Karir diplomatik
Penugasan pertama Bernardini dalam penugasan diplomatik Takhta Suci adalah di Nunsiatur Apostolik untuk Pakistan, yang juga mengikuti peristiwa di Afganistan. Ia kemudian mengabdi di nunsiatur-nunsiatur Angola, Jepang, Venezuela dan Spanyol. Pada 17 Januari 1989, ia diangkat menjadi chargé d'affaires dari nunsiatur di Taiwan. Pada 20 Agustus 1992, tepat berhari-hari setelah hari ulang tahunnya yang ke-50, ia diangkat menjadi Uskup Agung Tituler Falerii dan Nunsius Apostolik untuk Bangladesh. Ia menerima penahbisan episkopal pada 15 November 1992 dari Kardinal Angelo Sodano.
Bernardini menetap di Bangladesh sampai 15 Juni 1996, kala ia diangkat menjadi Nunsius Apostolik untuk Madagaskar, Mauritius dan Seychelles.[1] Ia kemudian diangkat menjadi Nunsius untuk Thailand, Singapura dan Kamboja dan Delegasi Apostolik untuk Burma, Laos, Malaysia dan Brunei pada 24 Juli 1999.[2] Paus Yohanes Paulus II mengangkatnya menjadi Nunsius Apostolik untuk Argentina pada 26 April 2003.[3] Semasa disana, ia menghadapi perbedaan tajam antara para uskup Argentina, terutama Kardinal Jorge Bergoglio (kemudian Paus Fransiskus, dan Bernardini sebagai perwakilan Sekretaris Negara Kardinal Angelo Sodano.[4]
Paus Benediktus XVI mengangkatnya menjadi Nunsius untuk Italia dan San Marino pada 15 November 2011.[5] Pada 2014, ia melakukan penyelidikan atas dakwaan perilaku menyimpang oleh para imam di Keuskupan Albenga-Imperia, yang berujung pada penyelidikan lanjutan dan pemecatan seorang uskup.[6] Karirnya dalam penugasan diplomatik berakhir pada 12 September 2017, saat ia digantikan sebagai Nunsius untuk Italai oleh orang non-Italia pertama yang memegang jabatan sejak Italia dan Takhta Suci menjalin hubungan diplomatik penuh pada 1929.[7][8]
Pada 4 Oktober 2017, Paus Fransiskus mengangkatnya menjadi anggota Kongregasi untuk Evangelisasi Bangsa-bangsa.[9]