The Plague adalah film drama-triler psikologis tahun 2025,[5][6][7] yang ditulis dan disutradarai oleh Charlie Polinger dalam debut penyutradaraannya. Film ini dibintangi oleh Everett Blunck, Kayo Martin, Kenny Rasmussen dan Joel Edgerton, yang juga merupakan produser film ini. Dalam film ini, seorang anak berusia dua belas tahun (Blunck) tiba di Kamp Polo Air Tom Lerner sebagai orang luar yang cemas secara sosial.[8] Karena sangat ingin menyesuaikan diri dengan hierarki sosial kamp yang kejam, ia awalnya bergabung dengan sekelompok anak laki-laki populer yang dipimpin oleh Jake (Martin).
Film ini pertama kali diputar di bagian Un Certain Regard pada Festival Film Cannes 2025 pada 16 Mei 2025, dan dirilis secara terbatas di bioskop Amerika Serikat pada 24 Desember 2025, sebelum kemudian dirilis secara nasional pada 2 Januari 2026. Film ini mendapat pujian dari para kritikus.
Plot
Pada tahun 2003, Ben, seorang siswa SMP, mengikuti kamp musim panas polo air yang dipimpin oleh pelatih "Daddy Wags." Kamp tersebut juga diikuti oleh Jake, anak populer bersama dengan gengnya, serta Eli, si eksentrik yang dijauhi anak-anak lainnya. Karena ingin diterima, Ben mencoba berteman dengan Jake yang tidak berperasaan, termasuk ikut-ikutan merundung dan mengucilkan Eli. Eli sendiri menderita gangguan kulit misterius (yang diduga infeksi jamur), yang oleh Jake dan kelompoknya disebut "wabah," sebuah penyakit mitos yang konon memengaruhi fungsi mental dan motorik. Eli merasa campur aduk dengan statusnya sebagai orang yang dikucilkan, tapi Ben lama-lama merasa iba dan bersalah atas perlakuannya. Ia pun akhirnya diam-diam menjalin hubungan dengan Ben setelah merasa tidak terlalu suka dengan perilaku Jake. Di ruang ganti ketika Ben dan Eli sendirian, Ben menawarkan untuk mengoleskan clotrimazole, krim antijamur, pada ruam di punggung Eli.
Jake menyebarkan desas-desus bahwa Ben tertular wabah dari Eli, dan yang lain mulai menjauhi Ben, yang sangat membuat Ben tertekan. Meskipun Ben menyangkal tuduhan itu, tapi ternyata ia benar-benar mulai mengalami kelainan kulit yang sama, yang perlahan menyebar ke seluruh tubuhnya. Suatu malam, setelah dipermalukan oleh Jake dan gengnya gara-gara mimpi basah, Ben pergi keluar kamp untuk menelpon ibunya, meminta agar dijemput pulang. Setelah ditelepon oleh ibu Ben, Daddy Wags menghampiri Ben dan berhasil membujuknya untuk kembali. Keesokan harinya, Ben menyaksikan Daddy Wags yang sedang menegur Jake secara empat mata di ruangannya. Siangnya, Jake secara basa-basi meminta maaf kepada Ben. Ben buru-buru berkata bahwa dia sama sekali tidak berbicara dengan Daddy Wags mengenai perundungan yang dilakukan Jake, dan malah menuduh Eli sebagai anak yang mungkin melaporkan mereka kepada Daddy Wags. Malam itu, Jake dan anak laki-laki lainnya memenuhi tubuh Ben dengan kecoa dan menyekapnya dalam selimut sebagai balas dendam.
Keesokan harinya, dalam sebuah pertandingan latihan, Ben terus berseteru dengan Jake hingga akhirnya mencakar Jake sampai berdarah. Jake melayangkan protes kepada Danny dan memintanya untuk menyatakan pelanggaran terhadap Ben. Namun, Danny mengabaikan protes tersebut, yang memicu kemarahan Jake hingga ia memukul dan mencoba menenggelamkan Ben. Akibat tindakan agresif tersebut, Jake langsung dikeluarkan dari kamp.
Saat kamp musim panas mengadakan pesta dansa campuran, Eli terlihat berdansa sendirian dengan sebuah potongan karton bergambar karakter kartun. Merasa kesal karena Eli tidak mau berbaur, Ben merusak papan karton tersebut, sehingga Eli pergi untuk memperbaikinya. Ben mengikuti Eli ke ruang ganti dan memarahinya habis-habisan terkait sikap dan perilakunya; ia menegaskan bahwa tidak akan ada yang mau berteman dengannya jika Eli terus menerus tidak peduli dengan apa yang dipikirkan orang lain terhadapnya. Dalam kondisi menangis dan putus asa, Eli nekat memotong salah satu jarinya dengan gunting, hingga akhirnya ia dilarikan ke rumah sakit bersama Daddy Wags. Dengan pakaian yang berlumuran darah Eli, Ben kembali ke pesta, di mana ia mulai berdansa dengan liar dan tanpa rasa malu—persis seperti yang dilakukan Eli sebelumnya—mengabaikan tatapan orang-orang di sekitarnya.
Awalnya, ketika Joel Edgerton menerima naskah dari Charlie Polinger, ia ingin menyutradarai film ini; namun, Polinger ingin melakukannya, dan Edgerton malah menawarkan untuk membantu mewujudkannya.[9] Polinger berupaya untuk "menangkap ketakutan sosial dan kerentanan tubuh seseorang dan sesuatu yang tidak banyak terlihat pada anak laki-laki karena dibutuhkan kerentanan tertentu untuk menjadi objek teror dengan cara itu", dan menyebut The Shining, Full Metal Jacket dan Beau Travail sebagai sumber inspirasi utama.[10]
Film ini melakukan pemutaran perdananya di Festival Film Cannes 2025 pada 16 Mei 2025, di bagian Un Certain Regard.[13] Pada Agustus 2025, Independent Film Company memperoleh hak distribusi Amerika Utara untuk film ini, sehingga dirilis secara teatrikal di Amerika Serikat pada 24 Desember 2025, sebelum kemudian diperluas secara nasional pada 2 Januari 2026.[14]
Film ini mendapat pujian dan sambutan hangat di Cannes.[23][24] Film ini mendapat tepuk tangan meriah selama sebelas menit dan digambarkan sebagai "mungkin film Amerika terpanas di festival ini".[25]
Di situs web agregator pengulasRotten Tomatoes, 97 dari 107 ulasan kritikus positif.Konsensus situs web menyatakan: "Diliputi suasana yang meresahkan tanpa pernah stagnan, The Plague mengambil kecemasan remaja yang umum dan mengangkatnya menjadi film thriller yang tak terlupakan."[26]Di situs Metacritic, yang menggunakan sistem penilaian rata-rata tertimbang, film ini mendapatkan skor 79 dari 100, berdasarkan 20 kritikus, yang menunjukkan ulasan yang "secara umum baik.".[27]