Pada tahun 2017, penduduk negeri Werinama terdiri 457 keluarga yang terdiri dari berbagai etnis, akan tetapi yang lebih banyak adalah penduduk asli Werinama yang berjumlah hampir 99% dari total keseluruhan, dengan mayoritas masyarakat Werinama atau bahkan seluruhnya beragama Islam.[2]
Masyarakat
Berikut ini beberapa fam-fam (matarumah) yang secara turun-temurun mendiami negeri Werinama.[3]
Elbetan
Latael
Vanath
Voth
Hubungan sosial
Werinama memiliki hubungan pela dengan negeri Kilang di Pulau Ambon.[4] Hubungan pela ini berjenis pela batu karang. Menurut cerita masyarakat kedua negeri, hubungan pela ini berawal dari masyarakat negeri Werinama yang pernah menolong seorang kapitan asal Kilang, yakni Kapitan Misebilek yang terdampar dengan kora-kora di lautan dekat negeri Werinama.[5]
Isi dari perjanjian dalam pela tersebut adalah masyarakat negeri Werinama dan negeri Kilang dilarang melakukan pernikahan antara sesama pela dan diharuskan saling tolong-menolong di antara mereka. Hubungan ini mempunyai pengaruh yang sangat kuat di masyarakat kedua negeri, mereka yang melanggar perjanjian ini niscaya akan ditimpa malapetaka. Dalam cerita rakyat, diceritakan pada suatu hari pernah terjadi kejadian di negeri Kilang, di mana seorang bernama Latif, salah satu masyarakat negeri Werinama yang singgah di negeri Kilang meminta pisang kepada salah satu masyarakat di sana tetapi tidak diberikan. Akhirnya, setelah ia pulang semua pohon pisang yang ada di negeri Kilang semuanya mati.[5]