Yolngu memiliki sistem adat yang disebut Maḏayin. Maḏayin mengatur berbagai macam hal, seperti peraturan mengenai makanan dan hewan serta penentuan daerah terlarang. Orang Yolngu percaya bahwa mereka yang mengikuti Maḏayin adalah orang yang benar dan beradab. Maḏayin akan membawa Magaya, yaitu keadaan yang damai, bebas dari permusuhan, dan adil.[3]
Suku Yolngu juga memiliki sistem kekerabatan (gurruṯu) yang kompleks. Mereka terbagi menjadi dua kelompok: Dhuwa dan Yirritja. Masing-masing memiliki tanah, bahasa dan cara hidupnya sendiri. Seorang Yirritja harus selalu menikahi seorang Dhuwa dan sebaliknya.
Seperti kelompok-kelompok Aborigin lainnya, terdapat pula budaya menghindari orang yang memiliki hubungan tertentu. Dua jenis orang yang harus saling menghindari adalah:
menantu laki-laki - ibu mertua
saudara laki-laki - saudara perempuan
Kewajiban antara saudara laki-laki dan perempuan untuk saling menghindari (disebut mirriri) biasanya dimulai setelah inisiasi. Mereka yang harus saling menghindari tidak boleh berbicara langsung atau melihat satu sama lain, dan tidak boleh terlalu berdekatan. Mereka dihindari, tetapi tetap dihormati.
Menurut suku Yolngu, terdapat enam musim yang berbeda: Mirdawarr, Dhaarratharramirri, Rarranhdharr, Worlmamirri, Baarra'mirri dan Gurnmul atau Waltjarnmirri.
Sejarah
Suku Yolngu pernah berdagang dengan nelayan-nelayan Makassar selama beberapa ratus tahun. Orang Makassar datang untuk mencariteripang yang dapat dijual di pasar Tiongkok.
Catatan kaki
↑Roy Willis, Signifying Animals: Human Meaning in the Natural World (Psychology Press, 1994: ISBN0415095557), hlm. 80.
↑Richard B. Lee and Richard Heywood Daly, The Cambridge Encyclopedia of Hunters and Gatherers (Cambridge University Press, 1999: ISBN052157109X), hlm. 367.