Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia |
| Tanggal pendirian | Februari 14, 2008; 18 tahun lalu (2008-02-14) |
|---|
| Jenis | Organisasi nonpemerintah |
|---|
| Tujuan | Konservasi primata |
|---|
| Kantor pusat | Jl. Curug Nangka, Kp. Sinarwangi, Kel. Sukajadi, Kec. Tamansari |
|---|
| Lokasi | |
|---|
Ketua Umum | Silverius Oscar Unggul |
|---|
Ketua Program | Karmele Llano Sanchez |
|---|
| Situs web | yiari.or.id |
|---|
Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) adalah organisasi nirlaba yang menggunakan pendekatan holistik[1] dalam konservasi primata dan habitatnya di Indonesia. Organisasi ini didirikan pada tahun 2008 dan berfokus pada peningkatan kesadaran melalui edukasi, pengembangan masyarakat, perlindungan habitat, dan kesehatan masyarakat.
YIARI telah melakukan berbagai kegiatan yang mencakup program penyelamatan, pemulihan, pelepasliaran, dan pemantauan pasca pelepasliaran untuk memastikan primata dapat kembali hidup bebas di habitatnya. Dengan menggabungkan upaya perlindungan habitat alami, pengembangan masyarakat lokal, dan program kesehatan, YIARI berupaya menciptakan ekosistem yang harmonis antara manusia dan alam.
Organisasi ini juga telah melakukan kolaborasi dengan berbagai pejabat terkait, termasuk Kementerian Kehutanan Indonesia dan berbagai Dinas Kehutanan Daerah di Provinsi Lampung, Provinsi Kalimantan Barat, dan Kabupaten Melawi.
Lanskap
1. Batutegi
Lanskap Batutegi[3] berada di Lampung, adalah inisiatif yang berfokus pada pelestarian habitat dan keanekaragaman hayati melalui keterlibatan masyarakat dan pembangunan berkelanjutan. Program ini melibatkan kelompok tani lokal[4] dan pemangku kepentingan dalam konservasi terlibat dalam pelaksanaan program ini.
Program ini melawan perambahan hutan dengan tata kelola kolaboratif, meningkatkan kapasitas kelompok tani lokal, memperkuat keamanan kawasan[5] sebagai habitat satwa dilindungi,[6] dan menggalakkan kampanye kesadaran masyarakat.
Program ini penting karena bertujuan untuk mendukung upaya konservasi yang berkontribusi pada pelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati yang memberikan manfaat jangka panjang bagi ekologi dan masyarakat setempat.
2. Arabella-Schwanner
Program di Arabella-Schwaner mencakup area luas dari Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR) dan Hulu Sungai, Ketapang, yang fokus pada perlindungan orangutan[7][8][9] dan habitatnya serta melibatkan masyarakat lokal dari desa-desa di kedua wilayah tersebut.
Di TNBBBR, khususnya di Resort Mentatai yang memiliki luas 24,500 ha dari total 200,000 ha, program berfokus pada mengurangi aktivitas ilegal seperti perburuan dan penebangan, serta melibatkan masyarakat lokal untuk mendukung perlindungan orangutan dan peningkatan kesejahteraan mereka melalui pendekatan ekonomi dan pendidikan. Program ini menargetkan desa-desa penyangga taman nasional yang berbatasan langsung dengan area konservasi.
Di Hulu Sungai, program melibatkan 12 desa, termasuk Desa Batu Lapis, Sekukun, dan Krio Hulu. Fokusnya adalah meningkatkan kesadaran dan keterlibatan masyarakat dalam upaya pelestarian.[10] Ini termasuk pendidikan tentang pentingnya lingkungan, menciptakan peluang kerja yang tidak merusak alam, dan melawan kegiatan ilegal yang merusak lingkungan seperti penebangan dan penambangan emas tidak berkelanjutan.
Tujuan dari program ini adalah untuk melindungi orangutan dan rumah mereka di kedua wilayah ini, sekaligus memperbaiki kehidupan masyarakat setempat.[11]
3. Sentap Kancang
Lanskap Sentap Kancang di Ketapang meliputi area seluas sekitar 33,000 hektar, merupakan kawasan gambut pesisir yang memiliki nilai keanekaragaman hayati yang kritis.
YIARI menjalankan program di kawasan ini untuk meningkatkan upaya perlindungan habitat dan satwa liar.
Program ini bertujuan meningkatkan kesadaran dan kesejahteraan masyarakat berkelanjutan, memperkuat dukungan dan partisipasi publik dalam upaya konservasi, serta memulihkan dan melindungi kawasan tersebut yang telah mengalami penebangan sekitar 30 tahun lalu.
Harapannya, program di Sentap Kancang dapat mendukung keseimbangan ekologi dan memastikan keberlanjutan sumber daya alam.
4. Gunung Tarak
Hutan Lindung Gunung Tarak adalah salah satu kantung habitat orangutan[12][13] yang terancam, dengan luasan sekitar 24.000 hektar. Aktivitas antropogenik memberikan tekanan pada sumber daya alam ini, sehingga upaya pelestarian di lanskap ini menjadi sangat penting. Program yang dilakukan oleh YIARI meliputi pengamanan, pemulihan, dan pemantauan berkelanjutan terhadap hutan serta keanekaragaman hayati yang ada.
Tujuan dari program ini adalah mengurangi tekanan antropogenik, melindungi keanekaragaman hayati serta habitatnya, dan memastikan fungsi perlindungan serta jasa ekosistem yang diberikan oleh hutan ini. Selain itu, YIARI juga melakukan restorasi ekosistem di area yang sebelumnya terbakar, supaya memperkuat upaya pelestarian jangka panjang dari lanskap dan biodiversitas Hutan Lindung Gunung Tarak.
5. Pematang Gadung Sungai Besar
Lanskap Pematang Gadung, yang terdiri dari Hutan Desa Pematang Gadung dan Hutan Desa Sungai Besar, Ketapang, mencakup area hutan rawa gambut dan mangrove seluas 11.497 hektar.
Program ini bertujuan untuk melibatkan masyarakat lokal dalam upaya perlindungan[14][15] dan mengubah perilaku mereka terhadap pelestarian satwa liar dan habitatnya. Hal ini dilakukan dengan mengurangi dampak negatif dari tekanan antropogenik seperti penebangan dan pembangunan yang tidak terkendali.
Program ini penting karena kondisi hutan yang terancam oleh aktivitas manusia seperti penebangan dan pembangunan yang tidak terkendali, dan perlu dilakukan upaya pelestarian untuk melindungi satwa liar yang terancam punah dan habitat vital mereka.
6. Pulau Cempedak
Pulau Cempedak, Ketapang, bersama dengan perairan dan pulau-pulau sekitarnya, menawarkan keragaman biota laut yang luar biasa. Sayangnya, kekayaan alam ini menghadapi ancaman serius dari aktivitas manusia, seperti pembukaan lahan untuk perkebunan dan kegiatan pertambangan yang merusak ekosistem laut dan lingkungan.
YIARI, bersama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan, menjalankan program pelestarian yang melibatkan masyarakat lokal untuk melindungi dan merawat biota laut yang terancam punah. YIARI juga menyediakan edukasi dan memberdayakan masyarakat lokal agar lebih peduli terhadap pelestarian lingkungan.