Abdullah lahir di Tanjung Pandan, Belitung pada tanggal 23 Oktober 1900.[1] Ayahnya Haji Ismail , seorang pengusaha perikanan yang cukup mapan di Belitung. Sehari-hari, Abdullah berkerja sebagai mantri hutan, suatu pekerjaan yang cukup dihormati pada masa itu, dan karena koneksinya ia dapat menyekolahkan semua anaknya ke sekolah Hollandsch-Inlandsche School.[2] Dua anak laki-lakinya, Achmad dan Murad Aidit, merantau ke Batavia untuk bersekolah lebih lanjut.[3] Abdullah sempat enggan membiarkan anaknya Achmad mengubah nama karena repot untuk mengurus administrasi, tetapi Abdullah akhirnya mengalah dan Achmad mengubah namanya menjadi Dipa Nusantara Aidit.[4]
Pada hari kejadian Gerakan 30 September 1965, Abdullah sedang tinggal di rumah D. N. Aidit di Jakarta ketika tentara datang untuk meringkus D. N. Aidit. Selama anaknya menghilang, Abdullah mengurus cucu-cucunya.[9] Abdullah juga sempat ditangkap oleh tentara karena dikira sebagai anaknya (Abdullah sendiri tidak termasuk Daftar Pencarian Orang).[10][11] Belakangan, dengan bantuan Wakil Perdana MenteriChaerul Saleh, Abdullah pulang ke Belitung. Ia meninggal sendiri di rumahnya di Tanjung Pandan pada tanggal 14 Februari 1969, dan mayatnya baru ditemukan tiga hari kemudian.[9][12]
↑"Ajah DN Aidit Meninggal Dunia". Kompas. 24 January 1969. hlm.1. Diakses tanggal 5 October 2021. Abdullah Aidit, ajah DN Aidit (ketua PKI jang dibubarkan) jang bertempat tinggal di djl. Baro Pangkal Lalang Tandjung-Pandan (Belitung) telah kedapatan meninggal baru2 ini dalam keadaan menjedihkan. Hari Djum'at tgl. 17 Djanuari 1969 kira djam 11.00 siang Nursah isteri dari tetangga Abdullah Aidit