ENSIKLOPEDIA
Air India Penerbangan 182
VT-EFO, pesawat yang mengalami kecelakaan, terlihat pada tahun 1984 | |
| Ringkasan bombing | |
|---|---|
| Tanggal | 23 Juni 1985 (1985-06-23) |
| Ringkasan | Pesawat hancur di udara karena serangan bom teroris yang dilakukan oleh Babbar Khalsa |
| Lokasi |
|
![]() | |
| Pesawat | |
| Jenis pesawat | Boeing 747-237B |
| Nama pesawat | Emperor Kanishka |
| Operator | Air India |
| IATA | AI182 |
| ICAO | AIC182 |
| Kode panggil | AIRINDIA 182 |
| Registrasi | VT-EFO |
| Asal | Bandar Udara Internasional Pearson Toronto, Toronto, Kanada (sebagai Penerbangan 181) |
| Perhentian ke-1 | Bandar Udara Internasional Montréal–Mirabel, Mirabel, Quebec, Kanada |
| Perhentian ke-2 | Bandar Udara Heathrow London, London, Britania Raya |
| Perhentian ke-3 | Bandar Udara Internasional Palam, Delhi, India |
| Tujuan | Bandar Udara Internasional Sahar, Mumbai, India |
| Orang dalam pesawat | 329 |
| Penumpang | 307 |
| Awak | 22 |
| Tewas | 329 |
| Selamat | 0 |
Air India Penerbangan 182 adalah penerbangan internasional berjadwal yang berangkat dari Bandar Udara Internasional Pearson Toronto (sebagai Air India Penerbangan 181) menuju Bandar Udara Internasional Sahar di Mumbai, dengan persinggahan rutin di Mirabel, London, dan Delhi. Pada pagi hari tanggal 23 Juni 1985, pesawat Boeing 747-237B yang melayani rute Montreal–London meledak di dekat pesisir Irlandia akibat bom yang ditanam oleh teroris Sikh yang terkait dengan Babbar Khalsa.[1][2][3][4][5] Seluruh 329 orang di dalam pesawat tewas, termasuk 268 warga negara Kanada, 27 warga negara Britania Raya, dan 22 warga negara India. Pengeboman terhadap Penerbangan Air India 182 merupakan serangan teroris paling mematikan dalam sejarah Kanada dan menjadi aksi terorisme penerbangan paling mematikan di dunia hingga terjadinya serangan 11 September pada tahun 2001. Peristiwa ini juga tetap tercatat sebagai kecelakaan penerbangan paling mematikan dalam sejarah Air India, dan kehilangan pesawat Boeing 747 tunggal tanpa korban selamat yang paling mematikan dalam sejarah penerbangan.[6][7]
Para pelaku diyakini adalah Inderjit Singh Reyat, seorang warga negara ganda Britania Raya–Kanada yang mengaku bersalah pada tahun 2003, dan Talwinder Singh Parmar, salah satu tokoh utama yang terkait dengan kelompok separatis Khalistan, Babbar Khalsa.[8][9][10] Rencana tersebut juga melibatkan bom kedua yang dimaksudkan untuk meledak pada hari yang sama dan menewaskan seluruh penumpang serta awak Air India Penerbangan 301 yang melayani rute Tokyo–Bangkok–Delhi. Namun, bom tersebut justru menewaskan dua petugas penanganan bagasi di Bandar Udara Internasional Narita, Tokyo, ketika koper berisi bom sedang dipindahkan dari pesawat asal di Kanada ke pesawat Boeing 747 Air India. Pecahan dari bom itu kemudian menjadi bukti yang menghubungkan Reyat dengan peristiwa tersebut. Kedua bom tersebut tercatat dalam bagasi pada dua penerbangan Canadian Pacific Air Lines yang berangkat dari Bandar Udara Internasional Vancouver, satu menuju Tokyo untuk tersambung dengan Air India Penerbangan 301, dan satu lagi menuju Montreal untuk tersambung dengan Air India Penerbangan 182.
Pelaksanaan rencana tersebut menimbulkan dampak lintas negara dan melibatkan warga serta pemerintah dari lima negara. Babbar Khalsa diduga terlibat, tetapi keterlibatannya sebagai pihak yang bertanggung jawab atas pengeboman tersebut tidak pernah dapat dipastikan secara definitif.[11] Meskipun sejumlah orang sempat ditangkap dan diadili karena terhubung dengan pengeboman Air India, satu-satunya orang yang dijatuhi hukuman adalah Inderjit Singh Reyat, yang mengaku bersalah pada tahun 2003 atas tuduhan pembunuhan tidak berencana (manslaughter).[12] Ia dijatuhi hukuman penjara selama lima belas tahun karena merakit bom yang meledak di Air India Penerbangan 182 dan di Bandar Udara Narita.[13]
Penyelidikan dan proses penuntutan yang menyusul kemudian berlangsung selama hampir dua puluh tahun. Perkara ini menjadi persidangan paling mahal dalam sejarah Kanada dengan biaya yang mencapai hampir 130 juta dolar Kanada. Dua terdakwa lainnya, Ripudaman Singh Malik dan Ajaib Singh Bagri, akhirnya dinyatakan tidak bersalah.
Pada tahun 2006, Gubernur Jenderal dalam Dewan (Governor General-in-Council) menunjuk mantan hakim Mahkamah Agung Kanada, John C. Major, untuk memimpin komisi penyelidikan yang bertugas menelaah kegagalan dalam mencegah aksi teror tersebut, yang semakin diperburuk oleh kegagalan untuk memperoleh vonis terhadap para pelaku selain perakit bom. Laporan yang diselesaikan dan dipublikasikan pada 17 Juni 2010 itu menyimpulkan bahwa serangkaian kesalahan yang saling berkelanjutan oleh Pemerintah Kanada, Royal Canadian Mounted Police (RCMP), dan Dinas Intelijen Keamanan Kanada (Canadian Security Intelligence Service atau CSIS) telah memungkinkan serangan militan tersebut terjadi.[14]
Latar belakang
Selama dekade 1970-an, banyak warga Sikh bermigrasi ke wilayah barat Kanada. Di antara mereka terdapat sejumlah tokoh yang kemudian menjadi pemimpin dan anggota Babbar Khalsa, termasuk Talwinder Singh Parmar, Ajaib Singh Bagri, Ripudaman Singh Malik, dan Inderjit Singh Reyat. Pada dekade 1980-an, kawasan sekitar Vancouver di British Columbia telah berkembang menjadi pusat populasi Sikh terbesar di luar India.
Pada 13 April 1978, sebuah konvensi yang diselenggarakan oleh Sant Nirankari Mission berlangsung bertepatan dengan perayaan Vaisakhi, salah satu festival penting dalam tradisi Sikh yang memperingati kelahiran Khalsa. Konvensi tersebut dipimpin oleh Gurbachan Singh, pemimpin Sant Nirankari Mission, dan diselenggarakan di Amritsar dengan izin dari pemerintah negara bagian Punjab yang saat itu dipimpin oleh Akali Dal. Praktik keagamaan Sant Nirankari dianggap sebagai ajaran menyimpang oleh kalangan Sikh ortodoks yang mengikuti pemikiran Bhindranwale.[15] Sekitar 200 orang Sikh yang dipimpin oleh Bhindranwale dan Fauja Singh dari Akhand Kirtani Jatha (AKJ) berangkat dari Kuil Emas (Golden Temple) menuju lokasi Konvensi Nirankari. Bentrokan yang kemudian terjadi menewaskan sejumlah orang, termasuk dua pengikut Bhindranwale, sebelas anggota Akhand Kirtani Jatha, dan tiga anggota Nirankari.[16]
Kasus pidana kemudian diajukan terhadap 62 anggota Nirankari yang didakwa oleh pemerintah Punjab pimpinan Akali atas tuduhan pembunuhan terhadap 13 orang Sikh. Persidangan berlangsung di negara bagian Haryana yang bertetangga, dan seluruh terdakwa dibebaskan dari segala tuduhan, dengan alasan bahwa mereka bertindak untuk membela diri.[17] Pemerintah Punjab memutuskan untuk tidak mengajukan banding atas putusan tersebut. Keputusan itu memicu kekecewaan di kalangan sebagian Sikh ortodoks, yang menilai pemberitaan media yang cenderung positif terhadap Nirankari sebagai bagian dari konspirasi untuk mencemarkan agama Sikh.[17] Sejak saat itu, Bhindranwale semakin meningkatkan retorikanya terhadap pihak-pihak yang dianggap sebagai musuh kaum Sikh. Akal Takht mengeluarkan surat otoritas yang menyerukan pengucilan terhadap Sant Nirankari, sehingga tercipta suasana yang membuat sebagian pengikutnya merasa memiliki pembenaran untuk menyerang mereka yang dianggap sebagai musuh Sikhisme. Pendukung utama pandangan tersebut adalah Babbar Khalsa yang didirikan oleh Bibi Amarjit Kaur, janda anggota Akhand Kirtani Jatha; Damdami Taksal yang dipimpin oleh Jarnail Singh Bhindranwale, yang juga berada di Amritsar pada hari terjadinya serangan terhadap konvensi itu; Dal Khalsa yang dibentuk dengan tujuan memperjuangkan negara Sikh yang berdaulat; serta All India Sikh Students Federation yang kemudian dilarang oleh pemerintah.
Para pendiri kelompok Panthik (sekte keagamaan Sikh) di Vancouver bersumpah untuk membalas kematian para Sikh tersebut. Talwinder Singh Parmar memimpin sayap militan AKJ yang kemudian berkembang menjadi Babbar Khalsa untuk melakukan serangan terhadap kaum Nirankari. Pada 24 April 1980, Gurbachan Singh, Baba (pemimpin) kaum Nirankari, dibunuh. Seorang anggota Akhand Kirtani Jatha bernama Ranjit Singh menyerahkan diri dan tiga tahun kemudian mengakui keterlibatannya dalam pembunuhan tersebut. Ia dijatuhi hukuman penjara selama tiga belas tahun di Penjara Tihar, Delhi.[18]
Pada 19 November 1981, Parmar termasuk di antara para militan yang diduga berhasil melarikan diri dari baku tembak yang menewaskan dua petugas Kepolisian Punjab di luar rumah Amarjit Singh Nihang di Distrik Ludhiana. Insiden tersebut makin meningkatkan reputasi dan ketenaran Babbar Khalsa beserta pemimpinnya. Setelah itu, Parmar berangkat ke Kanada. Pada tahun 1982, India mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Parmar atas enam dakwaan pembunuhan yang berkaitan dengan tewasnya kedua petugas polisi tersebut. India memberi tahu Kanada bahwa Parmar merupakan militan yang dicari sejak 1981 dan mengajukan permintaan ekstradisi pada tahun 1982. Kanada menolak permintaan tersebut pada Juli 1982.
Setelah adanya peringatan dari Interpol, Parmar ditangkap ketika mencoba memasuki Jerman Barat. Pemerintah Jerman Barat memilih menangani kasus tersebut sendiri daripada menyerahkannya kepada India. Di penjara Düsseldorf, Parmar melakukan mogok makan untuk memperjuangkan hak keagamaannya agar diizinkan mengenakan turban dan memperoleh makanan vegetarian. Setelah India menerima informasi bahwa Parmar telah mengeluarkan ancaman pembunuhan terhadap Perdana Menteri Indira Gandhi, pemerintah India mengetahui bahwa pihak Jerman menilai bukti yang ada masih lemah.
Pada tahun 1983, kelompok pemberontak yang dipimpin oleh Jarnail Singh Bhindranwale selaku jathedar (pemimpin) Damdami Taksal menduduki Akal Takht di kompleks Kuil Emas dan menimbun persenjataan di dalam area suci tersebut. Mereka mengajukan Resolusi Anandpur Sahib yang menuntut agar negara bagian Punjab memperoleh kewenangan yang lebih besar dari pemerintah pusat serta otonomi yang lebih luas melalui perubahan konstitusi India.[19] Dalam berbagai insiden kekerasan dan kerusuhan yang terjadi, tercatat 410 orang tewas dan 1.180 orang lainnya mengalami luka-luka.[20] Pemerintah pusat menolak tuntutan yang dianggap mengarah pada pemisahan diri tersebut. Pada 3–6 Juni 1984, Perdana Menteri India Indira Gandhi memerintahkan Operasi Blue Star untuk mengusir kelompok militan dari Kuil Emas. Operasi militer itu menyebabkan ribuan warga Sikh terluka dan tewas ketika Angkatan Darat India menyerbu kompleks Kuil Emas untuk menyingkirkan Bhindranwale beserta para pengikutnya.[21] Komunitas Sikh di berbagai negara kemudian menggelar protes terhadap operasi tersebut. Pada 31 Oktober 1984, Indira Gandhi dibunuh oleh dua pengawal pribadinya yang beragama Sikh. Sebagai aksi balasan, kerusuhan anti-Sikh tahun 1984 yang dipandu oleh sejumlah anggota Kongres Nasional India menewaskan ribuan warga Sikh di India.
Persiapan
Parmar kemudian mengunjungi Inderjit Singh Reyat, seorang mekanik mobil dan teknisi listrik yang tinggal di Duncan, British Columbia, sebuah komunitas kecil di sebelah utara Victoria di Pulau Vancouver. Ia meminta Reyat untuk merakit sebuah bom. Reyat kemudian mengklaim bahwa dirinya tidak mengetahui untuk apa bom tersebut akan digunakan. Untuk memperoleh bahan peledak, Reyat bertanya kepada sejumlah orang di komunitasnya mengenai dinamit dengan alasan bahwa ia ingin membersihkan tunggul-tunggul pohon di lahannya. Reyat juga beberapa kali membahas bahan peledak dengan rekan kerjanya sambil mengungkapkan kemarahannya terhadap pemerintah India, khususnya terhadap Indira Gandhi.
Belakangan pada tahun yang sama, Ajaib Singh Bagri mendampingi Parmar sebagai tangan kanan dalam aktivitas militansi yang ditujukan kepada pemerintah India. Bagri bekerja sebagai pengemudi truk angsun (forklift) di sebuah pabrik penggergajian kayu dekat kota Kamloops. Ia dikenal sebagai seorang penceramah yang berpengaruh di kalangan komunitas Indo-Kanada. Keduanya berkeliling Kanada untuk mengobarkan sentimen di kalangan warga Sikh terhadap pemerintah India atas pelaksanaan Operasi Blue Star. Pertemuan-pertemuan yang mereka adakan juga dimanfaatkan sebagai sarana penggalangan dana bagi Babbar Khalsa. Seorang mantan kepala imam di Hamilton memberikan kesaksian bahwa Bagri pernah mengatakan, "Pemerintah India adalah musuh kita, sebagaimana masyarakat Hindu adalah musuh kita." Dalam kesempatan lain, Bagri menyerukan kepada sebuah jemaat, "Siapkan senjata kalian agar kita dapat membalas dendam terhadap Pemerintah India."
Pesawat
Pesawat yang mengoperasikan penerbangan tersebut adalah Boeing 747-237B dengan nomor registrasi VT-EFO dan nama "Emperor Kanishka". Pesawat ini pertama kali terbang pada 19 Juni 1978 dan diserahkan kepada Air India pada Juli 1978.[22] Pada 28 Januari 1983, ketika beroperasi sebagai Air India Penerbangan 306, pesawat tersebut mengalami kerusakan akibat tabrakan di darat dengan sebuah Airbus A300 milik Indian Airlines di Bandar Udara Palam. Setelah diperbaiki, pesawat kembali dioperasikan.[23]
Pengeboman
Pada 22 Juni 1985 pukul 13.30 UTC (06.30 PDT), seorang pria tak dikenal yang mengaku bernama "Manjit Singh" (terdaftar sebagai M. Singh) menelepon untuk mengonfirmasi reservasinya pada Air India Penerbangan 181/182. Ia diberi tahu bahwa namanya masih berada dalam daftar tunggu dan ditawari pengaturan perjalanan alternatif, tetapi ia menolaknya. Pada pukul 15.50 UTC (08.50 PDT), M. Singh mengantre bersama sekitar 30 penumpang lain untuk melapor masuk (check-in) pada Penerbangan 60 milik Canadian Pacific Air Lines (CP Air) dari Vancouver menuju Toronto, yang dijadwalkan berangkat pukul 09.18 pagi. Ia meminta petugas bernama Jeanne Bakermans agar koper Samsonite berwarna cokelat tua dengan cangkang keras miliknya didaftarkan dan dipindahkan langsung ke Air India Penerbangan 181, lalu diteruskan ke Penerbangan 182 menuju India.
Bakermans awalnya menolak permintaan tersebut karena kursi M. Singh untuk perjalanan dari Toronto ke Montreal dan dari Montreal ke Bombay belum dikonfirmasi. Namun, pria itu terus mendesak. Setelah kembali ditolak dengan penjelasan bahwa tiketnya belum menunjukkan status terkonfirmasi dan bahwa bagasinya tidak seharusnya diteruskan ke penerbangan berikutnya, ia berkata, "Tunggu, saya akan memanggil saudara saya." Ketika ia mulai berjalan menjauh, Bakermans akhirnya mengalah dan menerima bagasi tersebut, meskipun ia menegaskan bahwa M. Singh harus melapor ulang dengan Air India di Toronto. Setelah tragedi tersebut terjadi, Bakermans menyadari bahwa tipu daya itu telah berhasil mengirimkan koper tersebut ke jalur bagasi Air India Penerbangan 182. Pria yang tampak gelisah itu tidak pernah berhasil diidentifikasi.[24]
Beberapa menit kemudian, Bakermans juga menerima lapor masuk seorang penumpang dengan nama pada tiket L. Singh, yang kemudian diduga mungkin merupakan "saudara" fiktif dari M. Singh, untuk CP Air Penerbangan 003 menuju Tokyo, dengan sambungan yang telah terkonfirmasi ke Air India Penerbangan 301 menuju New Delhi. Koper milik L. Singh ternyata berisi bom kedua. Bom ini dirancang untuk menghancurkan Air India Penerbangan 301 di udara menuju New Delhi pada waktu yang hampir bersamaan dengan ledakan Penerbangan 182. Namun, bom tersebut justru meledak saat proses pemindahan bagasi di Bandar Udara Internasional Narita dan menewaskan dua petugas bagasi di Jepang.[24] Pada pukul 16.18 UTC (09.18 PDT), CP Air Penerbangan 60 lepas landas dari Vancouver tanpa M. Singh berada di dalam pesawat.[25]
Reyat kemudian bersaksi bahwa pada pagi hari itu ia menyeberang dengan feri dari Duncan menuju Vancouver untuk mengerjakan truk milik saudaranya. Catatan telepon menunjukkan bahwa seseorang menelepon dari kediamannya di Duncan ke nomor Johal pada pukul 10.50 pagi dan kembali menelepon pada pukul 16.00 sore hari yang sama. Reyat juga terlihat bersama seorang pria keturunan India lainnya di toko Auto Marine Electric di Burnaby, dekat rumah Parmar, antara pukul 10.00 hingga 11.30 pagi. Ia membeli dua baterai 12 volt yang serupa dengan baterai yang digunakan dalam perangkat peledak yang sebelumnya diuji di kawasan hutan. Baterai tersebut dirancang untuk dipasang pada dudukan logam khusus yang dibawanya. Belakangan, Konstabel Clark-Marlowe berpendapat bahwa terdapat cukup waktu bagi Reyat untuk membeli baterai tersebut, memasangnya ke dalam rangkaian alat peledak, lalu mengirimkannya dalam sebuah koper ke Bandar Udara Vancouver.
Pada pukul 20.22 UTC (16.22 EDT), Penerbangan 060 milik Canadian Pacific Air Lines tiba di Toronto dengan keterlambatan 12 menit. Para petugas bagasi mulai memilah bagasi yang baru tiba dan yang akan dipindahkan ke penerbangan lanjutan. Sebagian penumpang dan bagasi, termasuk koper yang didaftarkan oleh M. Singh, dipindahkan ke Air India Penerbangan 182.
Sebagai tanggapan atas ancaman dari kelompok teroris Sikh, Air India telah meminta pengamanan tambahan sehingga Kanada menempatkan lebih banyak petugas kepolisian di terminal Toronto dan Montreal. Seluruh bagasi seharusnya diperiksa menggunakan sinar-X atau pemeriksaan manual.[26] Namun, mesin sinar-X mengalami kerusakan pada hari itu sehingga para petugas menggunakan alat pendeteksi bahan peledak portabel PDD-4. Seorang petugas keamanan Air India mendemonstrasikan bahwa alat tersebut akan mengeluarkan suara keras jika korek api yang menyala didekatkan sekitar satu inci dari alat, dan menjelaskan bahwa pemeriksaan harus dilakukan di sepanjang sisi koper yang diperiksa.
Antara pukul 17.15 dan 18.00, alat tersebut sempat mengeluarkan bunyi pada sebuah koper berwarna merah marun berbahan lunak dengan ritsleting yang mengelilingi seluruh sisinya. Bunyi itu terdengar pelan di sekitar kunci ritsleting. Karena petugas pemeriksa bagasi Air India tidak diberi petunjuk mengenai cara menangani bunyi singkat seperti itu, koper tersebut tetap diizinkan melanjutkan perjalanan. Penyelidikan kemudian menemukan bahwa dua kontainer yang kemungkinan berisi koper milik M. Singh ditempatkan dekat ruang peralatan elektronik sensitif pesawat.
Pada 23 Juni pukul 00.15 UTC (22 Juni pukul 20.15 waktu setempat), Air India Penerbangan 181, sebuah Boeing 747-237B bernama Emperor Kanishka, berangkat dari Bandar Udara Internasional Pearson Toronto menuju Bandar Udara Internasional Montréal–Mirabel. Pesawat terlambat satu jam empat puluh menit karena pemasangan sebuah "pod kelima", yaitu mesin cadangan yang ditempatkan di bawah sayap kiri untuk diterbangkan ke India guna menjalani perbaikan dan pemeliharaan. Beberapa komponennya harus disimpan di kompartemen kargo belakang. Mesin cadangan tersebut sebelumnya disewakan kepada Air Canada setelah salah satu Boeing 747 milik maskapai itu mengalami kerusakan mesin dalam penerbangan menuju India. Setelah masa sewa berakhir, mesin tersebut diperiksa dan dinyatakan layak digunakan oleh teknisi Air Canada.
Pesawat tiba di Bandar Udara Internasional Montréal–Mirabel pada pukul 01.00 UTC (22 Juni pukul 21.00 waktu setempat). Di sana, nomor penerbangannya berubah menjadi Air India Penerbangan 182. Selanjutnya, pesawat berangkat menuju Bandar Udara Heathrow London sebelum melanjutkan perjalanan ke Bandar Udara Internasional Palam di Delhi dan Bandar Udara Internasional Sahar di Mumbai. Di dalam pesawat terdapat 329 orang, terdiri atas 307 penumpang dan 22 awak. Kapten Narendra Singh Hanse (56 tahun) bertugas sebagai pilot utama, didampingi Kopilot Satwinder Singh Bhinder (41 tahun), dan insinyur penerbangan Dara Dumasia (57 tahun).[27] Banyak penumpang sedang dalam perjalanan untuk mengunjungi keluarga dan kerabat mereka.
Pada pukul 07.09.58 GMT (08.09.58 waktu Irlandia), awak Boeing 747 mengirimkan kode transponder "squawk 2005" sesuai instruksi pengatur lalu lintas udara Bandar Udara Shannon. Lima menit kemudian, pesawat menghilang dari layar radar. Pada pukul 07.14.01 GMT (08.14.01 waktu Irlandia), sebuah bom yang disembunyikan di dalam perangkat tuner radio merek Sanyo yang ditempatkan dalam koper di ruang kargo depan meledak ketika pesawat berada pada ketinggian 31.000 ft (9.400 m).[28]
Ledakan tersebut menyebabkan dekompresi berat dan menghancurkan pesawat di udara. Puing-puingnya jatuh ke perairan sedalam sekitar 6.700 ft (2.000 m) di lepas pantai barat daya Irlandia, sekitar 190 km (120 mi) dari County Cork. Tidak ada panggilan darurat mayday yang diterima oleh pengatur lalu lintas udara Shannon. Pihak pengatur lalu lintas udara meminta pesawat-pesawat di sekitar lokasi untuk mencoba menghubungi Air India, tetapi tidak memperoleh respons. Pada pukul 07.30 GMT, keadaan darurat resmi diumumkan dan kapal-kapal kargo di sekitar lokasi serta kapal patroli Angkatan Laut Irlandia, LÉ Aisling, diminta membantu pencarian pesawat.
Sementara itu, beberapa jam sebelumnya, sebelum pukul 20.22 UTC (13.22 PDT), L. Singh, yang juga tidak pernah berhasil diidentifikasi, melakukan lapor masuk untuk CP Air Penerbangan 003 menuju Tokyo yang dijadwalkan berangkat pukul 13.37, dengan satu bagasi yang akan dipindahkan ke Air India Penerbangan 301 menuju Bangkok. Namun, seperti M. Singh, L. Singh tidak pernah menaiki pesawat tersebut.[25]
Koper kedua yang didaftarkan atas nama L. Singh tetap diterbangkan dengan Penerbangan 003 dari Vancouver menuju Tokyo. Tidak ada pemeriksaan sinar-X terhadap bagasi dalam penerbangan tersebut. Sasaran bom itu adalah Air India Penerbangan 301 yang akan berangkat membawa 177 penumpang dan awak menuju Bangkok–Don Mueang. Akan tetapi, 55 menit sebelum ledakan yang menghancurkan Air India Penerbangan 182, bom tersebut meledak di terminal Bandar Udara Internasional Narita. Ledakan itu menewaskan dua petugas bagasi Jepang dan melukai empat orang lainnya.
Penyelidikan




Dalam hitungan jam setelah tragedi terjadi, komunitas India di Kanada menjadi pusat perhatian. Hal ini disebabkan banyak korban berasal dari komunitas tersebut, sementara para penyelidik mulai menelusuri kemungkinan keterkaitan peristiwa itu dengan kelompok separatis Sikh yang sebelumnya telah mengancam dan melakukan berbagai aksi kekerasan sebagai bentuk pembalasan terhadap komunitas Hindu.[29]
Selama enam tahun penyelidikan yang melibatkan berbagai negara, banyak bagian dari rencana pengeboman itu akhirnya berhasil diungkap. Berdasarkan puing-puing pesawat dan jasad korban yang ditemukan mengapung di permukaan laut, para penyelidik memutuskan untuk mengangkat lebih banyak puing serta alat perekam penerbangan dari dasar laut. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa perekam suara kokpit (CVR) dan perekam data penerbangan (FDR) mati secara bersamaan. Selain itu, kerusakan pada bagian-bagian pesawat yang ditemukan dari ruang kargo depan memperlihatkan pola yang konsisten dengan sebuah ledakan. Temuan tersebut mengarah pada kesimpulan bahwa kemungkinan besar sebuah bom yang ditempatkan di dekat ruang kargo depan telah menyebabkan pesawat hancur secara tiba-tiba di udara.
Penyelidik juga segera menghubungkan tragedi ini dengan ledakan yang sebelumnya terjadi di Jepang. Kedua insiden tersebut diketahui berawal dari Vancouver; tiket untuk kedua penerbangan dibeli oleh orang yang sama, dan dalam kedua kasus pesawat membawa bagasi yang terdaftar atas nama penumpang yang tidak pernah menaiki pesawat.
Pada tahap awal penyelidikan, salah satu kemungkinan penyebab kecelakaan yang dipertimbangkan adalah keberadaan mesin cadangan yang sedang diangkut menuju fasilitas perawatan. Mesin tersebut menambah beban pada salah satu sisi pesawat sehingga sempat dicurigai sebagai faktor penyebab kecelakaan. Namun, dugaan ini kemudian disingkirkan setelah data dari perekam penerbangan menunjukkan posisi kemudi arah (rudder) yang telah mengompensasi beban tambahan akibat pengangkutan mesin kelima tersebut.
Tidak ada bagian bom yang berhasil ditemukan dari dasar laut. Namun, penyelidikan terhadap ledakan di Tokyo mengungkap bahwa bom ditempatkan di dalam sebuah tuner stereo merek Sanyo dari seri yang pernah dikirim ke Vancouver, Kanada. Menindaklanjuti temuan ini, RCMP menugaskan sedikitnya 135 petugas untuk memeriksa setiap toko yang kemungkinan menjual tuner Sanyo tersebut. Upaya itu akhirnya mengarah pada penemuan transaksi penjualan terbaru kepada seorang mekanik bernama Inderjit Singh Reyat di kota asalnya, Duncan, British Columbia.
RCMP kemudian menghubungi Dinas Intelijen Keamanan Kanada (CSIS) dan mendapati bahwa lembaga tersebut ternyata telah lebih dahulu menyelidiki aktivitas para militan Sikh. Dari CSIS, RCMP mengetahui bahwa penyadapan telepon telah dilakukan dan bahwa Reyat serta Parmar pernah diamati saat melakukan uji ledakan di dekat Duncan. Selain itu, penyelidik juga telah menemukan penghubung listrik untuk detonator serta pembungkus kertas yang berasal dari detonator peledak.
Penggeledahan lebih lanjut menghasilkan bukti berupa tanda terima pembelian tuner Sanyo Model FMT-611K yang mencantumkan nama dan nomor telepon Reyat, beserta catatan pembelian sejumlah komponen lain yang dapat digunakan untuk merakit bom. Baru pada Januari 1986 para penyelidik Kanada dari Dewan Keselamatan Penerbangan Kanada (Canadian Aviation Safety Board) secara resmi menyimpulkan bahwa pesawat tersebut jatuh akibat ledakan bom di ruang kargo depan. Pada 26 Februari 1986, Hakim Mahkamah Agung India Kirpal menyampaikan laporan hasil penyelidikan yang disusun berdasarkan investigasi yang dipimpin oleh H.S. Khola, yang dikenal sebagai "Laporan Khola". Laporan tersebut juga menyimpulkan bahwa bom yang berasal dari Kanada telah menyebabkan jatuhnya pesawat Air India tersebut.[28]
Berdasarkan hasil pengamatan, penyadapan, penggeledahan, dan penangkapan sejumlah orang yang diduga terlibat, para penyelidik menyimpulkan bahwa pengeboman tersebut merupakan operasi bersama yang melibatkan sedikitnya dua kelompok militan Sikh dengan jaringan anggota yang luas di Kanada, Amerika Serikat, Britania Raya, dan India. Kemarahan kelompok-kelompok militan tersebut dipicu oleh penghancuran Kuil Emas dan kematian warga Sikh selama operasi militer India terhadap kaum separatis, serta oleh kerusuhan anti-Sikh yang terjadi pada tahun 1984.[30][31]
Dramatisasi media
CBC Television mengumumkan dimulainya proses produksi film Flight 182, sebuah dokumenter tentang tragedi tersebut yang disutradarai oleh Sturla Gunnarsson. Judulnya kemudian diubah menjadi Air India 182 sebelum ditayangkan perdana di Festival Film Dokumenter Internasional Kanada Hot Docs di Toronto pada April 2008. Setelah itu, film tersebut juga tayang perdana di CBC Television pada bulan Juni.
Kecelakaan ini juga ditampilkan dalam musim ke-5 seri dokumenter produksi Kanada yang didistribusikan secara internasional, Mayday, dalam episode berjudul "Air India: Explosive Evidence".[32]
Banyak jurnalis telah menulis komentar dan analisis mengenai pengeboman ini selama beberapa dekade sejak peristiwa tersebut terjadi. Pada tahun 2006, penulis laris internasional Anita Rau Badami menerbitkan Can You Hear the Nightbird Call?, sebuah novel fiksi yang menggambarkan kehidupan dan peristiwa yang mengarah pada pengeboman Air India, dengan memasukkan detail faktual dari tragedi tersebut.[33] Delapan bulan setelah pengeboman, jurnalis surat kabar The Province, Salim Jiwa, menerbitkan Death of Air India Flight 182.[34] Buku Loss of Faith: How the Air-India Bombers Got Away With Murder diterbitkan pada Mei 2005 oleh jurnalis Vancouver Sun, Kim Bolan. Jiwa bersama rekan jurnalis Don Hauka juga menerbitkan Margin of Terror: A reporter's twenty-year odyssey covering the tragedies of the Air India bombing pada Mei 2007.
Dalam cerita pendeknya The Management of Grief, penulis kelahiran India yang berbasis di Amerika, Bharati Mukherjee, menggunakan fiksi untuk menggambarkan kesedihan mendalam keluarga korban Air India 182. Cerita ini pertama kali diterbitkan dalam kumpulan cerita The Middleman and Other Stories. Mukherjee juga menulis bersama suaminya, Clark Blaise, dalam buku The Sorrow and the Terror: The Haunting Legacy of the Air India Tragedy (1987).
Terinspirasi oleh sikap sebagian masyarakat Kanada yang dinilai mengabaikan tragedi Air India, Neil Bissoondath menulis The Soul of All Great Designs.
Pada tahun 2013, penyair Kanada Renée Sarojini Saklikar menerbitkan kumpulan puisi memorial berjudul Children of Air India: Un/authorized Exhibits and Interjections.
Pengeboman Air India juga menjadi inti alur novel All Inclusive karya penulis asal Toronto, Farzana Doctor.
Dr. Chandra Sankurathri, suami dan ayah dari korban Air India, menulis autobiografi berjudul Ray of Hope.[35]
Pada tahun 2021, mantan jurnalis CBC, Terry Milewski, menulis Blood for Blood: Fifty Years of the Global Khalistan Project. Buku ini membahas secara luas gerakan Khalistan di seluruh dunia, dorongan balas dendam di dalamnya, serta kurangnya dukungan yang memadai dari sekutu India di dunia Barat. Ia juga menguraikan perkembangan serta kemunduran militan diaspora seperti Talwinder Singh Parmar.
Referensi
- ↑ Hoffman, Bruce; Reinares-Nestares, Fernando (2014). The evolution of the global terrorist threat: from 9/11 to Osama Bin Laden's death. Columbia studies in terrorism and irregular warfare (dalam bahasa Inggris). New York: Columbia university press. ISBN 978-0-231-16898-4. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ↑ Salinas de Frías, Ana; Samuel, Katja; White, Nigel D. (2012). Counter-terrorism: international law and practice (dalam bahasa Inggris). Oxford : New York, NY: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-960892-8. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ↑ "Investigation into the Kanishka Bombing" [Investigasi terhadap ledakan bom di Kanishka]. South Asia Terrorism Portal (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 30 Mei 2026.
- ↑ "Lessons to be learned" [Hikmah yang bisa dipetik]. Public Safety Canada (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 30 Mei 2026.
- ↑ "Suspects in the Air India Bombing" [Tersangka dalam kasus ledakan bom di pesawat Air India]. ABC News (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 30 Mei 2026.
- ↑ Goldman, Zachary K.; Rascoff, Samuel James (2016). Global intelligence oversight: governing security in the twenty-first century (dalam bahasa Inggris). New York, NY: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-045808-9. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ↑ Lui, Kevin (16 Februari 2017). "Man Convicted for 1985 Air India Bombing Now Free" [Pria yang divonis bersalah atas ledakan pesawat Air India pada tahun 1985 kini telah bebas]. TIME (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 30 Mei 2026.
- ↑ "Canada sets free 1985 Air India flight Kanishka bomber Inderjit Singh Reyat" [Kanada membebaskan Inderjit Singh Reyat, pelaku bom pesawat Air India Kanishka tahun 1985]. India Today (dalam bahasa Inggris). 16 Februari 2017. Diakses tanggal 30 Mei 2026.
- ↑ "Inderjit Singh Reyat, only person convicted in Air India bombing, released from halfway house" [Inderjit Singh Reyat, satu-satunya orang yang divonis bersalah dalam kasus peledakan Air India, dibebaskan dari rumah rehabilitasi]. Global News (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 30 Mei 2026.
- ↑ "Men acquitted in Air India bombings" [Para pria dibebaskan dalam kasus peledakan Air India]. NBC News (dalam bahasa Inggris). 16 Maret 2005. Diakses tanggal 30 Mei 2026.
- ↑ Roach, Kent (2011-01). "The Air India report and the regulation of charities and terrorism financing" [Laporan Air India dan Regulasi Amal serta Pendanaan Terorisme]. University of Toronto Law Journal (dalam bahasa Inggris). 61 (1): 45–57. doi:10.3138/utlj.61.1.045. ISSN 0042-0220.
- ↑ "Ken's adviser is linked to terror group" [Penasihat Ken terhubung dengan kelompok teroris]. The Standard (dalam bahasa Inggris). 5 April 2012. Diakses tanggal 30 Mei 2026.
- ↑ "Convicted Air India bomb-builder Inderjit Singh Reyat gets bail" [Inderjit Singh Reyat, terpidana pembuat bom Air India, mendapat jaminan]. CBC (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 30 Mei 2026.
- ↑ "Air India case marred by 'inexcusable' errors" [Kasus Air India diwarnai oleh kesalahan-kesalahan yang "tidak dapat dimaafkan"]. CBC (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 30 Mei 2026.
- ↑ Mahmood, Cynthia Keppley (2010). Fighting for Faith and Nation: Dialogues with Sikh Militants. Contemporary Ethnography (dalam bahasa Inggris). Philadelphia: University of Pennsylvania Press. ISBN 978-0-8122-1592-2. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ↑ "Punjab: The Knights of Falsehood — Psalms of Terror" [Punjab: Para Ksatria Palsu — Mazmur Teror]. South Asia Terrorism Portal (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 30 Mei 2026.
- 1 2 Mahmood, Cynthia Keppley (2010). Fighting for Faith and Nation: Dialogues with Sikh Militants. Contemporary Ethnography (dalam bahasa Inggris). Philadelphia: University of Pennsylvania Press. ISBN 978-0-8122-0017-1. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ↑ "Nirankari murder case: Govt under pressure to get Akal Takht jathedar's sentence commuted" [Kasus pembunuhan Nirankari: Pemerintah berada di bawah tekanan untuk mendapatkan pengurangan hukuman bagi pemimpin Akal Takht]. India Today (dalam bahasa Inggris). 10 November 1997. Diakses tanggal 30 Mei 2026.
- ↑ Deol, Harnik (2000). Religion and nationalism in India: the case of the Punjab. Routledge studies in the modern history of Asia (dalam bahasa Inggris). London New York: Routledge. ISBN 978-0-203-40226-9. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ↑ Tully, Mark; Jacob, Satish (1986). Amritsar: Mrs Gandhi's last battle (dalam bahasa Inggris). London: Cape. ISBN 978-0-224-02328-3. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ↑ "Operation Bluestar, 20 Years On" [Operasi Bluestar, 20 tahun kemudian]. Rediff (dalam bahasa Inggris). 3 Juni 2004. Diakses tanggal 30 Mei 2026.
- ↑ Ranter, Harro. "Unlawful Interference Boeing 747-237B VT-EFO, Sunday 23 June 1985". Aviation Safety Network (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 30 Mei 2026.
- ↑ Ranter, Harro. "Accident Boeing 747-237B VT-EFO, Friday 28 January 1983". Aviation Safety Network (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 30 Mei 2026.
- 1 2 "Agent recalls checking fateful Air India bag" [Petugas ingat pernah memeriksa koper Air India yang naas itu]. CBC (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 30 Mei 2026.
- 1 2 "Deadly puzzle remains a mystery" [Misteri teka-teki mematikan itu tetap tak terpecahkan]. BBC News (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 30 Mei 2026.
- ↑ "Blast kills 2 as cargo is unloaded from Canadian airliner in Japan" [Ledakan menewaskan dua orang saat kargo dibongkar dari pesawat penumpang Kanada di Jepang]. The New York Times (dalam bahasa Inggris). 24 Juni 1985. Diakses tanggal 30 Mei 2026.
- ↑ "Two held for '85 Kanishka crash" [Dua orang ditahan atas kecelakaan pesawat Kanishka tahun 1985]. Tribune India (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 30 Mei 2026.
- 1 2 Kirpal, B. N. (26 Februari 1986). Indian Government Report of the Court Investigating the accident of Air India Boeing 747 Aircraft VT-EFO, "Kanishka" on 23 June 1985 [Laporan Pemerintah India dari Pengadilan yang Menyelidiki Kecelakaan Pesawat Boeing 747 Air India VT-EFO, "Kanishka", pada 23 Juni 1985] (PDF) (dalam bahasa Inggris). Pemerintah India. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 30 September 2011 – via Public Safety Canada.
- ↑ "As Indians' Ranks In Canada Grow, Old Conflicts Are Also Transplanted" [Seiring bertambahnya jumlah warga India di Kanada, konflik-konflik lama pun ikut terbawa]. The New York Times (dalam bahasa Inggris). 26 Juni 1985. Diakses tanggal 30 Mei 2026.
- ↑ "A reader's guide to the Air India bombing and the bloody conflict that preceded it" [Panduan pembaca tentang ledakan bom di pesawat Air India dan konflik berdarah yang mendahuluinya]. Macleans (dalam bahasa Inggris). 19 Maret 2018. Diakses tanggal 30 Mei 2026.
- ↑ "Sikhs Deplore Air-India Crash" [Umat Sikh menyayangkan kecelakaan pesawat Air India]. The Washington Post (dalam bahasa Inggris). 27 Juni 1985. Diakses tanggal 30 Mei 2026.
- ↑ ""Air Crash Investigation" Explosive Evidence (TV Episode 2008)". IMDb (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 30 Mei 2026.
- ↑ Badami, Anita Rau (2006). Can you hear the nightbird call ? (dalam bahasa Inggris). New York: Knopf. ISBN 978-0-676-97604-5. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ↑ Jiwa, Salim (1986). The death of Air India Flight 182 (dalam bahasa Inggris). London: Star Book. ISBN 978-0-352-31952-4. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ↑ https://www.facebook.com/TheVoiceCanada/ (25 Juni 2018). "Ray of Hope: Air India bombing victim's memoir released in Canada | Indo-Canadian Voice". Indo-Canadian Voice – South Asian Indo Canadian Newspaper BC (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 30 Mei 2026. ;
Pranala luar
- "Final Report | Commission of Inquiry into the Investigation of the Bombing of Air India Flight 182". Komisi Penyelidikan atas Penyelidikan Pengeboman Pesawat Air India Penerbangan 182. Diakses tanggal 30 Mei 2026.
| Nasional | |
|---|---|
| Lain-lain | |
Kecelakaan dan insiden penerbangan tahun 1985 (1985) | |
|---|---|
18 Jan 19 Feb 24 Feb 29 Mar 3 Mei 14 Jun 23 Jun 10 Jul 10 Okt 10 Nov 23 Nov 12 Des 19 Des | |
