Artikel-artikelWikipedia harus menggunakan sumber tepercaya yang dipublikasikan. Halaman ini memberikan pedoman khusus untuk artikel-artikel yang bertopik sejarah.
Beberapa definisi
Sumber primer adalah keterangan yang disampaikan pada masa yang menjadi bahan kajian atau pada masa sesudahnya oleh orang yang terlibat langsung dalam peristiwa yang dikaji. Contohnya adalah prasasti, penggalan naskah, buku harian, arsip pemerintah, laporan militer, sejarah lisan, dan lain-lain. Dalam konteks sejarah, sumber primer juga mencakup literatur-literatur yang mengumpulkan keterangan-keterangan sejarah yang ditemui, karena untuk keperluan riset, sumber-sumber inilah yang dijadikan subjek penelitian oleh para sejarawan. Sebagai contoh, dalam membahas sejarah Yunani Kuno, akibat sangat sedikitnya sumber primer yang tersedia, sejarawan akan bergantung pada, misalnya, Historia karya Herodotos. Seringkali hanya ada sumber Herodotos yang tersedia untuk peristiwa tertentu, sehingga karya Herodotos dianggap sebagai sumber primer. Contoh lainnya: Al-Bidayah Wan Nihayah karya Ibnu Katsir, Catatan Sejarah Agung yang disusun oleh Sima Qian, Nagarakretagama karya Mpu Prapanca, atau juga Babad Tanah Jawi.
Sumber sekunder menyimpulkan satu atau lebih sumber pertama atau kedua. Secara umum, artikel-artikel Wikipedia harus berdasar atas sumber sekunder tepercaya.
Sumber tersier biasanya menyimpulkan sumber sekunder. Ensiklopedia, termasuk Wikipedia, adalah sumber tersier. Artikel-artikel Wikipedia tidak boleh mengutip artikel Wikipedia lain sebagai sumber, karena Wikipedia adalah suatu wiki yang dapat disunting oleh siapapun dan karenanya tidak dapat dipercaya. Walaupun demikian, Wikipedia dapat digunakan sebagai sumber primer mengenai Wikipedia, sesuai dengan batasan di atas. Publikasi seperti Encyclopædia Britannica, World Book, dan Encarta dianggap sebagai sumber tepercaya.
Tingkat ketepercayaan sumber
Berdasarkan sifat publikasi yang dimiliki oleh sumber yang diterbitkan, ketepercayaan suatu sumber untuk dijadikan rujukan artikel bisa diklasifikasikan sebagai berikut:
Referensi yang sepatutnya dijadikan sumber
Jurnal ilmiah yang sudah dipublikasikan
Buku akademis yang disunting editor dan sudah melalui peninjauan sejawat
Buku yang diterbitkan oleh penerbit tepercaya, disunting oleh editor, dan sudah melalui peninjauan sejawat
Disertasi S3
Referensi yang tidak dilarang, tetapi sebaiknya hanya dipakai jika tidak ada sumber lain
Buku yang diterbitkan oleh penerbit yang kurang tepercaya tetapi sudah disunting oleh editor
Majalah sejarah terkemuka
Artikel yang ditulis di Internet dengan referensi jelas dari sumber non-Internet
Referensi yang harus sebisa mungkin dihindari
Majalah sejarah yang membahas isu populer
Koran
Berita daring
Skripsi S1 dan S2
Rekaman kuliah atau ceramah
Referensi yang tidak boleh digunakan
Artikel lain di Wikipedia dan situs-situs saudarinya
Artikel lain dari ensiklopedia bebas dengan sistem mirip Wikipedia (bebas disunting siapa saja)
Publikasi manapun yang tergolong sebagai pseudohistory atau sejarah semu, kecuali dalam artikel yang hanya membahas sejarah semu itu saja
Pedoman dalam menulis
Berdasarkan uraian di atas, perlu diperhatikan bahwa dalam menulis artikel sejarah, sumber yang selalu diutamakan adalah sumber akademis yang menggambarkan konsensus para sejarawan saat ini. Merekalah yang melakukan kajian terhadap sumber-sumber primer, dan Wikipedia sebagai sumber tersier hanya melaporkan temuan-temuan mereka secara netral dan berimbang. Oleh sebab itu, dalam menulis artikel sejarah, sumber-sumber primer seperti Menandros Protektor, Ban Zhao, dan Ath-Thabari perlu dihindari, karena jika tidak bisa tergolong sebagai riset asli.
Apabila subjeknya kontroversial, sudut pandang yang berlawanan perlu disajikan sesuai dengan bobot yang tepat. Pandangan minoritas tidak boleh dibuat seolah-olah itu adalah pandangan yang menjadi konsensus akademik. Pandangan-pandangan yang termasuk ke dalam pseudohistory atau sejarah semu juga tidak boleh digunakan, apalagi digambarkan sebagai pandangan yang diterima para sejarawan.