Artikel ini kekurangan informasi dan perlu dikembangkan agar memenuhi standar Wikipedia. Tolong kembangkan artikel dengan melengkapi informasi yang relevan. Rincian lebih lanjut mungkin tersedia di halaman pembicaraan.
Menurut koordinator demonstrasi 11 April 2022 ada empat tuntutan yang disuarakan, yaitu:[3]
Mendesak dan menuntut wakil rakyat agar mendengarkan dan menyampaikan aspirasi rakyat bukan aspirasi partai.
Mendesak dan menuntut wakil rakyat untuk menjemput aspirasi rakyat sebagaimana aksi massa yang telah dilakukan dari berbagai daerah dari tanggal 28 Maret 2022 sampai 11 April 2022.
Mendesak dan menuntut wakil rakyat untuk tidak mengkhianati konstitusi negara dengan melakukan amendemen, bersikap tegas menolak penundaan pemilu atau masa jabatan tiga periode.
Mendesak dan menuntut wakil rakyat untuk menyampaikan kajian disertai 18 tuntutan mahasiswa kepada presiden yang sampai saat ini belum terjawab.
Di Sumatera Utara, unjuk rasa besar-besar ditiadakan. Sebab, surat izin unjuk rasa diabaikan oleh kepolisian. Unjuk rasa hanya dilaksanakan dengan damai di depan gedung DPRD Kota Medan, Universitas Islam Sumatera Utara, Lapangan Merdeka, dan DPRD Provinsi Sumatera Utara.
Aksi tersebut awalnya direncanakan berlangsung di depan Kantor Wali Kota Medan, Kantor Gubernur Sumut, Bundaran Majestik, DPRD Sumut dan DPRD Medan. Namun sejak pukul 14.30, yang kemudian disusul hujan deras, massa tak kunjung datang.
Akhirnya, ketua BEM SI Kaharudin diundang oleh media untuk menjadi narasumber. Sayangnya, ia membuat blunder total dengan mengatakan bahwa zaman orde baru rakyat memperoleh kebebasan dan kesejahteraan. Akibat pernyataannya itu, muncul beragam kritikan dari rakyat.[4]