ʿAbdullāh bin Ḥanẓhalah bin Abī ʿĀmir al-Anṣhārī (625/26 – Agustus 683) adalah pemimpin faksi Kaum Anshar di Madinah saat kota tersebut memberontak melawan Khalifah Yazid I pada tahun 682–683. Ibnu Hanzhalah dibunuh saat ia memimpin pasukannya untuk menghadapi pasukan Yazid dalam Pertempuran al-Harrah pada Agustus 683.[1]
Abdullah kecil pernah melihat Nabi thawaf di depan Ka'bah dengan mengendarai unta.[2] Suatu hari Abdullah sakit lalu dijenguk Abdurrahman bin Harits bin Hisyam. Ketika dibacakan ayat Quran tentang neraka, Abdullah menangis takut.[4] Ia meriwayatkan hadis tentang keburukan riba.[5]
Semasa Yazid bin Muawiyah menjadi Khalifah, Abdullah bersama 8 anaknya awalnya menemui Yazid di Syam dan mendapatkan hadiah 100.000 dirham (sekitar 400 juta rupiah).[6]
Yazid mengirimkan 12.000 pasukan dipimpin Muslim bin Uqbah mengepung Madinah dari arah timur (al-Harrah). Yazid intruksikan untuk mengajak damai tiga kali, jika tidak merespon, maka dilakukan serangan. Selama 3 hari tidak ada pengunduran diri dari pasukan Madinah sehingga pasukan Muslim menghancurkan pasukan Madinah saat matahari terbit dari arah timur sehingga pasukan Madinah silau dengan cahaya matahari, lalu pasukan Muslim mengalahkan pasukan Madinah. Abdullah melepas baju besinya saat bertempur lalu musuh berhasil menebas pundaknya yang menyebabkan kematiannya.[8]
Muslim bin Uqbah melakukan pembunuhan dan penjarahan di Madinah selama 3 hari yang dikenal dengan tragedi al-Harrah.[2] Sementara Ali bin Husain tidak diganggu karena telah bersurat pada Yazid dan berdamai (setelah Tragedi Karbala).
Kematian
Abdullah bin Hanzhalah terbunuh dalam tragedi al-Harrah bersama ratusan muslimin penduduk Madinah di tahun 683 M.[2] Muslim bin Uqbah terbunuh dalam perjalanan berikutnya ke Mekah, sementara Yazid sendiri meninggal hanya dalam waktu 70 hari kekuasaannya.[2]
Referensi
Catatan kaki
↑Katsir, Ibnu (2012). Terjemah Al Bidayah wa an-Nihayah. Jakarta: Pustaka Azzam. ISBN 978-602-236-044-5