Wonodadi adalah sebuah desa di kecamatanBuayan, Kebumen, Jawa Tengah, Indonesia. Desa Wonodadi memiliki makna sebagai "hutan yang menjadi desa." Nama desa ini berasal dari dua kata dalam bahasa Jawa: "Wono" yang berarti hutan dan "Dadi" yang berarti jadi. Dahulu, wilayah ini merupakan dua desa yang terpisah, yaitu Desa Blanakan dan Desa Karangwuni. Seiring waktu, kedua desa tersebut bergabung menjadi satu desa yang dikenal sebagai Desa Wonodadi. Kini kedua desa tersebut dikenal sebagai Dusun Blanakan dan Dusun Karangwuni.
A. Sejarah Dusun Blanakan
Dusun Blanakan terbentuk dari perselisihan antara dua desa, yaitu Desa Blaburan dan Desa Blanakan. Nama Blanakan berasal dari kisah seorang tokoh yang dikenal karena kemampuannya dalam membela anak-anak. Tokoh penting yang berperan dalam berdirinya Desa Blanakan adalah Mbah Palasara dan Mbah Kuwuk.
B. Sejarah Dusun Karangwuni
Nama Karangwuni berasal dari pohon besar yang dahulu tumbuh di daerah ini, yaitu pohon Wuni sejenis pohon kemukus yang memiliki buah berasa asam. Seorang tokoh yang pertama kali membuka lahan hutan di tanah Wonodadi hingga menjadi area pertanian adalah Singabranta. Ia adalah seorang kerabat dari Keraton Yogyakarta, tetapi di Wonodadi ia lebih dikenal sebagai petani karena ia meyakini bahwa pertanian memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia. Selain Singabranta, tokoh lain yang dianggap berjasa dalam berdirinya desa ini adalah Mbah Bruna dan Mbah Singawedana.
C. Proses Penyatuan Desa
Sebelum menjadi satu, wilayah Wonodadi terdiri dari dua desa, yaitu Desa Karangwuni yang dipimpin oleh Bapak Yadiman dan DesaBlanakan yang dipimpin oleh Ki Jetut (Lurah Jetut). Kedua desa ini kemudian digabungkan menjadi satu desa bernama Desa Wonodadi.
Pemilihan kepala desa pertama setelah penggabungan dilakukan dengan metode "Dodokan", yaitu sistem pemilihan unik di mana calon kepala desa dan para pemilih ditempatkan dalam batas tanah yang telah ditentukan. Pemilih kemudian duduk jongkok di dalam garis wilayah calon kepala desa pilihannya. Menurut cerita masyarakat, hasil pemilihan tersebut ditentukan hanya dengan selisih satu suara, akibat salah satu pemilih yang kebingungan dan akhirnya terdorong ke arah calon tertentu oleh para pendukungnya.
Selain itu, terjadi pertukaran wilayah antara Desa Wonodadi dan Desa Rangkah. Blok Gunung Kusan, yang sebelumnya milik Desa Wonodadi, masuk ke wilayah Desa Rangkah, sedangkan Blok Rancah menjadi bagian dari Desa Wonodadi.
Visi dan Misi
A. Visi
"Terbentuknya wonodadi yang lebih maju".
B. Misi
Melanjutkan Program Pembangunan yang sudah ada dan lebih memeratakan lagi dengan cara yang lebih efisien efektif transparan dan berkeadilan.
Meningkatkan lagi sistem kinerja aparatur Pemerintah Desa agar lebih bersinergi dalam rangka meningkatkan kualitas Pelayanan terhadap Masyarakat.
Melibatkan Peran serta Masyarakat dan Pemuda dalam bermusyawarah dan Gotong Royong.
Mewujudkan Wonodadi Yang lebih Rukun Antar Sesama Umat Beragama,Rukun Antar Umat beragama dan Rukun antar Umat beragama dengan Pemerintah.
Pemerintahan dan Kepala Desa
Berikut adalah daftar Kepala Desa Wonodadi sejak pertama kali berdiri:
Lurah Butak (menjabat hingga tahun 1942)
Dimin Atmo Wirono (1942 - 1989)
Nyabon Kumolohadi (1989 - 2007)
Suparman (2007 - 2013)
Sejarah panjang Desa Wonodadi mencerminkan perjalanan dari sebuah hutan hingga menjadi pemukiman yang berkembang, dengan peran besar para leluhur dalam membuka dan membangun desa.
Demografi dan Keagamaan
Desa Wonodadi memiliki populasi sekitar 2281 jiwa. Keanekaragaman agama di desa ini mencerminkan keberagaman Indonesia dalam skala kecil. Warga Desa Wonodadi menganut berbagai agama, termasuk Islam, Kristen, dan Buddha, serta ada pula penganut kepercayaan lainnya. Berdasarkan data yang tersedia, mayoritas penduduk Desa Wonodadi beragama Islam.
Geografi dan Administrasi
Desa Wonodadi merupakan salah satu dari 449 desa yang ada di Kabupaten Kebumen. Wilayah desa ini memiliki luas sekitar 492,9 hektar dan berada di daerah pegunungan kapur yang memiliki topografi berbukit pada ketinggian 300 meter di atas permukaan laut. Sebagian besar wilayah Desa Wonodadi merupakan tanah kering, yaitu sekitar 90%, sedangkan 10% sisanya merupakan lahan sawah. Secara administratif, Desa Wonodadi terletak di bagian barat Kabupaten Kebumen dan berbatasan dengan:
Sebelah barat: Desa Watukelir dan Desa Argosari
Sebelah timur: Desa Geblug
Sebelah utara: Desa Pakuran
Sebelah selatan: Desa Adiwarno
Makam Leluhur
Di desa ini terdapat beberapa makam tua yang diyakini sebagai makam para leluhur yang berjasa dalam membangun desa (disebut sebagai "Trukah").
Di Dusun Blanakan, terdapat tiga makam keramat:
Makam Mbah Palasara
Makam Mbah Kuwuk
Makam Mbah Buyut Rancah
Di Dusun Karangwuni, terdapat dua makam leluhur:
Makam Mbah Arya Pengilon
Makam Mbah Singabranta
Potensi Desa
A. Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM)
Sebagian besar perekonomian masyarakat desa bertumpu pada pertanian kelapa, hampir 90% masyarakat desa berprofesi sebagai penderes atau penyadap kelapa. Hasil dari deresan kelapa ini yang kemudian diolah sebagai gula semut. selain produksi gula semut ada juga Gula cetak yang diolah yaitu gula jawa asli dan gula rafinasi.
Selain produk olahan dari kelapa juga terdapat beberapa jenis UMKM yang lain seperti
Retail/toko,
Penjual kayu,
Produk olahan lokal;
Kripik pisang,
Kripik singkong,
Leper.
B. Wisata
Di Desa Wonodadi terdapat sebuah objek wisata alam yang sedang dikembangkan, yaitu Objek Wisata Alam Kepuh (OWAK). Lokasi ini merupakan tanah bengkok desa seluas ±6 hektar, yang terletak di perbatasan antara Desa Geblug dan Desa Wonodadi.
Beberapa daya tarik wisata di OWAK meliputi:
Pemandangan dari atas bukit yang memperlihatkan hamparan sawah di Adimulyo dan Puring
Panorama alam pegunungan kapur di sekitarnya
Rencana pengembangan wisata seperti:
Kolam renang
Wahana permainan
Spot foto untuk selfie
C. Kesenian dan Budaya
Desa Wonodadi memiliki berbagai kegiatan seni dan budaya yang dilestarikan oleh masyarakatnya, yaitu seperti:
Sadranan/Selametan pada Dusun Blanakan & Dusun Karangwuni dilaksanakan setahun sekali dalam bentuk Wayangan dan dilakukan hanya pada bulan Suro/Muharram dengan tujuan memohon atau meminta keselamatan bagi desa dan rasa syukur atas hasil bumi yang telah dihasilkan.
Kenduren merupakan acara acara adat yang dilakukan sebagai perwujudan dari rasa syukur kepada Tuhan, atas terkabulnya do’a dan harapan serta makan bersama yang ada di Desa Wonodadi.
Ebleg adalah kesenian tradisional tarian rakyat yang berasal dari Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Salah satu kelompok seni yang aktif di desa ini adalah Kelompok Kuda Lumping yang disebut dengan Ebleg (Turonggo Ngesti Budoyo). Kelompok ebleg ini rutin melakukan pertunjukan terutama pada bulan Sura, serta turut meramaikan berbagai acara desa dan hajatan warga. Tradisi ini menjadi salah satu bentuk pelestarian budaya lokal yang terus dijaga oleh masyarakat Desa Wonodadi.