Lahir pada tanggal 13 November 1928 di Pandeglang, Achjani belajar kedokteran hewan di Universitas Indonesia (UI) pada bulan Oktober 1952, tak lama setelah menyelesaikan sekolah menengah atas. Ia menuntaskan pendidikannya dengan pujian dan lulus pada tanggal 1 Maret 1957 dengan gelar sarjana kedokteran hewan pada tanggal 1 Maret 1957 dan resmi menjadi dokter hewan bersertifikat pada tanggal 9 Mei 1958. Dari tahun 1959 sampai tahun 1960, Achjani menempuh pendidikan magister dalamnbidang farmakologi di University of Michigan dan lulus dengan pujian pada bulan September 1960.[1] Ia memperoleh gelar doktor dari Institut Pertanian Bogor pada tanggal 16 Januari 1965, dengan tesis berjudul Cyperus rotundus Linn: suatu penelitian farmakologik.[2] Pembimbing doktoralnya adalah ketua presidium pertama IPB, Augustinus Johannes Darman.[3]
Karier
Achjani mulai mengajar di fakultas kedokteran hewan UI pada tahun 1957. Beberapa tahun kemudian, fakultas kedokteran hewan dan pertanian UI dilebur menjadi Institut Pertanian Bogor (IPB). Ia menjabat sebagai Pembantu Rektor Bidang Administrasi IPB dan sekretaris senat IPB pada tahun 1965-1966, serta kepala bagian farmakoterapi pada departemen fisiologi farmakologi pada tahun 1966. Pada tahun 1968-1969, Achjani menjadi peneliti tamu di Universitas Negeri Utrecht. Sekembalinya ke Indonesia, dari tahun 1971 hingga 1972 Achjani dipercaya sebagai ketua departemen fisiologi farmakologi di fakultas kedokteran hewan IPB.[2] Ia kemudian menjabat sebagai dekan fakultas kedokteran hewan dari tahun 1972 hingga 1975 .[4] Pada bulan September 1973, Achjani diangkat sebagai guru besar dalam bidang farmakologi.[5]
Di luar IPB, Achjani terlibat dalam pengembangan kurikulum standar untuk ilmu pertanian sebagai Sekretaris Konsorsium Ilmu Pertanian.[1] Pada tahun 1974, Achjani diundang oleh Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Makaminan Makagiansar, bersama dengan Samaun Samadikun dan Soekisno Hadikoemoro, untuk membahas pembentukan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi dan strukturnya. Makaminan menjadi direktur jenderal perdana lembaga tersebut, dan Achjani menjadi Direktur Pembinaan Penelitian dan Pengabdian Masyarakat.[6] Beliau menjabat sebagai direktur dari 17 April 1975 hingga Agustus 1981.[4] Achjani diangkat sebagai duta besar Indonesia untuk UNESCO[2] pada tahun 1981 dan menjabat hingga 10 Januari 1986.[7]
Dua tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 10 September 1988, Achjani diangkat menjadi penjabat sementara Universitas Jayabaya, menggantikan Moeslim Taher yang menjadi ketua pendiri universitas.[8] Pengangkatannya dijadikan tetap pada tahun 1989, dan menjabat sebagai rektor hingga tahun 1996.[9] Ia kemudian menjadi anggota Dewan Pendidikan Tinggi, sebuah badan penasehat masalah pendidikan tinggi yang bertanggung jawab kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.[10]
Kehidupan pribadi
Achjani adalah seorang Muslim. Ia menikah dengan Karlinah, dan pasangan ini dikaruniai empat orang anak: Ratu Yuliani (lahir 7 Juli 1961), Ratu Yulianti (lahir 12 Juli 1963), Tubagus Firman Daradjat (lahir 9 September 1966), dan Ratu Meity Adiasti (lahir 30 April 1971).[2]
1234Ekajati, Edi Suhardi; Syamsuddin, Helius; Suwondo, Bambang. Biografi nasional daerah Jawa Barat. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional. hlm.1–2.;
↑Bakry, Umar Suryadi (1997). Ekonomi politik internasional. Lembaga Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat, Universitas Jayabaya. hlm.ii.
Artikel ini tidak memiliki konten kategori. Bantulah dengan menambah kategori yang sesuai sehingga artikel ini terkategori dengan artikel lain yang sejenis.