Catatan: CDC memperkirakan bahwa jumlah kasus di Liberia, Sierra Leone, dan Guinea sebenarnya dua sampai tiga kali lebih tinggi dari angka resmi yang dilaporkan.[3][4][2]
Hingga 29Oktober2014[update], Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan telah terjadi sebanyak 13.567 kasus Ebola dan 4.922 kematian,[7] meskipun WHO yakin bahwa angka ini tidaklah pasti,[25] dengan jumlah tepatnya diduga tiga kali lebih tinggi dari kasus yang telah dilaporkan.[3][26] Asisten Direktur Jenderal WHO memperingatkan pada pertengahan Oktober bahwa kemungkinan ada sebanyak 10.000 kasus Ebola baru per minggu pada bulan Desember 2014.[27] Hampir semua kasus terjadi di tiga negara yang pertama kali diserang wabah.
Beberapa negara mengalami kesulitan dalam mengendalikan wabah ini.[28] Di beberapa wilayah, orang-orang menaruh kecurigaan terhadap pemerintah dan rumah sakit, beberapa rumah sakit bahkan diserang oleh para pengunjuk rasa yang marah dan percaya bahwa wabah ini adalah ulah pemerintah atau menuduh rumah sakit bertanggung jawab atas penyebaran wabah. Kebanyakan wilayah yang terkena dampak serius merupakan wilayah miskin dengan akses terbatas terhadap sabun dan air bersih, yang diperlukan untuk membantu mengendalikan penyebaran penyakit.[29] Faktor lainnya termasuk ketergantungan pada pengobatan tradisional dan praktik budaya yang melibatkan kontak fisik dengan orang yang sudah meninggal, terutama kebiasaan-kebiasaan seperti memandikan dan menciumi jenazah.[30][31][32][33] Beberapa rumah sakit kekurangan pasokan medis dan kondisinya tidak memadai, sehingga meningkatkan risiko staf terserang virus tersebut. Pada bulan Agustus, WHO melaporkan bahwa sepuluh persen dari korban tewas adalah petugas kesehatan.[34] Pada akhir Agustus, WHO melaporkan bahwa kehilangan begitu banyak petugas kesehatan telah menyebabkan semakin sulit untuk mengirimkan staf medis dari luar negeri.[35] Pada bulan September, WHO memperkirakan bahwa kemampuan negara untuk mengobati pasien Ebola tidak sebanding dengan jumlah tempat tidur yang tersedia. Pada akhir Oktober, banyak rumah sakit di wilayah yang terserang wabah tidak berfungsi atau ditutup, sehingga beberapa pakar kesehatan menyatakan bahwa ketidakmampuan untuk menyediakan kebutuhan medis dapat menyebabkan "jumlah korban tewas tambahan yang mungkin akan melampaui wabah itu sendiri".[36][37]
Pada bulan September 2014, Médecins Sans Frontières/Doctors Without Borders (MSF), LSM terbesar yang bergiat di negara-negara terkena dampak, menjadi semakin kritis terhadap respons internasional. Pada tanggal 3 September, Presiden MSF berbicara mengenai kurangnya bantuan dari negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa. Ia menyatakan "Enam bulan dalam wabah Ebola terburuk sepanjang sejarah, dunia telah kehilangan semangat untuk memeranginya."[38] Juru bicara PBB mengungkapkan, "Mereka bisa menghentikan wabah Ebola di Afrika Barat dalam waktu 6 sampai 9 bulan, tetapi hanya jika menerapkan respons global yang besar."[39] Direktur WHO, Margaret Chan, menyebut wabah ini sebagai "wabah terbesar, paling kompleks dan paling parah yang pernah kami saksikan" dan menyatakan bahwa wabah "sedang berpacu dengan upaya pengendalian".[39] Dalam pernyataannya tanggal 26 September, WHO mengatakan, "Wabah Ebola yang melanda bagian barat Afrika adalah keadaan darurat kesehatan masyarakat yang paling akut dan paling parah yang terjadi pada zaman modern."[40]
Diagnosis
Diagnosis pada individu yang terinfeksi oleh virus Ebola cukup sulit dikarenakan gejala awal yang ditunjukkan sangat umum, seperti demam malaria dan demam tifoid. Gejala awal yang ditimbulkan pada masing-masing virus Ebola berbeda-beda bergantung pada masa inkubasi Virus tersebut. untuk timbulnya penyakit virus Ebola yang disebabkan oleh EBOV adalah 5,3--12,7 hari, SUDV dengan masa inkubasi 3,5--12 hari, dan 6,3--7 hari untuk BDBV.[41]
Metodediagnosis virus Ebola terus dikembangkan diantaranya adalah menggunakan pemeriksaan dengan cara isolasivirus, mendeteksi virus di dalam darah dengan teknik deteksi antigen ELISA (enzym-linked immunosorbent assay) dan metode RT-PCR yang mampu mendeteksi EBOV, SUDV, TAFV, BDBV, dan RESTV dengan sensitivitas 95% dengan pendeteksian yang lebih tinggi pada konsentrasi RNA yang lebih rendah daripada kit Layar Filovirus.[41]
Gejala
Gejala penyakit yang ditimbulkan dari virus Ebola ini dapat diklasifikasikan dalam tiga fase, dimulai dari fase menular (prodromal), penyakit fatal hingga fase terakhir, fase kronis (pemulihan). Gejala akut non-spesifik yang ditunjukkan oleh pasien yang terjadi pada hari ke-2 dan 21 setelah terinfeksi ditandai dengan malaise, demam tinggi, kelelahan, mialgia, dan arthralgia.[41][42] Setelah gejala awal, anatara hari ke-7 dan ke-14, pasien bisa mengalami mual, muntah, diare, dan malena.[42] Pada fase ini, pasien berpotensi mengalami kehilangan cairang yang cepat sekitar 10 L per hari dan gejala lain yang kurang umum seperti dispnea, batuk, cegukan, serta nyeri dada dan perut.[41] Semua tanda dan gejala ini dianggap sebagai awal perkembangan penyakit yang lebih parah menuju fase penyakit fatal. Setelah fase prodromal, sekitar antara hari ke-22 dan ke-35, manifestasi dari infeksivirus Ebola terus berkembang hingga dapat menyebabkan kematian.[41]
Gejala yang muncul pada fase penyakit fatal, yang terjadi di hari ke-22 dan ke-35 dimulai dari syok septik, asidosis metabolik dan kegagalan organ yang merupakan dampak dari hilangnya cairan tubuh dan termanifestasi haemorrhagic[41][42]. Gejala lainnya yang muncul dapat berupa hematemesis, yang ditandai dengan ditemukannya darah dalam tinja, gusi berdarah, hidung berdarah, batuk berdarah, dan hematuria. Selain itu, akibat hipoperfusi setelah syok septik pada pasien dapat berdampak fatal dengan merambat pada konsidi gagal ginjal dan kerusakan otot bersama dengan viral load yang tinggi.[41]