Menurut naratif injil, Yesus telah memprediksi bahwa ia akan diejek (Matius 20:19, Markus 10:34, Lukas 18:32, dan Lukas 22:65). Yesus diejek terjadi dalam tiga tahap: setelah pengadilan-Nya, setelah diserahkan kepada Pontius Pilatus, dan ketika Ia di atas salib.
Yesus sendiri digambarkan tidak membalas hinaan ini, sekalipun sudah keterlaluan dan sangat merendahkan[1]
“Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil” (1Pet 2:23}
““Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya”.” (Yes 53:7}
Sebelum pengadilan
Setelah dijatuhi hukuman oleh Sanhedrin, Yesus mengalami serangkaian penghinaan fisik dan verbal (Markus 14:65). Dalam kondisi mata tertutup dan tubuh dipukuli, Ia diejek dengan kalimat: "Nubuatlah! Siapa yang memukul Engkau?" (Lukas 22:63-64). Para pelaku penganiayaan ini diidentifikasi sebagai "orang-orang yang menahan" atau "menjaga" Yesus, yang kemungkinan besar terdiri dari para imam kepala, penjaga Bait Suci, dan tua-tua Yahudi.
Ini adalah sebuah ejekan yang merendahkan, karena dengan Yesus tidak bisa mengatakan siapa yang memukulnya, berarti ia tidak bisa mengetahui segalanya, baik sebagai Tuhan maupun sebagai penyampai firman Tuhan.
Para ahli teologi memberikan sudut pandang mendalam mengenai peristiwa ini:
Joel B. Green melihat tindakan ini sebagai bentuk ejekan khas terhadap seorang nabi. Hal ini sekaligus menunjukkan solidaritas Yesus dengan para utusan Tuhan di masa lalu yang juga mengalami penolakan dan penganiayaan.
Susan R. Garrett menyoroti sisi ironi teologis yang tajam dalam momen tersebut. Saat para penjaga menantang Yesus untuk "bernubuat" tentang siapa yang memukul-Nya, pada saat yang bersamaan, nubuat Yesus yang lain—yaitu penyangkalan Petrus—sedang tergenapi dengan akurat.
Saat pengadilan
Pengejekan terjadi sekaligus dengan penyiksaan fisik, melalui penaruhan rangkaian mahkota duri di kepala Yesus, bersamaan dengan pemberian jubah ungu dan tongkat. Ini dilakukan karena Yesus mengaku sebagai Raja Orang Yahudi, sementara banyak Orang Yahudi yang menolak pengaruhnya. Klaim ini juga dianggap mengancam kekuasaan Romawi, yang kemudian mendorong Pilatus Pontius ikut campur dalam urusan Orang Yahudi, sesuatu yang sebenarnya jarang dilakukan Penguasa Romawi. Sebaliknya pemuka Yahudi saat itu tidak bisa melakukan tindakan apapun kepada Yesus karena memang tidak melakukan kesalahan berarti. Membunuh Yesus justru akan membuat mereka melanggar hukum Taurat. [2]
Klaim Raja Orang Yahudi sebenarnya bermula dari pertanyaan jebakan dari Pilatus Pontius yang memberi Yesus dilema. Jika ia mengaku sebagai Raja Orang Yahudi, berarti dia memang sebuah ancaman atas kekuasaan Romawi. Sebaliknya jika ia menyangkalnya, maka ia mengakui seluruh ajarannya memang tidak harus diikuti. Yesus sendiri menjawab pertanyaan ini dengan diplomatis, karena ia mengaku hanya memimpin secara spiritual, bukan hendak mengobarkan pemberontakan atau perampasan atas aset fisik Kerajaan Romawi. [2]
Awalnya jawaban Yesus berhasil mempengaruhi Pilatus Pontius, sehingga membuatnya ragu. Ia lalu menyerahkan kembali keputusan kepada orang-orang Yahudi, yang kemudian meminta supaya Yesus tetap dihukum, dan sebagai gantinya penyamun bernama Barabas malah dibebaskan. [2]
Saat penyaliban
Pada saat penyaliban, pengejekan ada di puncaknya. Kemampuan Yesus sebagai Tuhan diragukan, karena kenyataannya ia tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri, sekalipun mengaku bisa menyelamatkan keseluruhan umat manusia.
Orang banyak berdiri di situ dan melihat semuanya. Pemimpin-pemimpin mengejek Dia, katanya: "Orang lain Ia selamatkan, biarlah sekarang Ia menyelamatkan diri-Nya sendiri, jika Ia adalah Mesias, orang yang dipilih Allah. Orang banyak yang berdiri di sana menyaksikan semuanya, tetapi para pemimpin Yahudi mengejek Yesus sambil tertawa mengejek. Mereka berkata, “Ia menyelamatkan orang lain, jadi biarlah Ia menyelamatkan diri-Nya sendiri jika Ia adalah Kristus, Yang Dipilih oleh Allah!” (Lukas 23:35)[3]
Selain itu, ejekan bahwa ia adalah Raja Orang Yahudi semakin diperkuat dengan tulisan INRI di salib, yang merupakan akronim dari "Iesus Nazarenus, Rex Iudaeorum" yang berarti "Yesus orang Nazaret, Raja orang Yahudi". [4]
Pada masa kini
Dengan berkembangnya demokrasi dan penggunaan media sosial pada masa kini, pengejekan terhadap Yesus menjadi lebih sering terjadi. Namun ada beberapa kasus yang cukup menarik perhatian[5]:
Sejumlah pengacau merusak dan membakar Biara Latrun di Kota Yerusalem September tahun lalu. Mereka juga mencoret-coret dinding kompleks gereja Katolik itu dalam bahasa Ibrani. Coretan itu berbunyi "Yesus itu monyet:. Polisi mensinyalir tindakan itu berhubungan dengan rencana pengosongan permukiman Yahudi ilegal Migron dekat Kota Ramallah.
Kedutaan Israel untuk Jerman di Ibu Kota Berlin meminta maaf atas unggahan sebuah foto Yesus Kristus dan perawan suci Maria di laman Facebook kedutaan. Tertulis keterangan gambar pada laman itu, jika keduanya masih hidup di Kota Bethlehem tentu mereka telah digantung orang-orang Palestina.
Seorang pegiat sosial dan pengacara di India bernama Aires Rodrigues mengunggah gambar Yesus berpose cabul di situs jejaring sosial. Ia menyatakan sedih atas penghinaan seperti ini. Seorang penganut Nasrani bernama Wilfred Mesquita mengatakan gambar itu juga sangat menghina dan menjadi ancaman bagi komunitas sekuler.
Umat Kristen di Negara Bagian Maharashtra, India, marah lantaran ada kalender 2013 memuat gambar Yesus sedang memegang sebatang rokok dan segelas bir. Tuntutan hukum sedang berjalan atas kasus ini.
Sebuah film Hollywood akan dirilis bertema Yesus menuai hujatan tahun lalu. Film itu menggambarkan Bunda Maria diperkosa tentara Romawi dan melahirkan Yesus. Sejumlah pihak menuding film itu menghina Tuhan. Film itu dibuat oleh sutradara Paul Verhoeven, yang membuat buku dengan judul sama, Yesus dari Nazareth.