ENSIKLOPEDIA
Agama Shinto
| Bagian Seri Agama di |
| Shinto |
|---|
| Praktik dan keyakinan |
| Kuil Shinto |
| Kami Penting |
| Literatur Penting |
| Lihat juga |
| Agama |

Shinto (神道code: ja is deprecated , Shintō, secara harfiah bermakna "jalan Tuhan") adalah sebuah agama yang berasal dari Jepang.[2] Para cendekiawan keagamaan menggolongkannya sebagai agama Asia Timur; mereka yang menjalankan praktik keagamaannya (praktisi) sering menganggapnya sebagai agama asli Jepang dan agama alam. Para cendekiawan terkadang menyebut para praktisi sebagai "penganut Shinto" walau para penganut sendiri jarang menggunakan istilah tersebut. Shinto tidak dikendalikan oleh suatu otoritas pusat, para praktisi memiliki keyakinan dan praktik keagamaan yang beraneka ragam.
Shinto adalah agama politeistik yang memercayai Kami, entitas supernatural yang diyakini menghuni segala sesuatu, sebagai bagian esensial kepercayaan. Kami dapat ditemukan dalam kekuatan alam dan lokasi-lokasi lanskap yang signifikan. Hubungan antara kamicode: ja is deprecated dan alam menyebabkan Shinto dianggap animistik. Penyembahan kamicode: ja is deprecated dilakukan di altar rumah tangga kamidanacode: ja is deprecated , kuil keluarga, dan kuil umum jinja.Kuil umum dikelola oleh para pendeta, yang dikenal sebagai kannushicode: ja is deprecated . Mereka mengelola persembahan makanan dan minuman untuk kamicode: ja is deprecated tertentu yang dipuja di lokasi tersebut. Hal itu dilakukan untuk menumbuhkan keharmonisan antara manusia dan kamicode: ja is deprecated serta untuk meminta berkah darinya. Ritual umum lainnya termasuk tari kaguracode: ja is deprecated , ritus peralihan, dan festival musiman. Kuil umum menyediakan perlengkapan keagamaan seperti jimat untuk para penganut Shinto dan memfasilitasi berbagai bentuk ramalan. Shinto menempatkan fokus konseptual utama pada pemastian kesucian, sebagian besar dengan praktik pembersihan seperti ritual mandi dan basuh, terutama sebelum ibadah. Sedikit penekanan ditempatkan pada kode moral tertentu atau keyakinan kehidupan setelah kematian tertentu meskipun orang yang meninggal dianggap mampu menjadi kamicode: ja is deprecated . Shinto tidak memiliki pencipta tunggal atau teks doktrinal tertentu, agama itu hadir dalam bentuk khas lokal dan regional yang beraneka ragam.
Meskipun waktu Shinto menjadi agama tersendiri dalam sejarah masih diperdebatkan, penyembahan kamicode: ja is deprecated dapat ditelusuri kembali pada Zaman Yayoi (300 SM-300 M) di Jepang. Ajaran Buddha masuk ke Jepang pada akhir Zaman Kofun (300-538 M) dan menyebar dengan cepat. Sinkretisasi agama membuat penyembahan kamicode: ja is deprecated dan ajaran Buddha tidak dapat dipisahkan secara fungsional, proses itu disebut shinbutsu-shūgō. Kamicode: ja is deprecated mulai dipandang sebagai bagian dari kosmologi Buddha dan selanjutnya semakin digambarkan dengan antropomorfisme. Tradisi tertulis paling awal mengenai penyembahan kamicode: ja is deprecated tercatat dalam Kojiki dan Nihon Shoki dari abad ke-8. Pada abad-abad berikutnya, shinbutsu-shūgōcode: ja is deprecated diadopsi oleh keluarga Kekaisaran Jepang. Selama Zaman Meiji (1868-1912), kepemimpinan nasionalis Jepang memisahkan pengaruh penganut Buddha dari penyembahan kamicode: ja is deprecated dan membentuk Shinto negara. Ideologi Shinto negara Jepang tersebut dianggap oleh sejumlah sejarawan sebagai asal-usul Shinto sebagai agama tersendiri. Kuil berada di bawah pengaruh pemerintah yang berkembang dan masyarakat didorong untuk menyembah kaisar sebagai kamicode: ja is deprecated . Dengan terbentuknya Kekaisaran Jepang pada awal abad ke-20, Shinto disebarkan keluar ke wilayah lain di Asia Timur. Setelah kekalahan Jepang pada Perang Dunia II, Shinto secara resmi dipisahkan dari negara.
Shinto terutama ditemukan di Jepang, wilayah yang menampung sekitar 100.000 kuil umum walau para praktisi juga ditemukan di luar negeri. Secara numerik, agama tersebut merupakan agama terbesar di Jepang, diikuti oleh ajaran Buddha. Sebagian besar penduduk negara tersebut turut berpartisipasi dalam baik kegiatan Shinto maupun Buddha, terutama festival. Fenomena itu mencerminkan pandangan umum dalam budaya Jepang bahwa kepercayaan dan praktik suatu agama tidak harus dilakukan hanya oleh golongan tertentu. Aspek-aspek dari Shinto juga dimasukkan ke berbagai gerakan agama baru di Jepang.
Definisi

Shinto tidak memiliki definisi yang disepakati secara universal.[3] Namun, penulis Joseph Cali dan John Dougill menyatakan bahwa jika terdapat "satu definisi tunggal yang luas mengenai Shinto" yang dapat dikemukakan, "Shinto merupakan kepercayaan pada kamicode: ja is deprecated ", entitas supernatural yang menjadi inti agama tersebut.[4] Ahli budaya Jepang Helen Hardacre menyatakan bahwa "Shinto meliputi doktrin, institusi, ritual, dan kehidupan kelompok berdasarkan penyembahan kepada kamicode: ja is deprecated ".[5] Selain itu, cendekiawan keagamaan Inoue Nobutaka mengamati istilah "Shinto" "sering digunakan" dalam "rujukan kepada penyembahan kami serta teologi, ritual, dan praktik yang terkait."[6] Berbagai cendekiawan menyebut praktisi Shinto sebagai penganut Shinto walau istilah ini tidak memiliki terjemahan langsung dalam bahasa Jepang.[7]
Para cendekiawan memperdebatkan waktu yang tepat dalam sejarah sebagai titik di mana Shinto dianggap sebagai fenomena tertentu. Cendekiawan keagamaan Ninian Smart berpendapat bahwa seseorang dapat "berdiskusi tentang agama kamicode: ja is deprecated di Jepang, agama yang pernah hidup bersimbiosis dengan ajaran Buddha yang terorganisasi, dan baru kemudian telah ditetapkan sebagai Shinto."[8] Meskipun berbagai institusi dan praktik yang sekarang dikaitkan dengan Shinto berada di Jepang pada abad ke-8,[9] berbagai cendekiawan berpendapat bahwa Shinto sebagai agama yang tersendiri pada dasarnya "diciptakan" pada abad ke-19, selama Zaman Meiji di Jepang.[10] Cendekiawan keagamaan Brian Bocking menekankan bahwa, terutama ketika berhadapan dengan periode sebelum Zaman Meiji, istilah "Shinto" harus "diperlakukan dengan hati-hati".[11] Inoue Nobutaka menyatakan bahwa "Shinto tidak dapat dianggap sebagai suatu sistem agama tunggal yang ada dari zaman kuno hingga zaman modern"[12] sedangkan sejarawan Toshio Kuroda berkomentar bahwa "sebelum zaman modern, Shinto tidak dijumpai sebagai agama yang berdiri sendiri".[13]
Kategorisasi
Banyak cendekiawan memaparkan Shinto sebagai agama.[14] Namun, sejumlah praktisi memandang Shinto sebagai "jalan"[15] sehingga mencirikannya cenderung sebagai adat atau tradisi.[16] Hal tersebut juga dilakukan oleh para praktisi sebagai cara untuk menghindari pemisahan modern negara dan agama serta untuk memulihkan hubungan historis Shinto dengan negara Jepang.[17] Terlebih lagi, konsep beragama dan kategori agama dalam budaya Barat "tidak berlaku mutlak" pada Shinto.[18] Berbeda dengan agama-agama yang dikenal di negara-negara Barat, seperti Kristen dan Islam, Shinto tidak memiliki tokoh perintis[19] maupun kitab suci.[20] Agama-agama Barat cenderung menekankan eksklusivitas tetapi praktik lebih dari satu tradisi agama secara bersamaan dapat dilakukan oleh seorang praktisi di Jepang,[21] agama dalam budaya Jepang bersifat sangat pluralistik.[22] Shinto sering disebut bersama Buddhisme sebagai dua agama utama Jepang.[23] Keduanya sering kali berbeda fokus, misalnya Buddhisme menekankan gagasan melampaui kosmos yang dianggap penuh dengan penderitaan sedangkan Shinto berfokus pada adaptasi dengan kebutuhan pragmatis kehidupan.[24] Shinto mengintegrasikan unsur-unsur dari tradisi agama yang diimpor ke Jepang dari daratan Asia, seperti Buddhisme, Konfusianisme, Taoisme, dan praktik ramalan Tiongkok.[25] Ajaran tersebut memiliki banyak kesamaan dengan agama Asia Timur lainnya, khususnya dalam kepercayaan terhadap banyak dewa.[26]
Beberapa ahli menyarankan agar kita membicarakan jenis Shinto seperti Shinto populer, Shinto rakyat, Shinto domestik, Shinto sektarian, Shinto wangsa kekaisaran, Shinto kuil, Shinto negara, agama Shinto baru, dan sebagainya daripada menganggap Shinto sebagai satu kesatuan. Pendekatan ini dapat membantu tetapi menimbulkan pertanyaan mengenai apa yang dimaksud dengan 'Shinto' dalam setiap kasus, terutama karena setiap kategori memasukkan atau dimasukkan unsur-unsur dari agama Buddha, Konfusianisme, Tao, agama rakyat, dan lain-lain.
— Sarjana agama Brian Bocking[27]
Para cendekiawan keagamaan memiliki pendapat yang berbeda dalam mengklasifikasikan Shinto. Inoue menganggapnya sebagai bagian dari "keluarga agama Asia Timur".[28] Filsuf Stuart DB Picken berpendapat bahwa Shinto digolongkan sebagai agama dunia[29] sedangkan sejarawan H. Byron Earhart menyebutnya sebagai "agama asli/pribumi".[30] Pada awal abad ke-21, para praktisi secara umum menyebut Shinto sebagai agama alam.[31] Shinto juga sering dideskripsikan sebagai agama asli[32] meskipun hal itu menimbulkan perdebatan mengenai berbagai definisi yang berbeda mengenai "asli" dalam konteks Jepang.[33] Gagasan Shinto sebagai "agama asli" Jepang berasal dari pertumbuhan nasionalisme modern pada zaman Edo hingga zaman Meiji,[34] pandangan ini mempromosikan gagasan bahwa Shinto berasal dari masa praaksara dan mewakili suatu "kehendak yang mendasari budaya Jepang".[35] Teolog Shinto terkemuka Sokyo Ono, misalnya, mengatakan bahwa penyembahan kamicode: ja is deprecated merupakan "ekspresi" dari "keyakinan bangsa asli Jepang yang muncul pada hari-hari mistik zaman kuno yang telah lampau" dan bahwa hal tersebut "seasli orang-orang yang membawa keberadaan bangsa Jepang".[36] Banyak ahli menganggap klasifikasi ini tidak akurat. Earhart mengemukakan bahwa Shinto menyerap banyak pengaruh Tiongkok dan Buddhis sehingga "terlalu rumit jika mau dianggap sebagai 'agama asli' saja".[30]
Shinto hadir dengan keragaman yang signifikan di tiap wilayah;[37] antropolog John K. Nelson mengemukakan bahwa Shinto "bukan entitas monolitik terpadu yang memiliki satu pusat dan sistem tersendiri".[33] Berbagai jenis Shinto telah diidentifikasi. "Shinto kuil" mengacu pada praktik yang berpusat pada kuil[38] dan "Shinto domestik" dipraktikkan dengan cara penghormatan kamicode: ja is deprecated di rumah.[39] Beberapa cendekiawan menggunakan istilah "Shinto rakyat" untuk menandai praktik Shinto lokal[40] atau praktik di luar lingkungan yang dilembagakan.[33] Dalam berbagai periode pada masa lalu, ada juga "Shinto negara", yakni kepercayaan dan praktik Shinto yang terkait erat dengan negara Jepang.[38] Dalam merepresentasikan "istilah lakuran" untuk banyak tradisi yang bervariasi di seluruh Jepang, istilah "Shinto" mirip dengan istilah "Hinduisme" yang digunakan untuk menggambarkan beragam tradisi di seluruh Asia Selatan.[41]
Etimologi

Istilah Shinto sering diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai "the way of the kamicode: ja is deprecated "[42] meskipun maknanya bervariasi sepanjang sejarah Jepang.[43] Istilah lain yang bersinonim dengan "Shinto" terkadang digunakan; termasuk kami no michicode: ja is deprecated (神の道code: ja is deprecated , "jalan kamicode: ja is deprecated "), kannagara no michicode: ja is deprecated (神ながらの道code: ja is deprecated , juga ditulis sebagai 随神の道code: ja is deprecated atau 惟神の道code: ja is deprecated , "jalan kamicode: ja is deprecated sejak dahulu kala"), Kodōcode: ja is deprecated (古道code: ja is deprecated , "jalan kuno"), Daidōcode: ja is deprecated (大道code: ja is deprecated , "jalan besar"), dan Teidōcode: ja is deprecated (帝道code: ja is deprecated , "jalan kekaisaran").[44]
Istilah Shinto berasal dari kombinasi dua karakter Tionghoa: shen (神), yang berarti "roh," dan dao (道), yang berarti "jalan", "cara", atau "arah".[45] Istilah bahasa Tionghoa Shendao awalnya diadopsi ke dalam bahasa Jepang sebagai Jindō;[46] kemungkinan pertama kali digunakan sebagai istilah Buddhis untuk merujuk pada dewa-dewa non-Buddha.[47] Salah satu kemunculan paling awal istilah Shinto di Jepang yang diketahui terdapat dalam teks abad ke-8, Nihon Shoki.[48] Istilah tersebut mungkin merupakan istilah umum untuk kepercayaan populer[49] atau mungkin merujuk Taoisme karena banyak praktik penganut Tao diimpor dari daratan Asia.[50] Dalam penggunaan bahasa Jepang awal ini, istilah Shinto tidak berlaku untuk tradisi agama khusus atau untuk sesuatu yang unik dari Jepang;[51] Konjaku monogatarishui dari abad ke-11, misalnya, mengacu pada seorang wanita di Tiongkok yang mempraktikkan Shinto dan orang-orang di India yang menyembah kamicode: ja is deprecated , menunjukkan bahwa istilah ini digunakan untuk menggambarkan agama-agama di luar Jepang itu sendiri.[52]
Pada abad pertengahan Jepang, penyembahan kamicode: ja is deprecated umumnya dipandang sebagai bagian dari Buddhisme di Jepang dengan kamicode: ja is deprecated itu sendiri sering diinterpretasikan sebagai Buddha.[53] Dalam hal ini, istilah Shinto semakin mengacu pada "otoritas, kekuasaan, atau aktivitas kamicode: ja is deprecated ; menjadi kamicode: ja is deprecated ; atau, singkatnya, kedudukan atau atribut kamicode: ja is deprecated ."[54] Istilah ini muncul dalam pengertian tersebut pada cerita Nakatomi no harai kungecode: ja is deprecated dan Shintōshū.[54] Dalam Japanese Portuguese Dictionary yang diterbitkan pada tahun 1603, Shinto didefinisikan mengacu pada "kamicode: ja is deprecated atau hal-hal yang berkaitan dengan kamicode: ja is deprecated ."[55] Istilah Shinto menjadi umum pada abad ke-15.[56] Selama akhir Zaman Edo, cendekiawan kokugakucode: ja is deprecated mulai menggunakan istilah Shinto untuk menggambarkan apa yang mereka yakini sebagai tradisi Jepang yang telah bertahan lama, tradisi kuno, dan tradisi asli yang mendahului agama Buddha; mereka berpendapat bahwa Shinto harus digunakan untuk membedakan penyembahan kepada kamicode: ja is deprecated dari tradisi seperti Buddhisme, Taoisme, dan Konfusianisme.[57] Penggunaan istilah Shinto tersebut menjadi semakin populer sejak abad ke-18.[11] Istilah Shinto menjadi umum digunakan sejak awal abad ke-20, menggantikan istilah taikyōcode: ja is deprecated ("agama besar") sebagai nama untuk agama negara di Jepang.[41]
Sejarah
Perkembangan awal

Earhart berkomentar bahwa Shinto akhirnya "muncul dari kepercayaan dan praktik Jepang praaksara"[59] walau Kitagawa mengemukakan bahwa penyebutan agama pada masa praaksara Jepang sebagai "Shinto awal" patut dipertanyakan.[60] Masa praaksara Jepang yang dimaksud adalah zaman Yayoi yang pertama kali menyisakan peninggalan awal dari materi dan ikonografi yang kemudian termasuk Shinto.[61] Kamicode: ja is deprecated dipuja dalam berbagai bentuk gejala alam selama zaman tersebut; dalam hal itu, sebagian besar ibadah terdiri dari memohon dan meredakan kemarahan mereka. Sedikit bukti ditemukan bahwa mereka dipandang sebagai entitas yang memiliki belas kasihan.[58] Bukti arkeologi menunjukkan bahwa lonceng perunggu dotakucode: ja is deprecated , senjata perunggu, dan cermin logam memainkan peran penting dalam ritual berbasis kamicode: ja is deprecated selama zaman Yayoi.[62]
Pada periode awal ini, Jepang bukan merupakan sebuah negara kesatuan; Jepang terdiri dari beberapa ujicode: ja is deprecated (klan) pada zaman Kofun. Masing-masing uji memiliki kamicode: ja is deprecated penjaganya sendiri, yang disebut ujigamicode: ja is deprecated .[63] Migrasi Korea selama zaman Kofun membawa Konfusianisme dan Buddhisme ke Jepang.[64] Buddhisme memiliki dampak tersendiri pada aliran-aliran kamicode: ja is deprecated .[65] Kelompok migran dan bangsa Jepang yang semakin sejalan dengan pengaruh asing ini membangun kuil Buddha di berbagai wilayah di pulau Jepang.[65] Beberapa klan saingan yang lebih memusuhi pengaruh asing ini mulai mengubah kuil kamicode: ja is deprecated mereka agar lebih mirip dengan struktur Buddhis yang baru.[65] Pada akhir abad ke-5, pemimpin klan Yamato Yūryaku menyatakan dirinya daiō ("raja besar") dan membangun struktur hegemoni di sebagian besar wilayah Jepang.[66] Sejak awal abad ke-6 M, gaya ritual pilihan Yamato mulai menyebar ke kuil kamicode: ja is deprecated lainnya di seluruh Jepang seiring Yamato memperluas pengaruh teritorial mereka.[67] Buddhisme juga berkembang. Menurut Nihon Shoki, pada tahun 587 Kaisar Yōmei memeluk agama Buddha dan agama Buddha menyebar dengan dukungannya.[68]

Pada pertengahan abad ke-7, sebuah kode hukum yang disebut Ritsuryōcode: ja is deprecated diadopsi untuk mendirikan pemerintahan terpusat bergaya Tiongkok.[69] Sebagai bagian dari kode hukum tersebut, Jingikan ("dewan kamicode: ja is deprecated ") dibentuk untuk melakukan ritual-ritual kenegaraan dan mengoordinasikan ritual provinsi dengan ritual-ritual kenegaraan di ibu kota.[70] Hal itu dilakukan sesuai dengan kode hukum kamicode: ja is deprecated yang disebut Jingiryō[70] yang meniru Kitab Ritual dari Tiongkok.[71] Jingikan terletak di kawasan istana dan memelihara daftar kuil dan pendeta.[72] Kalender tahunan ritual-ritual kenegaraan dibuat untuk membantu menyatukan Jepang melalui penyembahan kamicode: ja is deprecated .[9] Ritual-ritual yang diamanatkan secara sah tersebut diuraikan dalam Kode Yōrō tahun 718[71] dan diperluas dalam Jogan Gishiki pada sekitar tahun 872 dan Engi Shiki tahun 927.[71] Di bawah Jingikan, beberapa kuil ditetapkan sebagai kanshacode: ja is deprecated ("kuil resmi") dan diberi hak dan tanggung jawab khusus.[73] Hardacre memandang Jingikan sebagai "sumber kelembagaan Shinto".[9]
Pada awal abad ke-8, Kaisar Tenmu memerintahkan kompilasi legenda dan silsilah klan Jepang, menghasilkan Kojiki yang selesai pada tahun 712. Teks ini dirancang untuk melegitimasi dinasti yang berkuasa dan membentuk sebuah versi yang disetujui dari berbagai cerita yang sebelumnya beredar dalam tradisi lisan.[74] Kojiki menghilangkan segala referensi terhadap Buddhisme,[75] sebagian tujuannya adalah mengabaikan pengaruh asing dan menitikberatkan narasi yang menekankan unsur-unsur asli dari budaya Jepang.[76] Beberapa tahun kemudian, "Nihon shoki" ditulis. Berbeda dengan Kojiki, teks tersebut memiliki berbagai referensi terhadap agama Buddha[75] dan ditujukan untuk pembaca asing.[77] Kedua teks ini berusaha untuk membuktikan silsilah klan kekaisaran yang merupakan keturunan kamicode: ja is deprecated matahari Amaterasu[75] meskipun ada banyak perbedaan dalam narasi kosmogonik yang diberikan.[78] Nihon shoki mengalahkan Kojiki dengan cepat dari segi pengaruhnya.[77] Teks-teks lain yang ditulis pada saat itu juga mengacu pada tradisi lisan mengenai kamicode: ja is deprecated . Misalnya, Sendari kuji hongi mungkin disusun oleh klan Mononobe dan Kogoshui mungkin disusun untuk klan Imibe; pada kedua kasus tersebut, semua teks dirancang untuk menyoroti asal-usul masing-masing garis keturunan yang terikat dengan para dewa.[79] Pada tahun 713, pemerintah mengatur agar setiap daerah menghasilkan fudoki, yaitu arsip cerita, produk, dan geografi lokal; cerita yang dicatat mengungkapkan lebih banyak tradisi mengenai kamicode: ja is deprecated yang hadir saat itu.[80]
Sejak abad ke-8, penyembahan kamicode: ja is deprecated dan agama Buddha terjalin erat dalam masyarakat Jepang.[81] Di samping kaisar dan istana melakukan ritual Buddhis, mereka juga melakukan ritual lainnya untuk menghormati kamicode: ja is deprecated .[82] Tenmu, misalnya, menunjuk seorang putri kekaisaran perawan untuk bertugas sebagai saiōcode: ja is deprecated , salah satu jenis pendeta wanita, di Kuil Ise atas namanya; tradisi tersebut dilanjutkan oleh kaisar-kaisar berikutnya.[83] Dari abad ke-8 dan seterusnya hingga zaman Meiji, kamicode: ja is deprecated dimasukkan dalam kosmologi Buddhis dengan berbagai cara.[84] Salah satu pandangan yang ada yaitu kamicode: ja is deprecated menyadari bahwa mereka terjebak dalam siklus samsara (kelahiran kembali) seperti semua bentuk kehidupan lain dan mereka harus mengikuti ajaran Buddha untuk bebas dari siklus itu.[84] Pendekatan lain memandang kamicode: ja is deprecated sebagai entitas baik hati yang melindungi agama Buddha; kamicode: ja is deprecated itu sendiri adalah Buddha; atau kami adalah makhluk yang telah mencapai pencerahan. Dalam hal ini, mereka dapat berupa hongakucode: ja is deprecated , roh murni Buddha, atau honji suijakucode: ja is deprecated , transformasi Buddha dalam upaya mereka untuk membantu makhluk hidup.[84]
Zaman Nara
Zaman ini menjadi tuan rumah bagi banyak perubahan pada negara, pemerintahan, dan agama. Ibu kota dipindahkan kembali ke Heijō-kyō (sekarang Nara) pada tahun 710 M oleh Maharani Genmei karena kematian kaisar. Pemindahan ini diperlukan karena kepercayaan Shinto pada ketidaksucian dalam kematian dan kebutuhan untuk menghindari kotoran tersebut. Namun, praktik pemindahan ibu kota karena "ketidakmurnian dalam kematian" ini kemudian dihapuskan oleh Kode Taihō dan perkembangan pengaruh Buddhis.[85] Pembentukan kota kekaisaran dalam hubungannya dengan Kode Taihō penting bagi Shinto karena kantor ritual Shinto menjadi lebih kuat dalam asimilasi kuil klan lokal ke dalam struktur kekaisaran. Kuil-kuil baru dibangun dan berasimilasi setiap kali kota kekaisaran dipindahkan. Seluruh kuil agung diatur oleh Kode Taihō dan diwajibkan untuk memperhitungkan pendapatan, pendeta, dan praktik karena kontribusi nasional mereka.[85]
Zaman Meiji dan Kekaisaran Jepang
Breen dan Teeuwen mencirikan periode antara tahun 1868 dan 1915 pada zaman Meiji sebagai "tahun-tahun pembentukan" Shinto modern.[10] Berbagai cendekiawan berpendapat bahwa Shinto pada dasarnya "diciptakan" pada zaman tersebut.[10] Fridell berpendapat bahwa para cendekiawan menyebut periode dari tahun 1868 hingga 1945 sebagai "periode Shinto Negara" karena "selama beberapa dekade ini, unsur-unsur Shinto sangat dipengaruhi dan dikontrol oleh negara secara terbuka dengan pemerintah Jepang yang secara sistematis menggunakan pemujaan di kuil sebagai kekuatan utama untuk memobilisasi loyalitas kekaisaran atas nama pembangunan bangsa modern."[86] Namun, pemerintah telah memperlakukan kuil sebagai perpanjangan dari pemerintah sebelum Meiji; misalnya Reformasi Tenpō. Selain itu, menurut cendekiawan Jason Ānanda Josephson, penggambaran kuil-kuil sebagai penyusun "agama negara" atau "teokrasi" selama periode ini bersifat tidak akurat karena mereka tidak memiliki organisasi atau doktrin dan tidak tertarik melakukan konversi.[87]
Restorasi Meiji pada tahun 1868 didorong oleh pembaruan etika Konfusianisme dan patriotisme kekaisaran di tengah kelas penguasa Jepang.[88] Di antara para reformis ini, agama Buddha dipandang sebagai pengaruh yang telah merusak apa yang mereka bayangkan sebagai kemurnian dan keagungan asli Jepang.[88] Mereka ingin menempatkan penekanan baru pada pemujaan kamicode: ja is deprecated sebagai bentuk ritual adat asli, suatu sikap yang juga didorong oleh kecemasan mengenai ekspansionisme Barat dan ketakutan bahwa Kekristenan akan berkembang di Jepang.[88]
Pada tahun 1868, semua pendeta kuil ditempatkan di bawah otoritas Jingikan yang baru (Dewan Urusan Kami).[89] Sebuah proyek pemisahan paksa pemujaan kamicode: ja is deprecated dari agama Buddha dilaksanakan dengan pelarangan biksu, dewa, bangunan, dan ritual Buddha dalam kuil kamicode: ja is deprecated .[88] Citra Buddhis, kitab suci, dan peralatan ritual dibakar, ditutupi kotoran, atau dihancurkan.[88] Pada tahun 1871, hierarki kuil yang baru dibuat, dengan kuil nasional dan kekaisaran berada di puncak.[90] Kependataan secara turun-temurun dihapuskan dan sistem baru negara untuk mengangkat pendeta yang baru dibuat.[90] Pada tahun 1872, Jingikan ditutup dan diganti dengan Kyobusho (Kementerian Pendidikan).[91] Kyobusho mengoordinasikan kampanye yang mana Kyodoshokucode: ja is deprecated dikirim ke seluruh negeri untuk mempromosikan "ajaran agung" di Jepang. Ajaran ini mencakup penghormatan terhadap kamicode: ja is deprecated dan kepatuhan kepada kaisar.[91] Kampanye ini dihentikan pada tahun 1884.[91] Pada tahun 1906, ribuan kuil desa digabungkan sehingga sebagian besar komunitas kecil hanya memiliki satu kuil yang dapat mengadakan ritual untuk menghormati kaisar.[92] Shinto secara efektif menjadi sistem peribadatan negara, kepercayaan yang dipromosikan dengan semangat yang meningkat menjelang Perang Dunia II.[92]
Pada tahun 1882, pemerintah Meiji menetapkan tiga belas gerakan keagamaan yang bukan Buddha maupun Kristen sebagai bentuk "Sekte Shinto".[37] Jumlah dan nama sekte yang ditetapkan secara formal ini bervariasi;[93] sering kali mereka menggabungkan ide-ide dari tradisi Buddhisme, Kristen, Konfusianisme, Taois, dan esoterik Barat dengan Shinto.[94] Pada zaman Meiji, banyak tradisi lokal telah melesap dan digantikan oleh praktik standar nasional yang didorong dari Tokyo.[95]
Meskipun dukungan pemerintah terhadap kuil menurun, nasionalisme Jepang tetap terkait erat dengan legenda dari yayasan dan kaisar, seperti yang dikembangkan oleh para cendekiawan kokugakucode: ja is deprecated . Pada tahun 1890, Reskrip Kekaisaran tentang Pendidikan dikeluarkan dan para pelajar diminta untuk mengucapkan sumpahnya untuk "menawarkan dirimu dengan berani kepada Negara" serta untuk melindungi keluarga Kekaisaran dalam ritual. Proses seperti itu terus berlanjut selama awal zaman Shōwa dan berakhir tiba-tiba pada Agustus 1945 ketika Jepang kalah perang di Pasifik. Pada 1 Januari 1946, Kaisar Shōwa mengeluarkan Ningen-sengen, dengan mengutip Sumpah dalam Lima Pasal dari Kaisar Meiji dan menyatakan bahwa ia bukan seorang akitsumikamicode: ja is deprecated (dewa dalam bentuk manusia).[96]
Pascaperang

Selama pendudukan Amerika Serikat, sebuah konstitusi baru disusun. Konstitusi tersebut menjunjung tinggi kebebasan beragama di Jepang dan memprakarsai pemisahan agama dan negara, tindakan yang dirancang untuk menghapus "Shinto negara" (kokka shinto).[97] Sebagai bagian dari itu, Kaisar secara resmi menyatakan bahwa ia bukan seorang kami;[98] setiap ritual Shinto yang dilakukan oleh keluarga kekaisaran menjadi urusan pribadi mereka sendiri.[99] Pembubaran ini mengakhiri subsidi pemerintah untuk kuil dan memberi kebebasan baru kepada tempat-tempat suci dengan untuk mengatur urusan mereka sendiri.[98] Pada tahun 1946, banyak kuil kemudian membentuk organisasi sukarela, Asosiasi Kuil Shinto (Jinja Honchō).[100] Pada tahun 1956, asosiasi tersebut mengeluarkan pernyataan kepercayaan, keishin seikatsu no kōryō ("karakteristik umum dari kehidupan yang dimuliakan dalam penghormatan kepada kami"), untuk merangkum apa yang mereka anggap sebagai prinsip Shinto.[101] Pada akhir tahun 1990-an, sekitar 80% dari kuil Shinto di Jepang merupakan bagian dari asosiasi ini.[102]
Puluhan tahun pascaperang, banyak orang Jepang menyalahkan Shinto karena mendorong kebijakan militeristik yang mengakibatkan kekalahan dan pendudukan.[98] Sedangkan yang lain tetap bernostalgia dengan sistem Shinto negara;[103] pendapat bahwa sektor-sektor masyarakat Jepang bersekongkol untuk memulihkannya muncul sebagai hal yang diperhatikan.[104] Pascaperang, berbagai perdebatan hukum membicarakan keterlibatan pejabat publik dalam Shinto.[105] Pada tahun 1965, misalnya, kota Tsu, Prefektur Mie membayar empat pendeta Shinto untuk menyucikan tempat di mana balai atletik kota akan dibangun. Kritikus membawa kasus ini ke pengadilan, mengklaim hal tersebut bertentangan dengan pemisahan konstitusional agama dan negara; pada tahun 1971, pengadilan tinggi memutuskan bahwa tindakan pemerintah kota tersebut merupakan inkonstitusional meskipun hal ini dibatalkan oleh Mahkamah Agung pada tahun 1977.[106]
Pada periode pascaperang, motif Shinto sering dicampur dengan gerakan agama baru di Jepang;[107] dari kelompok Sekte Shinto, Tenrikyo mungkin yang paling sukses dalam dekade pascaperang[103] meskipun mereka menolak identitas Shinto sendiri pada tahun 1970.[108] Perspektif Shinto juga memengaruhi budaya populer. Sutradara film Hayao Miyazaki dari Studio Ghibli misalnya mengakui pengaruh Shinto dalam film-filmnya, seperti pada Spirited Away.[109] Shinto juga menyebar ke luar negeri melalui migran Jepang dan konversi agama oleh orang non-Jepang.[110] Kuil Agung Tsubaki di Suzuka, Prefektur Mie, adalah kuil pertama yang mendirikan cabang di luar negeri: Kuil Agung Tsubaki Amerika didirikan di California dan kemudian pindah ke Granite Falls, Washington.[111]
Selama abad ke-20, sebagian besar penelitian akademis mengenai Shinto dilakukan oleh para teolog Shinto, sering kali pendeta.[112] Hal ini memunculkan tuduhan bahwa penelitian sering mengaburkan teologi dengan analisis sejarah.[113] Sejak tahun 1980-an, terdapat peningkatan minat akademik pada Shinto baik di Jepang maupun luar negeri.[114]
Kepercayaan
Kamicode: ja is deprecated

Shinto bersifat politeistik. Agama ini melibatkan pemujaan banyak dewa yang dikenal sebagai kamicode: ja is deprecated [115] atau terkadang sebagai jingicode: ja is deprecated .[116] Sesuai kelaziman bahasa Jepang, perbedaan antara yang tunggal dan jamak tidak tampak sehingga istilah kamicode: ja is deprecated mengacu baik pada individu dari kamicode: ja is deprecated maupun kelompok kamicode: ja is deprecated .[117] Meskipun tidak memiliki terjemahan langsung,[118] istilah kamicode: ja is deprecated terkadang diterjemahkan sebagai "god" ("dewa") atau "spirit" ("roh");[119] sejarawan agama Joseph Kitagawa menyatakan bahwa terjemahan bahasa Inggris dari kami dianggap "sangat tidak memuaskan dan menyesatkan"[120] dan berbagai cendekiawan mendesak agar kamicode: ja is deprecated tidak diterjemahkan dalam bahasa Inggris.[121] Dalam bahasa Jepang, ada perkataan "terdapat delapan juta kamicode: ja is deprecated " yang berkonotasi bahwa kami "berjumlah tidak terbatas";[122] praktisi Shinto percaya bahwa mereka ada di mana-mana.[5] Mereka tidak dianggap sebagai maha kuasa, maha tahu, atau pasti abadi.[123]
Istilah kamicode: ja is deprecated "memiliki konsep yang lentur"[124] serta "tidak jelas dan tidak tepat".[125] Dalam bahasa Jepang kami sering digunakan untuk mewakili kekuatan fenomena yang menimbulkan rasa heran dan kagum pada orang yang melihatnya.[126] Kitagawa menyebut hal tersebut sebagai "kodrat kamicode: ja is deprecated "; pernyataan yang menunjukkan bahwa ia menganggapnya "agak mirip" dengan gagasan Barat mengenai numinus dan keramat.[120] Kamicode: ja is deprecated dipandang mendiami baik yang hidup maupun yang mati, bahan organik dan anorganik, serta bencana alam seperti gempa bumi, kekeringan, dan wabah penyakit;[4] mereka tampak hadir dalam kekuatan alam seperti angin, hujan, api, dan sinar matahari.[40] Oleh karena itu, Nelson berkomentar bahwa Shinto menganggap "'fenomena aktual' dari dunia itu sendiri" bersifat "ketuhanan".[127] Pemahaman Shinto mengenai kamicode: ja is deprecated juga dicirikan animistik.[128]
Di Jepang, kamicode: ja is deprecated dihormati sejak masa praaksara.[5] Pada zaman Yayoi, mereka dianggap tidak berbentuk dan tidak kasatmata.[58] Baru saat dipengaruhi agama Buddha, mereka digambarkan dalam bentuk antropomorfik.[129] Pada masa modern, patung kamicode: ja is deprecated dikenal sebagai shinzocode: ja is deprecated .[130] Kamicode: ja is deprecated biasanya diasosiasikan dengan tempat tertentu, sering kali diasosiasikan dengan suatu aspek penting sebuah bentang ruang seperti air terjun, gunung, batu besar, atau pohon yang istimewa.[131] Objek fisik atau tempat yang diyakini memiliki kehadiran kamicode: ja is deprecated disebut shintaicode: ja is deprecated ;[132] objek yang dihuni oleh kamicode: ja is deprecated yang ditempatkan di kuil dikenal sebagai go-shintaicode: ja is deprecated .[133] Objek yang biasa dipilih untuk tujuan tersebut termasuk cermin, pedang, batu, manik-manik, dan papan bertulis.[134] go-shintaicode: ja is deprecated ini disembunyikan dari pandangan pengunjung[135] dan mungkin disembunyikan dalam kotak sehingga bahkan para pendeta tidak tahu seperti apa bentuknya.[132]
Kamicode: ja is deprecated diyakini mampu melakukan perbuatan baik maupun merusak;[136] jika peringatan mengenai perilaku baik diabaikan, kamicode: ja is deprecated dapat menjatuhkan hukuman yang disebut shinbatsucode: ja is deprecated , sering kali berupa penyakit atau kematian mendadak.[137] Beberapa kamicode: ja is deprecated , disebut sebagai magatsuhi-no-kamicode: ja is deprecated atau araburu kamicode: ja is deprecated , dianggap jahat dan merusak.[138] Persembahan dan doa ditujukan kepada kamicode: ja is deprecated untuk mendapatkan berkah dan untuk mencegah mereka melakukan tindakan yang merusak.[4] Shinto berusaha untuk menumbuhkan dan memastikan hubungan yang harmonis antara manusia dan kamicode: ja is deprecated dan maka dari itu dengan alam.[139] Kamicode: ja is deprecated yang lebih terlokalisasi mungkin mendapatkan keintiman dan keakraban dari anggota komunitas lokal, berbeda dengan kamicode: ja is deprecated yang disembah secara lebih luas seperti Amaterasu.[140] kamicode: ja is deprecated dari komunitas tertentu disebut sebagai ujigamicode: ja is deprecated [141] sedangkan kamicode: ja is deprecated dari rumah tertentu disebut yashikigamicode: ja is deprecated .[142]
Kamicode: ja is deprecated tidak dianggap berbeda dengan manusia dari segi metafisik[124] sehingga manusia mungkin menjadi kamicode: ja is deprecated .[118] Manusia yang sudah mati terkadang dipuja sebagai kami, dianggap sebagai pelindung atau sosok leluhur.[143] Salah satu contoh yang paling terkemuka adalah Kaisar Ōjin yang pada kematiannya diabadikan sebagai kamicode: ja is deprecated Hachiman yang diyakini sebagai pelindung Jepang dan kamicode: ja is deprecated perang.[144] Dalam budaya Jepang, leluhur dapat dipandang sebagai bentuk kamicode: ja is deprecated .[145] Di Jepang Barat, istilah jigamicode: ja is deprecated digunakan untuk menggambarkan kamicode: ja is deprecated yang diabadikan dari seorang pendiri desa.[146] Dalam beberapa kasus, manusia hidup juga dipandang sebagai kamicode: ja is deprecated ;[4] mereka dipanggil akitsumi kamicode: ja is deprecated [147] atau arahito-gamicode: ja is deprecated .[148] Dalam sistem Shinto Negara pada zaman Meiji, kaisar Jepang dinyatakan sebagai kamicode: ja is deprecated [118] sementara beberapa sekte Shinto juga memandang pemimpin mereka sebagai kamicode: ja is deprecated yang hidup.[118]

Meskipun sejumlah kamicode: ja is deprecated dihormati hanya dalam satu lokasi, sisanya memiliki lebih dari satu kuil yang didedikasikan untuk mereka di banyak wilayah Jepang.[149] Hachiman, misalnya, memiliki sekitar 25.000 kuil yang didedikasikan untuknya.[40] Tindakan mendirikan kuil baru untuk kamicode: ja is deprecated yang sudah memilikinya disebut bunreicode: ja is deprecated ("membagi roh").[150] Sebagai bagian dari itu, kamicode: ja is deprecated diundang untuk memasuki tempat baru, tempat ia dapat dipuja, dengan rangkaian upacara yang dikenal sebagai kanjocode: ja is deprecated .[149] Kuil cabang yang baru dikenal sebagai bunshacode: ja is deprecated .[151] Kekuatan individu kamicode: ja is deprecated diyakini tidak berkurang dengan terbaginya tempat tinggal mereka menjadi beberapa lokasi dan tidak ada batasan jumlah kuil tempat tinggal kamicode: ja is deprecated .[149] Dalam beberapa periode, dikenakan biaya untuk hak menempatkan kamicode: ja is deprecated tertentu dalam kuil di lokasi baru.[149] Kuil tidak selalu dirancang dengan struktur permanen.[5]
Banyak kami diyakini memiliki utusan yang dikenal sebagai kami no tsukaicode: ja is deprecated atau tsuka washimecode: ja is deprecated . Para utusan tersebut umumnya digambarkan dalam bentuk binatang.[149] Utusan Inari, misalnya, digambarkan sebagai rubah (kitsune)[152] sedangkan utusan Hachiman adalah seekor merpati.[149] Kosmologi Shinto juga mencakup bakemonocode: ja is deprecated , roh yang berbuat jahat.[153] Bakemonocode: ja is deprecated termasuk onicode: ja is deprecated , tengucode: ja is deprecated , kappacode: ja is deprecated , mononokecode: ja is deprecated , dan yamanbacode: ja is deprecated .[153] Cerita rakyat Jepang juga memuat kepercayaan akan goryōcode: ja is deprecated atau onryōcode: ja is deprecated , roh yang tidak tenang atau pendendam, terutama mereka yang meninggal dalam peristiwa kejam dan tanpa upacara pemakaman yang sesuai.[154] Para roh itu diyakini menimbulkan penderitaan pada mereka yang hidup dan oleh karena itu mereka harus ditenangkan, biasanya melalui upacara Buddhis atau kadang-kadang dengan penempatan sebagai kamicode: ja is deprecated dalam kuil.[154] Sosok supranatural Jepang lainnya termasuk tanukicode: ja is deprecated , makhluk seperti binatang yang dapat berubah meniru bentuk manusia.[155]
Kosmogoni

Asal-usul kamicode: ja is deprecated dan Jepang sendiri diceritakan dalam dua teks dari abad ke-8, Kojiki dan Nihon Shoki,[156] tetapi keduanya memuat cerita yang berbeda.[157] Dengan pengaruh dari Tiongkok,[158] teks-teks tersebut diperintahkan agar dibuat oleh elit penguasa untuk melegitimasi dan mengkonsolidasikan kekuasaan mereka.[159] Meskipun tidak begitu penting bagi kehidupan keagamaan di Jepang,[160] pemerintah mengeklaim cerita-cerita tersebut sebagai kenyataan pada awal abad ke-20 .[161]
Kojiki menceritakan bahwa alam semesta bermula dengan ame-tsuchicode: ja is deprecated , pemisahan elemen ringan dan murni (amecode: ja is deprecated , "surga") dari elemen berat (tsuchicode: ja is deprecated , "bumi").[162] Tiga kami kemudian muncul: Amenominakanushi, Takamimusuhi no Mikoto, dan Kamimusuhi no Mikoto. Kami lainnya muncul setelah mereka, termasuk Izanagi dan Izanami yang bersaudara.[163] Para kamicode: ja is deprecated menyuruh Izanagi dan Izanami untuk membuat daratan di bumi. Untuk itu, sepasang saudara itu mengaduk lautan asin dengan tombak bepermata, dari sana Pulau Onogoro terbentuk.[164] Izanagi dan Izanami kemudian turun ke Bumi di mana Izanami melahirkan kamicode: ja is deprecated -kami selanjutnya. Salah satunya adalah kamicode: ja is deprecated api yang kelahirannya menewaskan Izanami.[165] Izanagi kemudian turun ke dunia bawah tanah (yomicode: ja is deprecated ) untuk menyelamatkan saudarinya tetapi ia melihat tubuh Izanami yang membusuk di sana. Malu terlihat dalam keadaan tersebut, Izanami mengusir saudaranya keluar dari yomicode: ja is deprecated dan Izanagi pun menutup pintu masuknya.[166]
Izanagi mandi di laut untuk membersihkan diri dari kotoran karena menyaksikan pembusukan Izanami. Melalui tindakan ini, kami selanjutnya muncul dari tubuhnya: Amaterasu (kamicode: ja is deprecated matahari) lahir dari mata kirinya, Tsukuyomi (kamicode: ja is deprecated bulan) dari mata kanannya, dan Susanoo (kamicode: ja is deprecated badai) dari hidungnya.[167] Susanoo berperilaku merusak; untuk menghindarinya, Amaterasu menyembunyikan diri dalam sebuah gua, menenggelamkan bumi dalam kegelapan. kamicode: ja is deprecated yang lain akhirnya berhasil membujuk Amaterasu keluar.[168] Susanoo kemudian dibuang ke bumi di mana ia menikah dan memiliki anak.[169] Menurut Kojiki, Amaterasu kemudian mengirim cucunya, Ninigi, untuk memerintah Jepang dan memberinya manik-manik berlengkung, cermin, dan pedang: simbol otoritas kekaisaran Jepang.[170] Amaterasu masih menjadi kamicode: ja is deprecated yang mungkin paling dihormati di Jepang.[171]
Kosmologi dan kehidupan setelah kematian
Dalam Shinto, prinsip penciptaan yang menghubungkan seluruh bentuk kehidupan dikenal sebagai musubicode: ja is deprecated , hal yang memiliki kamicode: ja is deprecated tersendiri.[172] Konsep dualitas kebaikan dan keburukan tidak ditemukan pada pemikiran tradisional Jepang.[173] Konsep akicode: ja is deprecated mencakup kemalangan, ketidakbahagiaan, dan bencana tetapi konsep ini tidak dapat disamakan dengan konsep keburukan pada pemikiran Barat.[174] Tidak ada eskatologi dalam Shinto.[175] Teks-teks seperti Kojiki dan Nihon Shoki menggambarkan banyak alam dalam kosmologi Shinto.[176] Teks tersebut menghadirkan alam semesta yang dibagi menjadi tiga bagian: Dataran Tinggi Surga (Takama-no-haracode: ja is deprecated ), tempat kamicode: ja is deprecated hidup; Dunia Fenomena atau Manifestasi (Utsushi-yocode: ja is deprecated ), tempat manusia tinggal; dan Dunia Bawah (Yomotsu-kunicode: ja is deprecated ), tempat roh-roh jahat bersemayam.[177] Namun demikian, naskah-naskah mitologis tidak menggambarkan pembatasan yang tegas antara alam-alam ini.[178]
Shinto mencakup kepercayaan pada roh atau jiwa manusia (mitamacode: ja is deprecated atau tamashiicode: ja is deprecated ) yang mengandung empat aspek.[179] Meskipun gagasan asli mengenai kehidupan setelah kematian mungkin berkembang dengan baik sebelum kedatangan agama Buddha,[180] orang Jepang kontemporer sering mengadopsi konsep Buddhis tentang itu.[181] Shinto modern lebih menekankan pada kehidupan saat ini daripada kehidupan setelah kematian.[182] Kisah-kisah mitologis seperti Kojiki menggambarkan yomicode: ja is deprecated atau yomi-no-kunicode: ja is deprecated sebagai alam orang mati[183] meskipun alam tersebut tidak memainkan peran dalam Shinto modern.[180] Gagasan Shinto modern mengenai kehidupan setelah kematian sebagian besar berkisar pada gagasan bahwa roh terus ada setelah tubuh mengalami kematian dan terus membantu mereka yang hidup. Setelah 33 tahun, mereka kemudian menjadi bagian dari kamicode: ja is deprecated keluarga.[184] Roh-roh leluhur ini kadang-kadang dianggap bersemayam di pegunungan,[185] mereka turun dari sana untuk ikut serta dalam acara pertanian.[186] Keyakinan kehidupan setelah kematian dalam Shinto juga mencakup obakecode: ja is deprecated , roh gelisah yang mati dalam keadaan buruk dan sering membalas dendam.[187]
Kesucian dan ketidaksucian
Tema kunci dalam Shinto adalah menghindari kegare ("polusi" atau "kotoran")[188] sambil memastikan harae ("kesucian").[189] Dalam pemikiran Jepang, manusia dipandang suci pada asalnya.[190] Oleh karena itu, kegare dipandang sebagai kondisi sementara yang dapat diperbaiki melalui pencapaian harae.[191] Ritual penyucian dilakukan untuk memulihkan kesehatan "spiritual" individu dan menjadikannya berguna bagi masyarakat.[192]

Gagasan kesucian ini hadir dalam banyak aspek budaya Jepang, seperti pada mandi yang sering menjadi sorotan.[193] Penyucian misalnya dianggap penting dalam persiapan musim tanam.[194] Contoh lain yaitu praktik para pemain teater noh menyucikan diri sebelum mereka tampil dalam pertunjukan.[195] Di antara hal-hal yang dianggap sebagai kotoran khusus dalam Shinto adalah kematian, penyakit, sihir, pengulitan hewan hidup-hidup, inses, zoofilia, tinja, dan darah yang berhubungan dengan menstruasi atau persalinan.[196] Untuk menghindari kegare, pendeta dan praktisi lain dianjurkan menahan diri (berpantang) dan menghindari berbagai kegiatan sebelum festival atau ritual.[191] Berbagai kata yang disebut imi-kotoba juga dianggap tabu dan dihindari diucapkan saat berada di kuil; kata-kata tabu itu termasuk shi (kematian), byō (penyakit), dan shishi (daging).[197]
Upacara penyucian yang dikenal sebagai misogi menggunakan air tawar, air asin, atau garam untuk menghilangkan kegare.[198] Perendaman penuh di laut sering dianggap sebagai bentuk penyucian paling terdahulu dan efektif.[199] Tindakan ini terkait dengan kisah mitologis yang menceritakan Izanagi membenamkan diri di laut untuk bersuci setelah menemukan istrinya yang sudah meninggal; karena tindakan tersebut, kami lain muncul dari tubuhnya.[200] Pilihan lainnya adalah berendam di bawah air terjun.[201] Garam sering dianggap sebagai zat penyuci;[202] sebagian praktisi Shinto misalnya menaburkan garam pada diri mereka setelah pemakaman[203] dan pemilik restoran menaruh setumpuk kecil garam di luar setiap hari sebelum membuka layanan.[204] Api juga dianggap sebagai sumber penyucian.[205] yaku-barai adalah bentuk harae yang dirancang untuk mencegah kemalangan[206] sedangkan oharae, "upacara penyucian besar", sering digunakan dalam ritual penyucian akhir tahun dan dilakukan dua kali setahun di banyak kuil.[207] Sebelum zaman Meiji, ritual penyucian umumnya dilakukan oleh onmyōji, jenis peramal yang praktiknya berasal dari filosofi yin dan yang dari Tiongkok. [95]
Kannagara, moralitas, dan etika
Dalam Shinto, kannagara ("jalan kami") menjelaskan hukum tatanan alam,[208] dengan wa ("harmoni") yang melekat dalam segala hal.[209] Mengacaukan wa dianggap buruk sedangkan ikut serta dalam wa dianggap baik;[210] dengan demikian, subordinasi individu pada unit sosial yang lebih besar telah lama menjadi karakteristik agama tersebut.[211] Shinto mempunyai komponen mitos dan cerita moral tetapi tidak memiliki doktrin etika yang menyeluruh dan mengatur;[4] Offner mencatat bahwa Shinto tidak menetapkan "kode perilaku yang terpadu dan sistematis".[20] Pandangannya mengenai kannagara memengaruhi pandangan etis tertentu, terfokus pada ketulusan (makoto) dan kejujuran (tadashii).[208] Makoto dianggap sebagai kebajikan utama dalam agama Jepang secara lebih luas.[212] Shinto terkadang menyertakan rujukan kepada empat kebajikan yang dikenal sebagai akaki kiyoki kokoro atau sei-mei-shin, yang berarti "kemurnian dan keceriaan hati", yang terkait dengan keadaan harae.[213] Offner percaya bahwa dalam Shinto, gagasan mengenai kebaikan terkait dengan "apa yang memiliki atau berhubungan dengan keindahan, kecerahan, keunggulan, nasib baik, kemuliaan, kemurnian, kesesuaian, harmoni, kesesuaian, [dan] produktivitas."[214] Shojiki dianggap sebagai kebajikan, meliputi kejujuran, kebenaran, ketulusan, dan keterusterangan.[215] Fleksibilitas Shinto mengenai moralitas dan etika sering menjadi sumber kritik, terutama dari mereka yang berpendapat bahwa agama dapat dengan mudah menjadi alat bagi mereka yang ingin menggunakannya untuk melegitimasi otoritas dan kekuasaan mereka.[216]
Sepanjang sejarah Jepang, gagasan saisei-itchi, atau penyatuan otoritas agama dan otoritas politik, telah lama dikenal.[217] Cali dan Dougill mencatat bahwa Shinto telah lama diasosiasikan dengan "pandangan picik dan protektif" dari masyarakat Jepang.[218] Mereka menambahkan bahwa Shinto cenderung ke arah konservatisme dan nasionalisme pada zaman modern.[218] Pada akhir tahun 1990-an, Bocking mencatat bahwa "nasionalisme yang tampak regresif sepertinya masih merupakan sekutu alami dari beberapa elemen sentral" dari Shinto.[219] Akibat dari asosiasi ini, Shinto masih dipandang mencurigakan oleh berbagai kelompok kebebasan sipil di Jepang dan banyak negara tetangga Jepang.[219]
Pendeta Shinto menghadapi berbagai teka-teki etika. Pada tahun 1980-an, misalnya, para pendeta di Kuil Suwa di Nagasaki berdebat mengenai pengundangan awak kapal Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) yang berlabuh di kota pelabuhan pada perayaan festival mereka mengingat sensitivitas mengenai penggunaan bom atom oleh AS pada tahun 1945 di kota itu.[220] Dalam kasus lain, para pendeta menentang proyek konstruksi di tanah milik kuil, terkadang membuat mereka bertentangan dengan kelompok kepentingan lain.[221] Pada awal tahun 2000-an, seorang pendeta menentang penjualan tanah kuil untuk membangun pembangkit listrik tenaga nuklir di Kaminoseki; ia akhirnya ditekan untuk mengundurkan diri karena masalah ini.[222] Persoalan lain yang cukup diperdebatkan adalah aktivitas Kuil Yasukuni di Tokyo. Kuil ini dikhususkan untuk para korban perang Jepang dan pada tahun 1979 kuil tersebut mengabadikan 14 orang, termasuk Hideki Tojo, yang dinyatakan sebagai terdakwa Kelas A pada Pengadilan Kejahatan Perang Tokyo pada tahun 1946. Hal ini menimbulkan kecaman baik domestik maupun internasional, terutama dari Tiongkok dan Korea.[223]
Pada abad ke-21, Shinto semakin digambarkan sebagai spiritualitas yang berpusat pada alam dengan kredensial environmentalis.[224] Kuil Shinto semakin menekankan pelestarian hutan yang mengelilingi banyak kuil[225] dan sejumlah kuil telah bekerja sama dengan kampanye lingkungan lokal.[226] Pada tahun 2014, sebuah konferensi antaragama internasional tentang kelestarian lingkungan diadakan di kuil Ise, dihadiri oleh perwakilan PBB dan sekitar tujuh ratus pendeta Shinto.[227] Para komentator kritis menyampaikan bahwa presentasi Shinto sebagai gerakan lingkungan bercirikan taktik retoris, bukan upaya bersama oleh lembaga-lembaga Shinto untuk menjadi ramah lingkungan.[228] Cendekiawan Aike P. Rots menyarankan bahwa reposisi Shinto sebagai "agama alam" mungkin tumbuh semakin populer sebagai sarana untuk memisahkan agama dari isu-isu kontroversial "terkait dengan ingatan perang dan patronase kekaisaran."[31]
Praktik
Shinto cenderung berfokus pada perilaku ritual daripada doktrin.[229] Filsuf James W. Boyd dan Ron G. Williams menyatakan bahwa Shinto adalah "tradisi ritual yang pertama dan terkemuka",[230] sementara Picken mengamati bahwa "Shinto tidak tertarik pada kepercayaan tetapi pada agenda, bukan pada sesuatu yang harus dipercayai tetapi pada sesuatu yang harus dilakukan."[231] Sarjana agama Clark B. Offner menyatakan bahwa fokus Shinto adalah pada "mempertahankan tradisi seremonial komunal untuk tujuan kesejahteraan manusia (komunal)".[214] sering kali sulit untuk membedakan praktik Shinto dari kebiasaan Jepang secara lebih luas,[81] dengan Picken mengamati bahwa "pandangan dunia Shinto" memberikan "sumber utama pemahaman diri dalam cara hidup orang Jepang".[231] Nelson menyatakan bahwa "Orientasi dan nilai-nilai berbasis Shinto[...] terletak pada inti budaya, masyarakat, dan karakter Jepang".[232]
Kuil

Ruang publik di mana kami disembah sering dikenal dengan istilah jinja ("tempat kami");[233] istilah ini berlaku untuk lokasi dan bukan untuk bangunan tertentu.[234] Jinja biasanya diterjemahkan sebagai "kuil",[235] sebuah istilah yang sekarang lebih umum digunakan untuk struktur Buddhis Jepang.[236] Terdapat sekitar 100.000 kuil umum di Jepang;[237] sekitar 80.000 kuil berafiliasi dengan Asosiasi Kuil Shinto,[238] dengan 20.000 kuil lainnya tidak terafiliasi.[239] Kuil-kuil tersebut ditemukan di seluruh negeri, dari daerah pedesaan yang terisolasi hingga daerah metropolitan yang padat.[240] Istilah yang lebih spesifik terkadang digunakan untuk kuil tertentu tergantung pada fungsinya; beberapa kuil agung dengan asosiasi kekaisaran disebut jingū,[241] kuil yang diabdikan untuk kematian perang disebut shokonsha,[215] dan kuil yang terkait dengan pegunungan yang dianggap dihuni oleh kami disebut yama-miya.[242]
Jinja biasanya terdiri dari kompleks beberapa bangunan,[243] dengan gaya arsitektur kuil yang sebagian besar dikembangkan pada zaman Heian.[244] Tempat perlindungan bagian dalam yang ditinggal kami adalah honden.[245] Di dalam honden mungkin tersimpan benda-benda milik kami; yang dikenal sebagai shinpo, dapat mencakup karya seni, pakaian, senjata, alat musik, lonceng, dan cermin.[246] Biasanya, para pemuja melakukan aktivitas mereka di luar honden.[23] Di dekat honden terkadang dapat ditemukan kuil tambahan, bekkū, untuk kami lainnya; kami yang menghuni kuil ini tidak selalu dianggap lebih rendah dari yang ada di honden.[247] Di beberapa tempat, aula ibadah didirikan, yang disebut haiden.[248] Pada tingkat yang lebih rendah dapat ditemukan aula persembahan, yang dikenal sebagai heiden.[249] Bersamaan dengan itu, gedung yang menampung honden, haiden, dan heiden disebut sebagai hongū.[250] Pada beberapa kuil, terdapat bangunan terpisah untuk mengadakan upacara tambahan, seperti pernikahan, yang dikenal sebagai gishikiden,[251] atau bangunan khusus tempat tarian kagura ditampilkan, yang dikenal sebagai kagura-den.[252] Secara kolektif, bangunan pusat kuil dikenal sebagai shaden,[253] sementara kawasannya dikenal sebagai keidaichi[101] atau shin'en.[254] Kawasan ini dikelilingi oleh pagar tamagaki,[255] dengan masuk melalui gerbang shinmon, yang dapat ditutup pada malam hari.[256]

Pintu masuk kuil ditandai oleh gerbang dua tiang dengan satu atau dua palang di atasnya, yang dikenal sebagai torii.[257] Detail yang tepat dari torii ini bervariasi dan setidaknya terdapat dua puluh gaya yang berbeda.[258] Pintu masuk ini dianggap sebagai pembatas area tempat kami berada;[23] melewatinya sering dipandang sebagai bentuk penyucian.[259] Secara luas, torii adalah simbol Jepang yang diakui secara internasional.[23] Bentuk arsitekturnya khas Jepang, meskipun keputusan untuk mengecatnya dengan warna merah merona mencerminkan pengaruh Tiongkok yang berasal dari zaman Nara.[260] Terdapat pula komainu yang terletak di pintu masuk banyak kuil, yang merupakan patung hewan seperti singa atau anjing yang dianggap menakuti roh jahat;[261] biasanya patung tersebut diletakkan berpasangan, salah satunya bermulut terbuka, dan yang lain bermulut tertutup.[262]
Kuil biasanya terletak di dalam taman[263] atau hutan rimba yang disebut chinju no mori ("hutan penjaga kami"),[264] yang ukurannya bervariasi dari hanya beberapa pohon hingga area hutan yang cukup besar.[265] Lentera besar, yang dikenal sebagai tōrō, sering ditemukan di dalam kawasan ini.[266] Kuil biasanya memiliki kantor, yang dikenal sebagai shamusho,[267] sebuah saikan tempat para pendeta menjalani bentuk pantang dan penyucian sebelum melakukan ritual,[268] dan bangunan lain seperti tempat tinggal pendeta dan gudang.[259] Berbagai kios sering menjual jimat kepada pengunjung.[269] Sejak akhir tahun 1940-an, kuil-kuil harus mandiri secara finansial, bergantung pada sumbangan para penyembah dan pengunjung. Dana ini digunakan untuk membayar upah para pendeta, membiayai pemeliharaan bangunan, menutupi biaya keanggotaan kuil dari berbagai kelompok Shinto regional dan nasional, dan berkontribusi pada dana bantuan bencana.[270]
Dalam Shinto, dianggap penting bahwa tempat-tempat kami dimuliakan dijaga kebersihannya dan tidak diabaikan.[271] Selama zaman Edo, kuil Kami biasanya dihancurkan dan dibangun kembali di lokasi terdekat untuk menghilangkan kotoran dan memastikan kemurnian.[272] Hal ini terus berlanjut hingga saat ini di beberapa tempat tertentu, seperti Kuil Agung Ise, yang dipindahkan ke lokasi yang berdekatan setiap dua dekade.[273] Kuil terpisah juga dapat digabungkan dalam proses yang dikenal sebagai jinja gappei,[274] sedangkan tindakan memindahkan kami dari satu bangunan ke bangunan lain disebut sengu.[275] Kuil mungkin memiliki legenda mengenai fondasinya, yang dikenal sebagai en-gi. Legenda tersebut terkadang juga mencatat keajaiban yang terkait dengan kuil.[276] Sejak periode Heian, en-gi sering diceritakan kembali pada gulungan gambar yang dikenal sebagai emakimono.[277]
Kependetaan dan miko
Kuil-kuil dapat dirawat oleh para pendeta, komunitas lokal, atau keluarga yang memiliki properti kuil tersebut.[23] Pendeta Shinto dikenal dalam bahasa Jepang sebagai kannushicode: ja is deprecated , yang berarti "pemilik kamicode: ja is deprecated ",[278] atau secara alternatif sebagai shinshokucode: ja is deprecated atau shinkancode: ja is deprecated .[279] Banyak kannushi mengambil peran dalam garis suksesi turun-temurun yang dapat ditelusuri dari keluarga tertentu.[280] Dalam Jepang kontemporer, terdapat dua universitas pelatihan utama bagi mereka yang ingin menjadi kannushicode: ja is deprecated , Universitas Kokugakuin di Tokyo dan Universitas Kogakkan di Prefektur Mie.[281] Para pendeta dapat naik pangkat selama karier mereka.[282] Jumlah pendeta di kuil tertentu dapat bervariasi; beberapa kuil dapat memiliki puluhan pendeta, dan yang lainnya tidak memilikinya, melainkan dikelola oleh sukarelawan awam setempat.[283] Beberapa pendeta mengelola beberapa kuil kecil, terkadang lebih dari sepuluh.[111]
Pakaian pendeta sebagian besar didasarkan pada pakaian yang dikenakan di istana kekaisaran selama zaman Heian.[284] Pakaian tersebut termasuk topi bulat tinggi yang dikenal sebagai eboshicode: ja is deprecated ,[285] dan bakiak kayu berpernis hitam yang dikenal sebagai asagutsucode: ja is deprecated .[286] Pakaian luar yang dikenakan oleh seorang pendeta, biasanya berwarna hitam, merah, atau biru muda, adalah hōcode: ja is deprecated ,[287] atau ikancode: ja is deprecated .[197] Versi sutra putih dari ikancode: ja is deprecated , digunakan untuk acara-acara resmi, dikenal sebagai saifukucode: ja is deprecated .[288] Jubah pendeta lainnya adalah kariginucode: ja is deprecated , yang mencontoh pakaian berburu gaya Heian.[289] Benda lain dari pakaian pendeta standar adalah kipas hiōgicode: ja is deprecated ,[290] sedangkan selama ritual, pendeta membawa sepotong kayu datar yang dikenal sebagai shakucode: ja is deprecated .[291] Pakaian ini umumnya lebih berornamen daripada pakaian suram yang dikenakan oleh biksu Buddha Jepang.[284]

Kepala pendeta di kuil adalah gūjicode: ja is deprecated .[292] Kuil yang lebih besar mungkin juga memiliki asisten kepala pendeta, gon-gūjicode: ja is deprecated .[293] Seperti halnya guru, instruktur, dan pendeta Buddha, pendeta Shinto sering disebut sebagai senseicode: ja is deprecated oleh praktisi awam.[294] Secara historis, terdapat pendeta perempuan meskipun sebagian besar dipaksa keluar dari posisinya pada tahun 1868.[295] Selama Perang Dunia II, wanita kembali diizinkan menjadi pendeta untuk mengisi kekosongan yang disebabkan oleh sejumlah besar pria yang terdaftar di militer.[296] Pada akhir tahun 1990-an, sekitar 90% pendeta adalah laki-laki, 10% pendeta adalah perempuan.[171] Pendeta bebas untuk menikah dan memiliki anak.[296] Pada kuil-kuil yang lebih kecil, para pendeta sering memiliki pekerjaan penuh waktu lainnya, dan hanya melayani sebagai pendeta selama acara-acara khusus.[293] Sebelum perayaan-perayaan besar tertentu, para pendeta dapat menjalani masa pantang dari hubungan seksual.[297] Beberapa dari mereka yang terlibat dalam festival juga berpantang dari berbagai hal, seperti minum teh, kopi, atau alkohol, sesaat sebelum acara.[298]
Para pendeta dibantu oleh jinja mikocode: ja is deprecated , terkadang disebut sebagai "gadis kuil".[299] mikocode: ja is deprecated tersebut biasanya belum menikah,[300] meski belum tentu perawan.[301] Dalam banyak kasus, mereka adalah putri seorang pendeta atau praktisi.[299] Mereka berada di bawah para pendeta dalam hierarki kuil.[302] Mereka berperan penting dalam tarian kaguracode: ja is deprecated , yang dikenal sebagai otome-maicode: ja is deprecated .[303] Mikocode: ja is deprecated hanya menerima gaji kecil tetapi mendapatkan rasa hormat dari anggota masyarakat setempat dan belajar keterampilan seperti memasak, kaligrafi, melukis, dan tata krama yang dapat bermanfaat bagi mereka ketika nanti mencari pekerjaan atau pasangan hidup.[303] Mereka umumnya tidak tinggal di kuil.[303] Kadang-kadang mereka mengisi peran lain, seperti menjadi sekretaris di kantor kuil atau juru tulis di meja informasi, atau sebagai pelayan pada pesta naoraicode: ja is deprecated . Mereka juga membantu kannushicode: ja is deprecated pada ritus upacara.[303]
Kunjungan ke kuil
Kunjungan ke kuil disebut sankeicode: ja is deprecated ,[304] atau jinja mairicode: ja is deprecated .[305] Beberapa orang mengunjungi kuil setiap hari, sering kali pada rute pagi ketika berangkat kerja;[305] biasanya hanya memakan waktu beberapa menit.[305] Biasanya, seorang penyembah akan mendekati honden, menempatkan persembahan uang ke dalam sebuah kotak dan kemudian membunyikan lonceng untuk meminta perhatian kamicode: ja is deprecated .[306] Kemudian, mereka membungkuk, bertepuk tangan, dan berdiri sambil diam-diam memanjatkan doa.[307] Tepuk tangan disebut sebagai kashiwadecode: ja is deprecated atau hakushucode: ja is deprecated ;[308] doa atau permohonan disebut sebagai kigancode: ja is deprecated .[309] Penyembahan secara individu ini dikenal sebagai haireicode: ja is deprecated .[310] Secara luas, doa ritual kepada kamicode: ja is deprecated disebut noritocode: ja is deprecated ,[311] sedangkan koin yang dipersembahkan adalah saisencode: ja is deprecated .[312] Pada kuil, doa yang dipanjatkan secara individu tidak harus ditujukan kepada kamicode: ja is deprecated tertentu.[305] Seorang penyembah mungkin tidak tahu nama kamicode: ja is deprecated yang tinggal di kuil atau banyaknya kamicode: ja is deprecated yang diyakini tinggal di sana.[313] Tidak seperti pada agama-agama tertentu lainnya, kuil Shinto tidak memiliki kebaktian mingguan yang diharapkan untuk dihadiri oleh para praktisi.[314]

Beberapa praktisi Shinto tidak mempersembahkan doa mereka kepada kamicode: ja is deprecated secara langsung, melainkan meminta seorang pendeta untuk mempersembahkannya atas nama mereka; doa-doa ini dikenal sebagai 'kitō.[315] Banyak orang mendekati kamicode: ja is deprecated untuk meminta permintaan pragmatis.[316] Permintaan untuk hujan, yang dikenal sebagai amagoicode: ja is deprecated ("meminta hujan") ditemukan di seluruh Jepang, dengan Inari merupakan pilihan populer untuk permintaan tersebut.[317] Doa-doa lain mencerminkan keprihatinan yang lebih kontemporer. Misalnya, orang mungkin meminta pendeta mendekati kamicode: ja is deprecated untuk menyucikan mobil mereka dengan harapan agar tidak terlibat dalam kecelakaan.[318] Demikian pula, perusahaan transportasi sering meminta upacara penyucian untuk bus atau pesawat baru yang akan mulai beroperasi.[319] Sebelum sebuah bangunan dibangun, biasanya seseorang atau perusahaan konstruksi mempekerjakan seorang pendeta Shinto untuk mendatangi tanah yang sedang dikembangkan dan melakukan jichinsaicode: ja is deprecated , atau ritual penyucian bumi. Ini memurnikan situs dan meminta kamicode: ja is deprecated untuk memberkatinya.[320]
Orang-orang sering meminta kamicode: ja is deprecated untuk membantu dalam mengimbangi peristiwa buruk yang mungkin memengaruhi mereka. Misalnya, dalam budaya Jepang, usia 33 tahun bagi wanita dan usia 42 tahun bagi pria dipandang sebagai sial, dan dengan demikian orang-orang dapat meminta kamicode: ja is deprecated untuk mengimbangi kemalangan yang terkait dengan usia tersebut.[321] Arah tertentu juga dapat dilihat sebagai tidak menguntungkan bagi orang-orang tertentu pada waktu tertentu dan dengan demikian orang-orang dapat mendekati kamicode: ja is deprecated meminta mereka untuk mengimbangi masalah ini ketika mereka harus melakukan perjalanan di salah satu arah sial itu.[321]
Ziarah telah lama menjadi penting dalam agama Jepang,[322] dengan ziarah ke kuil Shinto yang disebut junreicode: ja is deprecated .[323] Ziarah keliling, ketika individu mengunjungi serangkaian kuil dan situs suci lainnya yang merupakan bagian dari rute tetap, dikenal sebagai junpaicode: ja is deprecated .[323] Seseorang yang memimpin para peziarah ini, terkadang disebut sebagai sendatsucode: ja is deprecated .[275] Selama berabad-abad, orang-orang juga mengunjungi kuil karena alasan budaya dan rekreasi, bukan alasan spiritual.[305] Banyak kuil diakui sebagai situs sejarah penting dan beberapa diklasifikasikan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO.[305] Kuil-kuil seperti Shimogamo Jinja dan Fushimi Inari Taisha di Kyoto, Meiji Jingū di Tokyo, dan Atsuta Jingū di Nagoya merupakan beberapa tempat wisata paling populer di Jepang.[222] Banyak kuil memiliki cap stempel unik yang dapat ditambahkan ke dalam sutanpu bukkucode: ja is deprecated atau buku stempel, yang menunjukkan berbagai kuil yang dikunjungi.[324]
Harae dan hōbei

Ritual Shinto dimulai dengan proses penyucian, atau haraecode: ja is deprecated .[325] Ritual ini menggunakan air tawar atau air asin, yang dikenal sebagai misogicode: ja is deprecated .[198] Di kuil, ritual ini memerlukan percikan air pada wajah dan tangan, prosedur yang dikenal sebagai temizucode: ja is deprecated ,[326] menggunakan sebuah wadah yang dikenal sebagai temizuyacode: ja is deprecated .[327] Bentuk penyucian lain pada awal dari ritus Shinto yaitu dengan menggoyangkan panji atau tongkat yang dipasang kertas putih dikenal sebagai haraigushicode: ja is deprecated .[328] Saat tidak digunakan, haraigushicode: ja is deprecated biasanya disimpan dalam posisi berdiri.[326] Pendeta menggoyangkan haraigushicode: ja is deprecated secara horizontal di atas orang atau benda yang disucikan dalam gerakan yang dikenal sebagai sa-yu-sacode: ja is deprecated ("kiri-kanan-kiri").[326] Terkadang, alih-alih menggunakan haraigushicode: ja is deprecated , penyucian dilakukan dengan o-nusacode: ja is deprecated , cabang cemara yang dipasang potongan kertas.[326] Goyangan dari haraigushicode: ja is deprecated sering diikuti dengan tindakan penyucian tambahan, shubatsucode: ja is deprecated , di mana pendeta memercikkan air, garam, atau air garam di atasnya yang dikumpulkan dari kotak kayu yang disebut 'en-to-okecode: ja is deprecated atau magemonocode: ja is deprecated .[329]
Tindakan penyucian terselesaikan, petisi yang dikenal sebagai noritocode: ja is deprecated diucapkan kepada kamicode: ja is deprecated .[330] Hal itu diikuti oleh penampilan mikocode: ja is deprecated , yang dimulai dengan gerakan melingkar perlahan di depan altar utama.[330] Persembahan kemudian disajikan kepada kamicode: ja is deprecated dengan ditaruh di atas meja.[330] Tindakan ini dikenal sebagai hōbeicode: ja is deprecated ;[287] persembahan itu sendiri dikenal sebagai saimotsucode: ja is deprecated [268] atau sonae-monocode: ja is deprecated .[331] Secara historis, persembahan yang diberikan kepada kamicode: ja is deprecated meliputi makanan, kain, pedang, dan kuda.[332] Pada periode kontemporer, umat awam biasanya memberikan hadiah uang kepada kamicode: ja is deprecated sedangkan para pendeta umumnya menawarkan makanan, minuman, dan tangkai dari pohon sakakicode: ja is deprecated yang sakral.[40] Pengurbanan hewan tidak dianggap sebagai persembahan yang pantas, karena penumpahan darah dipandang sebagai tindakan pengotoran yang memerlukan penyucian.[333] Persembahan yang disajikan terkadang sederhana dan terkadang lebih rumit; di Kuil Agung Ise, misalnya, 100 jenis makanan disajikan sebagai persembahan.[330] Pilihan persembahan sering kali disesuaikan dengan kamicode: ja is deprecated dan kesempatan tertentu.[246]
Persembahan makanan dan minuman secara khusus disebut shinsencode: ja is deprecated .[246] Sake, atau arak beras, adalah persembahan yang sangat umum untuk kamicode: ja is deprecated .[334] Setelah persembahan diberikan, orang-orang sering menyesap arak beras yang dikenal sebagai o-mikicode: ja is deprecated .[330] Meminum arak o-mikicode: ja is deprecated dipandang sebagai bentuk persekutuan dengan kamicode: ja is deprecated .[335] Pada acara-acara penting, sebuah pesta kemudian diadakan, yang dikenal sebagai naoraicode: ja is deprecated , di dalam aula perjamuan yang terhubung dengan kompleks kuil.[336]
kamicode: ja is deprecated diyakini menikmati musik.[337] Salah satu gaya musik yang ditampilkan di kuil adalah gagakucode: ja is deprecated .[338] Alat musik yang digunakan antara lain tiga reed (fuecode: ja is deprecated , shocode: ja is deprecated , dan hichirikicode: ja is deprecated ), yamato-kotocode: ja is deprecated , dan "tiga drum" (taikocode: ja is deprecated , kakkocode: ja is deprecated , dan shōkocode: ja is deprecated ).[339] Gaya musik lain yang ditampilkan di kuil dapat memiliki fokus yang lebih terbatas. Di kuil seperti Kuil Ōharano di Kyoto, musik azuma-asobicode: ja is deprecated ("hiburan timur") dipertunjukkan pada 8 April.[153] Selain itu, berbagai festival di Kyoto menggunakan gaya musik dan tarian dengakucode: ja is deprecated , yang berasal dari lagu penanaman padi.[340] Selama ritual, orang yang mengunjungi kuil diharapkan untuk duduk dengan gaya seizacode: ja is deprecated , dengan kaki diselipkan di bawah bokong.[341] Untuk menghindari kram, seseorang yang menahan posisi ini untuk waktu yang lama dapat secara berkala menggerakkan kaki dan melenturkan tumit.[342]
Kuil keluarga

Setelah melihat popularitas yang meningkat di era Meiji,[343] banyak praktisi Shinto juga memiliki kuil keluarga, atau kamidanacode: ja is deprecated ("rak kami"), di rumah mereka.[344] Kuil tersebut biasanya terdiri dari rak-rak yang ditempatkan pada posisi tinggi di ruang tamu.[345] Kamidanacode: ja is deprecated juga dapat ditemukan di tempat kerja, restoran, toko, dan kapal laut.[346] Beberapa kuil umum menawarkan kamidanacode: ja is deprecated .[347]
Selain kamidanacode: ja is deprecated , banyak rumah tangga Jepang juga memiliki butsudancode: ja is deprecated , altar Buddha yang mengabadikan leluhur keluarga;[348] penghormatan leluhur tetap menjadi aspek penting dari tradisi keagamaan Jepang.[186] Dalam kasus yang jarang terjadi ketika orang Jepang diberi pemakaman Shinto daripada pemakaman Buddhis, kuil tama-yacode: ja is deprecated , mitama-yacode: ja is deprecated , atau sorei-shacode: ja is deprecated dapat didirikan di rumah sebagai pengganti butsudancode: ja is deprecated . Kuil ini biasanya ditempatkan di bawah kamidanacode: ja is deprecated dan menyertakan simbol roh leluhur yang tinggal, misalnya cermin atau gulungan.[349]
Kamidanacode: ja is deprecated sering kali mengabadikan kami dari kuil umum terdekat serta kami pelindung yang terkait dengan penghuni rumah atau profesi mereka.[343] Kuil tersebut dapat didekorasi dengan miniatur torii dan shimenawacode: ja is deprecated serta jimat yang diperoleh dari kuil umum.[343] Kuil tersebut sering mencakup wadah untuk menempatkan persembahan;[259] persembahan harian beras, garam, dan air ditempatkan di sana, dengan sake dan barang-barang lainnya juga ditawarkan pada hari-hari khusus.[350] Ritual domestik ini sering dilakukan di pagi hari,[351] dan sebelum melakukannya, praktisi biasanya mandi, berkumur, atau mencuci tangan sebagai bentuk penyucian.[352]
Shinto rumah tangga dapat memusatkan perhatian pada dōzoku-shincode: ja is deprecated , kamicode: ja is deprecated yang dianggap sebagai leluhur dōzokucode: ja is deprecated atau kelompok kekerabatan yang luas.[353] Kuil kecil untuk leluhur sebuah rumah tangga dikenal sebagai soreishacode: ja is deprecated .[331] Kuil desa kecil yang berisi kami pelindung dari keluarga besar dikenal sebagai iwai-dencode: ja is deprecated .[354] Selain kuil pemujaan dan kuil rumah tangga, Shinto juga memiliki kuil kecil di pinggir jalan yang dikenal sebagai hokoracode: ja is deprecated .[250] Ruang terbuka lain yang digunakan untuk pemujaan kami adalah iwasakacode: ja is deprecated , sebuah area yang dikelilingi oleh batu-batu keramat.[355]
Engimono, Ema, ramalan, dan jimat

Sebuah ciri khas umum dari kuil Shinto adalah penyediaan emacode: ja is deprecated , plakat kayu kecil di mana praktisi akan menulis keinginan atau harapan yang ingin dikabulkan. Pesan praktisi tertulis pada salah satu sisi plakat, sedangkan sisi yang lain biasanya berupa gambar atau pola tercetak yang berhubungan dengan kuil itu sendiri.[356] Emacode: ja is deprecated disediakan di kuil Shinto dan kuil Buddha di Jepang;[285] tidak seperti kebanyakan jimat, yang diambil dari kuil, emacode: ja is deprecated biasanya ditinggalkan di sana sebagai pesan untuk kamicode: ja is deprecated tertentu.[276] Mereka yang mengelola kuil kemudian akan membakar semua emacode: ja is deprecated yang terkumpul pada tahun baru.[276]
Ramalan merupakan fokus dari banyak ritual Shinto,[357] dengan berbagai bentuk ramalan yang digunakan oleh para praktisinya, beberapa di antaranya diperkenalkan dari Tiongkok.[358] Di antara bentuk ramalan kuno yang ditemukan di Jepang adalah rokubokucode: ja is deprecated dan kibokucode: ja is deprecated .[359] Beberapa bentuk ramalan yang melibatkan panahan juga dipraktikkan dalam Shinto, yang dikenal sebagai yabusamecode: ja is deprecated , omato-shinjicode: ja is deprecated , dan mato-icode: ja is deprecated .[360] Kitagawa menyatakan bahwa "tidak diragukan lagi" berbagai jenis "peramal perantara" berperan dalam agama Jepang awal.[60] Bentuk ramalan yang sebelumnya umum di Jepang adalah bokusencode: ja is deprecated atau uranaicode: ja is deprecated , yang sering menggunakan cangkang kura-kura; masih digunakan di beberapa tempat.[361]
Salah satu bentuk ramalan yang populer di kuil Shinto adalah omikujicode: ja is deprecated .[362] Ramalan tersebut berupa secarik kertas kecil yang diperoleh dari kuil (untuk sumbangan) dan kemudian dibaca untuk memperlihatkan prediksi masa depan.[363] Mereka yang sering menerima prediksi buruk kemudian mengikat omikujicode: ja is deprecated pada pohon atau bingkai terdekat yang disiapkan untuk tujuan tersebut. Tindakan ini dipandang sebagai penolakan prediksi, sebuah proses yang disebut sute-mikujicode: ja is deprecated , dan dengan demikian menghindari kemalangan yang diprediksinya.[364]

Penggunaan jimat secara luas disetujui dan populer di Jepang.[314] Jimat tersebut mungkin terbuat dari kertas, kayu, kain, logam, atau plastik.[314] Ofudacode: ja is deprecated bertindak sebagai jimat untuk menghindari kemalangan serta membawa manfaat dan keberuntungan.[311] Mereka biasanya terdiri dari sepotong kayu yang runcing di mana nama kuil dan kamicode: ja is deprecated yang diabadikannya ditulis atau dicetak. Ofudacode: ja is deprecated kemudian dibungkus dengan kertas putih dan diikat dengan benang berwarna.[365] Ofudacode: ja is deprecated disediakan baik di kuil Shinto dan kuil Buddha.[311] Jenis jimat lain yang disediakan di kuil dan kuil adalah omamoricode: ja is deprecated , yang secara tradisional merupakan tas serut kecil berwarna cerah dengan nama kuil tertulis pada tas serut tersebut.[366] Omamoricode: ja is deprecated dan ofudacode: ja is deprecated terkadang ditempatkan di dalam tas jimat yang dikenal sebagai kinchakucode: ja is deprecated , biasanya dikenakan oleh anak-anak kecil.[309]
Pada tahun baru, banyak kuil menjual hamayacode: ja is deprecated ("panah penghancur keburukan"), yang dapat dibeli dan disimpan di rumah mereka selama tahun mendatang untuk membawa keberuntungan.[367] Darumacode: ja is deprecated merupakan boneka kertas yang bundar dari biksu India, Bodhidharma. Penerima membuat keinginan dan melukis satu mata; ketika tujuan tercapai, penerima melukis mata yang lain. Meskipun ini adalah praktik Buddhis, daruma juga dapat ditemukan di kuil. Boneka ini sangat umum.[368] Benda pelindung lainnya termasuk: doreicode: ja is deprecated , yaitu lonceng gerabah yang digunakan untuk meminta keberuntungan. Lonceng ini biasanya berbentuk binatang zodiak.[368] Inuharikocode: ja is deprecated adalah anjing kertas yang digunakan untuk membujuk dan memberkati kelahiran yang baik.[368] Secara kolektif, jimat ini yang digunakan untuk memanipulasi peristiwa dan memengaruhi roh, serta mantra dan ritus terkait untuk tujuan yang sama, dikenal sebagai majinaicode: ja is deprecated .[369]
Kagura

Kaguracode: ja is deprecated menggambarkan musik dan tarian yang ditunjukkan untuk kamicode: ja is deprecated ;[370] istilah ini mungkin berasal dari kami no kuracode: ja is deprecated ("kursi dari kamicode: ja is deprecated ").[371] Sepanjang sejarah Jepang, tarian ini memainkan peran budaya yang penting dan dalam Shinto dianggap memiliki kapasitas untuk menenangkan kamicode: ja is deprecated .[372] Terdapat cerita mitologi mengenai bagaimana tari kaguracode: ja is deprecated muncul. Menurut Kojiki dan Nihon Shoki, Ame-no-Uzume menampilkan tarian untuk membujuk Amaterasu keluar dari gua tempat ia menyembunyikan dirinya.[373]
Ada dua jenis yang luas dari Kagura.[374] Salah satunya adalah Kagura Kekaisaran, juga dikenal sebagai mikaguracode: ja is deprecated . Gaya ini dikembangkan di istana kekaisaran dan masih dilakukan di tanah kekaisaran setiap bulan Desember.[375] Gaya ini juga dilakukan pada festival panen Kekaisaran dan di kuil-kuil besar seperti Ise, Kamo, dan Iwashimizu Hachiman-gū. Gaya ini dilakukan oleh penyanyi dan musisi menggunakan genta kayu shakubyoshicode: ja is deprecated , hichirikicode: ja is deprecated , seruling kagura-buecode: ja is deprecated , dan sitar berdawai enam.[252] Jenis utama lainnya adalah sato-kaguracode: ja is deprecated , diturunkan dari mikaguracode: ja is deprecated dan ditampilkan di kuil-kuil di seluruh Jepang. Tergantung pada gayanya, tarian ini dilakukan oleh mikocode: ja is deprecated atau aktor yang mengenakan topeng untuk menggambarkan berbagai tokoh mitologis.[376] Para aktor ini diiringi oleh band hayashicode: ja is deprecated menggunakan seruling dan drum.[252] Ada juga jenis kagura regional lainnya.[252]
Musik memainkan peran yang sangat penting dalam pertunjukan kaguracode: ja is deprecated . Mulai dari pengaturan instrumen hingga suara yang paling halus dan aransemen musik sangat penting untuk mendorong kamicode: ja is deprecated untuk turun dan menari. Lagu-lagu tersebut digunakan sebagai perangkat ajaib untuk memanggil kamicode: ja is deprecated dan sebagai doa memohon berkah. Umumnya menggunakan pola ritme lima dan tujuh, yang mungkin berkaitan dengan kepercayaan Shinto dari dua belas generasi dewa surgawi dan duniawi. Terdapat pula iringan vokal yang disebut kami utacode: ja is deprecated ketika penabuh drum menyanyikan lagu-lagu sakral kepada kamicode: ja is deprecated . sering kali iringan vokal mengalahkan tabuhan drum dan instrumen, memperkuat bahwa aspek vokal dari musik lebih untuk mantera daripada estetika.[377]
Festival

Festival umum biasanya disebut matsuricode: ja is deprecated ,[378] meskipun istilah ini memiliki arti yang beragam—"festival", "pemujaan", "perayaan", "upacara adat", atau "pemanjatan doa"—dan tidak ada terjemahan langsung ke dalam bahasa Inggris.[379] Picken memberi kesan bahwa festival itu adalah "tindakan utama pemujaan Shinto" karena Shinto adalah agama "berbasis komunitas dan keluarga".[380] Sebagian besar menandai tahun panen dan melibatkan persembahan yang ditujukan kepada kamicode: ja is deprecated sebagai rasa syukur.[381] Menurut kalender lunar tradisional, kuil Shinto harus mengadakan perayaan festival pada hare-no-hicode: ja is deprecated atau hari yang "cerah", hari dari bulan baru, setengah, dan purnama.[382] Hari-hari lain, yang dikenal sebagai ke-no-hicode: ja is deprecated , umumnya dihindari untuk perayaan.[382] Namun, sejak akhir abad ke-20, banyak kuil mengadakan perayaan festival pada hari Sabtu atau Minggu terdekat dengan tanggal tersebut sehingga lebih sedikit orang yang akan bekerja dan dapat hadir.[383] Setiap kota atau desa sering memiliki festivalnya sendiri, yang berpusat di kuil lokal.[351] Misalnya, festival Aoi Matsuri, diadakan pada tanggal 15 Mei untuk berdoa agar panen gandum berlimpah, berlangsung pada kuil-kuil di Kyoto,[384] sementara Chichibu Yo-Matsuri berlangsung pada tanggal 2-3 Desember di Chichibu.[385]
Festival musim semi disebut haru-matsuricode: ja is deprecated dan sering kali menyertakan doa untuk panen yang baik.[382] Festival tersebut terkadang melibatkan upacara ta-asobicode: ja is deprecated , dengan menanam padi secara ritual.[382] Festival musim panas disebut natsu-matsuricode: ja is deprecated dan biasanya difokuskan untuk melindungi tanaman dari hama dan ancaman lainnya.[386] Festival musim gugur dikenal sebagai aki-matsuricode: ja is deprecated dan terutama berfokus pada ucapan terima kasih kepada kamicode: ja is deprecated atas beras atau panen lainnya.[387] Niiname-saicode: ja is deprecated , atau festival beras baru, diadakan di banyak kuil Shinto pada 23 November.[388] Kaisar juga mengadakan upacara untuk menandai festival ini, dengan mempersembahkan buah pertama dari panen kepada kamicode: ja is deprecated pada tengah malam.[389] Festival musim dingin, yang disebut fuyu no matsuricode: ja is deprecated sering kali menampilkan penyambutan di musim semi, mengusir kejahatan, dan mengundang pengaruh baik untuk masa depan.[390] Ada sedikit perbedaan antara festival musim dingin dan festival tahun baru tertentu.[390]

Tahun baru disebut shogatsucode: ja is deprecated .[391] Pada hari terakhir dalam setahun (31 Desember), omisokacode: ja is deprecated , praktisi biasanya membersihkan kuil rumah tangga mereka untuk persiapan Tahun Baru (1 Januari), ganjitsucode: ja is deprecated .[392] Banyak orang mengunjungi kuil umum untuk merayakan tahun baru;[393] "kunjungan pertama" pada tahun itu dikenal sebagai hatsumōdecode: ja is deprecated atau hatsumairicode: ja is deprecated .[394] Di sana, mereka membeli jimat dan talisman untuk memberikan keberuntungan di tahun mendatang.[395] Untuk merayakan festival ini, banyak orang Jepang memasang tali yang dikenal sebagai shimenawacode: ja is deprecated di rumah dan tempat usaha mereka.[396] Beberapa juga memasang kadomatsucode: ja is deprecated ("pinus gerbang"), yang tersusun dari ranting pinus, pohon plum, dan batang bambu.[397] Terdapat pula kazaricode: ja is deprecated , yang lebih kecil dan lebih berwarna; tujuannya adalah untuk menjauhkan kemalangan dan menarik keberuntungan.[191] Di banyak tempat, perayaan tahun baru menggabungkan hadaka matsuricode: ja is deprecated ("festival telanjang") dengan pria yang hanya mengenakan kain pinggang fundoshicode: ja is deprecated terlibat dalam aktivitas tertentu, seperti memperebutkan benda tertentu atau membenamkan diri di sungai.[398]
Aspek umum dari festival adalah prosesi atau parade yang dikenal sebagai gyōretsucode: ja is deprecated .[399] Parade tersebut bisa saja riuh, dengan banyak peserta mabuk;[400] Breen dan Teeuwen mencirikan mereka sebagai memiliki "suasana karnaval".[401] Mereka sering dipahami memiliki efek regeneratif baik bagi peserta maupun komunitas.[402] Selama prosesi ini, kamicode: ja is deprecated melakukan perjalanan pada kuil yang diangkut yang dikenal sebagai mikoshicode: ja is deprecated .[403] Dalam berbagai kasus mikoshicode: ja is deprecated mengalami hamaoricode: ja is deprecated ("turun ke pantai"), suatu proses dengan membawanya ke pantai dan terkadang ke laut, baik dengan kapal pengangkut atau perahu.[404] Misalnya, dalam festival Okunchi yang diadakan di kota barat daya Nagasaki, kamicode: ja is deprecated dari Kuil Suwa diarak ke Ohato, dengan mereka ditempatkan di sebuah kuil di sana selama beberapa hari sebelum diarak kembali ke Suwa.[405] Sering kali perayaan-perayaan semacam ini sebagian besar diorganisir oleh anggota komunitas lokal daripada oleh para pendeta itu sendiri.[401]
Ritus peralihan
Pengakuan formal dari suatu peristiwa sangat penting dalam budaya Jepang.[406] Sebuah ritual umum, hatsumiyamairicode: ja is deprecated , mengharuskan kunjungan pertama seorang anak ke kuil Shinto.[407] Sebuah tradisi menyatakan bahwa, jika anak laki-laki maka harus dibawa ke kuil pada hari ketiga puluh dua setelah kelahiran, dan jika anak perempuan maka harus dibawa pada hari ketiga puluh tiga.[408] Secara historis, seorang anak biasanya dibawa ke kuil bukan oleh ibu, yang dianggap tidak suci setelah lahir, tetapi oleh kerabat perempuan lain; sejak akhir abad ke-20 sudah lebih umum bagi ibu untuk melakukannya.[408] Ritus penerimaan lainnya, saiten-saicode: ja is deprecated atau seijin shikicode: ja is deprecated , merupakan ritual datangnya usia yang menandai transisi menuju dewasa dan terjadi ketika seorang individu berusia sekitar dua puluh tahun.[409] Upacara pernikahan sering dilakukan di kuil Shinto.[410] Pernikahan tersebut disebut shinzen kekkoncode: ja is deprecated ("pernikahan sebelum kamicode: ja is deprecated ") dan dipopulerkan pada Zaman Meiji; sebelum ini, pernikahan biasanya dilakukan di rumah.[411]
Di Jepang, pemakaman cenderung berlangsung di kuil Buddha dan melibatkan kremasi,[412] dengan pemakaman Shinto menjadi langka.[186] Bocking mencatat bahwa kebanyakan orang Jepang "masih 'terlahir Shinto' tetapi 'meninggal secara Buddhis'."[219] Dalam pemikiran Shinto, kontak dengan kematian dipandang sebagai menanamkan ketidaksucian (kegarecode: ja is deprecated ); periode setelah persinggungan ini dikenal sebagai kibukucode: ja is deprecated dan dikaitkan dengan berbagai tabu.[413] Dalam kasus ketika manusia mati diabadikan sebagai kamicode: ja is deprecated , sisa-sisa fisik jenazah tersebut tidak disimpan di kuil.[414] Meskipun tidak umum, terdapat contoh pemakaman yang dilakukan melalui ritus Shinto. Contoh paling awal diketahui dari pertengahan abad ke-17; pemakaman tersebut terjadi di daerah-daerah tertentu di Jepang dan mendapat dukungan dari pemerintah setempat.[415] Setelah Restorasi Meiji, pada tahun 1868 pemerintah secara khusus mengakui pemakaman Shinto bagi para pendeta Shinto.[416] Lima tahun kemudian, hal tersebut diperluas untuk mencakup seluruh penduduk Jepang.[417] Meskipun Meiji mempromosikan pemakaman Shinto, mayoritas penduduk tetap menjalankan upacara pemakaman Buddhis.[415] Dalam beberapa dekade terakhir, pemakaman Shinto biasanya disediakan untuk pendeta Shinto dan untuk anggota sekte Shinto tertentu.[418] Setelah kremasi, proses pemakaman normal di Jepang, abu seorang pendeta boleh dikebumikan di dekat kuil, tetapi tidak di dalam kawasannya.[175]
Penghormatan leluhur tetap menjadi bagian penting dari kebiasaan agama Jepang.[186] Permohonan bagi jenazah, dan terutama korban perang, dikenal sebagai [shо̄kon] Galat: {{Lang}}: Non-latn text (pos 3: о)/Latn script subtag mismatch (bantuan).[215] Berbagai ritus merujuk hal tersebut. Misalnya, pada festival Bon yang sebagian besar beragama Buddha, arwah para leluhur diyakini mengunjungi yang hidup, dan kemudian diusir dalam sebuah ritual yang disebut [shо̄rо̄ nagashi] Galat: {{Lang}}: Non-latn text (pos 3: о)/Latn script subtag mismatch (bantuan), dengan memasukkan lentera ke dalam perahu kecil, sering dibuat dari kertas, dan ditempatkan di sungai untuk mengapung hingga ke hilir.[419]
Perantara roh dan penyembuhan

Praktisi Shinto percaya bahwa kami dapat merasuki manusia dan kemudian berbicara melalui mereka, sebuah proses yang dikenal sebagai kami-gakaricode: ja is deprecated .[420] Beberapa gerakan agama baru yang menggunakan Shinto, seperti Tenrikyo dan Oomoto, didirikan oleh individu-individu yang mengaku dibimbing oleh kami yang merasukinya.[421] Takusencode: ja is deprecated merupakan orakel yang diturunkan dari kamicode: ja is deprecated melalui perantara.[255]
Itakocode: ja is deprecated dan ichikocode: ja is deprecated merupakan wanita tunanetra yang dilatih untuk menjadi perantara spiritual, secara tradisional di wilayah Tohoku utara Jepang.[422] Pelatihan Itakocode: ja is deprecated di bawah itakocode: ja is deprecated lain sejak dini, menghafal teks-teks suci dan doa-doa, puasa, dan melakukan tindakan asketisme yang berat, yang melaluinya diyakini dapat menumbuhkan kekuatan gaib.[422] Dalam upacara inisiasi, kami diyakini merasuki wanita muda tersebut, dan keduanya kemudian secara ritual "menikah". Setelah itu, kami menjadi roh penjaganya dan dia akan dapat memanggilnya, dan berbagai roh lainnya, di masa depan. Dengan menghubungi roh-roh ini, dia dapat menyampaikan pesan mereka kepada orang yang hidup.[422] Itakocode: ja is deprecated biasanya melaksanakan ritual mereka terlepas dari sistem kuil.[423] Budaya Jepang juga mencakup penyembuh spiritual yang dikenal sebagai ogamiya-sancode: ja is deprecated yang pekerjaannya melibatkan pemanggilan kami dan Buddha.[207]
Demografi

Kebanyakan orang Jepang berpartisipasi dalam beberapa tradisi keagamaan,[424] dengan Breen dan Teeuwen mencatat, "dengan sedikit pengecualian", tidak mungkin membedakan antara penganut Shinto dan Buddha di Jepang.[425] Pengecualian utama adalah anggota kelompok agama minoritas, termasuk Kristen, yang mempromosikan pandangan dunia eksklusif.[426] Menentukan proporsi penduduk negara yang melakukan aktivitas Shinto terhalang oleh fakta bahwa, jika ditanya, orang Jepang akan sering mengatakan "Saya tidak beragama".[426] Banyak orang Jepang menghindari istilah "agama", sebagian karena mereka tidak menyukai konotasi kata yang paling cocok dengannya dalam bahasa Jepang,shūkyōcode: ja is deprecated . Istilah agama berasal dari shūcode: ja is deprecated ("sekte") dan kyōcode: ja is deprecated ("doktrin").[427]
Statistik resmi menunjukkan Shinto sebagai agama terbesar di Jepang, dengan lebih dari 80 persen penduduk negara itu diidentifikasi terlibat dalam kegiatan Shinto.[237][428] Sebaliknya, dalam kuesioner hanya sebagian kecil orang Jepang yang menggambarkan diri mereka sebagai "penganut Shinto".[237] Hal tersebut menunjukkan bahwa jumlah orang yang terlibat dalam kegiatan Shinto jauh lebih banyak daripada yang menyebut Shinto sebagai identitas agama mereka.[237] Tidak ada ritual formal untuk menjadi praktisi "shinto rakyat". Jadi, "keanggotaan Shinto" sering diperkirakan hanya menghitung mereka yang bergabung dengan sekte Shinto yang terorganisir.[429] Shinto memiliki sekitar 81.000 kuil dan sekitar 85.000 pendeta di negara itu.[428] Menurut survei yang dilakukan pada tahun 2006[430] dan 2008,[431] kurang dari 40% penduduk Jepang mengidentifikasi diri dengan agama yang terorganisir: sekitar 35% adalah Buddhis, 30% hingga 40% adalah anggota sekte Shinto dan agama turunannya. Pada tahun 2008, 26% dari partisipan melaporkan sering mengunjungi kuil Shinto, sementara hanya 16,2% yang menyatakan percaya akan adanya kamicode: ja is deprecated secara umum.[431]
Luar Jepang

Shinto ditemukan terutama di Jepang, meskipun pada periode kekaisaran ajaran tersebut diperkenalkan ke berbagai koloni Jepang dan saat ini juga dipraktikkan oleh anggota diaspora Jepang.[30] Jinja di luar Jepang disebut kaigai jinjacode: ja is deprecated ("kuil luar negeri"), istilah yang diciptakan oleh Ogasawara Shōzō.[432] Kuil tersebut didirikan baik di wilayah yang ditaklukkan oleh Jepang maupun daerah di mana migran Jepang menetap.[432] Ketika Kekaisaran Jepang runtuh pada tahun 1940-an, terdapat lebih dari 600 kuil umum, dan lebih dari 1.000 kuil kecil, di dalam wilayah taklukan Jepang. Banyak dari kuil-kuil tersebut kemudian dibubarkan.[432] Shinto telah menarik minat di luar Jepang, sebagian karena kurangnya fokus doktrinal dari agama-agama besar yang ditemukan di belahan dunia yang lain.[433] Shinto diperkenalkan di Amerika Serikat sebagian besar oleh Eropa Amerika yang tertarik daripada migran Jepang.[433] Migran Jepang mendirikan beberapa kuil di Brasil.[434]
Lihat pula
Referensi
Catatan kaki
- ↑ Littleton 2002, hlm. 70, 72.
- ↑ (Indonesia) Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Republik Indonesia "Arti kata shinto pada Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam jaringan". Diakses tanggal 2020-03-9.
- ↑ Bocking 1997, hlm. viii; Rots 2015, hlm. 211.
- 1 2 3 4 5 Cali & Dougill 2013, hlm. 13.
- 1 2 3 4 Hardacre 2017, hlm. 1.
- ↑ Inoue 2003, hlm. 1.
- ↑ Picken 1994, hlm. xviii.
- ↑ Smart 1998, hlm. 135.
- 1 2 3 Hardacre 2017, hlm. 18.
- 1 2 3 Breen & Teeuwen 2010, hlm. 7.
- 1 2 Bocking 1997, hlm. 174.
- ↑ Inoue 2003, hlm. 5.
- ↑ Kuroda 1981, hlm. 3.
- ↑ Picken 1994, hlm. xvii; Nelson 1996, hlm. 26.
- ↑ Picken 1994, hlm. xxiv; Cali & Dougill 2013, hlm. 13.
- ↑ Breen 2010, hlm. 69.
- ↑ Picken 1994, hlm. xxiv–xxv.
- ↑ Picken 1994, hlm. xix.
- ↑ Offner 1979, hlm. 191; Littleton 2002, hlm. 6; Picken 2011, hlm. 1; Cali & Dougill 2013, hlm. 13.
- 1 2 Offner 1979, hlm. 191.
- ↑ Picken 1994, hlm. xxx.
- ↑ Picken 2011, hlm. 48.
- 1 2 3 4 5 Cali & Dougill 2013, hlm. 7.
- ↑ Nelson 1996, hlm. 30; Littleton 2002, hlm. 10.
- ↑ Kitagawa 1987, hlm. 139; Cali & Dougill 2013, hlm. 13.
- ↑ Inoue 2003, hlm. 7.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 173–174.
- ↑ Inoue 2003, hlm. 10.
- ↑ Picken 1994, hlm. xxv.
- 1 2 3 Earhart 2004, hlm. 31.
- 1 2 Rots 2015, hlm. 210.
- ↑ Kuroda 1981, hlm. 1; Nelson 1996, hlm. 7; Rots 2015, hlm. 211.
- 1 2 3 Nelson 1996, hlm. 7.
- ↑ Kuroda 1981, hlm. 19.
- ↑ Kuroda 1981, hlm. 1–2.
- ↑ Kitagawa 1987, hlm. xviii.
- 1 2 Offner 1979, hlm. 215.
- 1 2 Offner 1979, hlm. 192; Nelson 1996, hlm. 7.
- ↑ Offner 1979, hlm. 192.
- 1 2 3 4 Cali & Dougill 2013, hlm. 14.
- 1 2 Bocking 1997, hlm. viii.
- ↑ Offner 1979, hlm. 193; Kitagawa 1987, hlm. 139; Bocking 1997, hlm. 173; Nelson 2000, hlm. 14; Earhart 2004, hlm. 2; Picken 2011, hlm. 9.
- ↑ Kuroda 1981, hlm. 4; Bocking 1997, hlm. viii, 173.
- ↑ Picken 1994, hlm. xxiv; Picken 2011, hlm. 64.
- ↑ Kitagawa 1987, hlm. 139; Littleton 2002, hlm. 6; Picken 2011, hlm. 9.
- ↑ Teeuwen 2002, hlm. 243.
- ↑ Teeuwen 2002, hlm. 256.
- ↑ Teeuwen 2002, hlm. 236; Hardacre 2017, hlm. 41.
- ↑ Kuroda 1981, hlm. 4–5; Teeuwen 2002, hlm. 237.
- ↑ Kuroda 1981, hlm. 6; Teeuwen 2002, hlm. 237; Hardacre 2017, hlm. 42.
- ↑ Kuroda 1981, hlm. 7.
- ↑ Kuroda 1981, hlm. 9–10.
- ↑ Kuroda 1981, hlm. 11, 12.
- 1 2 Kuroda 1981, hlm. 10.
- ↑ Kuroda 1981, hlm. 10–11.
- ↑ Hardacre 2017, hlm. 42.
- ↑ Kuroda 1981, hlm. 19; Bocking 1997, hlm. 174.
- 1 2 3 Hardacre 2017, hlm. 19.
- ↑ Earhart 2004, hlm. 2.
- 1 2 Kitagawa 1987, hlm. 39.
- ↑ Littleton 2002, hlm. 14; Hardacre 2017, hlm. 18.
- ↑ Littleton 2002, hlm. 15; Hardacre 2017, hlm. 19.
- ↑ Littleton 2002, hlm. 15; Hardacre 2017, hlm. 24.
- ↑ Hardacre 2017, hlm. 23.
- 1 2 3 Hardacre 2017, hlm. 24.
- ↑ Hardacre 2017, hlm. 25.
- ↑ Hardacre 2017, hlm. 27.
- ↑ Hardacre 2017, hlm. 28.
- ↑ Hardacre 2017, hlm. 17.
- 1 2 Hardacre 2017, hlm. 17–18.
- 1 2 3 Hardacre 2017, hlm. 31.
- ↑ Hardacre 2017, hlm. 33.
- ↑ Hardacre 2017, hlm. 33-34.
- ↑ Hardacre 2017, hlm. 47–48.
- 1 2 3 Hardacre 2017, hlm. 64.
- ↑ Hardacre 2017, hlm. 68.
- 1 2 Hardacre 2017, hlm. 69.
- ↑ Hardacre 2017, hlm. 57–59.
- ↑ Hardacre 2017, hlm. 64-45.
- ↑ Littleton 2002, hlm. 43; Hardacre 2017, hlm. 66.
- 1 2 Cali & Dougill 2013, hlm. 8.
- ↑ Hardacre 2017, hlm. 72.
- ↑ Hardacre 2017, hlm. 82-83.
- 1 2 3 Kuroda 1981, hlm. 9.
- 1 2 Richard Pilgrim, Robert Ellwood (1985). Japanese Religion (Edisi 1st). Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall Inc. hlm. 18–19. ISBN 978-0-13-509282-8.
- ↑ Wilbur M. Fridell, "A Fresh Look at State Shintō", Journal of the American Academy of Religion 44.3 (1976), 547–561 in JSTOR; quote p. 548
- ↑ Josephson, Jason Ānanda (2012). The Invention of Religion in Japan. University of Chicago Press. p. 133. ISBN 0226412342.
- 1 2 3 4 5 Breen & Teeuwen 2010, hlm. 8.
- ↑ Breen & Teeuwen 2010, hlm. 7-8.
- 1 2 Breen & Teeuwen 2010, hlm. 9.
- 1 2 3 Breen & Teeuwen 2010, hlm. 10.
- 1 2 Breen & Teeuwen 2010, hlm. 11.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 112.
- ↑ Littleton 2002, hlm. 100-101.
- 1 2 Breen & Teeuwen 2010, hlm. 12.
- ↑ Emperor, Imperial Rescript Denying His Divinity (Professing His Humanity), National Diet Library
- ↑ Ueda 1979, hlm. 304; Kitagawa 1987, hlm. 171; Bocking 1997, hlm. 18; Earhart 2004, hlm. 207.
- 1 2 3 Earhart 2004, hlm. 207.
- ↑ Ueda 1979, hlm. 304.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 75; Earhart 2004, hlm. 207–208.
- 1 2 Bocking 1997, hlm. 94.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 76.
- 1 2 Kitagawa 1987, hlm. 172.
- ↑ Picken 2011, hlm. 18.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 18.
- ↑ Ueda 1979, hlm. 307.
- ↑ Nelson 1996, hlm. 180.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 113.
- ↑ Boyd & Nishimura 2016, hlm. 3.
- ↑ Picken 2011, hlm. xiv; Suga 2010, hlm. 48.
- 1 2 Picken 2011, hlm. 32.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 176.
- ↑ Hardacre 2017, hlm. 4.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 177.
- ↑ Littleton 2002, hlm. 23; Cali & Dougill 2013, hlm. 13.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 70; Hardacre 2017, hlm. 31.
- ↑ Boyd & Williams 2005, hlm. 35; Cali & Dougill 2013, hlm. 13.
- 1 2 3 4 Earhart 2004, hlm. 8.
- ↑ Earhart 2004, hlm. 2; Cali & Dougill 2013, hlm. 13.
- 1 2 Kitagawa 1987, hlm. 36.
- ↑ Offner 1979, hlm. 194; Bocking 1997, hlm. 84.
- ↑ Nelson 1996, hlm. 29; Littleton 2002, hlm. 24.
- ↑ Boyd & Williams 2005, hlm. 35; Hardacre 2017, hlm. 52.
- 1 2 Boyd & Williams 2005, hlm. 35.
- ↑ Offner 1979, hlm. 194.
- ↑ Picken 1994, hlm. xxi; Boyd & Williams 2005, hlm. 35.
- ↑ Nelson 1996, hlm. 26.
- ↑ Nelson 1996, hlm. 7; Picken 2011, hlm. 40; Cali & Dougill 2013, hlm. 13.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 180; Hardacre 2017, hlm. 1.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 180.
- ↑ Littleton 2002, hlm. 75; Cali & Dougill 2013, hlm. 14.
- 1 2 Bocking 1997, hlm. 172.
- ↑ Offner 1979, hlm. 202; Nelson 1996, hlm. 144.
- ↑ Offner 1979, hlm. 202; Earhart 2004, hlm. 36–37.
- ↑ Offner 1979, hlm. 202; Picken 2011, hlm. 44.
- ↑ Nelson 1996, hlm. 27; Cali & Dougill 2013, hlm. 13.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 164.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 114; Picken 2011, hlm. 42.
- ↑ Earhart 2004, hlm. 7–8.
- ↑ Nelson 1996, hlm. 33.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 214-215; Littleton 2002, hlm. 24.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 222.
- ↑ Littleton 2002, hlm. 27; Cali & Dougill 2013, hlm. 13; Hardacre 2017, hlm. 1.
- ↑ Littleton 2002, hlm. 31-32; Cali & Dougill 2013, hlm. 14.
- ↑ Earhart 2004, hlm. 10.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 69.
- ↑ Picken 2011, hlm. 35–36.
- ↑ Picken 2011, hlm. 42.
- 1 2 3 4 5 6 Cali & Dougill 2013, hlm. 15.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 13; Picken 2011, hlm. 57; Cali & Dougill 2013, hlm. 15.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 13; Picken 2011, hlm. 58.
- ↑ Picken 2011, hlm. 40; Cali & Dougill 2013, hlm. 15.
- 1 2 3 Bocking 1997, hlm. 8.
- 1 2 Bocking 1997, hlm. 37.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 200.
- ↑ Offner 1979, hlm. 195; Kitagawa 1987, hlm. 142; Littleton 2002, hlm. 23; Earhart 2004, hlm. 32; Cali & Dougill 2013, hlm. 18.
- ↑ Hardacre 2017, hlm. 48–49.
- ↑ Offner 1979, hlm. 195; Kitagawa 1987, hlm. 142; Littleton 2002, hlm. 37; Earhart 2004, hlm. 33.
- ↑ Earhart 2004, hlm. 33–34; Cali & Dougill 2013, hlm. 18–19.
- ↑ Earhart 2004, hlm. 33.
- ↑ Cali & Dougill 2013, hlm. 19.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 5; Picken 2011, hlm. 38; Cali & Dougill 2013, hlm. 19.
- ↑ Cali & Dougill 2013, hlm. 19; Hardacre 2017, hlm. 48.
- ↑ Kitagawa 1987, hlm. 143; Cali & Dougill 2013, hlm. 19–20; Hardacre 2017, hlm. 49.
- ↑ Kitagawa 1987, hlm. 143; Cali & Dougill 2013, hlm. 20; Hardacre 2017, hlm. 50.
- ↑ Kitagawa 1987, hlm. 143; Bocking 1997, hlm. 67; Cali & Dougill 2013, hlm. 20; Hardacre 2017, hlm. 50.
- ↑ Offner 1979, hlm. 196; Kitagawa 1987, hlm. 143; Bocking 1997, hlm. 67; Cali & Dougill 2013, hlm. 20; Hardacre 2017, hlm. 53.
- ↑ Offner 1979, hlm. 196–197; Kitagawa 1987, hlm. 144; Bocking 1997, hlm. 3; Cali & Dougill 2013, hlm. 21; Hardacre 2017, hlm. 53-54.
- ↑ Cali & Dougill 2013, hlm. 22; Hardacre 2017, hlm. 54.
- ↑ Kitagawa 1987, hlm. 144; Hardacre 2017, hlm. 57.
- 1 2 Littleton 2002, hlm. 98.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 129; Boyd & Williams 2005, hlm. 34.
- ↑ Littleton 2002, hlm. 26; Picken 2011, hlm. 36.
- ↑ Picken 2011, hlm. 36.
- 1 2 Picken 2011, hlm. 71.
- ↑ Doerner 1977, hlm. 153–154.
- ↑ Kitagawa 1987, hlm. 143; Bocking 1997, hlm. 216.
- ↑ Kitagawa 1987, hlm. 143.
- ↑ Hardacre 2017, hlm. 75.
- 1 2 Littleton 2002, hlm. 90.
- ↑ Littleton 2002, hlm. 89.
- ↑ Doerner 1977, hlm. 153; Littleton 2002, hlm. 90.
- ↑ Littleton 2002, hlm. 90; Picken 2011, hlm. 71.
- ↑ Littleton 2002, hlm. 89-91.
- ↑ Littleton 2002, hlm. 91; Picken 2011, hlm. 39.
- 1 2 3 4 Picken 2011, hlm. 39.
- ↑ Littleton 2002, hlm. 92.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 93; Cali & Dougill 2013, hlm. 20.
- ↑ Nelson 1996, hlm. 101; Bocking 1997, hlm. 45; Cali & Dougill 2013, hlm. 21.
- ↑ Picken 2011, hlm. 45.
- 1 2 3 Bocking 1997, hlm. 93.
- ↑ Nelson 1996, hlm. 102.
- ↑ Nelson 1996, hlm. 38.
- ↑ Nelson 1996, hlm. 63.
- ↑ Picken 2011, hlm. 7.
- ↑ Offner 1979, hlm. 206; Nelson 1996, hlm. 104.
- 1 2 Bocking 1997, hlm. 58.
- 1 2 Bocking 1997, hlm. 124.
- ↑ Nelson 1996, hlm. 140.
- ↑ Nelson 1996, hlm. 141; Bocking 1997, hlm. 124.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 124; Picken 2011, hlm. 45.
- ↑ Nelson 1996, hlm. 141; Earhart 2004, hlm. 11.
- ↑ Nelson 1996, hlm. 141–142; Picken 2011, hlm. 70.
- ↑ Picken 2011, hlm. 6.
- ↑ Earhart 2004, hlm. 11.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 219.
- 1 2 Bocking 1997, hlm. 136.
- 1 2 Picken 1994, hlm. xxiii.
- ↑ Littleton 2002, hlm. 58.
- ↑ Littleton 2002, hlm. 58, 61.
- ↑ Littleton 2002, hlm. 11, 57.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 115.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 157; Picken 2011, hlm. 34.
- 1 2 Offner 1979, hlm. 198.
- 1 2 3 Bocking 1997, hlm. 182.
- ↑ Nelson 1996, hlm. 198.
- ↑ Kitagawa 1987, hlm. xvii.
- 1 2 Cali & Dougill 2013, hlm. 10.
- 1 2 3 Bocking 1997, hlm. ix.
- ↑ Nelson 1996, hlm. 66–67.
- ↑ Ueda 1979, hlm. 317; Rots 2015, hlm. 221.
- 1 2 Rots 2015, hlm. 221.
- ↑ Nelson 2000, hlm. 12; Littleton 2002, hlm. 99; Picken 2011, hlm. 18–19.
- ↑ Rots 2015, hlm. 205, 207.
- ↑ Rots 2015, hlm. 209.
- ↑ Rots 2015, hlm. 223.
- ↑ Rots 2015, hlm. 205–206.
- ↑ Rots 2015, hlm. 208.
- ↑ Offner 1979, hlm. 214; Cali & Dougill 2013, hlm. 10.
- ↑ Boyd & Williams 2005, hlm. 33.
- 1 2 Picken 1994, hlm. xxxii.
- ↑ Nelson 1996, hlm. 3.
- ↑ Picken 1994, hlm. xviii; Bocking 1997, hlm. 72; Earhart 2004, hlm. 36; Cali & Dougill 2013, hlm. 7.
- ↑ Picken 2011, hlm. 21.
- ↑ Earhart 2004, hlm. 36.
- ↑ Earhart 2004, hlm. 36; Breen & Teeuwen 2010, hlm. 1.
- 1 2 3 4 Breen & Teeuwen 2010, hlm. 1.
- ↑ Picken 1994, hlm. xxxi; Picken 2011, hlm. 29; Breen & Teeuwen 2010, hlm. 5; Cali & Dougill 2013, hlm. 8.
- ↑ Picken 2011, hlm. 29.
- ↑ Earhart 2004, hlm. 36; Cali & Dougill 2013, hlm. 7.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 71, 72.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 220.
- ↑ Littleton 2002, hlm. 68.
- ↑ Nelson 1996, hlm. 93.
- ↑ Nelson 1996, hlm. 92; Littleton 2002, hlm. 72; Picken 2011, hlm. 43; Cali & Dougill 2013, hlm. 7.
- 1 2 3 Bocking 1997, hlm. 170.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 9.
- ↑ Nelson 1996, hlm. 92; Bocking 1997, hlm. 42; Picken 2011, hlm. 43; Cali & Dougill 2013, hlm. 7.
- ↑ Nelson 1996, hlm. 92; Bocking 1997, hlm. 49; Picken 2011, hlm. 43.
- 1 2 Bocking 1997, hlm. 54.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 34.
- 1 2 3 4 Bocking 1997, hlm. 82.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 160.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 166.
- 1 2 Bocking 1997, hlm. 197.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 169.
- ↑ Offner 1979, hlm. 201; Bocking 1997, hlm. 207; Earhart 2004, hlm. 36; Cali & Dougill 2013, hlm. 7.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 207; Picken 2011, hlm. 43.
- 1 2 3 Offner 1979, hlm. 201.
- ↑ Picken 2011, hlm. 20.
- ↑ Offner 1979, hlm. 201; Bocking 1997, hlm. 104.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 104.
- ↑ Cali & Dougill 2013, hlm. 12.
- ↑ Rots 2015, hlm. 211.
- ↑ Rots 2015, hlm. 219.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 208.
- ↑ Nelson 1996, hlm. 71; Bocking 1997, hlm. 72.
- 1 2 Bocking 1997, hlm. 148.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 72–73.
- ↑ Nelson 1996, hlm. 77.
- ↑ Picken 2011, hlm. 23.
- ↑ Nelson 1996, hlm. 92.
- ↑ Nelson 1996, hlm. 93; Bocking 1997, hlm. 163; Nelson 2000, hlm. 4; Hardacre 2017, hlm. 79-80.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 73.
- 1 2 Bocking 1997, hlm. 158.
- 1 2 3 Bocking 1997, hlm. 26.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 26; Picken 2011, hlm. 44.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 88.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 168, 171.
- ↑ Ueda 1979, hlm. 325; Nelson 1996, hlm. 29.
- ↑ Nelson 1996, hlm. 29; Bocking 1997, hlm. 99, 102.
- ↑ Nelson 1996, hlm. 42.
- ↑ Littleton 2002, hlm. 73; Picken 2011, hlm. 31–32.
- 1 2 Nelson 2000, hlm. 15.
- 1 2 Bocking 1997, hlm. 25.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 7; Picken 2011, hlm. 44.
- 1 2 Bocking 1997, hlm. 53.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 58, 146.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 89–90.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 51.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 162.
- ↑ Offner 1979, hlm. 212; Nelson 1996, hlm. 186; Bocking 1997, hlm. 39; Boyd & Williams 2005, hlm. 33.
- 1 2 Offner 1979, hlm. 212.
- ↑ Nelson 1996, hlm. 179.
- ↑ Nelson 1996, hlm. 123.
- 1 2 Nelson 1996, hlm. 124.
- ↑ Nelson 1996, hlm. 43.
- ↑ Nelson 1996, hlm. 141.
- 1 2 Bocking 1997, hlm. 121.
- ↑ Nelson 1996, hlm. 47; Bocking 1997, hlm. 121.
- ↑ Nelson 1996, hlm. 47.
- ↑ Nelson 1996, hlm. 124–125.
- 1 2 3 4 Nelson 1996, hlm. 125.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 152.
- 1 2 3 4 5 6 Cali & Dougill 2013, hlm. 11.
- ↑ Offner 1979, hlm. 201–202; Littleton 2002, hlm. 72; Cali & Dougill 2013, hlm. 11.
- ↑ Offner 1979, hlm. 204; Breen & Teeuwen 2010, hlm. 3; Cali & Dougill 2013, hlm. 11.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 43, 90.
- 1 2 Bocking 1997, hlm. 96.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 42.
- 1 2 3 Bocking 1997, hlm. 135.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 149.
- ↑ Offner 1979, hlm. 202; Cali & Dougill 2013, hlm. 11.
- 1 2 3 Earhart 2004, hlm. 12.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 98.
- ↑ Nelson 1996, hlm. 116.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 3; Picken 2011, hlm. 36.
- ↑ Nelson 1996, hlm. 116; Bocking 1997, hlm. 114.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 108.
- ↑ Nelson 1996, hlm. 190–196; Bocking 1997, hlm. 68.
- 1 2 Nelson 1996, hlm. 183.
- ↑ Kitagawa 1987, hlm. xvii–xviii.
- 1 2 Bocking 1997, hlm. 80.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 192.
- ↑ Nelson 1996, hlm. 39; Bocking 1997, hlm. 45.
- 1 2 3 4 Bocking 1997, hlm. 45.
- ↑ Nelson 1996, hlm. 91.
- ↑ Nelson 1996, hlm. 39, 46; Bocking 1997, hlm. 45.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 184.
- 1 2 3 4 5 Nelson 1996, hlm. 40.
- 1 2 Bocking 1997, hlm. 187.
- ↑ Cali & Dougill 2013, hlm. 13–14.
- ↑ Nelson 1996, hlm. 64.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 150.
- ↑ Nelson 1996, hlm. 53.
- ↑ Nelson 1996, hlm. 40, 53.
- ↑ Nelson 1996, hlm. 49.
- ↑ Nelson 1996, hlm. 49; Bocking 1997, hlm. 33.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 33.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 22.
- ↑ Nelson 1996, hlm. 214.
- ↑ Nelson 1996, hlm. 214–215.
- 1 2 3 Bocking 1997, hlm. 85.
- ↑ Offner 1979, hlm. 200; Nelson 1996, hlm. 184; Littleton 2002, hlm. 73; Earhart 2004, hlm. 11.
- ↑ Offner 1979, hlm. 200–201.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 85; Earhart 2004, hlm. 11.
- ↑ Picken 2011, hlm. 31.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 13; Earhart 2004, hlm. 11.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 198.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 85; Littleton 2002, hlm. 74.
- 1 2 Littleton 2002, hlm. 81.
- ↑ Offner 1979, hlm. 203.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 24; Picken 2011, hlm. 75-76.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 66.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 65.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 25–26.
- ↑ Cali & Dougill 2013, hlm. 18.
- ↑ Picken 2011, hlm. 73.
- ↑ Cali & Dougill 2013, hlm. 17.
- ↑ Picken 2011.
- ↑ Picken 2011, hlm. 50.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 138; Picken 2011, hlm. 74.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 137–138.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 139; Picken 2011, hlm. 74.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 135–136.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 138.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 43–44.
- 1 2 3 Handy Bilingual Reference For Kami and Jinja. Tokyo: International Cultural Workshop Inc. 2006. hlm. 39–41.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 114–15.
- ↑ Offner 1979, hlm. 205; Bocking 1997, hlm. 81.
- ↑ Kobayashi 1981, hlm. 3.
- ↑ Kitagawa 1987, hlm. 23.
- ↑ Kitagawa 1987, hlm. 23; Bocking 1997, hlm. 81; Picken 2011, hlm. 68.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 81.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 81–82.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 82, 155.
- ↑ Averbuch, Irit, The Gods Come Dancing: A Study of the Japanese Ritual Dance of Yamabushi Kagura, Ithaca, NY: East Asia Program, Cornell University, 1995, pp. 83–87.
- ↑ Littleton 2002, hlm. 81; Boyd & Williams 2005, hlm. 36; Picken 2011, hlm. 9.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 117.
- ↑ Picken 1994, hlm. xxvi.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 117–118.
- 1 2 3 4 Bocking 1997, hlm. 46.
- ↑ Nelson 1996, hlm. 224; Earhart 2004, hlm. 222.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 6; Picken 2011, hlm. 42.
- ↑ Picken 2011, hlm. 59.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 132.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 2; Picken 2011, hlm. 35.
- ↑ Nelson 1996, hlm. 170.
- ↑ Offner 1979, hlm. 205.
- 1 2 Bocking 1997, hlm. 32.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 182; Littleton 2002, hlm. 80.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 139.
- ↑ Offner 1979, hlm. 205; Nelson 1996, hlm. 199; Littleton 2002, hlm. 80; Breen & Teeuwen 2010, hlm. 3.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 47; Breen & Teeuwen 2010, hlm. 3.
- ↑ Nelson 1996, hlm. 208.
- ↑ Nelson 1996, hlm. 206; Bocking 1997, hlm. 163.
- ↑ Nelson 1996, hlm. 206; Bocking 1997, hlm. 81.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 41.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 39–40.
- ↑ Offner 1979, hlm. 205; Nelson 1996, hlm. 133.
- 1 2 Breen & Teeuwen 2010, hlm. 4.
- ↑ Nelson 1996, hlm. 134.
- ↑ Nelson 1996, hlm. 140; Bocking 1997, hlm. 122; Littleton 2002, hlm. 82; Breen & Teeuwen 2010, hlm. 4.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 43.
- ↑ Nelson 1996, hlm. 152–154.
- ↑ Nelson 1996, hlm. 34.
- ↑ Nelson 1996, hlm. 161; Bocking 1997, hlm. 47; Breen & Teeuwen 2010, hlm. 3.
- 1 2 Bocking 1997, hlm. 47.
- ↑ Nelson 1996, hlm. 212–213; Bocking 1997, hlm. 156.
- ↑ Earhart 2004, hlm. 15.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 178-179.
- ↑ Littleton 2002, hlm. 92; Earhart 2004, hlm. 15.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 95.
- ↑ Picken 2011, hlm. 19.
- 1 2 Kenney 2000, hlm. 241.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 187; Kenney 2000, hlm. 240.
- ↑ Kenney 2000, hlm. 240–241.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 188.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 183.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 85–86.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 86.
- 1 2 3 Bocking 1997, hlm. 63.
- ↑ Bocking 1997, hlm. 63–64.
- ↑ Earhart 2004, hlm. 4, 214.
- ↑ Breen & Teeuwen 2010, hlm. 2.
- 1 2 Earhart 2004, hlm. 215.
- ↑ Nelson 1996, hlm. 8.
- 1 2 "宗教団体数,教師数及び信者数". Statistical Yearbook of Japan. Statistics Japan, Ministry of Internal Affairs and Communications. 2015. Diakses tanggal August 25, 2015.
- ↑ Williams, Bhar & Marty 2004, hlm. 4–5.
- ↑ Dentsu Communication Institute, Japan Research Center: Sixty Countries' Values Databook (世界60カ国価値観データブック).
- 1 2 "2008 NHK survey of religion in Japan — 宗教的なもの にひかれる日本人〜ISSP国際比較調査(宗教)から〜" (PDF). NHK Culture Research Institute.
- 1 2 3 Suga 2010, hlm. 48.
- 1 2 Picken 2011, hlm. xiv.
- ↑ Suga 2010, hlm. 59–60.
Sumber
- Bocking, Brian (1997). A Popular Dictionary of Shinto. Richmond: Curzon. ISBN 978-0-7007-1051-5. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
- Boyd, James W.; Williams, Ron G. (2005). "Japanese Shinto: An Interpretation of a Priestly Perspective". Philosophy East and West. 55 (1): 33–63. doi:10.1353/pew.2004.0039. S2CID 144550475. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
- Boyd, James W.; Nishimura, Tetsuya (2016). "Shinto Perspectives in Miyazaki's Anime Film Spirited Away". Journal of Religion and Film. 8 (33): 1–14. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
- Breen, John (2010). "'Conventional Wisdom' and the Politics of Shinto in Postwar Japan". Politics and Religion Journal. 4 (1): 68–82. doi:10.54561/prj0401068b. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
- Breen, John; Teeuwen, Mark (2010). A New History of Shinto. Chichester: Wiley-Blackwell. ISBN 978-1-4051-5515-1. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
- Cali, Joseph; Dougill, John (2013). Shinto Shrines: A Guide to the Sacred Sites of Japan's Ancient Religion. Honolulu: University of Hawai'i Press. ISBN 978-0-8248-3713-6. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
- Doerner, David L. (1977). "Comparative Analysis of Life after Death in Folk Shinto and Christianity". Japanese Journal of Religious Studies. 4 (2): 151–182. doi:10.18874/jjrs.4.2-3.1977.151-182. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
- Earhart, H. Byron (2004). Japanese Religion: Unity and Diversity (Edisi keempat). Belmont, CA: Wadsworth. ISBN 978-0-534-17694-5. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
- Hardacre, Helen (2017). Shinto: A History. Oxford: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-062171-1. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
- Kenney, Elizabeth (2000). "Shinto Funerals in the Edo Period". Japanese Journal of Religious Studies. 27 (3/4): 239–271. JSTOR 30233666. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
- Kitagawa, Joseph M. (1987). On Understanding Japanese Religion. Princeton, New Jersey: Princeton University Press. ISBN 978-0-691-10229-0. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
- Kobayashi, Kazushige (1981). "On the Meaning of Masked Dances in Kagura". Asian Folklore Studies. 40 (1). Diterjemahkan oleh Peter Knecht: 1–22. doi:10.2307/1178138. JSTOR 1178138. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
- Kuroda, Toshio (1981). "Shinto in the History of Japanese Religion". Journal of Japanese Studies. 7 (1). Diterjemahkan oleh James C. Dobbins and Suzanne Gay: 1–21. doi:10.2307/132163. JSTOR 132163. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
- Inoue, Nobutaka (2003). Nobutaka Inoue (ed.). Shinto: A Short History. Diterjemahkan oleh Mark Teeuwan and John Breen. London and New York: Routledge. hlm. 1–10. ISBN 978-0-415-31913-3. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
- Littleton, C. Scott (2002). Shinto: Origins, Rituals, Festivals, Spirits, Sacred Places. Oxford, NY: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-521886-2. OCLC 49664424. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
- Nelson, John K. (1996). A Year in the Life of a Shinto Shrine. Seattle and London: University of Washington Press. ISBN 978-0-295-97500-9. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
- Nelson, John K. (2000). Enduring Identities: The Guise of Shinto in Contemporary Japan. Honolulu: University of Hawai'i Press. ISBN 978-0-8248-2259-0. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
- Offner, Clark B. (1979). Norman Anderson (ed.). The World's Religions (Edisi keempat). Leicester: Inter-Varsity Press. hlm. 191–218. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
- Picken, Stuart D. B. (1994). Essentials of Shinto: An Analytical Guide to Principal Teachings. Westport and London: Greenwood. ISBN 978-0-313-26431-3. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
- Picken, Stuart D. B. (2011). Historical Dictionary of Shinto (Edisi kedua). Lanham: Scarecrow Press. ISBN 978-0-8108-7172-4. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
- Rots, Aike P. (2015). "Sacred Forests, Sacred Nation: The Shinto Environmentalist Paradigm and the Rediscovery of Chinju no Mori". Japanese Journal of Religious Studies. 42 (2): 205–233. doi:10.18874/jjrs.42.2.2015.205-233. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
- Smart, Ninian (1998). The World's Religions (Edisi kedua). Cambridge: Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-63748-0. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
- Suga, Kōji (2010). "A Concept of "Overseas Shinto Shrines": A Pantheistic Attempt by Ogasawara Shōzō and Its Limitations". Japanese Journal of Religious Studies. 37 (1): 47–74. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
- Teeuwen, Mark (2002). "From Jindō to Shintō. A Concept Takes Shape". Japanese Journal of Religious Studies. 29 (3–4): 233–263. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
- Ueda, Kenji (1979). "Contemporary Social Change and Shinto Tradition". Japanese Journal of Religious Studies. 6 (1–2): 303–327. doi:10.18874/jjrs.6.1-2.1979.303-327. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
- Williams, George; Bhar, Ann Marie B.; Marty, Martin E. (2004). Shinto (Religions of the World). Chelsea House. ISBN 978-0791080979. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
Bacaan lanjutan
- Averbuch, Irit (1995). The Gods Come Dancing: A Study of the Japanese Ritual Dance of Yamabushi Kagura. Ithaca, NY: East Asia Program, Cornell University. ISBN 978-1-885445-67-4. OCLC 34612865.
- Averbuch, Irit (1998). "Shamanic Dance in Japan: The Choreography of Possession in Kagura Performance". Asian Folklore Studies. 57 (2): 293–329. doi:10.2307/1178756. JSTOR 1178756.
- Blacker, Dr. Carmen (2003). "Shinto and the Sacred Dimension of Nature". Shinto.org. Diarsipkan dari asli tanggal 2007-12-22. Diakses tanggal 2008-01-21.
- Bowker, John W (2002). The Cambridge Illustrated History of Religions. New York City: Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-81037-1. OCLC 47297614.
- Breen, John; Teeuwen, Mark (2010). A New History of Shinto. Blackwell. ISBN 978-1405155168.
- Shintō in History: Ways of the Kami. Honolulu: Hawaii University Press. 2000. ISBN 978-0-8248-2362-7.
- Endress, Gerhild (1979). "On the Dramatic Tradition in Kagura: A Study of the Medieval Kehi Songs as Recorded in the Jotokubon". Asian Folklore Studies. 38 (1): 1–23. doi:10.2307/1177463. JSTOR 1177463.
- Engler, Steven; Grieve, Gregory P. (2005). Historicizing "Tradition" in the Study of Religion. Walter de Gruyter, Inc. hlm. 92–108. ISBN 978-3110188752.
- Hardacare, Helen (2016). Shinto: A History. Oxford University Press. ISBN 978-0190621711., 729pp; a major scholarly history; online review 2019
- Havens, Norman (2006). "Shinto". Dalam Paul L. Swanson & Clark Chilson, (eds.) (ed.). Nanzan Guide to Japanese Religions. Honolulu: University of Hawaii Press. hlm. 14–37. ISBN 978-0-8248-3002-1. OCLC 60743247.
- Herbert, Jean (1967). Shinto The Fountainhead of Japan. New York: Stein and Day.
- Inoue, Nobutaka et al. Shinto, a Short History (London: Routledge Curzon, 2003) online
- Josephson, Jason Ānanda (2012). The Invention of Religion in Japan. Chicago: University of Chicago Press. ISBN 978-0226412344. OCLC 774867768.
- Kamata, Tōji (2017). Myth and Deity in Japan: The Interplay of Kami and Buddhas. Tokyo: Japan Publishing Industry Foundation for Culture. ISBN 978-4-916055-84-2.
- Kitagawa, Joseph Mitsuo (1987). On Understanding Japanese Religion. Princeton University Press. ISBN 978-0691102290.
- Kobayashi, Kazushige; Knecht, Peter (1981). "On the Meaning of Masked Dances in Kagura". Asian Folklore Studies. 40 (1): 1–22. doi:10.2307/1178138. JSTOR 1178138.
- Kuroda, Toshio, K.; James C. Dobbins; Gay, Suzanne (1981). "Shinto in the History of Japanese Religion". Journal of Japanese Studies. 7 (1): 1–21. doi:10.2307/132163. JSTOR 132163.
- Littleton, C. Scott (2002). Shinto: Origins, Rituals, Festivals, Spirits, Sacred Places. Oxford, NY: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-521886-2. OCLC 49664424.
- Picken, Stuart D.B. (1994). Essentials of Shinto: An Analytical Guide to Principal Teachings. Greenwood. ISBN 978-0313264313.
- Picken, Stuart D. B. (2002). Historical Dictionary of Shinto. Lanham, MD; and London: The Scarecrow Press. ISBN 978-0-8108-4016-4.
- Ueda, Kenji (1999). "The Concept of Kami". Dalam John Ross Carter (ed.) (ed.). The Religious Heritage of Japan: Foundations for Cross-Cultural Understanding in a Religiously Plural World. Portland, OR: Book East. hlm. 65–72. ISBN 978-0-9647040-4-6. OCLC 44454607.
- Yamakage, Motohisa (2007). The Essence of Shinto, Japan's Spiritual Heart. Tokyo; New York; London: Kodansha International. ISBN 978-4-7700-3044-3.
- Victoria Bestor, Theodore C. Bestor, Akiko Yamagata. Routledge Handbook of Japanese Culture and Society. Routledge, 2011. ASIN B004XYN3E4, ISBN 0415436494
Pranala luar
| Cari tahu mengenai Shinto pada proyek-proyek Wikimedia lainnya: | |
| Definisi dan terjemahan dari Wiktionary | |
| Gambar dan media dari Commons | |
| Teks sumber dari Wikisource | |
| Entri basisdata #Q812767 di Wikidata | |
- Shinto di Curlie (dari DMOZ)
- Jinja Honcho – English (dalam bahasa Inggris)
- Kokugakuin University Encyclopedia of Shinto (dalam bahasa Inggris)
- Tsubaki Grand Shrine of America (dalam bahasa Inggris)
- Heian Jingu Shrine (dalam bahasa Inggris)
- Meiji Jingu (dalam bahasa Inggris)
- Yasukuni Jinja (dalam bahasa Inggris)
- Shoin-Jinja (dalam bahasa Inggris)
- Yushima Tenjin (dalam bahasa Inggris)