Teori Ellis mengenai REBT berlandaskan pada lima hal yang dikenal dengan singkatan ABCDE(A-activating experiences; B-beliefs; C-consequence; D-dispute; E-effects).[1][2] "A" mencakup pengalaman-pengalaman seperti kesulitan keluarga, kendala pekerjaan, trauma masa kecil, dan hal-hal lain yang menyebabkan ketidakbahagiaan.[1][2] "B" mencakup keyakinan-keyakinan terutama yang bersifat irasional dan merusak diri sendiri yang juga merupakan sumber ketidakbahagiaan.[1][2] "C" yakni konsekuensi-konsekuensi berupa gejala neurotik dan emosi negatif seperti panik, dendam, dan amarah karena depresi yang bersumber dari keyakinan yang keliru.[1][2] "D" merupakan keyakinan irasioanal yang harus dilawan oleh seorang terapis agar kliennya dapat menikmati dampak ("E") psikologis positif dari keyakinan yang rasional.[1]
Menurut Ellis, ada beberapa jenis pikiran keliru yang biasanya diterapkan oleh orang kebanyakan, yakni:[1]
ide bahwa setiap orang dewasa pasti merasa ingin dicintai orang lain atas segala yang ia lakukan, bukannya gagasan yang memfokuskan perhatian pada apa yang dia lakukan demi mencapai tujuan-tujuan praktis demi kepentingan orang lain, atau gagasan untuk mencintai orang lain ketimbang selalu menuntut cinta dari orang lain
ide bahwa ada tindakan-tindakan tertentu yang buruk dan merusak serta pelakunya harus dikecam karenan tidak tahu malu, bukannya gagasan bahwa tindakan teretentu ada yang merugikan diri sendiri atau anti-sosial dan pelakunya pastilah tidak punya pertimbangan yang sehat, masa bodoh atau neurotik, dan mereka ini seharusnya dibantu mengubah diri.
ide bahwa dunia akan kiamat jika segala sesuatunya tidak berjalan sesuai dengan rencana, bukannya gagasan bahwa walaupun sesuatu berjalan tidak sesuai keinginan, namun akan lebih baik jika kita berusaha mengubah atau mengatur kondisi buruk tersebut sedemikian rupa sehingga setelah itu besar kemungkinan akan berhasil mengatasi segala kesulitan
ide bahwa hal-hal yang membuat manusia menderita pasti datang dari luar dan ditimpakan pada diri kita oleh orang lain, bukannya gagasan bahwa sikap neurotik itu disebabkan oleh pandangan-pandangan kita sendiri akibat kondisi yang tidak menguntungkan di sekeliling kita
ide jika satu hal sangat menakutkan atau berbahaya, maka kita seharusnya sangat terobsesi dengan hal itu, bukannya gagasan bahwa kita seharusnya dengan tabah nebghadapi keadaan itu dan memandangnya sebagai bukan akhir dari segala-galanya.
ide bahwa lebih mudah menghindar dari kesulitan hidup dan tanggung jawab ketimbang berusaha menghadapi dan menaklukkannya, bukannya berpegang pada gagasan bahwa jalan yang mudah pada akhirnya akan menyusahkan diri sendiri
ide bahwa kita membutuhkan sesuatu yang lebih kuat atau lebih besar dari diri kita sendiri yang dapat dijadikan pegangan, bukannya gagasan bahwa lebih baik berpikir dan bertindak sesuai kehendak sendiri dengan apapun risikonya
ide bahwa kita harus selalu punya kemampuan dan kecerdasan serta selalu berhasil mengelolalnya dengan baik, bukannya gagasan bahwa lebih baik bertindak sesuai dengan kemampuan ketimbang hanya punya keinginan melakukan hal terbaik dan tidak mau menerima kenyataan bahwa diri kita adalah makhluk yang tidak sempurna dan pasti melakukan kesalahan
ide bahwa ketika suatu peristiwa besar terjadi, peristiwa tersebut pasti berbekas dan memengaruhi kehidupan kita selamanya, bukannya gagasan bahwa apa yang terjadi pada masa lalu mesti dijadikan pelajaran buat hari ini dan masa yang akan datang, serta tidak terlalu terpaku dengan peristiwa masa lalu.
ide bahwa kita harus mampu mengatur sesuatu dengan baik sebagai pengganti dari gagasan bahwa dunia ini penuh dengan kemungkinan-kemungkinan tak terduga dan kita tetap bisa menjalani kehidupan dengan segala kemungkinan ini
ide bahwa kebahagiaan bisa dicapai dengan bakat alami yang ada dalam diri seseorang sejak lahir dan kebahagiaan itu ditujukan untuk diri sendiri, bukannya gagasan bahwa keinginan kita untuk bahagia ditentukan oleh kemauan kita mencapai tujuan secara [[kreatif[[ atau selalu berusaha memproyeksikan usaha mencapai kebahagiaan itu keluar
ide bahwa kita pada akhirnya tidak dapat menguasai perasaan sendiri dan perasaan kecewa terhadap sesuatu pasti tidak bisa dielakkan, bukannya gagasan bahwa kita sebenarnya mampu mengontrol perasaan-perasaan buruk jika kita mau mengubah pengandaian-pengandaian yang menyebabkan lahirnya perasaan-perasaan buruk itu.
Referensi
12345678910(Indonesia) C. George Boeree. 2008. Personality Theories: Melacak Kepribadian Anda Bersama Psikolog Dunia. Yogyakarta: Prismasophie. Hlm. 174,175.176
12345(Inggris) David G. Benner. 1985. Baker Encyclopedia of Psychology. Grand Rapids: Baker Book House. Hlm. 352-353