Sebelah Timur bersebelahan dengan Kampung Sumunikama. Sebelah Barat bersebelahan dengan kawasan perbukitan kebun Wisakaelek. Sebelah Selatan bersebelahan dengan perbukitan Werasuwa, Henowa, Qiogolik, Watoke, Ulewekama, Cheterecamma dan lainnya. Bagian Utara bertetangga dengan Kampung Sekan, Distrik Siepkosi dan hutan lindung Lenetna/Lenetma, Hitiik Owa, Apenagowa, dan Awel Upu.[1]
Jarak tempuh dari kota Hugulama (Wamena) ke Kampung Yogonima kurang lebih 20-30 kilomoter. Jalan menuju ke kampung ini terdapat dua, yakni melalui Pugima dan Siepkosi. Jalan melalui Pugima hendaknya melewati Kampung Wesaput, Parema, Gereja Katolik "Kristus Gembala Kita" Pugima, Kampung Pugima, Kemati, Iwiranya, Lukaken dan Sagesalo. Sedangkan lewat Siekosi harus melewati Jembatan Pikhe, Pisugi, Anelagak, Sekan (Hotel Jerman atau the Baliem Valley Resort) dan kali Yuanya.[2]
Luas Wilayah
Luas wilayah kampung Yogonima DIstrik Itlay-Hisage, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan belum diketahui dan dicatat secara baik. Namun, diperkirakan kurang lebih 20 kilometer persegi. Kampung Yogonima merupakan salah satu wilayah kampung yang cukup luar dari kampung-kampung yang ada di Distrik Itlay-Hisage.
Penduduk
Penduduk di Kampung Yogonima sejauh ini merupakan masyarakat homogen, yakni orang asli Papua dari ras/rumpun Melanesia. Bahkan merupakan orang asli Hugula, yang tumbuh berkembang dari dua suku, yakni Yali-Hugula. Dalam 20 tahun terakhir sejumlah orang "kawin silang" dengan orang luar (migran). Jumlah penduduk diperkirakan mencapai 500 jiwa dari 30-50 kepala keluarga. Namun, data di Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Jayawiya justru melambung tinggi.
Pemerintahan Kampung
Kampung ini dimekarkan pada masa kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Jhon Wempi Wetipo dan John Richard Banua pada tahun 2006/07. Pelopor utama di balik pemekaran ini adalah bapak Harto H. Itlay. Sejak 2007/08 ia menjabat sebagai Kepala Kampung hingga menghembuskan nafas pada 2012. Kemudian digantikan oleh ibu Paulina Itlay.[3]
Pendidikan
Kampung ini selama bertahun-tahun hidup dalam buta aksara. Dari anak-anak usia dini hingga dewasa, banyak yang belum tahu baca tulis. Bahkan kurang mendapatkan layanan dasar pendidikan, sebagaimana setiap orang (anak) berhak mendapatkan layanan pendidikan dasar. Sejauh ini 127 orang dipastikan belum tahu baca tulis dan hitung.[4]
Sekolah Adat
Sejak 2022 lalu, kampung ini mendorong sekolah adat di Jayawijaya. Saat ini telah membuka dua sekolah adat, yakni Sekoalh Adat "Santo Yohanes Pembatis I" Yogonima dan Sekolah Adat "Santo Yohanes Pembaptis II" Itlay-Hisage di Kampung Yogonima. Sekolah adat ini mulai dikembangkan oleh masyarakat adat setempat dengan melihat perkembangan bahasa, budaya dan tradisi masyarakat yang semakin hilang pada masa modern ini .[5]
Keagamaan
Howalik Weakhalok Itlay, adalah tokoh masyarakat lokal yang memiliki ide untuk pertama untuk mendirikan Kapel sendiri pada 1980/90-an. Ia harus jatuh sakit hingga nyaris meninggal dunia. Namun, melalui mimpinya Tuhan bisik agar segera mendirikan gereja baru di kampung ini. Mayoritas penduduk menganut agama Katolik.[6]
Pada 2022 lalu, masyarakat di Kampung ini menolak agar bawa masuk agama atau gereja lain. Hal itu mereka buat dalam kesepakatan bersama dalam gereja bersamaan dengan kesepakatan untuk memwujudkan pesan-pesan moral dari uskup kesukupan Jayapura, Mgr. Yanuarius Teofilius Matopai You, Pr.[7]