Kematian
Apabila ada orang mati, maka orang tersebut harus segera dikebumikan. Orang Melayu Riau percaya bahwa roh-roh yang tidak dimakamkan segera akan tersesat dan bisa dihasut oleh para mambang sehingga dapat mengganggu dan menimbulkan bencana pada kampung. Secara umum upacara atau adat kematian terbagi menjadi :
Sebelum dimandikan
Mayat ditutupi kain dan diletakkan telentang dengan kepala dipangku oleh salah satu anggota keluarga ke arah barat. Wajah dibiarkan terdedah agar keluarga inti atau saudara terdekat bisa melihatnya. Di atas kepala si mati, diletakkan kayu gaharu yang wangi untuk memberitahukan semua roh moyangnya bahwa ada salah satu anggota keluarga yang telah tiada.
Mayat jangan sampai dilangkahi kucing dan bila air mata tangisan anggota keluarga tidak boleh jatuh ke si mati.
Memandikan mayat
Bila si mati ialah lelaki maka dimandikan oleh lelaki, bila perempuan maka dimandikan perempuan juga. Pemandian dilakukan di tempat dekat sumber air seperti pantai, danau, atau laut. Air yang digunakan untuk mandi bukanlah air biasa, melainkan air dari sumber air itu sendiri, dan kasai langir.
Bila dekat dengan pantai, maka si mati akan dibaringkan ke pasir menghadap barat dengan tubuh telanjang kecuali kemaluannya. Pawang mandi pun akan merapal mantra "biar selamat engkau berjalan, jangan sampai sesat. Jangan teringat kami yang tinggal". Pawang mandi akan mengguyur si mati dengan air asin kemudian ditabur dengan kasai atau langir. Setelah selesai, mayat akan dibungkus dengan tikar pandan atau mengkuang.
Menjaga mayat
Mayat dibaringkan di depan ruang tamu dengan kaki menghadap ke pintu yang terbuka dan kepala membelakanginya. Mayat diletakkan telentang di atas tikar sambil berbantal. Umumnya bila orang biasa maka upacara berlangsung selama satu hari saja. Namun bila batin, penghulu, datuk, atau tokoh penting bisa mencapai tiga sampai empat hari.
Sembari menunggu kerabat lain, sanak saudara akan menangis, meratapi dan menceritakan peri kehidupan si mati. Setelah semuanya berkumpul, pihak keluarga akan memanggil pawang atau dukun. Pawang akan menyalakan kemenyan atau kayu gaharu di atas perasapan seraya mendoakan si mati diikuti oleh sanak saudara.
Ada tiga pantangan utama dalam upacara ini, yaitu tidak boleh memasak nasi, makan, atau menebang kayu di sekeliling atau kediaman si mati.
Turun rumah
Setelah didoakan, mayat akan dipindahkan ke usungan yang sudah dipersiapkan lengkap dengan selimut dan bantal. Tak lupa si mati harus diganti dengan kain kafan atau pakaian dengan yang baru seolah-olah hendak pergi jauh.
Jika sudah siap, usungan akan dibawa turun oleh empat orang ke halaman depan rumah. Pawang akan memerintahkan semua anggota keluarga untuk menyuruk di bawah usungan si mati. Setelah itu, salah satu anggota keluarga akan menceritakan ulang si mati di depan umum. Selanjutnya, anggota keluarga itu akan menaburkan beras kunyit, bunga-bunga dan wewangian pada si mati.
Penguburan
Usungan yang sudah ditabur kemudian diarak menuju pemakaman. Sepanjang perjalanan, anggota keluarga akan menebar padi atau beras sebagai bentuk sedekah pada alam.
Setelah sampai, mayat dibawa turun menuju liang lahat di bawah pimpinan pawang. Mayat diletakkan duduk bersandar dan barang-barang kesayangan si mati ikut diletakkan juga. Jika sudah ditimbun, anggota keluarga akan menebarkan padi atau beras di atas pemakaman. Pemakaman tidak boleh langsung ditinggal, sanak-saudara dan keluarga perlu menjaga kuburan beberapa hari dulu.
Makam ditandai dengan batu nisan, serta dikelilingi pagar. Tak lupa setempayan air mawar, dan sepiring makanan diletakkan di bagian kepala makam untuk bekal si mati.