Pada kurun waktu sekitar tahun 1880 hingga 1912, beberapa desa tua di wilayah Kecamatan Mendoyo yakni Desa Mendoyo, Yeh Kuning, Delod Berawah, dan Tegalcangkring menghadapi kekurangan lapangan pekerjaan. Sebagai bentuk upaya dengan membuka lahan baru melalui sistem kerja upahan, yang kemudian berkembang menjadi kegiatan kolektif dengan melibatkan tokoh-tokoh dan sekehe/kelompok masyarakat dalam pembukaan hutan untuk hunian dan lahan garapan yang dalam istilah bali dikenal sebagai Nyuang Alas.
Setelah Sekehe dianggap mencukupi, ditetapkan nya kepala sekehe. Sekehe yang berasal dari Desa Mendoyo, Tegalcangkring, dan Delod Berawah membuka wilayah di sebelah timur yeh/sungai, sedangkan sekehe yang berasal dari Desa Yeh Kuning membuka wilayah di sebelah kauh/barat sungai hingga mencapai Sungai/Yeh Buah.
Penanda alami sekaligus pembatas wilayah antara area pembukaan hutan yang satu dengan yang lainnya yakni:
Wilayah timur sungai/yeh, dinamakan Yeh Embang yang dikenal menjadi identitas wilayah hingga saat ini. Untuk karakteristik sepanjang tepi sungai tumbuh dengan subur bunga rejasa yang berbunga secara terus-menerus.
Wilayah barat sungai/yeh, dinamakan Yeh Buah. Karakteristik sepanjang bantaran sungai tumbuh subur pohon pinang, yang dalam Bahasa Bali disebut pohon buah.[5]
Etimologi
Geografi
Batas Wilayah
Pemerintahan
Desa Dinas
Yeh Embang terdiri dari dari 7 banjar dinas/dusun:
Dusun Pasar, merupakan daerah Yeh Embang bagian selatan yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia. Daerah ini memiliki garis pantai yang panjang yang cocok digunakan sebagai daerah pariwisata walaupun sampai sekarang masih belum begitu populer di kalangan wisatawan domestik maupun wisatawan asing. Sebagian daerahnya merupakan lahan pertanian yang subur yang sangat cocok untuk budidaya pertanian.
Dusun Baleagung, merupakan daerah Yeh Embang bagian tengah yang setengah wilayahnya merupakan pemukiman penduduk dan setengahnya lagi merupakan lahan pertanian, di sini merupakan pusat pemerintahan desa Yeh Embang (kantor perbekel). Serta daerah ini dilengkapi dengan pusat sarana olahraga (lapangan bola), tetapi akhir-akhir ini karena kurangnya perawatan serta bantuan dari pemerintah kesannya lapangan olahraga ini kurang terawat serta diperlukan fasilitas yang menunjang serta perbaikan yang berkala.
Dusun Wali, merupakan daerah Yeh Embang bagian tengah yang sebagian besar wilayahnya merupakan lahan pertanian. Tanaman perkebunan sangat cocok ditananam di daerah ini. Banyak sekali kita jumpai tanaman kakau maupun kelapa di setiap perkebunan penduduk. Daerahnya yang landai cocok juga digunakan sebagai tempat pemukiman penduduk. Kita juga bisa melihat hamparan sawah yang luas di daerah ini.Sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani dan buruh tani.
Dusun Kaleran, merupakan salah satu daerah Yeh Embang bagian utara yang paling luas di antara dusun-dusun yang ada di yehembang. wilayahnya terdiri dari perkebunan, yang banyak didominasi oleh tanaman seperti kakao, cengkih, kelapa, dan tanaman perkebunan lain.
Dusun Bungbungan, merupakan dusun yang terletak paling utara di Desa Yeh Embang, berbatasan langsung dengan hutan lindung dan Kabupaten Buleleng. Karena letaknya tersebut maka mata pencaharian penduduknya sebagian besar bertani tanaman perkebunan rakyat, dahulu kopi robusta, tetapi sejak 1980-an berubah menjadi cengkih, kakao dan kelapa. Sebagian besar penduduknya merupakan pendatang dari Kabupaten Klungkung, terutama dari Desa Bungbungan di Kecamatan Banjarangkan.
'"Dusun Bangli"', berasal dari Kabupaten Bangli .
'"Dusun Kedisan"', berasal dari Kabupaten Gianyar.
'"Dusun Nusamara"', berasal dari Pulau Nusa Penida, Kabupaten Klungkung.
'"Dusun Yeh Buah"', berasal dari Kabupaten Badung.
Desa Adat
Desa Dinas Yeh Embang memilih 1 desa adat/pakraman yakni Désa Adat Yeh Embang. Salah satu tradisi adat yang masih dilestarikan adalah Upacara Menek Bajang, yang termasuk ke dalam Upacara Manusa Yadnya. Upacara ini menandai fase peralihan seorang anak menuju masa remaja atau kedewasaan, dan memiliki makna spiritual, sosial, serta pendidikan yang mendalam.
Pelaksanaan Menek Bajang biasanya disesuaikan dengan hari otonan/kelahiran anak dan tidak selalu dilakukan tepat pada saat pubertas pertama, melainkan berdasarkan kesiapan keluarga. Dalam pelaksanaannya melibatkan ritual yang bersama keluarga, pemangku, serta sarana upakara atau banten/sesajen lengkap yang disiapkan secara gotong royong.
Dalam prosesi tersebut, dilakukan persembahyangan di merajan/sanggah (Tempat Sembahyang di rumah) keluarga, upacara pembersihan secara niskala/ghaib, serta pemujaan kepada Sang Hyang Smara Ratih sebagai simbol pengendalian diri, cinta kasih, dan kedewasaan. Melalui upacara ini, masyarakat meyakini bahwa anak yang diupacarai akan memperoleh tuntunan secara spiritual agar mampu menjalani masa remaja dengan perilaku yang lebih bijaksana dan bertanggung jawab. Nilai hindu seperti tattwa (kepercayaan), susila (etika), dan upacara terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari pada masyarakat, sehingga adat dan budaya tidak dipisahkan dari praktik keagamaan maupun kehidupan sosial.
Demografi
Kependudukan
Penduduk desa Yeh Embang sampai dengan tahun 2016 berjumlah 6.753 jiwa terdiri dari 3.231 laki-laki dan 3.522 perempuan dengan sex rasio 91,74.[1]
Agama
Pura Luhur Dang Kahyangan Rambut Siwi
Mayoritas penduduk Desa Yeh Embang menganut agama Hindu dan menjalankan ajaran agama yang berlandaskan pada konsep Tri Hita Karana, yaitu keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam.