Udug (Sumeria: 𒌜code: sux is deprecated ), yang kelak dikenal dalam Akkadia sebagai utukku, adalah golongan iblis yang ambigu dari mitologi Mesopotamia kuno yang ditemukan dalam literatur Sumeria, Akad, Asyur, dan Babilonia. Mereka lahir di dunia bawah (Kur), sebagai makhluk yang berbeda dari dingir (Anu-nna-Ki dan Igigi), dan pada umumnya bersifat jahat, meskipun salah satu anggota iblis tersebut (Pazuzu) bersedia berselisih baik dengan sesama iblis maupun dengan para dewa, walau ia tetap digambarkan sebagai entitas yang memusuhi manusia. Istilah ini secara umum bermakna ganda dan kadang-kadang digunakan untuk merujuk pada iblis secara keseluruhan alih-alih jenis iblis tertentu. Belum ada representasi visual dari udug yang berhasil diidentifikasi, namun berbagai deskripsinya mengaitkan udug dengan ciri-ciri yang sering kali diberikan kepada iblis Mesopotamia kuno lainnya: bayangan gelap, ketiadaan cahaya di sekitarnya, racun, dan suara yang memekakkan telinga. Teks-teks Mesopotamia kuno yang masih bertahan yang memberikan instruksi untuk mengusir udug jahat dikenal sebagai teks-teks Udug Hul. Teks-teks ini menekankan peran udug jahat dalam menyebabkan penyakit dan peran pengusir setan dalam menyembuhkan penyakit tersebut.
Penampilan
Hanya sedikit deskripsi mengenai udug yang diketahui[1] dan, menurut Gina Konstantopoulos, tidak ada representasi bergambar atau visual dari mereka yang pernah diidentifikasi.[1] Namun, menurut Tally Ornan, beberapa segel silinder Mesopotamia menunjukkan sesosok figur yang membawa tongkat kerajaan di samping iblis penjaga yang baik hati, Lama, yang mungkin dapat diidentifikasi sebagai udug.[2] F. A. M. Wiggerman berpendapat bahwa citra Lama dan udug sering digunakan untuk menjaga pintu masuk.[3]
Dalam sebuah mantra dwibahasa yang ditulis baik dalam bahasa Sumeria maupun Akkadia, dewa Asalluḫi mendeskripsikan "udug jahat" kepada ayahnya, Enki:[1]
Wahai ayahandaku, udug yang keji [udug hul], wujudnya penuh marabahaya dan perawakannya menjulang tinggi,
Meski ia bukanlah sesosok dewa (dingir), pekiknya membahana dan pendar auranya [melam] teramat dahsyat,
Ia dirundung gulita, bayangannya sepekat malam dan tiada setitik pun cahaya di dalam raganya,
Ia senantiasa bersembunyi, bernaung dalam persembunyian, [ia] tak pernah berdiri dengan angkuh,
Cakar-cakarnya menitikkan empedu, ia menjejakkan bisa beracun di setiap langkahnya,
Sabuknya tak pernah terlepas, lengan-lengannya mengungkung,
Ia membanjiri sasaran amarahnya dengan air mata, di seantero negeri, raung tempur-[nya] tak tertahankan.[1]
Deskripsi ini sebagian besar mengabaikan seperti apa rupa udug sebenarnya, dan lebih berfokus pada kemampuan supernaturalnya yang menakutkan.[1] Semua karakteristik yang dianggap berasal dari "udug jahat" di sini adalah ciri-ciri umum yang sering dikaitkan dengan berbagai jenis iblis Mesopotamia kuno: bayangan gelap, ketiadaan cahaya di sekitarnya, racun, dan suara yang memekakkan telinga.[1] Deskripsi lain mengenai udug tidak konsisten dengan penjelasan ini dan sering kali saling bertentangan.[4] Konstantopoulos mencatat bahwa "udug didefinisikan oleh apa yang bukan dirinya: iblis tersebut tidak memiliki nama dan wujud, bahkan pada kemunculan-kemunculan awalnya."[1] Sebuah mantra dari Periode Babilonia Lama (ca 1830 – ca 1531 SM) mendefinisikan udug sebagai "dia yang, sejak permulaan, tidak dipanggil dengan nama... dia yang tidak pernah muncul dengan wujud tertentu."
Salah satu udug tersebut mungkin adalah Hanbi.
Dalam mitologi Sumeria dan Akkadia (serta mitologi Mesopotamia pada umumnya), Hanbi atau Hanpa (lebih umum dikenal dalam literatur Barat) adalah dewa kejahatan, dewa dari segala kekuatan jahat, dan ayah dari Pazuzu. Terlepas dari hubungannya dengan Pazuzu, sangat sedikit yang diketahui tentang sosok ini.[1]
Dari semua iblis Mesopotamia, udug adalah yang paling tidak terdefinisi dengan jelas.[1] Kata ini pada awalnya tidak mengisyaratkan apakah iblis yang dimaksud itu baik atau jahat.[6][7] Dalam salah satu dari dua silinder Gudea, Raja Gudea dari Lagash (memerintah ca 2144–2124 SM) meminta seorang dewi untuk mengirimkan "udug yang baik" guna melindunginya dan seorang lama untuk membimbingnya.[6][8] Teks-teks Mesopotamia kuno yang masih bertahan yang memberikan instruksi untuk melakukan pengusiran setan sering kali memanggil "udug yang baik" untuk memberikan perlindungan atau bantuan lain saat pengusiran setan sedang dilakukan.[9] Namun, teks-teks magis Mesopotamia juga menyebutkan "udug jahat" tertentu serta "udug" dalam bentuk jamak, yang juga disebut sebagai makhluk jahat.[6] Frasa untuk "udug jahat" adalah Udug Hul dalam bahasa Sumeria dan Utukkū Lemnutū dalam bahasa Akkadia.[10] Udug jahat sering kali menjadi vektor untuk penyakit fisik dan mental.[11]
Kata udug itu sendiri tanpa penjelas biasanya bermakna udug jahat.[11] Teks-teks pengusiran setan kadang-kadang memanggil "udug yang baik" untuk melawan "udug jahat".[12] Sebuah teks dari Periode Babilonia Lama (ca 1830 – ca 1531 SM) memohon, "Semoga udug jahat dan galla jahat menyingkir. Semoga udug yang baik dan galla yang baik hadir."[13][14] Terkadang kata udug bahkan tidak merujuk pada iblis tertentu, melainkan berfungsi sebagai istilah payung untuk semua iblis yang berbeda dalam demonologi Mesopotamia.[4] Karena kapasitas udug untuk berbuat baik maupun buruk, Graham Cunningham berpendapat bahwa "istilah daimon tampaknya lebih disukai" daripada istilah "iblis" (demon), yang biasanya digunakan untuk mendeskripsikannya.[15]
Mantra Udug hul
Kanon pengusiran setan udug jahat dikenal sebagai udug-ḫul, yang perluasan Akkadianya (dikenal dalam bahasa Akkadia sebagai utukkū lemnūtu) terdiri dari enam belas lauh (tablet).[16][17] Tradisi mantra Udug Hul mencakup keseluruhan sejarah Mesopotamia kuno;[18] mantra-mantra tersebut termasuk di antara teks-teks paling awal yang diketahui ditulis dalam bahasa Sumeria pada milenium ketiga SM, serta termasuk di antara teks-teks Mesopotamia terakhir dari zaman kuno akhir, yang ditulis dalam huruf paku dengan transliterasi Yunani.[18] Mantra-mantra udug-ḫul pada awalnya monolingual dan ditulis dalam bahasa Sumeria,[18] tetapi versi-versi terawal ini kemudian diubah menjadi teks dwibahasa yang ditulis baik dalam bahasa Sumeria maupun Akkadia.[18] Mantra-mantra ini juga diperluas dengan tambahan yang hanya ditulis dalam bahasa Akkadia tanpa pendahulu bahasa Sumeria.[18] Mantra-mantra udug-ḫul menekankan peran udug jahat sebagai penyebab penyakit[19] dan berfokus terutama pada upaya mengusir udug jahat untuk menyembuhkan penyakit tersebut.[20] Teks-teks tersebut sering kali mengandung referensi ke mitologi Mesopotamia, seperti mitos Turunnya Inanna ke Dunia Bawah.[21]
Konstantopoulos, Gina (2017), "Shifting Alignments: The Dichotomy of Benevolent and Malevolent Demons in Mesopotamia", dalam Bhayro, Siam; Rider, Catharine (ed.), Demons and Illness from Antiquity to the Early-Modern Period, Leiden, The Netherlands and Boston, Massachusetts: Koninklijke Brill, hlm.19–38, ISBN978-90-04-33854-8
Bane, Theresa (2014-01-10). Encyclopedia of Demons in World Religions and Cultures. McFarland. p. 157. ISBN 978-0-7864-8894-0.
Sumerian Deities". Sarissa.org. Archived from the original on 2010-12-20. Retrieved 2010-09-12.
Stub icon
Simon, Ed (2022-02-22). "Chapter 1". Pandemonium: A Visual History of Demonology. Abrams. ISBN 978-1-64700-389-0.
Lambert, Wilfred George (1970). "Inscribed Pazuzu Heads from Babylon". Forschungen und Berichte. 12: 41–T4. doi:10.2307/3880639. JSTOR 3880639.
Wiggermann, p. 372.
Wiggermann, p. 373.
Maiden 2018, p. 109.
Maiden 2018, p. 99.
Maiden 2018, p. 100.
Heeßel 2011, p. 358.
Heeßel 2011, p. 359.
Wiggermann, p. 374.
Heeßel 2011, p. 361.
Wiggermann 2007.
"Pendant with the head of Pazuzu". www.metmuseum.org. Retrieved 2022-05-06.
Heeßel 2011, p. 362.
Mesopotamian Medicine and Magic 2019, p. 273.
Maiden 2018, p. 106.
Mesopotamian Medicine and Magic 2019, p. 272.
Maiden 2018, p. 88.
Niederreiter 2018.
Noegel 2018.
Horowitz, Wayne (2010). A Woman of Valor: Jerusalem Ancient Near Eastern Studies in Honor of Joan Goodnick Westenholz. CSIC Press. p. 66. ISBN 978-8400091330.
Maiden 2018, p. 87.
Mesopotamian Medicine and Magic 2019, p. 274.
El-Kilany 2017, p. 1.
El-Kilany 2017, p. 2.
Mesopotamian Medicine and Magic 2019, p. 284.
El-Kilany 2017, p. 3.
Mesopotamian Medicine and Magic 2019, p. 285.
Heeßel 2011, p. 366.
"Statuette of the demon Pazuzu with an inscription". Louvre website. Archived from the original on 2009-06-28. Retrieved 2010-05-18.
"Pazuzu". World History Encyclopedia. Retrieved 2021-11-24.
Mesopotamian Medicine and Magic 2019, p. 275.
Mesopotamian Medicine and Magic 2019, p. 276.
Mesopotamian Medicine and Magic 2019, p. 277.
Guiley, Rosemary (2009). The Encyclopedia of Demons and Demonology. Infobase Publishing. p. 197. ISBN 978-1-4381-3191-7.Verderame, Lorenzo (2020). 'Evil from an Ancient Past and the Archaeology of the Beyond: An Analysis of the Movies The Exorcist (1973) and The Evil Dead (1981)', in L. Verderame and A. Garcia-Ventura (eds) Receptions of the Ancient Near East in Popular Culture and Beyond. Lockwood Press. pp. 159–179. ISBN 978-1-948488-24-2.
Lambert, Wilfred G. (1980), "Kilili", Reallexikon der Assyriologie, retrieved 2022-05-17
Beaulieu, Paul-Alain (2003). The pantheon of Uruk during the neo-Babylonian period. Leiden Boston: Brill STYX. ISBN 978-90-04-13024-1. OCLC 51944564.
Finkel, Irving L. (2021). The first ghosts: most ancient of legacies. London. ISBN 978-1-5293-0326-1. OCLC 1090201481.
Wiggermann, Frans (2011-01-01). "The Mesopotamian Pandemonium". SMSR 77/2. Retrieved 2022-05-17.
Wiggermann, Frans (2007). "Some Demons of Time and their Functions in Mesopotamian Iconography". In Groneberg, Brigitte; Spieckermann, Hermann (eds.). Beihefte zur Zeitschrift für die alttestamentliche Wissenschaft. Berlin, New York: Walter de Gruyter. pp. 102–116. doi:10.1515/9783110204155.1.102. ISBN 978-3-11-019463-0. ISSN 0934-2575.
This name is commonly translated as "exterminator" or "obliterating one" due to being most likely derived from the Akkadian verb pašāṭum, "to erase".[8] In another lexical list its Sumerian equivalent is KA-im-ma.[9]
While the being designated by this name could be regarded as a demon, she belonged to the category of demonic animals, possibly representing a demonized owl.[11]
Frans Wiggermann argues this likely indicates Lamashtu was also regarded as a lil, as Pazuzu was believed to have power over her.[16] However, Eric Schmidtchen notes it can be argued that in standardized lists of demons they are divided in three groups, utukku, lil and KAMAD.[17] The last of them is distinct from the lil and encompasses Lamashtu and related figures like aḫḫazu and labāṣu.[18]
Bacaan lanjutan
Simon, ed (2022-02-22). "Chapter 1". Pandemonium: A Visual History of Demonology. Abrams. ISBN 978-1-64700-389-0.
Lambert, Wilfred George (1970). "Inscribed Pazuzu Heads from Babylon". Forschungen und Berichte. 12: 41-T4. DOI: 10.2307/3880639. JSTOR 3880639.
Bane, Theresa (2014-01-10). Encyclopedia of Demons in World Religions and Cultures. McFarland. p. 157. ISBN 978-0-7864-8894-0.