kelumpuhan. Kapten Ali Mahmudi kemudian ditugaskan bersama Letkol dr. Gunawan untuk mengonsolidasi kembali kekuatan teritorial. Dalam struktur Pemerintah Militer, ia ditetapkan sebagai Kepala Staf Sub-Territorium Commando (STC) Pati. Jabatan tersebut adalah jabatan strategis yang mengoordinasikan pertahanan di wilayah Karisidenan Pati. [4][5] Sebelum dialih tugaskan ke jabatan tersebut Ali Mahmudi menjabat sebagai Seksi II/Operasi Komando Ronggolawe II di mana Komando Muria bermarkas di Desa Bageng Kecamatan Gembong Kabupaten Pati. Komando ini termasuk kedalam Komando Distrik Militer 0722.
Strategi Gerilya Muria
Ketika Agresi Militer Belanda II dimulai dan secara bersamaan kota Pati telah diduduki pada 20 Desember 1948. Ali Mahmudi mengambil keputusan untuk memindahkan pusat komando ke wilayah pegunungan. [6] Ia juga membangun markas gerilya di Dukuh Bageng, Desa Bageng, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati. Kapten Ali Mahmudi dikenal sebagai pribadi yang cerdik dalam mengatur strategi militer bahkan saat markas diserbu Belanda. Meskipun Letkol dr. Gunawan yang merupakan komandannya telah tertangkap dalam serangan tersebut. Ali Mahmudi berhasil melarikan diri ke wilayah Jepara untuk menyusun kembali kekuatan perlawanan dan memastikan roda pemerintahan militer tetap berjalan di wilayah Wehrkreise yang merupakan lingkaran pertahanan di Kompleks Gunung Muria. [7][8]
Wafat
Perjuangan Kapten Ali Mahmudi telah terhenti pada September 1949. Ia gugur akibat terjangan timah panas dalam sebuah pertempuran penghadapan (ambush) terhadap iring-iringan pasukan Belanda di Desa Bregat. [6] Gugurnya Ali Mahmudi menjadi pukulan yang sangat berat bagi pejuang di Karesidenan Pati. Mayor Munadi yang kedepannya akan menjadi Gubernur Jawa Tengah mengenangnya sebagai sosok kakak dan guru strategis yang sangat dihormati. [8] Setelah kematiannya, kepemimpinan gerilya di wilayah Muria dilanjutkan oleh Mayor Kusmanto. [1]
Penghormatan
Untuk mengenang jasa dan perjuangannya dalam melawan penjajah selama masa hidupnya. Pemerintah dan masyarakat setempat membangun Tugu Perjuangan Kapten Ali Mahmudi yang berada di pertigaan Pasar Gembong serta menjadikan namanya sebagai nama jalan di wilayah Ngembes, Gembong, Jawa Tengah. 2 Monumen ini berfungsi sebagai pengingat akan taktik gerilya dan keberaniannya dalam mempertahankan wilayah Muria dari penjajahan. [2]
Artikel ini tidak memiliki konten kategori. Bantulah dengan menambah kategori yang sesuai sehingga artikel ini terkategori dengan artikel lain yang sejenis.