Kue Adee pertama kali diproduksi oleh Ibu Maryam pada tahun 1967 di Dusun Dayah Kleng, Gampong Meunasah Balek, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Awalnya, kue ini dibuat hanya berdasarkan pesanan. Seiring berjalannya waktu, keahlian pembuatannya diwariskan kepada anaknya Ibu Hamidah, dan produksi kue Adee mulai meningkat seiring permintaan pelanggan[1]
Pada tahun 1977, kemasan awal kue Adee menggunakan kotak berukuran sedang. Kemudian, seiring peningkatan permintaan, digunakan kotak kue bolu yang disesuaikan ukurannya. Popularitas kue ini semakin meluas, terutama di bulan Ramadan di Kota Meureudu, di mana kue ini dapat terjual puluhan loyang dalam waktu singkat. Awalnya hanya tersedia saat Ramadan, kue Adee kini dapat ditemukan di berbagai kota di Aceh, seperti Banda Aceh, Sigli, Bireun, Lhokseumawe, dan Langsa. Pada tahun 2007, kue Adee mulai dikemas lebih eksklusif sebagai oleh-oleh khas Kabupaten Pidie Jaya.[1]
Proses pembuatan
Pembuatan kue Adee secara tradisional menggunakan sabut kelapa (tapeh) sebagai bahan bakar. Adonan dimasukkan ke dalam loyang dan dibakar dengan metode tradisional yang menempatkan sabut kelapa di bagian atas dan bawah seng. Metode ini membantu kue lebih awet tanpa bahan pengawet.[1] Proses pemanggangan juga dapat dilakukan menggunakan oven, atau memakai sejenis pemanggang berbahan seperti panci tahan api (neuleuk).[3]
Varian
Kue Adee tersedia dalam dua varian utama berdasarkan bahan dasarnya, yaitu yang dibuat dari tepung terigu dan dari singkong. Kue ini memiliki rasa manis dan legit, dengan tambahan bawang goreng di atasnya yang memberikan cita rasa gurih. Adanya aroma pandan yang khas juga menjadi salah satu daya tarik utama kue ini, menjadikannya favorit masyarakat serta pilihan kuliner wisatawan, baik lokal maupun mancanegara, saat berkunjung ke Aceh. Tanpa penggunaan bahan pengawet, kue Adee memiliki daya tahan maksimal hingga empat hari.[3]