Air asam tambang (Acid Mine Drainage, AMD) disebut juga dengan drainase asam batu (Acid Rock Drainage, ARD) adalah aliran air bersifat asam yang berasal dari tambang logam atau batubara.[1] Fenomena ini terjadi ketika mineral sulfida dalam batuan mengalami oksidasi dan bereaksi dengan air, menghasilkan air dengan pH rendah.[2] air asam tambang juga dapat terjadi secara alami sebagai bagian dari proses pelapukan batuan,[3][4] tetapi kegiatan manusia seperti pertambangan, penggalian, atau konstruksi skala besar dapat mempercepat proses ini dan meningkatkan jumlah aliran air bersifat asam.[5][6]
Proses pembentukan
Proses utama terbentuknya AMD/ARD adalah oksidasi mineral sulfida, terutama pirit (FeS₂). Ketika mineral ini bereaksi dengan air dan oksigen, terbentuk asam sulfat serta logam terlarut yang meningkatkan tingkat keasaman air.[7]Reaksi kimia ini menyebabkan lingkungan perairan di sekitarnya menjadi lebih asam dan meningkatkan kelarutan logam berat, sehingga zat tersebut lebih mudah tersuspensi oleh organisme. Fenomena serupa juga dapat terjadi pada tanah sulfat asam yang terganggu, misalnya di wilayah pesisir atau estuari.[8][9]
Dalam reaksi ini, sulfida diubah menjadi sulfat, sehingga terbentuk ion besi(II) (ferrous) yang terlarut. Besi(II) selanjutnya dapat mengalami oksidasi menjadi besi(III) (ferric) melalui reaksi:
Reaksi-reaksi ini dapat berlangsung secara spontan atau menerima katalis dari mikroorganisme yang memperoleh energi dari oksidasi mineral sulfida. Besi(III) yang terbentuk dapat bereaksi lebih lanjut dengan pirit tambahan, sehingga oksidasi sulfida terus berlanjut:[11]
Reaksi ini menghasilkan ion H⁺, yang menurunkan pH air dan menjaga kelarutan besi(III). Siklus oksidasi dan reduksi besi memungkinkan terjadinya proses berkelanjutan, di mana sulfida terus dioksidasi dan air tetap bersifat asam selama terdapat mineral sulfida dan oksigen.[12][13]
Dampak
Air bersifat asam yang dihasilkan dapat memiliki kandungan logam berat tinggi, seperti besi, aluminium, arsen, dan merkuri.[14] Keasaman yang rendah meningkatkan kelarutan logam-logam tersebut sehingga lebih mudah tersuspensi dan menggangu organisme perairan.[15] Paparan terhadap air asam dan logam berat dapat merusak kualitas air permukaan, mengganggu kesehatan organisme, serta menurunkan keanekaragaman hayati.[16] Dampak ini tidak terbatas pada lokasi tambang, melainkan dapat menyebar sepanjang jalur aliran air, termasuk sungai, anak sungai, dan badan air lainnya.[17][18] Akumulasi logam berat dalam air dan sedimen memengaruhi seluruh komunitas perairan, dari organisme bentik hingga ikan, serta mengubah sifat fisik dan kimia air, seperti pH, konduktivitas, dan kandungan nutrien.[19]