Membangun Pasukan di Ciwidey
Achmad bersama anggotanya mengumpulkan para pemuda yang memiliki semangat juang untuk mengusir Belanda, mereka datang dari daerah perkebunan Sukaati, Ciwidey, Soreang, Banjaran dan Majalaya. Pada 7 Oktober 1945 , Achmad mendirikan kesatuan Tentara. Para perwiranya antara lain bekas Seinendan, Peta dan Heiho. Jumlah anggotanya tidak lebih dari 200 orang sehingga hanya cukup menjadi dua kompi. Setelah itu pasukannya bergerak ke Soreang untuk bergabung dengan pasukan lain. Barulah pada 8 januari 1946, pasukan Achmad diresmikan jadi Batalyon III resimen 8 .
Ditubuh Divisi Siliwangi terjadi reorganisasi. Kesatuan Achmad diberi nama Batalyon III Resimen Menjadi Batalyon 26 Brigade Guntur II dengan Komandan Brigade Daan Yahya. Pada saat itu juga, batalyon Achmad dijuluki pasukan Siluman. Julukan Itu disematkan oleh tentara Belanda karena Batalyon Achmad melakukan serangan secara mendadak dan tidak ada tanda-tanda sebelumnya. Ketika Belanda membalas serangan dengan mengejar, tiba-tiba Batalyon Achmad menghilang tidak dapat dikejar atau dideteksi dari mana datangnya dan ke mana menghilangnya. Rakyat juga menyebut Batalyon Achmad bisa "Nyiluman" sehingga munculah julukan Batalyon Siluman di samping Nama Batalyon 26 yang kelak melegenda menjadi Batalyon Siluman Merah A3W (Ayax en drie willem).
Sebagai Komandan Batalyon Siluman Merah, Achmad menjalani peristiwa Penting bagi Divisi Siliwangi, yaitu hijrah Ke Jawa Tengah dan long march kembali ke Jawa Barat. Bahkan dia Memimpin Rombongan terakhir dan terbesar mencapai 2500 orang. Dalam perjalanan yang panjang dan lama, dia bersama pasukanya harus menghadapi dua musuh sekaligus, yaitu Belanda dan DI/TII pimpinan S.M Kartosoewirjo. Achmad terlibat dalam penumpasan gerakan merongrong Republik Indonesia, seperti Pemberontakan PKI di Madiun dan Republik Maluku Selatan (RMS). Dia juga menghadang pemberontakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) yg dipimpin Kapten Raymond Westerling dan Peristiwa Zulkifli Lubis.
Bekal Pendidikan di Amerika Serikat membuat Achmad menguasai strategi Militer. Oleh karena itu, ketika perjuangan merebut Irian Barat, dia ditugaskan menyusun Strategi infiltrasi ke Irian Barat karena, strategi sebelumnya gagal. Dalam Operasi Trikora, Achmad mendapat tugas membangun Tjaduad (Tjadangan Umum Angkatan Darat), yang kemudian menjadi KOSTRAD (Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat) . Dia menjabat kepala Staf dengan Komandannya Mayjen TNI Soeharto. Ketika Soeharto menjabat Panglima Mandala dalam Trikora, Achmad menjadi Panglima Mandala dari Angkatan Darat. Setelah selesai Operasi Trikora, Achmad ditunjuk menjadi Ketua Tim Serah Terima Kekuasaan atas Irian Barat dari Belanda Kepada Indonesia.
Achmad kembali dipercaya mewakili Angkatan Darat sebagai Deputi II Bagian Operasi Kolaga (Komando Mandala Siaga) pada saat Indonesia berkonfrontasi dengan Malaysia.
Sebagai Kepala Staf Kostrad, Achmad memegang kendali atas situasi genting setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S). Dialah yang memimpin rapat dan memerintahkan pergerakan pasukan untuk menumpas G30S.
Setelah Soeharto menjadi Men/Pangad, Achmad ditawari menjadi Panglima KOSTRAD akan tetapi dia menolak. Begitu pula tawaran menjadi Gubernur Jawa Barat. Dia kemudian memimpin LAJISTRAD (Lembaga Pengkajian Angkatan Darat), sebelum akhirnya menjadi Sekjen Dewan Hankamnas (Pertahanan dan Keamanan Nasional) sekarang Wantannas (Dewan Ketahanan Nasipnal). Achmad juga menjadi salah satu perumus Utama GBHN (Garis-garis Besar Haluan Negara).
Achmad menjiwai Intelijen. Sebagai Alumnus Pendidikan militer di Amerika Serikat, dia memiliki hubungan dengan intelijen Amerika sekaligus Rusia. Amerika serikat pernah meminta Achmad untuk mengirim Tim dalam rangka Missing In Action ke Vietnam untuk mencari tentara Amerika Serikat yang hilang.
Kiprah Sang Komandan Siluman Merah
Achmad patut bangga karena anak buahnya banyak yang menjadi inti pasukan elite, seperti RPKAD (Kemudian jadi Kopassus) dan pasukan Lintas Udara Kujang, antara lain Alex saleh Prawiraatmadja, Pandries, Fadillah, Marcel Muhammad, Suhanda, dan lain-lain. Komandn kompi dan komandan peleton mencapai pangkat jenderal, seperti Mayjen TNI Hartono Rekso Dharsono (Sekjen Asean), Alex Saleh Prawiraatmadja, Jenderal TNI Poniman (Menhankam), Letjen TNI Gustaf Hendrik Mantik (Pangkowilhan 1), Ahmad Yusuf, Obrien dll. Achmad pula yang menemukan seorang prajurit komando Belanda, yaitu Visser alias Letkol Inf Idjon Djanbi, yang pada saat itu, menjadi Petani di Lembang, Bandung. Dia menyerahkanya kepada Sutoko untuk mendirikan kesatuan Komando Teritorium III yang kemudian menjadi RPKAD (Sekarang Kopassus).
Achmad berkontribusi dalam organisasi kemiliteran TNI pada 1945, antara lain perubahan seksi jadi peleton, markas batalion jadi staf kompi, dan sebagainya. Pasukan Achmad adalah yang pertama meletakan pangkat di bahu, sedangkan pasukan-pasukan lain tanda pangkatnya ditempel di dada seperti tentara Jepang. Tanda infanteri senjata bersilang, Tanda RI di kerah kemeja, lagu mars batalion hasil mengubah lagu Lily Marleen diambil alih oleh Divisi Siliwangi waktu hijrah ke jawa tengah. Bahkan, gagasan "Pagar betis" untuk menumpas DI/TII berasal dari Achmad sewaktu menjabat Komandan Resimen 8 Bogor.