Ubi nuabosi memiliki ukuran yang lebih besar dan panjang daripada ubi pada umumnya. Ubi nuabosi juga memiliki 5 varietas, yaitu waitero (ubi kayu kuning), waibara (ubi kayu putih), toko rheko, tana ai, dan terigu (berbeda dengan terigu gandum). Di antara 5 varietas tersebut, toko rheko, tana ai, dan terigu adalah varietas yang paling banyak dibudidayakan masyarakat Flores, karena tiga varietas inilah yang asli dikembangkan masyarakat Flores.[2][3]
Ubi nuabosi sangat khas, karena bila dikembangkan di daerah lain (termasuk masih di wilayah Nusa Tenggara Timur) maka produksi dan cita rasanya tidak sebaik di tempat asalnya di Flores. Menurut tim peneliti dari Udana Kupang, struktur tanah dan kandungan unsur hara memengaruhi pertumbuhan ubi nuabosi, sehingga berdampak pada kandungan dan teksturnya.[2]
Tekstur
Kulit luarnya berwarna merah muda agak kecoklatan, umbinya berwarna putih bersih tanpa serat, rasa umbinya manis dan empuk serta tahan jika disimpan. Sehingga wajar jika harga ubi nuabosi lebih mahal.[4]