Terlepas dari kesamaan pendapaat saya, berikut ini adalah rekam jejak Nathan Veritas saat saya patroli di perubahan terbaru (dilakukan jauh sebelumnya). Saya berikan kronologi ini sebagai konteks untuk memahami pola suntingan YBS tentang memberi tag KPC akademisi:
YBS banyak membuat artikel bisnis/perusahaan media. Saya fokus ke media online: Lensa Nusantara, EraNasiona, JabarOnline, Matajambi.com, Wowbabel Media, About Semarang, dll. Artilel tersebut saya hapus per pedoman WP:ORG. Lalu dia mengirimi saya pesan ke nomor pribadi saya (yang katanya dia peroleh dari pengurus lain). Saya sudah jelaskan alasan penghapusan. Tapi YBS tetap bersikeras meminta penghapusan dibatalkan (mengapa melakukan pembicaraan Wiki lewat pesan pribadi?).
Sejak saya menghapus Anjar Wanto, mulailah saya bisa memahami pola suntingan YBS. Terlihat jelas apa yang ditargetkan dari suntingannya. Memberi tag hapus artikel-artikel akademisi lain. Di sebuah grup WA yang tampaknya juga ada pengurus lain, dia mengkaitkan tindakan saya dalam melakukan patroli dengan aspek SARA. Dia mengira saya berpihak (dengan menjadikan standar Anjar Wanto harusnya lebih layak karena 10 ilmuwan terbaik). YBS tidak tahu saja patroli saya juga menghapus ratusan artikel Tokoh Minangkabau, bahkan artikel yang saya buat sendiri (lihat misalnya jejak diskusi ini).
Di luar itu, dia pernah membuat artikel tentang topik Sumbar (mungkin untuk menarik simpati saya). Tapi artikel dibuat dengan AI, fotonya hasil manipulasi AI. Dia menantang saya membuktikan di sebuah grup. Akhirnya dia mengakui.
Halo bung @Rahmatdenas, makasih ya sebelumnya atas penjelasannya. Menurut saya ini diskusi yang cukup menarik. Saya mau mulai dari poin yang bung angkat soal media online. Terkait artikel yang dihapus berdasarkan WP:OG, saya juga sempat baca di poin nomor 2, bahwa organisasi tingkat daerah memang tidak layak dibuat artikel tersendiri kecuali ada pembahasan dari sumber sekunder. Nah, yang jadi pertanyaan saya, halaman media yang bung hapus itu sebenarnya sudah punya sumber sekunder. Tapi dihapus tanpa UP dan pakai alasan U4, padahal sebelumnya belum pernah dihapus (lihatlah disini). Itu sebabnya saya sempat hubungi bung lewat WA, walaupun jawabannya cuma “tidak layak”.
Setelah itu saya lanjut patroli, khususnya di kategori Tokoh Minangkabau. Di sana masih banyak halaman yang menurut saya belum layak, makanya saya pasang KPC dan juga sempat saya sampaikan ke pengurus lewat WAG. Tapi saya lihat bung tidak menanggapi di grup, malah japri salah satu pengurus dengan pertanyaan “kenapa dihapus”. Pas diajak diskusi di WAG juga tidak ada tanggapan cuma melihat doang. Biasanya ya bung ya, kalau saya laporkan halaman yang tidak layak, pengurus akan cek lalu dihapus kalau memang bermasalah. Tapi belakangan ini, beberapa yang saya laporkan malah tidak ditindaklanjuti (udah ah nanti jadi kepikiran negatif.
Soal dugaan motif atau kepentingan, sebenarnya tidak ada. Saya juga pernah bandingkan beberapa halaman tokoh, misalnya Rinaldi Munir dengan Anjar Wanto yang saya buat. Secara sumber dan prestasi, menurut saya halaman yang saya buat juga memenuhi ada Google Books dan media ternama. Tapi tetap dianggap tidak layak. Dengan alasan pernah dihapus sejak 2017. Jadi kalau memang standar U4 mau ditegakkan, saya siap kok bantu patroli halaman lain yang kasusnya sama.
Mulai dari siini, saya merasa sejak situ bung jadi kurang nyaman dengan saya. Padahal menurut saya, kita sama-sama ingin memperbaiki kualitas konten. Terkait AI, seperti yang sudah saya jelaskan di WAG, saya memang pakai AI hanya untuk bantu merangkum, bukan sepenuhnya. Biasanya saya kumpulkan dulu sumber di Google Docs, lalu saya susun ulang dengan bahasa sendiri. Bahkan halaman yang dimaksud juga sudah saya perbaiki, dan itu sudah saya sampaikan. Tapi tetap dihapus, padahal tag AI itu biasanya kasih waktu sampai 13 hari untuk perbaikan.
Selain itu, saya juga lihat unggahan saya di Wikimedia Commons kena CSD, yang sepertinya atas arahan bung juga (lihat ini). Kalau memang mau kolaborasi buat memberantas artikel AI, saya terbuka banget kok.
Ke depan, saya juga akan lebih fokus patroli sumber, terutama yang mengandung backlink atau dari media yang belum jelas kredibilitasnya (misalnya belum terdaftar di Dewan Pers dan tidak mencantumkan sumber jelas). Soalnya saya khawatir informasinya tidak akurat.
Semangat Ngewiki!, semoga kita bisa sama-sama patroli dan memperbaiki halaman yang belum layak. Terima kasih juga sudah menambah semangat saya 🙏 Salam hangat! 🏹Nathan Veritas 3 April 2026 08.23 (UTC)
Setelah saya cari-cari arsip koran, saya menarik suara setuju saya. Subjek banyak dibahas di koran-koran cetak di eranya sewaktu rektor Universitas Andalas 2015. Sesuai komentar saya di usulan lain, ketersedian sumber disesuaikan dengan era subjek. Pada akhirnya, sesuai pedoman, konsesus bersama juga yang menentukan. Rahmatdenas (bicara) 17 April 2026 12.51 (UTC)