Teori flogiston (dari Yunani Kunoφλογιστόνcode: grc is deprecated phlogistón "terbakar") adalah sebuah teori ilmiah usang yang memberikan postulat bahwa terdapat elemen serupa api yang disebut flogiston yang terkandung di dalam benda-benda yang dapat terbakar dan dilepaskan selama pembakaran.[1]
Meskipun kini dianggap salah, teori ini mendominasi pemikiran kimia selama hampir satu abad (1667–1770-an) dan berfungsi sebagai transisi penting dari era alkimia menuju kimia modern berbasis eksperimen.[2]
Sejarah dan Konsep
Teori ini pertama kali dikembangkan oleh Johann Joachim Becher pada tahun 1667 melalui bukunya Physica Subterranea. Becher menyebutnya sebagai terra pinguis (tanah berminyak). Konsep ini kemudian disempurnakan menjadi "flogiston" oleh Georg Ernst Stahl pada awal abad ke-18.
Inti Teori
Menurut Stahl, semua benda yang dapat terbakar terdiri dari bagian-bagian penyusun, salah satunya adalah flogiston. Proses kimia yang terjadi dijelaskan sebagai berikut:
Pembakaran: Ketika sebuah benda terbakar, flogiston dilepaskan dari benda tersebut ke udara. Sisa pembakaran yang tertinggal (seperti abu) dianggap sebagai zat murni yang sudah kehilangan flogistonnya.
Kalsinasi: Logam dianggap terdiri dari kals (oksida logam) dan flogiston. Pemanasan logam akan melepaskan flogiston dan menyisakan kals.
Udara: Udara dianggap hanya berperan sebagai media pengangkut. Jika udara sudah jenuh dengan flogiston, api akan padam.
Masalah dan Paradoks Massa
Seiring perkembangan teknik pengukuran, para kimiawan menemukan bahwa ketika beberapa logam dibakar, massa residu yang dihasilkan justru lebih berat daripada logam aslinya.[3] Secara logika, jika sebuah benda kehilangan sesuatu (flogiston), massanya seharusnya berkurang. Para pendukung teori ini sempat mengajukan hipotesis spekulatif bahwa flogiston memiliki "berat negatif".
Runtuhnya Teori
Akhir dari teori flogiston dipicu oleh penemuan Oksigen dan kerja keras Antoine Lavoisier antara tahun 1770 hingga 1785.[4] Lavoisier membuktikan bahwa:
1. Pembakaran membutuhkan gas dari udara (oksigen).
2. Pertambahan massa logam berasal dari penggabungan logam dengan oksigen.
3. Hukum kekekalan massa: massa total zat sebelum dan sesudah reaksi adalah sama.
Relevansi Modern
Meskipun salah secara substansi, teori ini memiliki kemiripan struktur dengan konsep modern. Pelepasan flogiston dalam pembakaran secara mekanis mirip dengan pelepasan elektron dalam reaksi oksidasi-reduksi kimia modern.[3]
Referensi
↑Wisniak, J. (2023). "Phlogiston: The Rise and Fall of a Theory". Education in Chemistry.
↑Chang, H. (2012). Is Water H2O? Evidence, Realism and Pluralism. Springer Science & Business Media.
12Schurz, G. (2022). Structural Correspondence and Scientific Realism. Routledge.
↑McEvoy, J. G. (2010). The Search for Chemical Metaphysics in the Chymical Revolution. Foundations of Chemistry.
Bacaan Lanjutan
Conant, J.B. (1950). The Overthrow of the Phlogiston Theory. Harvard University Press.