Ini adalah konvensi pedoman penyerapan nama fauna secara umum. Penyerapan dapat dilakukan apabila tidak ada nama umum dalam bahasa Indonesia yang sesuai, sehingga perlunya penyerapan dari bahasa asing yang tentunya perlu memperhatikan kaidah dan fonologi untuk menghindari misinformasi, miskonsepsi, dan tidak aneh bagi penutur bahasa Indonesia.
Metode
Ada tiga metode umum penyerapan, antara lain:
Metode
Maksud
Contoh
Serapan fonologis
Serapan ini mengindahkan bunyi dan suara sehingga mudah diterima bagi penutur bahasa Indonesia. Panduan untuk penyerapan fonologis dapat ditemukan di Wikipedia:Pedoman penyerapan istilah.
Rakun (racoon, c (/k/), oo (/u/)), citah (cheetah, ch (/t͡ʃ), ee (/i/), ketzal (quetzal, que (/ke/))
Serapan termodifikasi
Serapan termodifikasi adalah menyerap suatu kata dengan memodifikasi atau menyelewengkan bunyi aslinya, biasanya untuk memudahkan pengucapan atau menjadi tampak lebih "alami.
Beaver diterjemahkan menjadi biwara, bunyi /v/ diubah menjadi /w/ mengikuti pergeseran bunyi /v/ dalam kata-kata bahasa Sansekerta (bandingan kata varta, warta, dan berita). Contoh lainnya (bukan ranah fauna) adalah verb dan herb menjadi verba dan herba, ini dilakukan karena bahasa Indonesia tidak mengakomodasi konsonan rangkap akhir /rb/.
Serapan wantah
Serapan wantah adalah menyerap suatu kata atau ungkapan dari bahasa lain tanpa mengubah bunyi dan maknanya, biasanya dilakukan ketika kata tersebut sulit diserap, sulit dimaknai, dan jika diserap secara fonologis akan menimbulkan kebingungan.
Contohnya llama dan lynx tetap ditulis sebagai llama (bukan lama ataupun Yama) dan lynx (bukan lingsi atau links).
Jenis
Menyerap nama umum bahasa Inggris
Sebagai bahasa internasional, bahasa Inggris sering dijadikan acuan penerjemahan dan penyerapan. Ini adalah cara yang paling disarankan dan umum dipakai karena daya keefektifan dan kepahamannya, namun perlu diperhatikan juga kaidah penyerapannya agar tidak menimbulkan kesulitan pengucapan atau kebingungan. Nama umum disini merujuk kepada nama lokal suatu hewan (misalnya sifaka atau indri) yang sudah mencapai popularitas di media mancanegara. Penyerapan ini tidak terikat oleh sumber berbahasa Indonesia, karena kasus-kasus semacam ini merupakan fenomena lintas bahasa.
Menyerap nama umum bahasa lainnya
Menyerap nama umum bahasa lainnya dan bukan bahasa Inggris dapat dilakukan apabila nama umum dalam bahasa Inggris sukar untuk diterjemahkan atau difonologikan. Contohnya Galagidae adalah keluarga fauna arboreal yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan nama bushbaby dan tidaklah indah jika diterjemahkan menjadi bayi semak atau diserap menjadi busbebi. Jika nama hewan ini ditelisik dari berbagai bahasa, mayoritas bahasa (seperti bahasa Jerman, bahasa Belanda, bahasa Spanyol dll) langsung menyerap nama lokal hewan ini yaitu galago. Merujuk informasi ini, Wikipedia bahasa Indonesia juga dapat memadankan bushbaby sebagai galago.
Menyerap nama latin
Menyerap nama latin biasanya dilakukan jika nama umum dari hewan tersebut sukar diserap dan disesuaikan bunyinya dalam bahasa Indonesia. Teknik seperti ini lebih umum dalam dunia tumbuhan, contohnya pine dan birch dialihbahasakan menjadi pinus dan betula alih-alih menjadi pain dan beric':.
Hal yang perlu diserap
Nama orang, nama tempat, atau nama khas yang tidak bisa diterjemahkan tetap dipertahankan bentuk dan fonologinya (kecuali memang ada padanannya).
Berikut hal-hal atau ketentuan yang perlu diperhatikan, mungkin terdapat beberapa istilah linguistik atau bentuk fonologi yang tidak biasa dalam penulisan umum. Untuk itu coba pelajari Alfabet Fonetik Internasional terlebih dahulu.
Nama fauna asing yang berbentuk komposit dan wantah, serta tampak mudah diterjemahkan sebaiknya jangan diserap dalam bahasa Indonesia. Contohnya burung dalam genus Haplophaedia dan Eriocnemis yang dikenal dengan nama puffleg jangan diserap menjadi pafleg. Burung ini dapat diserap dari bahasa lain atau bahasa lokal dan dapat diterjemahkan langsung dengan diksi selektif atau pinjam terjemah dari bahasa lain. Lebih rinci lagi lihat: Wikipedia:Permintaan_pendapat/Pedoman_penamaan_fauna_(penerjemahan)
Bentuk konsonan rangkap berulang cukup ditulis sekali saja saat diserap. Contohnya lemming menjadi leming dan gorilla menjadi gorila.
Bentuk vokal rangkap bersambung dapat ditulis sesuai apa yang diucapkan, contohnya bentuk "oo" dalam bahasa Inggris dibaca "u". Ini termasuk vokal rangkap bersambung dalam bentuk makron. Sedangkan bentuk vokal rangkap berjeda tetap dipertahankan, contohnya kata maaf dalam bahasa Indonesia yang diucapkan /maaf/ dan bukan /māf/.
Bunyi yang utamanya perlu disesuaikan adalah bunyi /k/, /s/, dan /tʃ/ yang dalam bahasa Inggris sering diwakili dengan ch atau c. Bahasa Inggris sebagai bahasa non-fonologis sering membingungkan penutur bahasa lain untuk mengucapkannya. Contoh dalam dunia tumbuhan, Monstera deliciosa yang dikenal dengan nama ceriman diserap mentah tanpa penyesuaian. Akibatnya banyak penutur bahasa Indonesia yang menyebutnya ceriman padahal pengucapan yang benar adalah seriman.
Bentuk konsonan rangkap berulang "ll" yang berasal dari bahasa Spanyol atau Portugis serta turunannya sebaiknya tetap dipertahankan. Bahasa Spanyol dan Portugis sebagai bahasa penjajah telah menyebarkan bahasanya secara luas dan menyebabkan variasi pengucapan yang tak beraturan. Bunyi "ll" sering diucapkan sebagai /ʎ/, /j/, atau /ʝ/ dan karena ketidakkonsistennya sebaiknya tetap dipertahankan contohnya llama. Sedangkan bentuk konsonan rangkap berulang "ll" yang telanjur populer dan secara konsisten selalu diucapkan 'l' boleh diserap menjadi bunyi /l/ contohnya armadilo (dari armadillo)
Bentuk konsonan rangkap berikutan "h" dan merupakan bunyi teraspirasi secara fonologis dapat diserap dengan menghilangkan bunyi "h". Sedangkan bentuk konsonan rangkap berikutan "h" dan bukan merupakan bunyi teraspirasi melainkan bunyi tunggal secara fonologis diserap dengan tetap mempertahankan bunyi "h"-nya. Contohnya dalam bahasa Indonesia sudah umum dengan kata "khawatir" karena secara asal bunyi ini adalah bunyi tunggal /x/.
Nama fauna asing serapan yang memiliki bunyi "e", pada bagian utama artikel diberi penjelasan pengucapan untuk mempermudah pembaca apakah "e" diucapkan sebagai /ə/, /ɛ/ atau /e/.
Bunyi semivokal seperti w atau y yang berstatus sebagai vokal tunggal dapat diserap menjadi bunyi vokalnya saja terutama jika terletak di tengah atau di akhir, contohnya w menjadi "u" dan "y" menjadi i.
Bentuk vokal yang diucapkan sebagai konsonan tunggal saat diserap dapat diubah menjadi semivokal. Contohnya dalam dunia tumbuhan, buah quince diserap menjadi kwinsi alih-alih kuinsi.
Bentuk konsonan atau vokal diakritik saat diserap harus tanpa diakritik. Beberapa bunyi diakritik saat diserap mungkin tidak akan menimbulkan perubahan, tetapi bunyi diakritik seperti ñ yang sering ditemui di bahasa Portugis dan turunannya dapat diserap menjadi /ɲ/ (ditulis ny) karena secara fonologis memang begitu.
Selalu ubah bunyi /q/ menjadi /k/, contohnya adalah quokka menjadi kuoka
Selalu ubah bentuk "x" menjadi /ks/, contohnya adalah oryx menjadi oriks.
Sebisa mungkin hindari konsonan rangkap dua saat menyerap ke dalam bahasa Indonesia. Namun dalam beberapa kasus masih diperbolehkan, contoh gnu dan bukan genu sebagai padanan hewan wildebeest.
Sebisa mungkin hindari konsonan rangkap tiga saat menyerap ke dalam bahasa Indonesia, contohnya warna orange (/ˈɔɹ.ənd͡ʒ/) diserap menjadi oren alih-alih orendj.
(*Catatan: "bunyi" adalah secara fonologis sedangkan "bentuk" adalah secara penulisan umum)
Silakan tanggapi proposal yang saya buat apakah layak untuk disetujui atau tidak. Jangan lupa berikan kritik, pendapat, dan saran yang membangun.! Manggisjeruk (bicara) 25 Januari 2026 00.28 (UTC)