Uterus para pengidap Adenomyosis ketika proses laparoskopi yang mengalami pelunakan dan pembengkakan serta titik kebiruan muncul dikarenakan endometriosis subserous.
Istilah adenomiosis berasal dari tiga kata, yakni adeno- (berarti kelenjar), myo- (berarti otot), dan -osis (berarti kondisi)
Adenomiosis (bahasa Inggris:Adenomyosiscode: en is deprecated ) merupakan salah satu kondisi medis yang ditandai dengan pertumbuhan sel didalam rahim (endometrium) yang berlebihan. Biasanya, pertumbuhan sel tersebut terjadi di area dinding uterim (miometrium).[2] Area ini kemudian mengalami pembengkakan serta penebalan dinding rahim. Jaringan endometrium yang terjangkit oleh penyakit ini biasanya tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya pada setiap siklus menstruasi (dapat menebal, luruh dan berdarah) pada setiap siklus menstruasi.
Kondisi ini biasanya ditemukan di wanita pada usia antara 35 hingga 50 tahun dan pada beberapa kasus pada wanita berusia lebih muda.[3] Wanita yang terjangkit dengan adenomiosis sering kali mengalami mens yang cukup menyakitkan (dikenal sebagai dismenorea), haid yang keluar secara berlebihan (dikenal sebagai menoragia), atau bahkan bisa keduanya. Gejala lain yang timbul dari penyakit ini juga dapat berupa rasa sakit saat hubungan seksual, nyeri pelvis hebat, dan iritasi saluran urin.
Pada penderita Adenomiois, cekungan endometrium menembus lapisan serat hiperplastik miometrial. Tidak seperti lapisan yang sehat pada umumnya, lapisan cekungan tidak mengalami siklus menstruasi.[4][5] Penyakit Adenomiosis dapat berpengaruh pada kinerja rahim secara keseluruhan yang berakibat pada adenomioma, yakni pertambahan masa rahim serta pembekakan dinding rahim.[6]
Adenomiosis bisa juga ditemukan bersamaan dengan endometriosis, yakni sebuah penyakit yang menyebabkan penderita mengalami pembengkakan jaringan mirip endometrial di luar dinding rahim. Pada endometriosis, jaringan yang diserang kurang lebih serupa—tapi tidak benar-benar sama—dengan struktur jaringan yang ada di endometrium. Sering kali dalam beberapa kasus, kedua penyakit ditemukan dalam rentang waktu kemunculan yang berbeda.[7][4] Sebelum dianggap menjadi penyakit tersendiri, adenomiosis dikenal dengan nama endometriosis interna (bahasa Indonesia:endometriosis [pada] bagian dalam [rahim]code: id is deprecated . Selain itu, terdapat istilah lain yang kurang sering dipakai, yakni adenomyometritis. Nama ini merupakan yang lebih spesifik untuk kondisi medis ini dengan menyebutkan rahim sebagai area yang dijangkiti oleh kondisi medis tersebut.[8][9]
Tanda dan gejala
Adenomiosis bisa saja sangat bervariasi dalam hal jenis dan tingkat keparahan gejala yang ditimbulkannya, mulai dari yang sama sekali tidak bergejala di hampir 33% dari rentang waktu tertentu, hingga menjadi kondisi yang parah dan melemahkan kondisi pengidap dalam beberapa kasus. Wanita dengan adenomiosis biasanya pertama kali melaporkan gejala saat berusia antara 40 dan 50 tahun, tetapi gejala dapat terjadi pada wanita yang lebih muda.[3][6]
Gejala yang ditimbulkan dan estimasi persentase kejadian dapat digolongkan sebagai berikut:[6]
Perdarahan menstruasi berat yang berkisar antara 40–60% dan lebih sering terjadi pada wanita yang memiliki adenomiosis yang lebih dalam. Pendarahan ini dapat menyebabkan kekurangan darah secara signifikan yang berujung pada anemia serta gejalanya yang ditimbulkannya, yakni pingsan, pusing, dan kehilangan selera dan emosi.
123Struble, Jennifer; Reid, Shannon; Bedaiwy, Mohamed A. (2016). "Adenomyosis: A Clinical Review of a Challenging Gynecologic Condition". Journal of Minimally Invasive Gynecology. 23 (2): 164–185. doi:10.1016/j.jmig.2015.09.018. PMID26427702.
↑Lazzeri L, Di Giovanni A, Exacoustos C, Tosti C, Pinzauti S, Malzoni M, Petraglia F, Zupi E (August 2014). "Preoperative and Postoperative Clinical and Transvaginal Ultrasound Findings of Adenomyosis in Patients With Deep Infiltrating Endometriosis". Reprod Sci. 21 (8): 1027–1033. doi:10.1177/1933719114522520. PMID24532217. S2CID24041889.
↑Matalliotakis, I.; Kourtis, A.; Panidis, D. (2003). "Adenomyosis". Obstetrics and Gynecology Clinics of North America. 30 (1): 63–82, viii. doi:10.1016/S0889-8545(02)00053-0. PMID12699258.
↑Juang, C-M; Chou, P; Yen, M-S; Twu, N-F; Horng, H-C; Hsu, W-L (2007-02-01). "Adenomyosis and risk of preterm delivery". BJOG: An International Journal of Obstetrics & Gynaecology (dalam bahasa Inggris). 114 (2): 165–169. doi:10.1111/j.1471-0528.2006.01186.x. ISSN1471-0528. PMID17169011. S2CID37765088.