Terasi Langsa, atau yang dikenal secara lokal sebagai belacan, adalah bumbu masak hasil fermentasi yang telah menjadi ikon kuliner serta oleh-oleh khas utama dari Kota Langsa, Aceh.[1][2][3] Signifikansi budaya dan keterampilan tradisional dalam pembuatannya telah diakui secara nasional, di mana Terasi Langsa ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia pada tahun 2022 dengan domain "Kemahiran dan Kerajinan Tradisional".[4][5][6] Produk ini merepresentasikan kearifan lokal masyarakat pesisir Langsa yang memanfaatkan bioteknologi fermentasi tradisional untuk mengolah hasil laut menjadi produk bernilai ekonomi tinggi yang mampu bertahan lama, yakni sekitar 1 hingga 2 bulan penyimpanan pada suhu ruang.[7]
Karakteristik paling mendasar yang membedakan Terasi Langsa adalah kemurnian bahan bakunya yang menggunakan 100% udang rebon (udang sabu) murni tanpa campuran ikan atau bahan pengisi lain seperti tepung.[3] Spesies udang yang umum digunakan meliputi Acetes japonicus, Acetes indicus, dan Acetes sibogae yang ditemukan di perairan sekitar Langsa.[5][3][8][9] Penggunaan bahan baku udang rebon murni yang telah difermentasi ini menjadi faktor penentu kualitas premium Terasi Langsa dibandingkan dengan varian terasi dari daerah lain yang mungkin menggunakan bahan campuran.[7]
Secara fisik dan sensoris, Terasi Langsa memiliki ciri khas warna cokelat kehitam-hitaman yang terbentuk secara alami dari proses oksidasi pigmen udang, berbeda dengan terasi dari daerah lain yang mungkin berwarna merah cerah atau ungu. Teksturnya dikenal padat dan kompak, namun tetap lunak sehingga mudah dicubit atau dipotong.[7][10][11][4][12] Dari segi aroma dan rasa, terasi ini memiliki aroma yang harum, gurih, dan tajam namun tidak berbau tengik atau amis menyengat, serta memiliki cita rasa yang enak, tidak pahit, dan tidak bercampur pasir.[7][10][11][4][12] Kandungan protein dan asam glutamat yang tinggi di dalamnya berfungsi sebagai penyedap rasa alami (umami) yang kuat pada masakan.[13][10]