Acacia pravissima merupakan spesies tumbuhan berbunga dari famili Fabaceae. Tanaman ini adalah semak akasia yang berasal dari wilayah tenggara Australia.
Deskripsi
Tanaman ini dapat tumbuh sebagai pohon kecil atau semak, umumnya mencapai tinggi antara 0,5 hingga 3 meter, meskipun dalam kondisi ideal dapat mencapai 8 meter. Cabangnya ramping dan menyebar, dengan permukaan berusuk yang bisa tampak tanpa bulu maupun sedikit berbulu. Seperti kebanyakan anggota marga Akasia, spesies ini tidak memiliki daun sejati, melainkan filoda. Filoda tersebut berwarna abu-abu kehijauan, tersusun rapat pada tangkai pendek, dan biasanya tidak berbulu. Bentuknya cenderung elips dengan panjang 7–16 mm dan lebar 5–14 mm. Selama musim dingin hingga awal musim semi, tanaman ini menghasilkan rangkaian perbungaan berwarna kuning cerah. Kepala bunganya berbentuk bulat dengan diameter sekitar 5–6 mm, masing-masing berisi 8 hingga 12 bunga emas. Setelah masa berbunga, muncul polong biji yang kuat dan tidak berbulu, berbentuk lonjong sempit dengan panjang hingga 8 cm dan lebar 6–9 mm. Di dalamnya terdapat biji berwarna hitam kusam, berbentuk lonjong hingga hampir bulat, berukuran 3–5 mm, lengkap dengan aril khas yang melekat pada bijinya.[1][2]
Taksonomi
Spesies ini pertama kali diberi deskripsi ilmiah pada tahun 1853 oleh ahli botani Ferdinand von Mueller. Pada tahun 2006, Leslie Pedley memindahkannya ke genus Racosperma dengan nama Racosperma pravissimum, namun pada tahun yang sama spesies ini dikembalikan lagi ke genus Acacia. Nama spesifik Latin pravissima memiliki arti "sangat melengkung" atau "sangat bengkok".[3][4]
Persebaran
Spesies ini merupakan tanaman endemik di tenggara Australia, terutama di dataran tinggi Great Dividing Range. Persebarannya membentang dari daerah sekitar Tumut yang meliputi Lereng Barat Daya dan Southern Tablelands di New South Wales hingga ke selatan melalui Pegunungan Cotter dan Wilayah Ibu Kota Australia, hingga mencapai kawasan Pegunungan Strathbogie dan Sungai Macalister di Victoria. Tanaman ini umumnya ditemukan di lokasi yang lembap dan terlindung, termasuk sepanjang aliran sungai dan anak-anak sungai, biasanya sebagai bagian dari komunitas hutan dan hutan kayu putih atau Eucalyptus.[5][1]