Perusahaan ini pernah mengalami dua kegagalan bendungan amang di Brazil, yakni di Mariana pada tahun 2015, dan di Brumadinho pada tahun 2019. Bencana bendungan Brumadinho menyebabkan perusahaan ini tidak lagi diizinkan untuk mengoperasikan delapan bendungan amang di Minas Gerais,[9][10] sehingga harga saham perusahaan ini turun hampir 25%.[11]
Operasi saat ini
Walaupun terutama beroperasi di Brazil, Vale juga beroperasi di 30 negara lain di seluruh dunia.[12]
Tambang Besi Carajás milik perusahaan ini di Pará, foto satelit NASA tahun 2009
Bijih besi: Vale adalah produsen bijih besi terbesar di dunia.[13] Penjualan bijih besi halus dan pelet menyumbang 65% dari total pendapatan perusahaan ini pada tahun 2014. Pada tahun 2014, Vale menjual 256 juta metrik ton bijih besi halus dan 44 juta metrik ton bijih besi pelet.[8] Tambang Mariana milik perusahaan ini adalah tambang bijih besi terbesar kesembilan di dunia pada tahun 2014, dengan produksi sebesar 39 juta metrik ton.[14] Tambang Serra Sul / S11D milik perusahaan ini adalah tambang bijih besi dengan jumlah cadangan terbesar di dunia. Tambang bijih besi milik perusahaan ini terutama terletak di Brazil.[8]
Nikel: Vale adalah produsen nikel terbesar di dunia.[13] Penjualan nikel menyumbang 17% dari total pendapatan perusahaan ini pada tahun 2014. Pada tahun 2014, Vale menjual 272.000 metrik ton nikel.[8] Perusahaan ini memiliki tambang nikel di Kanada, Indonesia, Kaledonia Baru, dan Brazil. Tesla terutama membeli nikel yang dihasilkan oleh perusahaan ini.[8] Pada bulan Mei 2022, Vale menyatakan bahwa mereka telah meneken kesepakatan jangka panjang untuk memasok nikel ke Tesla. Kesepakatan tersebut meliputi pasokan nikel Kelas 1 rendah karbon yang Tesla butuhkan untuk baterai kendaraan listrik buatannya.[15]
Pupuk, terutama fosfat dan nitrogen: Penjualan pupuk menyumbang 6% dari total pendapatan perusahaan ini pada tahun 2014. Pada tahun 2014, Vale menjual 9 juta metrik ton pupuk.[8]
Tembaga: Penjualan konsentrat tembaga menyumbang 4% dari total pendapatan perusahaan ini pada tahun 2014. Pada tahun 2014, Vale menjual 353.000 metrik ton tembaga. Perusahaan ini memiliki tambang tembaga di Brazil, Canada, Chile, dan Zambia.[8]
Mangan dan logam paduan: Penjualan mangan dan logam paduan menyumbang 1% dari total pendapatan perusahaan ini pada tahun 2014. Pada tahun 2014, Vale menjual 2 juta metrik ton mangan dan logam paduan.[8]
Batu bara: Penjualan batu bara menyumbang 2% dari total pendapatan perusahaan ini pada tahun 2014. Pada tahun 2014, Vale menjual 7,5 juta metrik ton batu bara. Perusahaan ini memiliki tambang batu bara di Australia dan Mozambik.[8]
Logistik
Jalur rel
Mulai tahun 2000 hingga 2006, Vale berinvestasi lebih dari $1,3 miliar untuk mengakuisisi lebih dari 361 unit lokomotif dan sekitar 14.090 unit gerbong barang guna mengangkut bijih besi dan kargo biasa.[8] Sejumlah lokomotif dibeli dalam kondisi bekas, tetapi setidaknya 55 unit lokomotif dibeli dalam kondisi baru, yakni EMD SD70M, yang masing-masing unit dibeli dengan harga sekitar $2 juta.[16][17]
Setelah investasi tersebut, Vale memiliki lebih dari 800 unit lokomotif dan lebih dari 35.000 unit gerbong barang.[8]
Jalur rel Ferrovia Centro-Atlântica dan Vitória a Minas
Jalur rel Vitória a Minas — Vale mengoperasikan jalur rel 1.000mm (3ft3+3⁄8in) sepanjang 905km ini selama 30 tahun (hingga tahun 2027) untuk mengangkut besi dari Iron Quadrangle di Minas Gerais ke Pelabuhan Tubarão di Espírito Santo. Jalur rel ini juga digunakan untuk mengangkut 1,1 juta orang penumpang pada tahun 2006.
Jalur rel Carajás — Vale mengoperasikan jalur rel 1.600mm (5ft3in) sepanjang 892km ini hingga tahun 2027 untuk menghubungkan tambang bijih besi Carajás di Pará ke Ponta da Madeira di Maranhão.
Ferrovia Centro-Atlântica[18] — Vale mengendalikan jalur rel ini hingga tahun 2026 melalui anak usahanya, FCA. Jalur rel 1.000mm (3ft3+3⁄8in) sepanjang 7.000km ini membentang di enam negara bagian Brazil. Jalur rel ini awalnya dimiliki RFFSA.
Vale juga memiliki sejumlah saham dari perusahaan perkeretaapian di Mozambik dan Malawi melalui Nacala Logistics Corridor.[19]
Pelabuhan dan terminal peti kemas
Brazil
Pada tanggal 5 Februari 2019, pengadilan Minas Gerais memerintahkan Vale untuk menghentikan penggunaan dari delapan bendungan amangnya, termasuk Bendungan Laranjeiras di Brucutu.[9]
Pelabuhan Tubarão — Vale memiliki dan mengoperasikan pelabuhan yang terletak di Vitória, Brazil ini.[20] Pelabuhan ini adalah pelabuhan embarkasi bijih besi terbesar di dunia.[21] Sekitar 80 juta metrik ton bijih besi (30% dari total produksi tahunan perusahaan ini) dikirim melalui pelabuhan ini.[8]
Pelabuhan Sepetiba — Vale mengoperasikan dua terminal di pelabuhan yang terletak di Rio de Janeiro ini. Vale mengirim sekitar 60 juta metrik ton bijih besi melalui pelabuhan ini.
Vale juga mengoperasikan dua terminal di Sergipe dan dua terminal lain di Espírito Santo.
Malaysia
Teluk Rubiah Maritime Terminal (TRMT) di Perak. Dioperasikan sebagai pusat distribusi bijih besi untuk wilayah Asia Pasifik.
Kapal
Vale juga berekspansi ke bisnis perkapalan dengan memesan 35 unit kapal Very Large Ore Carrier (VLOC) untuk mengangkut bijih besi dari/ke Amerika Selatan dan Asia. Kapal sepanjang 362-meter (1.188ft) dan seberat 400,000 DWT tersebut adalah kapal kargo curah kering terbesar di dunia. Kapal pertama, Vale Brasil, mulai dioperasikan pada bulan Maret 2011.[22]
Energi
Vale juga berbisnis di bidang pembangkitan listrik terutama untuk memenuhi kebutuhan dari tambangnya. Pada tahun 2005, perusahaan ini membutuhkan listrik sebanyak 16,9 TWh atau sekitar 4,4% dari total kebutuhan listrik di Brazil.[butuh rujukan][23][24]
Vale memiliki sejumlah saham dari delapan unit PLTA, yang mana tujuh di antaranya terletak di Minas Gerais. Total investasi dari Vale untuk PLTA pun mencapai $880 juta.[25] Perusahaan ini juga berencana membangun sebuah PLTU berkapasitas 600 MW di Pará.[26]
Eyewitness Survivor Account and video. "Brumadinho: novas imagens revelam detalhes da tragédia, Jornol O Globo, February 1, 2019. Retrieved February 10, 2019.