Kemudian kita akan membahas kota Zabaj, yang memisahkan Arab dengan negeri Tiongkok. Di antara keduanya (Zabaj dan Tiongkok) dapat ditempuh dengan perjalanan laut selama sebulan, atau kurang dari itu jika angin sedang baik; dikatakan jaraknya sekitar 900 farsakh. Rajanya dikenal dengan sebutan "maharaja" (''al-maharij''). Sang maharaja ini berkuasa atas kepulauan-kepulauan yang banyak jumlahnya sehingga luas kekuasaannya dapat mencapai 1000 farsakh atau lebih. Dan dalam wilayahnya terdapat sebuah pulau yang menjadi pusat kerajaannya, sebagaimana diceritakan panjangnya sekitar 400 farsakh. Juga terdapat sebuah pulau yang dikenal sebagai "Al-Rami" (Negeri Panah)[Catatan 1] yang panjangnya sekitar 800 farsakh; padanya terdapat tetumbuhan seperti kayu merah, kamper, dan lain-lain. Dan dalam wilayahnya terdapat sebuah pulau [Singapura][Catatan 2] yang menjadi perlintasan antara tanah Tiongkok dan tanah Arab. Dan diperkirakan jaraknya 80 farsakh. Dan padanya dikumpulkan barang-barang dagang seperti rotan, kamper, cendana, gading, timah, kayu ebony, kayu merah, dan berbagai rempah-rempah, serta lainnya yang daftarnya akan sangat panjang. Dan pada saat ini perjalanan dari Oman ke sana dan dari sana ke Oman sudah terjadi. Perintah maharaja berlaku di seluruh kepulauan dan juga daratan, dan wilayah utamanya adalah di mana ia berada.
Sang Maharaja menguasai semua pulau ini. Adapun pulaunya, tempat dia tinggal, merupakan pulau yang sangat subur dan berpenduduk padat. Seseorang yang dapat dipercaya mengatakan bahwa, saat ayam-ayam jago mulai berkokok ketika fajar, seperti halnya di tanah Arab, mereka akan sahut-menyahut dalam jarak lebih dari 100 farsakh. Hal ini bisa terjadi karena desa-desanya saling menyambung dan karena tidak ada gurun atau reruntuhan, mereka berderet secara berkesinambungan. Orang yang melakukan perjalanan dengan berjalan kaki atau kuda di negeri ini bisa pergi ke mana pun dia suka. Jika lelah, dia bisa berhenti di mana pun yang dia suka, dan dia pun selalu bisa menemukan tempat menginap. ("Rihlah As-Sirafiy", oleh Sulaiman al-Tajir al-Sirafi)
Legenda Maharaja Zabaj[9]
Syahdan lantaran iri hati, pada suatu hari, di hadapan majelis istana, Raja Khmer bersabda,
"Sesungguhnya ada hasrat di hati beta yang hendak beta turutkan," tutur sang raja teruna.
"Apa gerangan hasrat Baginda itu" sembah sang patih yang setia berbakti.
"Adalah kehendak beta supaya dipersembahkan ke hadapan beta, sebuah pinggan berisi kepala Raja Zabaj," jawab sang raja.
"Ampun Baginda, tidaklah sekali-kali sahaya berharap baginda mengungkap hasrat yang demikian,” sembah sang patih. “Khmer dan Zabaj tidak pernah saling unjuk permusuhan, baik lewat perkataan maupun dalam perbuatan. Zabaj tidak pernah mencelakakan kita, maka janganlah kiranya Baginda ulangi tutur kata yang demikian."
Serta-merta bangkitlah murka Raja Khmer mendengar nasihat patihnya, dan malah mengulangi perkataannya dengan suara lantang, sehingga jelas didengar sekalian panglima dan orang-orang berbangsa yang duduk dalam majelis istana. Maka tersiarlah kata-kata gegabah sang raja teruna, dari satu mulut ke lain mulut, sehingga sampai jua ke hadapan majelis istana Maharaja Zabaj. Hatta mahfumlah Sri Maharaja akan perkataan Raja Khmer itu, lalu disuruhnya patih menyiapkan seribu kapal untuk dibawa berlayar. Sesudah kapal-kapal siap sedia, Sri Maharaja sendiri naik ke atas geladak, lalu memaklumkan kepada khalayak ramai yang berhimpun di pantai bahwa ia hendak bertamasya melawat pulau-pulau miliknya. Akan tetapi sesudah jauh bertolak dari dermaga, kapal-kapal diperintahkan mengarahkan haluan ke Kotaraja Khmer. Tanpa diduga-duga, bala tentara Sri Maharaja berhambur turun menyerbu negeri Khmer, merebut ibu negerinya, dan mengepung istana rajanya. Maka ditangkaplah Raja Khmer dan dihadapkan kepada Maharaja Zabaj.
"Apa gerangan yang membuat engkau berani menghasratkan sesuatu yang tidak sanggup engkau turutkan, yang tidak bakal membuat engkau senang andaikata terlaksana, bahkan tidak patut dibenarkan andaikata senang terlaksana?" tanya Sri Maharaja Zabaj.
Raja Khmer termangu-mangu, tidak mampu menjawab sepatah kata pun, maka Sri Maharaja Zabaj pun bersabda,
"Sungguh lancang engkau menghasratkan kepala beta dipersembahkan ke hadapanmu bertadahkan pinggan. Andaikata engkau juga berhasrat merampas negeri dan kerajaan beta, bahkan sekalipun hanya mengusik sebagian dari padanya, niscaya akan serupalah balasan beta terhadap engkau. Akan tetapi engkau hanya berani mengungkap hasrat yang pertama, sehingga beta pun akan memperlakukan diri engkau sebagaimana engkau hendak memperlakukan diri beta, lalu beta akan pulang ke negeri beta tanpa membawa apa-apa yang menjadi kepunyaan Khmer, entah besar entah kecil nilainya."
Hatta pulanglah Sri Maharaja ke negeri sendiri, lalu naik ke istana dan bersemayam di atas singgasana. Maka dipersembahkanlah ke hadapan baginda sebuah pinggan, dan di atas pinggan itu terhantar kepala mendiang Raja Khmer.[10]: 16–17
Sayabiga
Banyak sumber Arab mencatat keberadaan bangsa yang disebut Sayabiga, yang sudah menetap di tepi Teluk Persia sebelum kebangkitan Islam. Suku atau kelompok ini tampaknya berasal dari koloni orang Sumatra atau Jawa, awalnya menetap di Sind, tetapi akhirnya dijadikan tawanan selama invasi Persia dan secara paksa terdaftar dalam pasukan militer Persia. Sayabiga adalah tentara bayaran dengan kualitas prajurit yang tinggi, disiplin, terbiasa dengan laut, dan menjadi pelayan yang setia; dan sebagai akibatnya, mereka dianggap sangat cocok untuk bekerja sebagai penjaga dan tentara, penjaga penjara, dan sipir perbendaharaan. Pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar (632–634) mereka membentuk garnisun di At-Khatt, di Al-Bahrain, dan pada tahun 656 mereka tercatat telah dipercaya untuk menjaga perbendaharaan di Al-Basra.[11] Ferrand (1926) menunjukkan bahwa nama Sayabiga diturunkan langsung dari kata Sabag, yang merupakan variasi dari Zabag.[12]: 316