Dalam teori bilangan, teorema Lagrange adalah teorema yang menyatakan seberapa sering suatu polinomial atas bilangan bulat menghasilkan kelipatan dari suatu konstanta prima. Lebih tepatnya, teorema ini menyatakan bahwa untuk setiap polinomial bilangan bulat , maka berlaku salah satu dari dua kemungkinan berikut:
Teorema Lagrange dapat dinyatakan ulang menggunakan aritmetika modular sebagai berikut:
Teorema Lagrange—Diberikan sembarang bilangan prima . Untuk setiap polinomial , maka berlaku salah satu dari dua kemungkinan berikut:
setiap koefisien dari polinomial kongruen dengan nol dalam modulo , atau
kekongruenan memiliki paling banyak penyelesaian pada himpunan .
Jika bukan bilangan prima, maka banyaknya penyelesaian dari kekongruenan mungkin saja lebih dari . Misalnya, kekongruenan polinomial memiliki 4 penyelesaian dalam (yaitu , , , dan ).
Diambil sembarang bilangan prima dan misalkan adalah polinomial dengan koefisien bilangan bulat. Didefinisikan sebagai polinomial yang kongruen dengan , tetapi dengan koefisien bilangan bulat modulo. Untuk setiap bilangan bulat , perhatikan bahwa
sehingga berdasarkan sifat dasar dari aritmetika modular, maka berlaku
Akibatnya, kedua versi dari teorema Lagrange (yaitu atas himpunan dan atas himpunan ) setara. Akan dibuktikan versi kedua dari teorema Lagrange menggunakan induksi matematika beserta pembuktian kasus demi kasus.
Diambil sembarang polinomial linier , dengan , . Oleh karena adalah bilangan prima, maka akan ditinjau dua kasus berikut:
Jika , maka kekongruenan linier tidak memiliki penyelesaian. Akibatnya, jelas bahwa pernyataan teorema Lagrange benar.
Jika , maka berdasarkan identitas Bézout, kekongruenan linier memiliki penyelesaian tunggal. Akibatnya, pernyataan teorema Lagrange juga benar.
Asumsikan bahwa teorema Lagrange benar untuk setiap polinomial berderajat .
Diambil sembarang polinomial berderajat , yaitu dengan untuk setiap . Terdapat dua kasus yang perlu ditinjau:
Jika kekongruenan tidak memiliki penyelesaian, maka jelas bahwa pernyataan teorema Lagrange benar.
Jika kekongruenan memiliki setidaknya satu penyelesaian (sebut saja , yang berarti bahwa ), maka perhatikan bahwa Jelas bahwa . Oleh karena , maka Dengan kata lain, mencari penyelesaian dari kekongruenan sama saja dengan mencari penyelesaian dari kekongruenan . Diketahui bahwa merupakan bilangan prima, maka berdasarkan lema Euclid, berlaku atau . Berdasarkan hipotesis induktif, maka memiliki paling banyak penyelesaian. Akibatnya, memiliki paling banyak penyelesaian dalam himpunan .