Era ini dimulai dengan Konsili Nicea Pertama pada tahun 325 M, yang diselenggarakan oleh kaisar Konstantinus I setelah kemenangannya atas Licinius dan konsolidasi kekuasaannya atas Kekaisaran Romawi. Nicea I mengumumkan Kredo Nicea yang dalam bentuk aslinya dan sebagaimana dimodifikasi oleh Konsili Konstantinopel Pertama tahun 381 dipandang oleh semua konsili selanjutnya sebagai batu ujian ortodoksi tentang doktrin Trinitas.
Gereja Ortodoks Timur dan Gereja Katolik Roma menerima ketujuh konsili tersebut sebagai konsili oikumenis yang sah. Gereja Ortodoks Oriental hanya mengakui tiga konsili pertama sebagai konsili oikumenis yang sah, sedangkan gereja-gereja timur hanya mengakui keabsahan dua konsili pertama dari tujuh konsili ini. Terdapat pula satu tambahan konsili (Konsili Quinisextum), yang diselenggarakan antara Konsili Kelima dan Keenam (pada tahun 692Masehi). Konsili tersebut diakui sebagai konsili yang oikumenis oleh Gereja Ortodoks Timur saja, tetapi Gereja Ortodoks Timur tidak menomori konsili tersebut, dan hanya menghitungnya sebagai lanjutan dari Konsili Oikumenis Keenam. Gereja Katolik Roma tidak mengakui keabsahan Konsili Quinisextum,[3][4] tetapi Gereja Katolik dan beberapa ahli dalam Gereja Ortodoks Timur mengakui adanya beberapa konsili lanjutan pasca tujuh konsili oikumenis pertama ini.
Arianisme, kodrat Kristus, perayaan Paskah, penahbisan para kasim, pelarangan berlutut di hari Minggu dan sejak Paskah hingga Pentakosta, validitas baptisan oleh para bidah, mantan Kristen, pelbagai hal lain.
Dewan pejabat pemerintah dan senator, dipimpin oleh bangsawan Anatolius
520
Penilaian yang dikeluarkan pada Konsili Efesus Kedua pada tahun 449, dugaan pelanggaran Uskup Dioscorus dari Aleksandria, hubungan antara keilahian dan kemanusiaan Kristus, banyak perselisihan yang melibatkan para uskup.
↑Slobodskoy, Serafim Alexivich (1992). "Short Summaries of the Ecumenical Councils". The Law of God. Diterjemahkan oleh Price, Susan. Jordanville, New York: Holy Trinity Monastery. ISBN978-0-88465-044-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 June 2018. Diakses tanggal 10 March 2019– via OrthodoxPhotos.com. They renounced their false opinions and died in peace with the Church." (Rusia: "отказались от своих ложных мнений и скончались в мире с Церковью.code: ru is deprecated )
Original: Слободской, Серафим Алексеевич (1957). "Краткие сведения о вселенских соборах"[Short Summaries of the Ecumenical Councils]. Закон Божий [The Law of God] (dalam bahasa Rusia) (dipublikasikan 1966). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 July 2017. Diakses tanggal 10 March 2019– via Православная энциклопедия Азбукаверы | православный сайт [Orthodox Encyclopedia: ABC of faith | Orthodox website].
↑Diehl, Charles (1923). "1: Leo III and the Isaurian Dynasty (717–802)". Dalam Tanner, J.R.; Previté-Orton, C.W.; Brooke, Z.N. (ed.). The Cambridge Medieval History. Vol.IV: The Eastern Roman Empire (717–1453). Cambridge: Cambridge University Press. hlm.21. ISBN9785872870395. Diakses tanggal 2016-02-01. ... Tarasius... skilfully put forward the project of an Ecumenical Council which should restore peace and unity to the Christian world. The Empress [...] summoned the prelates of Christendom to Constantinople for the spring of 786.... Finally the Council was convoked at Nicaea in Bithynia; it was opened in the presence of the papal legates on 24 September 787. This was the seventh Ecumenical Council.
↑Schaff's Seven Ecumenical Councils: Introductory Note to Council of Trullo: "From the fact that the canons of the Council in Trullo are included in this volume of the Decrees and Canons of the Seven Ecumenical Councils it must not for an instant be supposed that it is intended thereby to affirm that these canons have any ecumenical authority, or that the council by which they were adopted can lay any claim to being ecumenical either in view of its constitution or of the subsequent treatment by the Church of its enactments."