Timon meninggalkan masyarakat (ukiran tahun 1803 untuk karya Shakespeare, Timon of Athens, Babak IV, Adegan 1)
Lahir
ca abad ke-5 SM
Meninggal
Tidak diketahui
Kebangsaan
Athena
Timon dari Athena[butuh rujukan]bahasa Yunani Kuno:Τίμων ὁ Ἀθηναῖοςcode: grc is deprecated , translit.Tímōn ho Athēnaîos, gen. Τίμωνοςcode: grc is deprecated , Tímōnos) adalah seorang warga Athena yang ketenarannya sebagai seorang pembenci umat manusia tumbuh hingga mencapai derajat legendaris. Menurut sejarawan Plutarch, Timon hidup pada masa Perang Peloponnesos (431–404 SM).[1]
Gambaran umum
Menurut Lucian, Timon adalah putra kaya dari Echecratides, yang menghamburkan hartanya demi menyenangkan para sahabat yang menyanjungnya. Namun, ketika hartanya habis, sahabat-sahabat itu meninggalkannya, dan Timon pun terpaksa bekerja di ladang. Suatu hari, ia menemukan sebuah tempayan berisi emas, dan segera para sahabat lamanya kembali datang. Kali ini, ia mengusir mereka dengan gumpalan tanah.
Baik Aristophanes maupun Plato Comicus menyebut Timon sebagai seorang pembenci manusia yang murka, namun ia sangat menghormati Alcibiades, karena ia yakin dengan tepat bahwa Alcibiades kelak akan membawa kehancuran bagi Athena. Sumber lain, yaitu karya PlutarchParallel Lives, juga menyinggung sosok Timon sebagai figur yang kerap dihadirkan dalam karya-karya para penulis Yunani. Plutarch menulis: "Timon adalah seorang Athena, dan ia hidup sekitar masa Perang Peloponnesos, sebagaimana dapat disimpulkan dari lakon-lakon Aristophanes dan Plato. Dalam komedi mereka, ia digambarkan sebagai sosok yang mudah tersinggung dan membenci umat manusia; tetapi meskipun ia menjauhi dan menolak segala bentuk pergaulan dengan sesama manusia..."[1]
Dalam Lysistrata (baris 809–820), paduan suara para perempuan tua menyatakan bahwa meskipun Timon membenci laki-laki, ia tetap bersikap ramah dan santun terhadap perempuan.
Cicero, dalam risalahnya tentang persahabatan De Amicitia, menyebut Timon dari Athena ketika membahas bagaimana persahabatan meresap ke dalam kehidupan setiap orang, bahkan mereka yang dengan gigih menolak kehidupan sosial.[2]
Menurut Strabo (Geografi XVII.9), setelah kekalahannya di Pertempuran Actium (2 September 31 SM), Markus Antonius membangun tempat peristirahatan di ujung sebuah tanjung yang menjorok ke pelabuhan Aleksandria dan menamainya Timonium, merujuk pada Timon dari Athena, karena Antonius menganggap dirinya, seperti Timon, telah ditinggalkan oleh para sahabatnya, dan ingin menghabiskan sisa hidupnya dalam kesunyian.
Dialog Timon atau Sang Pembenci Manusia karya Lucian juga berpusat pada kisah Timon.
Jonathan Swift mengaku memiliki bentuk misantropi yang berbeda dengan Timon dalam sebuah surat kepada Alexander Pope.
William Saxey (wafat 1612), seorang hakim yang terkenal karena kebenciannya terhadap manusia, dijuluki “Timon yang tak tahan melihat manusia.”
Dalam Bab III dari The Confidence-Man, Herman Melville menampilkan seorang pengamat tanpa nama untuk menyoroti kegilaan seorang durjana yang tak mengenal belas kasihan, sebagai contoh yang “dapat membuat Timon sendiri gentar.”
Dalam novel Charlotte BrontëVillette, tokoh utama Lucy Snowe dijuluki Timon oleh sahabatnya, Ginevra Fanshawe, karena sifatnya yang sinis dan tertutup.
Armstrong, A. Macc. "Timon of Athens – A Legendary Figure?", Greece & Rome, Seri ke-2, Vol. 34, No. 1 (April 1987), hlm. 7–11
Graßl, Herbert. "Timon der Misanthrop, social distancing und die Gesellschaft Athens im 5. Jh. v. Chr.", dalam Rafał Matuszewski (penyunting), Being Alone in Antiquity. Greco-Roman Ideas and Experiences of Misanthropy, Isolation and Solitude. de Gruyter, Berlin/Boston 2022, hlm. 139–148.