VOI menggunakan berbagai bahasa untuk menyebarkan kebudayaan dan pengetahuan Indonesia ke pihak luar atau warga negara Indonesia di luar negeri. Hingga tahun 2023, VOI bersiaran dalam sembilan bahasa, termasuk Bahasa Indonesia, melalui gelombang pendek (SW) pada jam-jam tertentu serta siaran daring selama 24 jam.
Tulisan "Voice of Indonesia" di sebuah gedung di kantor pusat RRI di Jakarta, 2007. Gedung tersebut kemudian dirobohkan.Logo RRI Voice of Indonesia (2006–2023)[4]
Sejarah Voice of Indonesia dapat dirunut bahkan sebelum RRI didirikan. Saat Indonesia menyatakan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, negara tersebut memerlukan alat yang efektif untuk mengumumkannya ke seluruh elemen bangsa dan seluruh dunia. Pada jam 19.00 di hari yang sama, Joesoef Ronodipoero – tokoh yang nantinya mendirikan RRI – membacakan proklamasi kemerdekaan Indonesia melalui Hōsō Kyōku (放送局, "Jawatan Radio"), radio milik pemerintah pendudukan Jepang, melalui pemancar gelombang pendek di Bandung.[5] Ia dibantu oleh Abdulrahman Saleh, yang juga memiliki minat pada siaran radio. Atas permintaan Sutan Syahrir, radio yang ditujukan bagi pendengar luar negeri lalu didirikan. Pemancar untuk Voice of Free Indonesia (bahasa Indonesia:"Suara Indonesia Merdeka"code: id is deprecated ) selesai didirikan pada tanggal 23 Agustus 1945 di Fakultas KedokteranUniversitas Indonesia. Presiden Soekarno memberikan pidato di radio ini pada tanggal 25 Agustus, dan Wakil Presiden Mohammad Hatta melakukan hal yang sama pada tanggal 29 Agustus.[6]
Untuk melakukan siaran, mereka yang terlibat dalam siaran radio kemudian mengambil alih stasiun radio di Yogyakarta, yang didirikan pada masa kolonial Belanda dan sempat diambil alih Jepang. Siaran Voice of Free Indonesia dari Yogyakarta dilakukan pertama kali pada tanggal 17 Juni 1946; saat itu bersiaran dalam Bahasa Inggris, Belanda, dan Prancis.[6]
Selama perang kemerdekaan Indonesia, K'tut Tantri, seorang perempuan asal Amerika Serikat berdarah Skotlandia yang simpatik terhadap pejuang kemerdekaan Indonesia, mengisi siaran berbahasa Inggris di Voice of Free Indonesia. Siarannya menyasar para pendengar di negara-negara Barat, dan ia mendapat julukan "Surabaya Sue" oleh karena dukungannya terhadap nasionalis Indonesia. Selama masa-masa awal kemerdekaan Indonesia, siaran radio berperan penting mengirimkan pesan-pesan kemerdekaan Indonesia pada audiens luar negeri, yang kemudian membantu negara-negara lain mengakui kedaulatan Indonesia. Nama "Voice of Free Indonesia" juga digunakan sebagai nama majalah pro-Indonesia yang diterbitkan orang-orang Indonesia di luar negeri untuk pembaca di negara-negara Barat.[7]
Pada tahun 1950, Voice of Free Indonesia berganti nama menjadi Voice of Indonesia (VOI),[8] dengan menghapus kata "Free" di dalamnya. Pada tahun 1955, VOI menyiarkan Konferensi Asia–Afrika yang diadakan di Bandung.[5]
Pada tahun 1964, RRI membangun kompleks pemancar RRI Cimanggis yang kini terletak di Sukmajaya, Kota Depok, Jawa Barat. Kompleks tersebut, yang diresmikan pada tahun 1969, mencakup enam pemancar berkekuatan 125kW yang ditujukan untuk siaran luar negeri.[9]
Di tahun 2019, VOI mengalami perubahan bentuk dan format siaran. Salah satunya adalah program "siaran perbatasan" yang dimulai pukul 06.00 hingga 10.00 WIB dan dipancarluaskan di lima stasiun RRI terluar Indonesia; yaitu RRI Nunukan (Kalimantan Utara), RRI Entikong (Kalimantan Barat), RRI Tanjungpinang, RRI Batam (keduanya di Kepulauan Riau), dan RRI Stasiun Produksi Bengkalis (Riau).[5]
Ketersediaan
Radio
Pemancar RRI Voice of Indonesia dengan kekuatan pancar 250 kW dari GEC Marconi yang pernah digunakan oleh RRI Cimanggis dan RRI Makassar
Per tahun 2024, siaran VOI disiarkan melalui gelombang pendek di frekuensi 3325kHz dan 4755kHz. Frekuensi 3325kHz, dengan daya pancar hingga 50 Kw, dipancarkan dari Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah,[12] sementara frekuensi 4755kHz dipancarkan dari Kota Depok.[13] Siaran gelombang pendek disiarkan mulai jam 17.00–06.00 WIB (10.00–23.00 UTC) dan target siaran untuk Amerika Utara, dapat didengarkan melalui frekuensi 7780 kHz melalui World Radio Miami International pada hari Senin dan Selasa pukul 09.00-10.00 UTC.[14]
Sebelumnya, VOI bersiaran dalam frekuensi 4750kHz (hingga 2024),[15] 9525kHz,[16] 11785kHz,[16] dan 15150kHz.[16]
Satelit
Menurut data Lyngsat, siaran audio VOI dapat diakses melalui siaran satelit Telkom-4 dengan frekuensi 3946 H yang menjangkau Asia Tenggara. Frekuensi ini sama dengan frekuensi satelit stasiun-stasiun RRI daerah di Indonesia, terutama RRI Programa 1.[2][17]
Daring
Selain gelombang pendek, VOI juga bersiaran secara daring melalui situs webnya dan aplikasi RRI Digital selama 24 jam.
Hingga 2025, VOI terpantau juga mengelola portal berita di situs web resminya, voinews.id, dalam sembilan bahasa sesuai dengan bahasa yang disiarkannya. Saat ini, VOI mengelola sebuah kanal berbahasa Inggris dari RRI.co.id, dengan jenama VOI digunakan sejak 2026.[18]
Hingga 2025, sebagian acara VOI yang disiarkan secara daring dalam bentuk radio visual antara lain:[21]
Indonesia Hari Ini (Bahasa Indonesia)
Indonesia Today (Bahasa Inggris)
VOI Biztalk (Bahasa Indonesia, dialog bisnis)
VOI juga menyelenggarakan sejumlah program khusus seperti Diplomatic Forum, forum diskusi yang mempertemukan para duta besar, tokoh kementerian, atau akademisi untuk membahas isu-isu tertentu.[22]
VOI pernah menyiarkan Bilik Sastra (2011[23]–2018) dan Guratan Pena (2018–2020), acara yang menyiarkan karya-karya sastra buatan diaspora Indonesia, terutama cerita pendek. Penghargaan untuk karya-karya terbaik tercatat pernah diselenggarakan dengan nama Bilik Sastra VOI Award selama lima kali pada tahun 2012–2017, serta Anugerah Sastra VOI pada tahun 2018 dan 2019. Di samping itu, VOI sempat mengadakan kuis berhadiah kunjungan ke Indonesia setiap tahunnya.[24]
Penerimaan
Pada Agustus 2020, tercatat lebih dari 77.000 pendengar VOI dari seluruh dunia, naik tiga kali lipat dibandingkan tahun 2017 yang jumlahnya tak lebih dari 28.000 pendengar. Pada tahun 2019, mayoritas pendengar daring berasal dari Rusia, Tiongkok, dan Indonesia; di 2020 urutannya menjadi Indonesia, Tiongkok, dan Rusia.[24]
↑The Voice of Indonesia (Edisi 1-3). Broadcasting Service of the Ministry of Information of the Republic of Indonesia (Layanan Penyiaran Departemen Penerangan RI). 1960. Diakses tanggal 10 September 2023.
↑Afgiansyah (2007) Repositioning VOI. The Hague: The Hague University
Artikel ini tidak memiliki kotak info. Anda mungkin ingin menambahkan sebuah kotak info, agar artikel menyerupai tampilan standar untuk topik ini. Halaman pembicaraan ini mungkin berisi spanduk proyek relevan yang menyediakan kotak info standar untuk jenis artikel ini. Lihat pula Kategori:Templat kotak info dan Wikipedia:ProyekWiki Kotak info.