Air terjun ini memiliki ketinggian sekitar 15 meter dan lereng yang sedang, air terjun ini mengalir melalui bebatuan sungai berundak, menciptakan aliran air yang terlihat seperti nyala api, oleh sebab itulah nama Kilat Api melekat padanya.[1] Lokasinya dapat ditemukan pada koordinat 2° 47’ 9.60” LS dan 115° 27’ 10.64” BT, di mana sungai setempat mengalirkan air bening yang relatif dangkal dan mudah diseberangi.[2]
Air terjun ini dikelilingi oleh vegetasi lebat, termasuk semak dan pohon-pohon yang menutupi jalur menuju lokasi. Aliran airnya membentuk kolam alami di dasar, yang sering dimanfaatkan pengunjung untuk berenang atau sekadar berfoto. Namun, kondisi alamnya yang masih alami juga berarti adanya tantangan, seperti pohon tumbang yang belum dibersihkan sepenuhnya, meskipun hal itu menambah kesan liar pada panorama sekitar.[2] Lokasi ini juga dekat dengan obyek wisata lain, seperti mata air panas Tanuhi yang berjarak sekitar 950 meter, menjadikannya bagian dari rangkaian destinasi alam di wilayah Loksado.[3]
Dari segi geologi, Air Terjun Kilat Api terbentuk akibat aktivitas vulkanik intensif pada masa Kretaseus Akhir, sekitar 95 hingga 135 juta tahun lalu. Bebatuan di sekitarnya termasuk granit dari Granit Batanglai atau Belawaian, yang merupakan hasil pembekuan magma selama periode tersebut. Formasi ini mencerminkan sejarah geologis Pegunungan Meratus, di mana proses tektonik dan vulkanisme membentuk lanskap berundak yang khas.[1][3] Situs ini berfungsi untuk kegiatan penelitian, pendidikan geologi, serta wisata alam, meskipun belum dikembangkan secara luas oleh pemerintah daerah.
Untuk mencapai Air Terjun Kilat Api, pengunjung dapat memulai perjalanan dari Bandara Internasional Syamsudin Noor di Banjarbaru, dengan jarak sekitar 137 kilometer atau memakan waktu empat jam melalui rute barat Banjarbaru, lalu timur laut menuju Desa Hulu Banyu. Jalan utama berupa aspal selebar 3–4 meter dalam kondisi baik, tetapi setelah mencapai area parkir, diperlukan perjalanan kaki sekitar lima menit ke arah barat.[4] Akses lebih lanjut melibatkan penyeberangan Sungai Amandit yang dangkal, diikuti jalur sempit melalui semak belukar. Tidak adanya papan petunjuk yang memadai sering kali mengharuskan pengunjung bertanya kepada warga setempat, terutama komunitas Dayak Meratus yang mendiami sekitar. Dari pusat Kandangan, ibu kota kabupaten, jaraknya hanya sekitar 30 kilometer melalui Rute Utara, dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua atau empat.[1] Pengunjung disarankan waspada terhadap perubahan cuaca mendadak, yang bisa menyebabkan banjir sungai, sehingga disarankan untuk meninggalkan lokasi segera jika langit mendung.[2]
Keberadaan bangunan unik di dekat air terjun menambah elemen menarik, meskipun detailnya masih terbatas dalam catatan tersedia. Secara keseluruhan, Air Terjun Kilat Api mewakili potensi wisata geologi di Kalimantan Selatan yang masih menunggu pengelolaan lebih baik untuk menarik lebih banyak kunjungan tanpa mengganggu ekosistem setempat.[4]