Çiğ köfte (pengucapan bahasa Turki:[tʃiːcœfte]) atau chee kofta[1] adalah makanan khas dari Urfa, wilayah di tenggara Turki. Hidangan ini disajikan sebagai makanan pembuka atau meze, dan memiliki kemiripan erat dengan kibbeh nayyeh dari masakan Levant.[2] Çiğ köfte umum ditemukan dalam masakan Turki maupun Armenia.[1][3][4][5]
Secara tradisional, hidangan ini dibuat dengan daging mentah, namun terdapat variasi vegetarian yang menggunakan bulgur, dan di Urfa terdapat versi lokal tanpa daging yang dibuat dengan telur orak-arik.[6][7] Di provinsi Şanlıurfa, çiğ köfte yang dibuat secara lokal dijual oleh pedagang kaki lima.[8]
Pada tahun 2008, penjualan umum çiğ köfte dengan daging mentah dilarang oleh Kementerian Kesehatan Turki karena risiko kesehatan,[9] terutama infeksi taeniasis,[10] sehingga hanya versi berbahan nabati yang diperbolehkan dijual di toko dan restoran.
Nama
Dalam bahasa Turki, çiğ berarti "mentah" dan köfte berarti "bakso daging". Kata köfte berasal dari bahasa Persia, yang pada akhirnya diturunkan dari akar bahasa Proto-Indo-Eropa " (s)kop– " yang berarti "menggiling" atau "menumbuk".[11]
Penyajian
Bulgur (gandum pecah) diuleni bersama bawang cincang dan air sampai lembut. Setelah itu, ditambahkan pasta tomat dan cabai, berbagai bumbu, serta daging sapi atau domba giling halus tanpa lemak. Daging mentah ini tidak dimasak dengan api, melainkan “dimasak” oleh bumbu dan proses pengulenan yang lama.[12] Terakhir, ditambahkan daun bawang, daun mint segar, dan peterseli.
Beberapa pembuat çiğ köfte, terutama di kota Şanlıurfa, tidak menggunakan air sama sekali. Sebagai gantinya, mereka memakai es batu saat menguleni adonan.[13]
Keamanan
Ada kekhawatiran bahwa çiğ köfte yang menggunakan daging mentah tidak aman untuk dikonsumsi. Sebuah penelitian tahun 2003 terhadap 50 sampel çiğ köfte dari Ankara, Turki, menemukan bahwa hidangan tersebut mengandung jumlah mikroorganisme yang berbahaya.[14] Penelitian lain pada tahun 2012 terhadap 100 sampel dari Bursa, Turki, menunjukkan hasil serupa dan menemukan bakteri salmonella pada 2% sampelnya.[15]
Legenda
Menurut legenda, Raja Namrud, penguasa peradaban kuno di wilayah Şanlıurfa, memutuskan untuk membakar Nabi Ibrahim karena ia percaya kepada satu Tuhan. Raja memerintahkan agar semua kayu di kerajaannya dikumpulkan di sebuah alun-alun besar. Akibatnya, tidak ada lagi kayu untuk memasak di rumah-rumah, dan menyalakan api dilarang. Selama beberapa hari, rakyat mengumpulkan kayu di alun-alun sesuai perintah raja.
Seorang pemburu yang tidak mengetahui perintah itu karena sedang berburu di gunung, membawa pulang seekor rusa hasil buruannya dan meminta istrinya untuk memasaknya. Namun, sang istri memberitahunya bahwa menyalakan api dilarang oleh raja. Maka, pemburu itu memotong kaki belakang kanan rusa tersebut, menghancurkannya dengan batu halus, lalu mencampurnya dengan bulgur, lada hitam, dan garam, kemudian menguleni campuran itu bersama daging cincang. Konon, dari peristiwa inilah bakso mentah pertama kali dibuat oleh pemburu itu dan keluarganya.[16]