Yohanni Johns lahir dari keluarga Minangkabau di Padang Panjang, Sumatra Barat. Ayahnya adalah seorang inspektur sekolah di pemerintahan Belanda. Ia merupakan salah satu dari delapan bersaudara, lima perempuan dan tiga laki-laki. Salah satu kakaknya, yakni Arifin Bey.
Yohanni mengalami sistem sekolah menengah Belanda dan Jepang dari tahun 1930-an hingga 1940-an. Ia lulus dari sekolah pelatihan guru khusus perempuan pada 1952. Pada 1954, ia terpilih mengikuti kursus khusus dalam metodologi pengajaran bahasa dan linguistik, yang disponsori oleh Ford Foundation di Sumatra Barat.[1]
Ia tiba di Australia pada tahun 1958, bersama suaminya yang kelahiran Inggris, Prof. Anthony Hearle Johns. Pasangan ini tinggal di Canberra. Saat itu, A.H Johns baru diangkat sebagai profesor perdana Bahasa dan Sastra Indonesia di Australian National University (ANU).
Di Canbera. Yohanni mulai memberikan ceramah tentang budaya dan masyarakat Indonesia kepada banyak kelompok. Ia mula-mula bekerja sebagai tutor, hingga akhirnya mengajar bahasa Indonesia di ANU.[1]
Karya
Pada 1971, Yohanni menerbitkan Dishes from Indonesia, buku 'serius' pertama tentang masakan Indonesia. Resep-resep diperkenalkan dengan anekdot tentang makna dan konteks sosial budayanya dengan gaya yang menjadi ciri khasnya. Saat memperkenalkan buku tersebut.[2][3]
Karyanya yang paling terkenal yakni dua jilid buku teks pengajaran bahasa Indonesia, yakni Bahasa Indonesia: Pengantar Bahasa dan Budaya Indonesia. Buku ini selama beberapa dasa warsa telah menjadi standar bahan ajar bahasa Indonesia bagi siswa sekolah menengah dan perguruan tinggi di seluruh Australia dan negara-negara lain.[4]
Karya berikutnya Bahasa Indonesia: Langkah Baru, buku teks dilengkapi dengan sumber audio yang diproduksi oleh ANU, yang dikembangkan dari pengalamannya mengajar selama lebih dari tiga dasa warsa. Pada saat itu hanya sedikit bahan ajar yang tersedia dalam bahasa Inggris untuk mengajar bahasa Indonesia sebagai bahasa asing di perguruan tinggi.[4]
Sementara itu, untuk memperkenalkan lebih jauh aspek budaya dan masyarakat Indonesia, Yohanni juga menulis buku Melawat ke Negara Tetangga – Visit to a Neighbouring Country.[4]
Pengaruh
Mayoritas diplomat, pegawai negeri sipil, politisi, analis intelijen, mahasiswa tingkat atas dan bawah yang mempelajari bahasa Indonesia antara tahun 1970-an dan milenium baru menggunakan teks-teks Yohanni setidaknya untuk sebagian studi mereka. Yohanni Johns memelopori analisis linguistik dan metodologi pengajaran interaktif untuk pembelajar dewasa bahasa Indonesia, beberapa di antaranya kemudian melanjutkan menjadi guru bahasa Indonesia sendiri.[1]
Pengajaran bahasa Indonesia yang dirintis Yohanni revolusi pengajaran bahasa asing dalam kurikulum sekolah Australia. Bahasa Jepang, Mandarin, dan Indonesia perlahan-lahan ditawarkan di sekolah-sekolah tersebut dengan staf yang mampu mengajar bahasa Asia kepada penutur non-asli. Beberapa sekolah di Victoria, khususnya, mengembangkan program yang berfokus pada bahasa dan budaya Indonesia.[1]
Pengakuan atas kontribusi Yohanni bersama suaminya, A.H. Johns dalam promosi buaya Asia diwujudkan melalui pendirian ANU Indonesia Institute pada 2022. Setiap tahun, ANU Indonesia Institute menghadirkan lecture series para sarjana dalam bidang kajian Islam dan Indonesia.[1]