Alfred Simanjuntak (20 September 1920–25 Juni 2014) adalah pencipta laguIndonesia. Ia dikenal luas oleh masyarakat melalui lagu ciptaannya yang berjudul Bangun Pemudi Pemuda. Sejak tahun 1934 sampai sekarang, ia telah menulis puluhan lagu anak-anak, lagu rohani, lagu-lagu paduan suara, serta lagu nasional, dan pernah menjadi konduktur istana atas saran R. Sudjasmin.
Alfred Simanjuntak merupakan putera dari pasangan Lamsana Simanjuntak dan Kornelia Silitonga, anak sulung dari delapan bersaudara.[2] Keluarga Bapak Lamsana Simanjuntak adalah keluarga yang sederhana. Hingga Alfred berusia lima tahun, keluarganya tidak pernah mengenal piring, sendok, atau gelas, meskipun Bapak Lamsana adalah guru sekolah dasar di wilayah itu.[1]
"Sebagai piring untuk seluruh keluarga dipakai piring kayu besar dan cukup tebal, yang dapat dikelilingi oleh empat sampai lima orang. Nasi ditaruh di tengah piring kayu itu, dan masing-masing mengambil dari bukit nasi itu sesuai dengan panggilan perutnya. Gelas atau mangkok tidak ada, untuk minum dipakai batok kelapa yang dibelah dua. Kalau ke sekolah, kami harus berjalan kaki 90 km. Mobil pertama yang kami lihat, pada tahun 1926, dan kami begitu takut akan “dilihat” mobil itu, sehingga kami lari tunggang langgang bersembunyi dalam semak-semak dan baru berani keluar ketika mobil sudah cukup jauh."
Setelah lulus dari HIKS, Alfred mengajar di Shakelschool (Sekolah Rakyat) di Kutoarjo, Madiun, dan Semarang. Di Semarang, tahun 1943, ia diterima sebagai guru menyanyi Sekolah Rakyat Sempurna Indonesia yang didirikan oleh sejumlah tokoh nasionalis seperti Bahder Djohan dan Wongsonegoro. Di sana pula ia berteman dengan Liberty Manik yang tinggal satu kontrakan dengannya, dan ikut menyaksikan proses penciptaan lagu Satu Nusa Satu Bangsa.[2]
Alfred Simanjutak menciptakan lebih dari 42 lagu perjuangan dan rohani. Ia berteman dengan Liberty Manik dan Cornelis Simanjuntak, sehingga ciri khas lagu yang mereka ciptakan sama. Sering kali lagu-lagu yang ia ciptakan dikira oleh masyarakat sebagai karya dari Cornel Simanjuntak, tetapi Alfred sendiri tidak terlalu mempermasalahkannya. Namun, saat lagu Selamatkan Terumbu Karang juga dikira merupakan karya dari Cornel, Alfred terkejut karena rekannya tersebut telah meninggal bertahun-tahun yang lalu.[4] Alida Salomo, istri keduanya yang ikut menyertai saat diwawancarai, mengatakan:
"Kami terheran-heran saat kami mendengar Indosiar menyebutkan bahwa lagu nasional untuk menyelamatkan karang negara dikomposisi oleh Cornel Simanjuntak. Kami sudah menghubungi stasiun untuk menyampaikan protes kami tetapi tidak memuaskan."