Abu Bishr Matta bin Yunus al-Qunnaʾi (Arab: ﺍﺑﻮ ﺑﺸﺮ ﻣﺘﺎ ﺑﻦ ﻳﻮﻧﺲ القنائيcode: ar is deprecated 870-20 Juni 940) adalah seorang filsuf Kristen Arab yang berperan penting dalam transmisi karya-karya Aristoteles ke dunia Islam. Ia terkenal karena mendirikan mazhab filsuf Aristotelianisme Baghdad.
Biografi dan pendidikan
Abu Bishr dididik di biara Dayr Qunna (karenanya dinamai "al-Qunnāʾī"), sebuah lembaga Nestorian tak jauh dari Baghdad, yang memasok banyak pejabat tinggi kepada pemerintahan Kekhalifahan Abbasiyah. Ia juga menempuh pendidikannya di Sekolah Qar Mari, di mana ia belajar kepada sejumlah guru, di antaranya dua rahib: Rubil dan Binyamin. Ia juga mempelajari ilmu logika di bawah bimbingan Abu Isḥaq Ibrahim al-Qawari, seorang ahli logika.
Abu Bishr terkenal karena terjemahan-terjemahannya dalam bahasa Arab atas karya-karya Aristoteles. Sebagian besar terjemahan ini dibuat dari bahasa Suryani ke bahasa Arab, tetapi menurut kitab yang terkenal, Kitab al-Fihrist, menyebutkan terjemahan Sanggahan-sanggahan Sofistik karya Aristoteles dari bahasa Yunani ke bahasa Suryani. Terjemahan bahasa Arab dari karya Aristoteles ini dilanjutkan oleh murid-muridnya (terutama Yahya bin Adi) dan digunakan oleh para filsuf Arab selanjutnya seperti Ibnu Sina. Ada yang menyebutkan Matta tidak menguasai bahasa Yunani, sehingga terjemahannya ke bahasa Arab dibuat berdasarkan naskah-naskah terjemahan Suryani yang sudah ada sebelumnya.[1]
Abu Bishr dilaporkan telah berdebat dengan teolog dan ahli tata bahasa muslim, Abu Sa'id al-Sirafi, tentang manfaat logika dan tata bahasa, selama audiensi dengan wazir di Baghdad pada tahun 932.[2][3][4] Catatan tentang perdebatan tersebut dianggap bias terhadap al-Sirafi, tetapi perdebatan tersebut tampaknya menguntungkan al-Sirafi, yang menyerang konsep ilmu logika karena hanya berlaku untuk orang Yunani dan tidak berguna bagi penutur bahasa Arab.[3][4] Al-Sirafi juga berhasil membingungkan Abu Bishr dengan serangkaian teka-teki tata bahasa Arab.[4] Rekan Abu Bishr yang lebih muda, Al-Farabi dan Yahyabin Adi kemudian akan menawarkan argumen tambahan untuk mendukung argumennya.[3][4] Perdebatan ini diriwayatkan oleh Abu Ḥayyan al-Tawḥidi dalam dua karyanya: al-Muqābasāt dan al-Imtāʿ wa al-Mu’ānasa.