Pusat intelektual Adorno adalah bidang musik, sebagaimana ia mewariskan tradisi Yahudi dari ayahnya. Pada perkembangan Nasional Sosialis di Jerman memaksanya hijrah ke Amerika.[2] Kemudian bersama sahabatnya Max Horkheimer menulis karya Dialectic of Enlightment sebagai usaha menerangi kegelapan masa modern.[2] Selain itu dia juga menulis artikel tentang budaya industri sebagai keprihatinannya terhadap budaya masyarakat.[2] Adorno kembali ke Jerman pasca huru-hara dan pernah menggantikan Max Horkheimer sebagai direktur Sekolah Frankfurt.[2]
Pada tahun 1923, Adorno diperkenalkan pada Margarete Karplus (berkebangsaan Austria) di Cina yang nanti menjadi istrinya.[2] Kemudian dia berkenlan dengan Walter Benjamin pada tahun 1928.[2] Adorno tipe orang yang setia, bersama istrinya, Gretel, dia menjalani hidup yang mesra.[2]
Pada tahun 1930 Adorno menulis surat kepada Ernst Krenek, seorang musisi dari kalangan Katolik dan membicarakan tentang musik juga bagian dari dirinya saat bersama ibunya.[2] Dia belajar musik kepada Alban Berg di Wina dan bergabung dengan Sosial Research di Frankfurt pada 1930an.[4] Kemudian pada tahun 1940 tinggal di California setelah perang selesai kembali ke Jerman.[4] Pada tahun 1959 memeroleh gelar Profesor bidang Sosiologi dan Filsafat di Frankfurt.[4] Penerbitannya sendiri pada tahun 1973 mengeluarkan karyanya berjudul Negative Dialectic, Minima Moralia (1974), In Search of Wagner (1981), Culture Industri (1991), Quasi Una Fantasia (1992), Hegel: Three Studies (1995), The Stars Down to Earth (1995) dan Aesthetic Theory (1997).[4]
Teori Filsafat
Teori filsafatnya dalam karyanya bersama Max Horkheimer dalam buku berjudul Dialektika Pencerahan diawali dengan pertanyaan;
Mengapa umat manusia, bukannya memasuki kondisi manusiawi yang sejati, malahan tenggelam dalam barbarisme baru?
Salah satu pemikiran Theodor Adorno adalah tentang hubungan antara lingkungan dengan manusia.[4] Adorno menjelaskan bahwa manusia menjadi rakus untuk mengambil sumber daya alam dengan teknologinya.[4] Kondisi ini dinamakan Adorno sebagai "negativitas total".[4] Kondisi ini mencerminkan bahwa alam menguasai manusia.[4] Akibat dari "negativitas total" ini, maka kerusakan lingkungan merupakan akibat yang harus ditanggung oleh manusia itu sendiri.[4] Ia memberikan solusi agar manusia meninggalkan sifat ketamakan.[4]
Odisseus terkenal cerdas, peristiwa yang tekenal adalah dalam perang Troya.[4] Dia juga handal dalam dunia Armada.[4] Begitu cerdas Odesius sehingga mampu mengelabuhi para dewa di Yunani.[4]Odisseus sering lolos dari setiap persoalan hidupnya ketika dia melakukan perjalanan keluar istananya, Ithaka dan meninggalkan istrinya yang benama Penelope.[4] Walaupun usahanya untuk mengelabuhi pada dewa selalu berhasil, dia sendiri menyangkal esensi atau identitasnya sebagai Odisseus.[4] Misalnya ketika dia diperhadapkan dengan raksasa mata satu, Kiklops yang disuruh oleh Poseidon untuk membunuhnya, dia tidak mengatakan bahwa dirinya Odisseus dan justru menjawab "bukan siapa-siapa", sehingga dia menyangkal identitasnya.[4] Sama dengan manusia yang selalu ingin keluar dari persoalan hidupnya, pada zaman modern justru terjebak dalam hilangnya segi manusiawinya, hal ini karena hakikat manusianya terjebak dalam kebutuhan-kebutuhan materi, hiburan, kenyamanan dsb.[4]
Teori Estetika - Seni, Masyarakat dan Keindahan
Selain teori sosialnya, Adorno juga dikenal sebagai seorang yang mempunyai tempat tersendiri dalam kelompok elit musisi.[5] Dia menganalisis mengenai musik pop sebagai salah satu produk industribudaya.[5]Musik pop merupakan objek analisisnya dalam memandang budaya populer yang berkembang di masyarakat berkat kehendak kaum kapitalis.[5] Menurutnya, hal yang mendasari teori musik pop adalah standardisasi dan individualitas semu.[5] Dalam membuktikannya, Adorno menggunakan musik klasik sebagai pembanding.[5]
Referensi
1234(Indonesia)John Lechte., 50 filsuf kontemporer: dari strukturalisme sampai postmodernitas, Yogyakarta: Kanisius, 2001
1234567891011(Inggris)Lorenz Jager., Adorno - A Political Biography Munic: Deutsche Verlags-Anstalt GmbH, 2003
↑(Indonesia) TJahyadi, S.P Simon., Tuhan Para Filsuf dan Ilmuwan, Yogyakarta: Kanisius, 2007
1234567891011121314151617(Inggris) Theodor Adorno and Max Horkheimer., Dialectic of Enlightment, New York: Herder & Herder Inc, 1972
12345(Inggris)Theodor W. Adorno., Aesthetic Theory, New York: Regents of University of Minnesota, 1997
Strinati, Dominic. 2007. Budaya Populer: Pengantar Menuju Teori Budaya Populer. Penerbit Jejak: Yogyakarta