Penelitiannya berfokus pada mekanisme pertahanan sistem imun bawaan dan adaptif terhadap virus.[1] Ia dikenal secara global atas kontribusinya dalam pemahaman Covid-19 dan pengembangan hipotesis utama mengenai penyebab Covid-19 jangka panjang.[3] Atas penelitiannya yang berdampak besar dalam menjelaskan mekanisme biologis di balik Covid-19 jangka panjang dan advokasinya yang kuat, majalah Time menobatkannya sebagai salah satu dari 100 Tokoh Paling Berpengaruh Tahun 2024.[3][4]
Kehidupan awal
Akiko Iwasaki lahir dan dibesarkan di Iga, Jepang, sebagai anak dari Hiroshi yang berprofesi sebagai fisikawan.[5] Setelah menyelesaikan sekolah menengah atas, ia pindah ke Toronto, Kanada, dan meraih gelar sarjana dalam bidang biokimia dan fisika dari Universitas Toronto pada tahun 1994, kemudian memperoleh gelar doktor dalam imunologi dari universitas yang sama pada tahun 1998.[5]
Iwasaki menjalani pelatihan pascadoktoral di Institut Kesehatan Nasional di bawah bimbingan ahli imunologi mukosa Brian Lee Kelsall, sebelum memulai laboratoriumnya sendiri di Universitas Yale pada tahun 2000, dan pada tahun 2022 dianugerahi sebagai Profesor Sterling, kehormatan akademik tertinggi bagi profesor di Universitas Yale.[6]
Penelitian
Fokus utama laboratorium Iwasaki adalah memahami cara kerja sistem imun bawaan dalam mengenali virus pada permukaan mukosa, seperti di saluran pernapasan dan genital, dan bagaimana respons tersebut memicu imunitas adaptif yang lebih spesifik dan bertahan lama.[7] Salah satu kontribusi pentingnya sebelum pandemi adalah pengembangan strategi vaksinasi dua tahap yang disebut umpan dan tarik (prime and pull). Metode ini bekerja dengan cara memberikan umpan (prime) pada sistem imun melalui vaksinasi konvensional, lalu menarik (pull) sel-sel imun yang telah terlatih ke jaringan spesifik menggunakan sinyal kimia.[8] Strategi ini terbukti efektif dalam studi perlindungan terhadap virus herpes simpleks dan menjadi dasar bagi pengembangan vaksin untuk lesi prakanker serviks akibat HPV.[5][7]
Selama pandemi Covid-19, laboratorium Iwasaki dengan cepat mengalihkan fokusnya untuk mempelajari virus SARS-CoV-2. Salah satu studi awalnya yang berpengaruh menunjukkan adanya perbedaan signifikan dalam respons imun antara pasien laki-laki dan perempuan. Kontribusi Iwasaki yang paling menonjol saat ini adalah penelitiannya mengenai Covid-19 jangka panjang. Ia dan timnya secara sistematis menyelidiki berbagai hipotesis mengenai penyebab biologis kondisi ini, termasuk persistensi virus, autoimunitas, reaktivasi virus laten, dan peradangan kronis.[9] Untuk mendukung riset ini, ia turut mendirikan Proyek LISTEN (Listen to Immune, Symptom and Treatment Experiences Now), sebuah studi kolaboratif berskala besar yang bertujuan mengidentifikasi biomarker dan target terapi untuk Covid-19 jangka panjang.[10]