Tsurugaoka Hachimangū (鶴岡八幡宮code: ja is deprecated ) adalah kuil Shinto terpenting di kota Kamakura, Prefektur Kanagawa, Jepang. Kuil ini memiliki dua museum dan merupakan pusat kebudayaan kota dengan menyelenggarakan banyak festival penting.
Sepanjang sejarahnya, kuil ini berfungsi sebagai kuil Hachiman, dan di tahun-tahun berikutnya sebagai kuil BuddhaTendai yang khas dengan arsitektur Buddha Jepang.[1] Pendeta Buddha terkenal Nichiren Daishonin konon pernah mengunjungi kuil ini untuk menegur kami Hachiman tepat sebelum beliau dieksekusi di pantai Shichirigahama.
Sebatang pohon ginkgo berusia seribu tahun di dekat pintu masuknya tumbang saat diterjang badai pada tanggal 10 Maret 2010. Tsurugaoka Hachimangu kini masih terus beroperasi sebagai salah satu Properti Kebudayaan Penting Jepang.
Sejarah
Kuil ini awalnya dibangun pada tahun 1063 di Zaimokuza sebagai cabang dari Iwashimizu Hachimangū, di lokasi yang kini ditandai dengan keberadaan kuil kecil Moto Hachiman. Kuil ini didedikasikan untuk Kaisar Ōjin (yang didewakan dengan nama Hachiman, kami pelindung para tentara), ibundanya Permaisuri Jingu, dan istrinya Hime-gami. Minamoto no Yoritomo, pendiri Keshogunan Kamakura, memindahkan kuil ke lokasi saat ini pada tahun 1191, untuk mengundang Hachiman tinggal di lokasi yang baru agar melindungi pemerintahannya.[1] Kuil ini mengalami kebakaran besar pada tanggal 14 November 1280, di mana beberapa artefak dicuri dari ruang suci bagian dalam.
Pembunuhan Minamoto no Sanetomo
Salah satu peristiwa sejarah yang terkait dengan kuil ini adalah pembunuhan Sanetomo, putra terakhir Minamoto no Yoritomo.
Di tengah salju lebat pada malam tanggal 12 Februari 1219 (Jōkyū 1, hari ke-26 bulan ke-1),[2]shōgun Minamoto no Sanetomo sedang turun dari Tsurugaoka Hachimangū setelah turut serta dalam upacara perayaan pengangkatannya menjadi Udaijin.[3] Keponakannya, Kugyō, putra shōgun kedua Minamoto no Yoriie, keluar dari dekat tangga batu kuil, lalu tiba-tiba menyerang dan membunuh Sanetomo; ia berharap dengan perbuatan ini ia dapat menjadi shōgun.[3] Pembunuh itu sering digambarkan bersembunyi di balik pohon ginkgo raksasa, tetapi tidak ada teks kontemporer yang menyebutkan pohon tersebut; detail ini kemungkinan merupakan rekaan di zaman Edo, yang pertama kali muncul dalam Shinpen Kamakurashi karya Tokugawa Mitsukuni. Karena perbuatannya, Kugyō sendiri dipenggal kepalanya beberapa jam kemudian,[3] sehingga mengakhiri garis keturunan Seiwa Genji dari klan Minamoto beserta kekuasaan mereka di Kamakura secara tiba-tiba.
Kuil Shinto dan Buddha
Tsurugaoka Hachimangū dan dankazura pada masa Edo. Terlihat jelas banyak kuil Buddha di sana, yang kemudian dihancurkan.
Tsurugaoka Hachimangū sekarang hanya merupakan kuil Shinto, tetapi selama hampir 700 tahun sejak pendiriannya hingga Perintah Pemisahan Kami dan Buddha (神仏判然令code: ja is deprecated ) tahun 1868, namanya adalah Tsurugaoka Hachimangū-ji (鶴岡八幡宮寺code: ja is deprecated ) dan juga berfungsi sebagai kuil Buddha, salah satu yang tertua di Kamakura.[4]SinkretismeBuddhisme dan Shintoisme di kompleks kuil seperti Tsurugaoka, yang disebut jingū-ji, merupakan sesuatu yang lumrah selama berabad-abad hingga rezim Meiji memutuskan hal ini harus diubah karena alasan politik.[5] Menurut teori honji suijaku, kami Jepang sebenarnya hanyalah manifestasi lokal dari Buddha yang universal, dan Hachiman khususnya adalah salah satu dewa sinkretis paling awal dan paling populer. Sejak abad ke-7, Hachiman dipuja bersama dengan Miroku Bosatsu di tempat-tempat seperti Usa.[6]
Kebijakan pemisahan (shinbutsu bunri) adalah penyebab langsung dari kerusakan serius pada aset budaya penting. Karena pencampuran kedua agama sekarang dilarang, kuil Shinto dan Buddha harus memindahkan sebagian aset mereka, sehingga merusak integritas warisan budaya mereka dan mengurangi nilai sejarah dan ekonomi dari properti mereka.[4] Patung Niō (仁王code: ja is deprecated ) raksasa milik Tsurugaoka Hachimangū (sepasang patung kayu penjaga yang biasanya ditemukan di gerbang kuil), karena merupakan objek pemujaan Buddha sehingga menjadi ilegal di tempatnya, harus dijual ke Jufuku-ji, di mana mereka masih eksis hingga sekarang.[7] Kuil ini juga harus menghancurkan bangunan-bangunan yang terkait dengan Buddhisme, termasuk shichidō garan (七堂伽藍code: ja is deprecated ) (kompleks kuil Buddha lengkap yang terdiri dari tujuh bangunan), menara tahōtō, dan midō (御堂code: ja is deprecated ), aula pemujaan seorang Buddha.[4]
Dalam banyak hal penting, Tsurugaoka Hachimangū menjadi tak terawat pada tahun 1868 sebagai konsekuensi dari kebijakan Era Meiji ini. Reformasi ortodoks yang kaku dan dipaksakan pada awal periode Meiji ini jelas dimaksudkan untuk memengaruhi Buddhisme dan Shinto. Namun, struktur dan karya seni kuil kuno ini belum dianggap sebagai elemen penting dari warisan budaya Jepang. Yang tersisa untuk dikunjungi saat ini hanyalah sebagian dari kuil aslinya.
Era Meiji-Showa
Dari tahun 1871 hingga 1946, Tsurugaoka secara resmi ditetapkan sebagai salah satu kokuhei-chūsha (国幣中社code: ja is deprecated ), yang berarti bahwa kuil ini berada di peringkat menengah dari kuil-kuil penting nasional.
Tata letak kompleks kuil
Torii di pintu masuk kuil. Jembatan lengkung terlihat di sebelah kanan.
Kuil beserta kota secara keseluruhan dibangun dengan menerapkan Fengsui.[8] Lokasi saat ini dipilih dengan cermat sebagai lokasi yang paling menguntungkan setelah berkonsultasi dengan peramal karena terdapat gunung di utara (Hokuzan (北山code: ja is deprecated )), sungai di timur (Namerikawa), jalan raya besar di barat (Kotō Kaidō (古東街道code: ja is deprecated )) dan terbuka ke selatan (di Teluk Sagami).[8] Setiap arah dilindungi oleh dewa: Genbu menjaga utara, Seiryū menjaga timur, Byakko melindungi barat, dan Suzaku di selatan.[8] Pohon dedalu di dekat Kolam Genpei dan pohon catalpa di sebelah Museum Seni Modern masing-masing mewakili Seiryū dan Byakko.[8] Meskipun kuil ini telah mengalami banyak perubahan selama bertahun-tahun, khusus desain dari Yoritomo ini secara garis besarnya masih utuh.[8]
Terdapat jalan lurus sepanjang 1,8 km di depan kuil, yang disebut "Wakamiya Ōji" (若宮大路code: ja is deprecated ). Di jalan masuk (sandō (参道code: ja is deprecated )) Tsurugaoka Hachiman-gū, terdapat tiga torii besar (gerbang Shinto). Gerbang torii yang paling jauh dari kuil disebut Ichi-no-Torii (torii pertama), yang di tengah disebut Ni-no-Torii (torii kedua), dan yang di depan kuil disebut San-no-Torii (torii ketiga).
Saat memasuki area tersebut, setelah San-no-Torii (torii ketiga) terdapat tiga jembatan kecil, dua jembatan datar di kedua pinggir dan satu jembatan lengkung di tengah. Pada masa pemerintahan shogun, hanya ada dua jembatan, satu jembatan biasa dan satu jembatan lengkung, terbuat dari kayu dan dicat merah.[1] Shogun akan meninggalkan rombongannya di sana dan melanjutkan perjalanan sendirian dengan berjalan kaki ke kuil.[1] Jembatan lengkung disebut Akabashi (Jembatan Merah), dan dikhususkan untuknya: rakyat biasa harus menggunakan jembatan datar.[1] Jembatan-jembatan tersebut membentang di atas kanal yang menghubungkan dua kolam yang populer disebut Genpei-ike (源平池code: ja is deprecated ) atau "kolam Genpei".[9] Istilah ini berasal dari nama dua keluarga, Minamoto ("Gen") dan Taira ("Pei"), yang saling bertikai pada masa Yoritomo.[9]
Prasasti yang terletak tepat setelah dan di sebelah kiri torii pertama menjelaskan asal usul nama tersebut:[10]
Kolam Genpei
Kolam Genpei (Kolam Minamoto)
Kolam Genpei (Kolam Taira)
Kitab Azuma Kagami menyebutkan bahwa "Pada bulan April 1182, Minamoto no Yoritomo memerintahkan biksu Senkō dan Ōba Kageyoshi untuk menggali dua kolam di dalam kuil." Menurut versi lain dari cerita tersebut, istri Yoritomo, Masako, yang, untuk mendoakan kemakmuran keluarga Minamoto, menggali kolam-kolam ini, dan menanam bunga teratai putih di kolam sebelah timur dan bunga teratai merah di kolam sebelah barat, warna-warna yang merupakan warna klan Taira dan Minamoto. Dari sinilah nama kolam-kolam tersebut berasal.
Warna merah bunga teratai itu konon melambangkan darah klan Taira yang tertumpah.[9]
Kuil-kuil kecil dan infrastruktur
Yui Wakamiya Yōhaijo, tempat seseorang dapat berdoa di Yui Wakamiya tanpa harus pergi ke lokasi aslinya.Pertunjukan musik di Maiden
Tsurugaoka Hachimangū mencakup beberapa kuil kecil, yang terpenting adalah Kuil Junior (Wakamiya (若宮code: ja is deprecated )) di bagian bawah, dan Kuil Senior (Hongū (本宮code: ja is deprecated )) yang berjarak 61 anak tangga di atasnya.[9] Bangunan Kuil Senior saat ini dibangun pada tahun 1828 oleh Tokugawa Ienari, shogun Tokugawa ke-11 dengan gaya Hachiman-zukuri.[11] Tepat di bawah tangga terdapat paviliun terbuka yang disebut Maiden (舞殿code: ja is deprecated ) tempat acara pernikahan, tarian, dan musik diselenggarakan.[9] Beberapa ratus meter di sebelah kanan Kuil Junior terletak Shirahata Jinja (白旗神社code: ja is deprecated ), salah satu Pusaka Nasional.[9] Di sebelah kiri Kuil Senior terdapat Kuil Maruyama Inari (丸山稲荷社code: ja is deprecated ) yang dihiasi banyak torii.[9]
Dekat Shirahata Jinja, juga terdapat Yui Wakamiya Yōhaijo (由比若宮遥拝所code: ja is deprecated ), yang secara harfiah berarti "Tempat Berdoa Jarak Jauh Yui Wakamiya". Fasilitas ini, yang awalnya dibuat untuk kepentingan shogun, memungkinkan seseorang untuk beribadah di Yui Wakamiya (Moto Hachiman) yang jauh tanpa harus pergi jauh ke Zaimokuza.[9][12]
Tepat di sebelah Yui Wakamiya Yōhaijo terdapat dua batu: menuangkan air ke atasnya akan memperlihatkan bentuk kura-kura pada masing-masing batu. Salah satu pulau di kolam Minamoto memiliki sebuah kuil kecil bernama Hataage Benzaiten (旗上弁財天社code: ja is deprecated ) yang didedikasikan untuk dewi Benzaiten, seorang dewi Buddha. Karena alasan ini, kuil kecil tersebut dibongkar pada tahun 1868 pada saat perintah "pemisahan Shinto dan Buddha" (lihat di atas) dan dibangun kembali pada tahun 1956.[9]
Wakamiya Ōji
Dankazura dan pohon sakura yang sedang mekar penuh
Fitur yang tidak biasa dari kuil ini adalah jalan masuk (sandō) sepanjang 1,8 km, yang membentang hingga ke laut di Yuigahama dan juga berfungsi sebagai Adimarga Wakamiya Ōji, jalan utama di Kamakura. Dibangun oleh Minamoto no Yoritomo sebagai tiruan Suzaku Ōji (朱雀大路code: ja is deprecated ) di Kyoto, Wakamiya Ōji dulunya jauh lebih lebar dan diapit oleh kanal sedalam 3 m dan deretan pohon pinus.[13]
Berjalan dari pantai menuju kuil, seseorang akan melewati tiga torii, atau gerbang Shinto, yang masing-masing disebut Ichi no Torii (gerbang pertama), Ni no Torii (gerbang kedua), dan San no Torii (gerbang ketiga). Di antara torii pertama dan kedua terdapat Geba Yotsukado (下馬四つ角code: ja is deprecated ) yang, seperti namanya, merupakan tempat para penunggang kuda harus turun dari kuda mereka sebagai penghormatan kepada Hachiman dan kuilnya.[13]
Sekitar seratus meter lebih jauh, di antara torii kedua dan ketiga, dimulailah dankazura (段葛code: ja is deprecated ), sebuah jalan setapak yang ditinggikan dan diapit oleh pohon sakura. Dankazura secara bertahap menjadi lebih lebar sehingga, dilihat dari kuil, akan tampak lebih panjang dari sebenarnya.[13] Seluruh panjang dankazura berada di bawah administrasi langsung kuil.
Ginkgo raksasa
Ginkgo raksasa sebelum tumbangTunggul pohon ginkgo yang tumbang telah menghasilkan daun
Pohon ginkgo yang berdiri di samping tangga Tsurugaoka Hachimangū, hampir dari pondasinya, dan selalu muncul di hampir setiap lukisan tentang kuil tersebut, tumbang total dan rusak parah pada pukul 4:40 pagi tanggal 10 Maret 2010. Menurut seorang ahli yang menganalisis pohon tersebut, keruntuhan kemungkinan disebabkan oleh pembusukan. Baik tunggul pohon maupun sebagian batangnya yang ditanam kembali di dekatnya telah menghasilkan daun.
Pohon itu dijuluki kakure-ichō (隠れ銀杏code: ja is deprecated , ginkgo yang bersembunyi) karena menurut legenda urban di zaman Edo, seorang pembunuh yang sekarang terkenal bersembunyi di baliknya sebelum menyerang korbannya.
Aktivitas
Yabusame di Tsurugaoka Hachimangū
Tsurugaoka Hachimangū adalah pusat dari banyak kegiatan budaya seperti yabusame (panahan sambil berkuda) maupun kyūdō (panahan tradisional Jepang) yang dipraktikkan di kuil.[9] Kuil ini juga memiliki taman bunga mudan yang luas, tiga kedai kopi, taman kanak-kanak, kantor, dan sebuah dojo. Di dalam kompleksnya terdapat pula dua museum, Museum Pusaka Nasional Kamakura, yang dikelola oleh pemkot Kamakura, dan Museum Seni Modern milik prefektur.
Galeri
Tsurugaoka Hachimangū – kuil Shinto dengan arsitektur Buddhis
Bagian dalam Tsurugaoka Hachimangū
Kuil Inari
Gerbang torii merah di sepanjang jalan menuju kuil Inari
Kamakura Shōkō Kaigijo (2008). Kamakura Kankō Bunka Kentei Kōshiki Tekisutobukku (dalam bahasa Japanese). Kamakura: Kamakura Shunshūsha. ISBN978-4-7740-0386-3. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
Kamiya, Michinori (Agustus 2000). Fukaku Aruku - Kamakura Shiseki Sansaku Vol. 1 (dalam bahasa Japanese). Kamakura: Kamakura Shunshūsha. ISBN4-7740-0340-9. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
Ōnuki, Akihiko (2008). Kamakura. Rekishi to Fushigi wo Aruku (dalam bahasa Japanese). Tokyo: Jitsugyō no Nihonsha. ISBN978-4-408-59306-7. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
Ponsonby-Fane, Richard Arthur Brabazon. (1962). Sovereign and Subject. Kyoto: Ponsonby Memorial Society.